25 Agustus 2013

“Bang, kita kan udah setahun lebih jadian. Hem … Menurut Abang, kita bakalan kaya gini sampai kapan?” Sungguh karena aku terlalu grogi, pertanyaan yang seharusnya sakral jadi berbelok arah.

“Ada-ada aja, Neng, pertanyaannya? Hehe.”

“Jawab atuh, Bang, bukan diketawain.”

“Neng maunya sampai kapan?”

“Yaa sampai nikah, Bang. Kan kita udah sepakat, hubungan ini akan diseriusin. Lalu kapan, Abang, mau datang ke rumah?” Akhirnya terucap juga pertanyaan itu, meski aku menjawab dengan nada meninggi, mulai lepas mengontrol rasa sabar.

“Iya iya, Neng. Nanti tahun depan ya?”

“Beneran, Bang?”

“Aduh, jangan ditanya dua kali, Neng, pamali. Hehe.”

Ah, senangnya hati ini mendengar jawaban Abang. Kalau tahun depan Abang jadi melamar, kemungkinan hari pernikahanku nggak akan jauh dari hari pernikahan Teteh. Beruntung kamu Ifah, punya pacar baik, bertanggungjawab begini. Semua ketakutan yang pernah Teteh takutkan juga akan segera sirna.

Di tahun pertama hubunganku dengan Bang Arman, Teteh sudah mengingatkan ke mana arah hubungan ini nantinya. Selalu saja, Teteh sok tahu dan meragukan keseriusan Bang Arman.

“Bang Arman itu serius, Teh, sama Eneng. Dari awal Neng udah bilang kalo menjalin hubungan ini niatnya buat nikah, bukan main-main.”

“Kalau serius harusnya dia segera datangi Abah, Neng. Minta izin buat halalin kamu. Sekarang udah berapa lama kamu pacaran?”

“Baru setahun, Teh. Kan Abang baru juga keterima kerja. Biar abang bisa nabung dululah, Teh, tahu sendiri biaya kawinan sekarang nggak sedikit.”

“Ngeles aja kamu, Neng. Nanti kalau udah tiga tahun, jawabannya gitu lagi, masih nabunglah, masih nunggu ini itulah.”

“Amit-amit … Teteh mah bukannya doain.”

“Iya deh, Teteh doain semoga adek Teteh yang paling geulis ini segera sadar.”

“Iiiih Teteh …”

***

25 Agustus 2014

“Bang, ingat nggak sekarang tanggal berapa?”

“Inget dong, tanggal 25, kan hari ini gajian, Neng.”

“25 apa?”

“Agustus kan. Kenapa deh nanya terus? Emang ini hari apa? Kan kamu nggak ulang tahun?”

“Emang nggak, Bang. Abang beneran nggak inget ya setahun yang lalu ngomong apa sama Neng?”

“Ya ampun…apa ya, Neng? Maafin ya, Abang lupa.”

“Yah, Abang … Yaudah nanti kalo udah inget bilang ke Neng ya.”

Kali ini aku membiarkannya lupa. Toh, usia hubungan kami masih dua tahun. Kalau terlalu memburu keseriusannya, aku takut malah dia minta putus. Abang juga bukan lelaki kekanak-kanakan. Pekerjaannya sudah cukup mapan, dia juga lulusan universitas ternama. Abah sama emak juga sangat menyukai karakternya yang sopan dan penurut.

Cuma Teh Nanda yang nggak suka sama Abang. Tak ada alasan lain, selain karena aku berpacaran. Teteh nggak mau adiknya punya pacar. Ta’aruf adalah kunci, itu katanya. Sayangnya, Teh Nanda sendirilah yang membuatku ragu dengan proses ta’aruf. Dia gagal nikah dengan lelaki yang dikenalnya sholih dan baik, pun sudah mengkhitbahnya.

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Teh Nanda jatuh karena gagal menikah. Lalu dia mau aku mewarisi sakit hati itu? No way. Aku mau buktikan, meskipun aku berpacaran, tapi hubungan kami ini serius dan akan berujung pernikahan.

Meski Teh Nanda menentang hubunganku dengan Bang Arman, sebenarnya dia sangat perhatian. Teteh berusaha melakukan semuanya agar aku nggak pacaran. Dari beliin buku-buku anti pacaran, ajak ikut seminar pra nikah, sampai traktir makan dan ajak jalan-jalan yang ujungnya ngobrolin tentang itu-itu lagi.

***

Enam bulan sudah berlalu, Bang Arman belum juga ingat apa yang dia katakan dulu. Duh, gimana ya caranya ingetin Bang Arman? Belum lagi akhir-akhir ini dia cukup sibuk. Banyak tugas keluar kota, ditambah lagi agendanya naik gunung yang nggak pernah absen tiap tahun.

“Jadi kapan Abang baik hati dan bertanggung jawabmu itu datang, Neng? Tu kan, udah berapa tahun ini?” Ledek Teh Nanda di suatu sore.

“Iya bentar lagi, tunggu aja, Teh. Nggak sabaran amat sih. Teteh sendiri kapan?”

“Mau tahu banget? Teteh itu sekarang udah ta’aruf lagi. Do’ain ya, Neng, insyaAllah yang sekarang Teteh ridho lillahita’ala, apapun yang terjadi.”

“Hmm…Coba lihat, Teh, siapa orangnya?”

Aku tercengang, laki-laki yang berniat serius sama Teteh kali ini benar-benar idaman banget. Lulusan universitas terkenal, ganteng, tinggi, pinter, humoris dan sekarang kerja di Jepang. Ah, ini mah rezeki Teteh sholehah emang. Tapi aku nggak minder banget ko, Bang Arman kan juga tipe laki-laki idamanku.

***

25 Agustus 2015

Tak terasa hubunganku dengan Bang Arman sudah menginjak tahun ketiga. Hubungan kami ini bisa dibilang mulus-mulus saja. Jarang terjadi pertengkaran berarti. Bang Arman juga tipe orang yang nggak mau berkonflik. Cukup berbeda denganku. Seperti kejadian hari ini di kantor. Saat ada seorang rekan kerja yang ketahuan berbuat curang, aku nggak segan-segan menegurnya, meski bermusuhan adalah resiko selanjutnya.

Bang Arman yang selalu cari aman. Ya..memang seperti itulah dia. Sosok yang sabar di mata banyak orang, tapi di mataku dia kadang menyembunyikan “suaranya”. Namun, dialah yang berhasil mengisi hari-hariku dengan kenyamanan. Dialah muara rindu, keluh kesah dan perhatianku. Tak ada lagi tujuan lain untuk bertahan di sisinya selain melanjutkan hubungan ini ke pernikahan.

Aku juga mulai resah pacaran terus. Berduaan dengannya, mengirimkan kalimat cinta, tanpa tahu kapan kami bisa menghalalkan ini. Bayang-bayang Teh Nanda juga selalu muncul kalau aku lagi berdekatan sama Abang.

Hari ini aku harus bisa nanya langsung keseriusan Bang Arman. Entah gimana caranya, aku harus bilang. Teh Nanda kan udah di Jepang sama suaminya. Aku ingin memberinya kabar gembira kalau aku juga akan nikah sama orang yang sempat dia ragukan.

***

Januari 2016

Assalamu’alaikum Teteh sayang, Neng kangen.

Wa’alaikumsalam, Neng, adek sholehah, Teteh juga kangen. Hayo, mau cerita apa sama Teteh?

Kok, Teteh, tahu?

Iyalah, Neng, Namanya juga kakak.

Teh, Neng akhirnya putus sama Bang Arman.

Alhamdulillah, eh…maksudnya, gimana ceritanya, Neng?

Bener kata Teteh….Abang nggak serius, Teh, sama Neng. Abang cuma mau seneng-seneng aja.

Neng, nggak perlu sedih ya, insyaallah itulah jalan terindah dari Allah. Neng dari awal kan niatnya baik, tapi caranya belum. Sekarang Allah kasih kesempatan untuk memperbaiki.

Tapi Neng masih belum bisa lupain Abang. Teteh bantu Neng ya?

Iya, Neng. Pelan-pelan ya. Jangan lupa minta sama Allah

Hari itu aku berbalas pesan dengan Teh Nanda yang jauh di negeri sakura. Pada akhirnya, kabar yang kuberikan untuk Teteh adalah kabar putusnya hubunganku dengan Abang. Apalagi yang bisa kulakukan, Abang sudah berbohong. Dia melupakan janjinya. Tidak…tidak…Dia bahkan tidak pernah serius saat bilang mau menikahiku.

“Neng, Abang kan lagi ada proyek baru dari bos, jangan bahas lamaran dulu ya.”

“Neng, kita nanjak yuk ke Rinjani, Abang dapat info tiket promo.”

“Hmm..Abang nggak bisa jawab sekarang”

Tiga kali sudah aku bertanya ke Abang. Dengan segenap keberanian yang kukepalkan di dada, pertanyaan itu meluncur dengan harapan yang tinggi. Namun, tiga kali pula jawabannya tidak pernah serius. Dari ada proyek dari bos, malah ngajak ke Rinjani dan terakhir dia nggak mau jawab, seolah pertanyaanku sangat membosankan. Iya, akan membosankan kalau dia memang nggak pernah memikirkannya.

Di sepanjang masa pacaran, kami sering membangun mimpi masa depan. Dari sanalah aku merasakan kehangatan.  Namun, lambat laun impian itu makin mendekati angan. Aku tahu ada banyak orang yang berpacaran sangat lama dan baru bisa mencapai pernikahan. Aku juga tahu ada yang berpacaran sangat lama dan justru akhirnya menikah dengan orang yang baru dikenalnya. Aku tahu itu semua ada.

Sungguh yang paling kusesalkan adalah Abang membiarkanku berharap begitu dalam. Dia dengan seksama dan sadar merawat harapan-harapan itu dan membungkusnya dengan kalimat terindah. Tapi, saat aku mengetuk ruang impian kami, dia seakan menghilang begitu saja.

Kalau memang Abang dari awal nggak niat serius kenapa nggak bilang aja sih. Maaf, Neng, Abang belum bisa memenuhi harapan Neng. Kalimat itu jauh lebih bermakna daripada, Iya, Neng, nanti kita tinggal di rumah yang banyak pohonnya ya, terus ada kolam ikannya. Nanti…

Ya Allah, bertambah sesak dadaku melihatnya di sosial media. Beberapa foto terpajang di linimasa instagramnya. Dia dan teman-temannya sudah di Rinjani. Mereka terlihat sangat bahagia. Ah, aku baper sangat. Semudah itukah kau melupakanku Bang?

***

Januari 2018

Hari ini Teteh pulang ke Indonesia. Sudah dua tahun kami nggak jumpa. Rindu ini ingin segera kulunaskan padanya lewat pelukan. Aku ingin bilang ke Teteh, Aku sudah move on, Teh. Meski Bang Arman sudah menampakkan pacar barunya di sosial media, aku ikhlas. Biarlah, semuanya sudah berlalu. Sekarang aku fokus meyakinkan diri, percaya Allah beri yang terbaik dari usaha terbaikku.

“Neng, sekarang kamu udah punya pacar lagi?”

“Nggak, Teh. Neng nggak mau pacaran lagi.”

“Alhamdulillah … Hampir saja Teteh sembunyiin CV laki-laki sholih dan baik yang serius buat Neng”

“Aaaakk … Teteh … serius? MasyaAllah. Siapa, The orangnya?”

“Orangnya masih di negeri doraemon, Neng, temennya Aa. Hehe..”

Aku menerima tawaran itu. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Apakah proses ta’arufku akan berjalan dengan baik? Pastinya, hatiku nggak seperti dulu lagi. Aku sudah siap, ridho lillahita’ala, kata Teteh. Mungkin di sinilah aku mulai tahu bedanya pacaran dan ta’aruf

Pacaran, aku menimbun harapan pada manusia. Ta’aruf, aku menyerahkan harapan pada Sang Maha Kuasa. Pacaran, nggak ada jaminan pasanganku serius. Ta’aruf, sudah pasti laki-laki itu serius, tinggal bagaimana takdir Allah menggiring kita. Semoga kali ini, Allah pertemukan aku dengan laki-laki serius yang kucari dengan serius.

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: