Orang yang menghargai dan menyayangi dirinya sendiri, tidak akan menyakiti orang lain. Semakin kita membenci diri kita sendiri, kita cenderung semakin ingin orang lain menderita. – Dan Pearce, penulis buku ‘Single Dad Laughing’

***

“Duh! Sempit, nih! Geser! Makanya punya badan jangan gede-gede, dong!”

Apakah kekurangan fisik yang aku punya ini begitu mengganggumu? Apa aku harus menghilang dari pandanganmu, supaya kau tak perlu bersusah hati, hingga perlu melontarkan kata-kata berduri hanya untuk menyenangkan rasa hatimu? Apakah keberadaanku ini suatu kesalahan? Apakah aku, dengan kekurangan yang kau sebutkan, harus pergi jauh-jauh?

Begitulah kira-kira monolog yang bergulat dalam pikiran seorang korban bullying. Sedih, ya? Alih-alih kasihan pada dirinya dan mencoba mencari penghiburan, dia justru menyalahkan dan mengecilkan sosoknya sendiri. Jika dibiarkan berlarut, tentu bukan suatu hal yang baik.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Jujur ya, baru beberapa tahun belakangan ini saja saya kenal istilah ‘bully’. Dalam pikiran saya, situasinya semacam ejek-ejekan. Satu karakter atau sekelompok karakter yang superior mencari kesenangan dan kepuasan dengan mengejek karakter lain yang lebih lemah atau punya kekurangan, atau bahkan justru punya kelebihan yang unik.

Zaman saya sekolah dulu, rasanya biasa saja dan terlihat … wajar, bahkan cenderung lucu. Biasanya karakter yang ada di posisi ‘korban’ justru menjadi kesayangan. Justru momen tersebut terkemas menjadi candaan, dan masih bisa dikenang hingga saat ini.

Tapi, semakin saya ikuti berita-berita tentang bullying ini, kok … serem, ya? Bentuk ece-ecean-nya nggak bisa lagi dibilang wajar, terutama aksi penindasan yang melibatkan fisik. Untuk menggambarkannya saja saya nggak sampai hati. Saat melihat tayangan video amatir yang beredar di media sosial itu, saya seperti sedang menonton adegan film laga, dengan pemeran remaja yang masih berseragam putih abu, bahkan putih biru.

Mereka, para pelaku dalam rekaman video itu, seperti kehilangan akal sehat. Korban dijadikan bulan-bulanan seperti sedang oper-operan bola sepak. Pertanyaan spontan yang berkelebat saat itu adalah, apa yang ada dalam pikiran dan hati mereka? Baik pelaku, korban maupun penontonnya!

Seperti itu sajakah bentuk bullying? Oh, ternyata tidak … saya masih harus lebih banyak lagi membaca dan menyimak berita. Kick boxing ala anak SMP atau smack down ala anak SMA itu hanya salah satu bentuk saja. Penindasan ternyata bisa juga dalam bentuk ucapan (verbal)—seperti ilustrasi yang saya berikan di awal tulisan ini—sosial, dan melalui dunia maya (cyber bullying).

Bullying atau perundungan menurut KBBI V Online 2017, dijelaskan sebagai: mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan; atau menyakiti orang lain secara fisik maupun emosional dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, dan fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu, seperti memanggil nama orang dengan julukan, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong seseorang.

Pengertian saya sedikit tercerahkan dengan definisi tersebut. Jadi, dikatakan bullying atau perundungan karena terjadi berulang. Baik, kalau begitu saya sendiri pernah mengalaminya. Dulu saya sekadar merasa sedang diejek, terus-menerus, oleh orang yang sama, yang kebetulan adalah seorang kerabat.

Pada masa itu, sempat timbul penyesalan dalam diri saya, mengapa saya harus punya kerabat macam dia? Betapa hubungan kekerabatan adalah sebuah relasi yang mutlak, karena saya tidak punya hak untuk memilih siapa-siapa saja yang ingin saya jadikan kerabat. Berbeda dengan hubungan pertemanan atau persahabatan, yang bisa saya tinggalkan kapan saja, atau cukup saya hindari, kalau saya merasa tidak cocok. Hubungan kerabat tidak bisa seperti itu.

Pernah saya sampai menangis, mengadu kepada ayah, sampai meminta izin untuk tidak ikut ke rumah eyang saat lebaran. Karena sedemikian takutnya saya untuk bertemu dengan kerabat itu. Belakangan baru saya berpikir, itukah yang disebut dengan trauma? Bayangkan, belum bertemu dengan orangnya saja, ulu hati saya akan terasa nyeri, macam terkena serangan maag.

Oya, ketika itu ayah saya—setelah mendengarkan keluhan saya baik-baik—hanya meminta saya untuk sabar, karena tradisi berkumpul bersama keluarga harus dijaga. Saya sempat mengira, Ah … Ayah nggak ngerti nih, gimana perasaanku. Tapi kemudian saya sadar, dalam ucapannya, Ayah berkeyakinan kalau saya bisa mengatasinya sendiri. Dan ternyata benar.

Ayah tahu saya punya kebiasaan yang baik, yaitu suka membaca dan menulis. Ayah juga tahu, saya punya teman-teman yang baik. Mungkin itu yang membuat Ayah yakin, saya bisa mengatasi luka hati.

Ngomong-ngomong, saya pernah terlibat diskusi menarik dengan ayah saya. Ketika itu saya berargumen: biar orang nggak merendahkan dan ngajeni, kita harus berpendidikan tinggi atau jadi tokoh agama atau punya harta yang banyak. Ayah, dengan sangat kalem, mematahkan argumen saya dengan kalimat, “Apa menjadi orang baik saja nggak cukup?” Percayalah, kalimat itu selalu mengiringi langkah saya hingga saat ini.

Tentang menjadi orang baik ini yang kemudian saya pakai untuk membangun pertahanan terutama perkara kepercayaan diri. Saya berbaik hati dengan memberi kesempatan kepada pelaku bully (terhadap saya) dengan sikap: silakan, kuberi kau kebahagiaan dengan menghina saya. Sebab memang ada ya, orang-orang yang level bahagianya justru berada pada titik saat dia bisa menyakiti orang lain.

Saya juga diam-diam men-setting hati menjadi fleksibel. Ketika berjumpa dengan ucapan atau perlakuan yang tidak menyenangkan, yang menusuk perasaan, maka hati ini akan saya siapkan serupa bantal karet. Terpukul sekeras apa pun akan mental, berlalu dan terlupakan. Sebaliknya, ketika bertemu dengan hal-hal baik, hati akan saya ubah menjadi bantal kapas. Hal-hal baik itu akan melesap dan tersimpan.

Cara antisipasi seperti di atas lumayan membantu, meski wujud bulliying di masa kini tidak lagi sesederhana itu. Dulu, ketika belum marak pemakaian internet, apalagi sosial media, orang-orang yang menjadi sasaran perundungan masih boleh merasa tenang selama tidak harus bertemu dengan pem-bully-nya. Orang-orang yang di-bully di sekolah, di kampus, atau di tempat kerja, akan berjarak selama beberapa jam dengan pem-bully-nya dan boleh merasa aman ketika sedang berada di rumah.

Bagaimana dengan sekarang?

Perundungan seakan menguntit sasarannya, begitu dekat, bahkan ada dalam genggaman  mereka. Apa itu? Smartphone dan sosial media yang ada di dalamnya.

Masih ingat ya, belum lama, seorang ibu yang kebetulan juga public figure, sampai membawa kasus pem-bully-an anak-anaknya di instagram ke ranah hukum. Karena memang sudah sangat keterlaluan perilaku orang-orang yang membawa bakat penindas ini. Tapi apa memang hanya hati dan pikiran kotor saja yang menjadi modal para perundung ini? Apakah ada sebab lainnya?

Naomi Tipping dalam buku berjudul ‘Bully’ (Hal 8) mengilustrasikan gambaran seorang pem-bully adalah pribadi yang diam-diam menyimpan kecemburuan kepada orang lain, mereka memilih sasaran orang-orang yang terlihat berbeda atau bahkan punya keistimewaan, mereka juga haus akan perhatian, dan terakhir … mereka justru tidak nyaman ketika disukai, jadi mereka memilih untuk ditakuti.

Penggambaran karakter di atas buat saya cukup untuk menjawab pertanyaan ‘apakah ada sebab lain’ tadi. Warganet yang merundung anak artis tadi bisa jadi cemburu dengan kebahagiaan keluarga si artis yang acap dibagikan di akun instagramnya.

Demikian pula dengan kerabat tersayang. Mungkin dia merasa tidak nyaman karena selalu dibanding-bandingkan pencapaiannya dengan saya. Hingga akhirnya dia menemukan—yang dia pikir—titik kekurangan saya, dan menjadikannya sebagai alat untuk membuatnya lebih terlihat.  Dan tujuannya sempat berhasil ketika saya menjadi takut padanya.

Tapi, tentu saja rugi ya, kalau kita, para korban bully ini melulu fokus pada rasa sakit. Halo … kita bisa loh, keluar dari ruangan gelap itu, lalu berdiri tegap, bahkan bernyanyi dan menari di bawah sinar matahari yang hangat. Dan, jangan sampai kita menganggap satu dua orang pembully itu mewakili semua manusia di planet Bumi ini.

Ilustrasi Naomi Tipping, di halaman 10 dan 11 buku ‘Bully’, menyampaikan satu pesan bahwa korban bullying harus berpikir AKU TIDAK SENDIRIAN. Itu artinya, mindset kita—sebagai korban penindasan—perlu diperbaiki, untuk menyelamatkan diri kita sendiri.

Naomi Tipping menjelaskan dalam ilustrasinya, bahwa yang perlu dilakukan adalah:

Pertama, jangan ragu untuk bercerita pada orang-orang yang bisa kita percaya. Siapa sajakah mereka? Orang-orang istimewa itu bisa saja orangtua, guru, dan teman-teman dekat—terimakasih untuk teman-teman sejati yang bisa menerima apa adanya saya. Beruntung juga, saya bergabung dengan beberapa komunitas yang kegiatannya sangat positif dan bermanfaat.

Kedua, jangan berpikir tidak ada orang yang akan mengerti dan percaya pada kita—terimakasih untuk ayah saya, betapa kalimat sederhananya bisa begitu menguatkan.

Ketiga, jangan berpura-pura kita tidak tersakiti—kalau bukan kita yang jujur pada diri kita, maka siapa lagi?

Keempat, ambil jarak dan menjauh dari pem-bully kita, untuk menghindari supaya kita tidak semakin tersakiti—bersyukur saya menemukan aktivitas yang sangat membantu untuk menyembuhkan luka dan menumbuhkan kepercayaan diri, yaitu menulis.

Kelima, kita harus tampil percaya diri, meski sebetulnya tidak—sebab, mereka menindas karena kita terlihat lemah. Maka jangan tampilkan itu.

Keenam, ingatlah bahwa kita istimewa. Jangan sampai kita berubah, tidak menjadi diri kita sendiri, hanya untuk menyenangkan pembully kita.

Mereka, para penindas itu, sama seperti kita, manusia juga. Bisa jadi sama lemahnya sebagai manusia, tetapi mereka memilih memakai topeng seram untuk menakuti kita. Siapa yang tahu, kalau mereka ternyata juga butuh effort lebih supaya bisa menindas kita. Mereka susah payah berusaha terlihat selalu cantik, untuk memperjelas bahwa kita biasa-biasa saja. Mereka mati-matian untuk bisa berada di ‘puncak’, untuk semakin menunjukkan bahwa kita tak ada artinya.

Satu luka, akan semakin parah atau berangsur sembuh, tergantung bagaimana kita merawatnya. Kalau kita membiarkannya terbuka, terpapar bermacam kuman dan kotoran tanpa sedikitpun upaya untuk menyembuhkannya, maka luka itu akan bernanah dan semakin meluas kepedihannya. Kalau kita tidak tahu caranya, carilah bantuan!

Pada akhirnya, semua kembali pada diri kita. Ingin terus terpuruk atau bangkit dari trauma bullying itu adalah pilihan. Tak ada yang salah dengan mengulurkan tangan, meminta bantuan untuk bangkit. Jangan sampai kita tenggelam hanya karena mengedepankan rasa takut dan malu karena merasa punya kekurangan. Ulurkan tanganmu di kesempatan pertama, sebelum terlambat.

Tapi, keinginan untuk bangkit harus dari diri kita sendiri, ya. Karena sebanyak apapun tangan yang membantu, kalau kita sendiri malas bergerak, maka selamanya kita akan terperangkap dalam kegelapan. []

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: