Tidak jarang orang yang sudah resign (keluar kerja) dari kantornya, justru memosisikan diri sebagai mantan karyawan yang tersakiti. Alhasil, seakan-akan dia menjadi musuh abadi bagi kantor lamanya. Lalu kepada siapa pun, dia berbicara hal-hal buruk perihal mantan kantornya.

Parahnya bila dia sampai memprovokasi karyawan lain yang masih bekerja di kantor lama itu agar ikut resign. Apakah sikap seperti itu dibenarkan? Jelas tidak. Kenapa? Inilah sejumlah alasan yang sangat logis sekali:

Pertama, resign adalah keputusan pribadi dan tidak mutlak karena kesalahan sistem yang ada di kantor. Andai ada karyawan yang resign karena alasan peraturan kerja yang tidak nyaman baginya, sesungguhnya dia sendiri yang merasa tidak nyaman. Buktinya masih ada karyawan lain yang tetap bekerja di kantor tersebut.

Prasangka negatif satu karyawan tidak bisa dijadikan alasan yang dibenarkan oleh karyawan lainnya. Sebab setiap karyawan memiliki alasan-alasan dan kepentingan sendiri kenapa mereka mau bekerja di kantor tersebut.

Kedua, resign tanpa meninggalkan jejak prestasi di kantor sebenarnya tanda-tanda frustasi. Ketidakberhasilan seorang karyawan pada pekerjaannya seringkali membuat dirinya sendiri frustasi. Seperti target kerja yang tidak tercapai, tidak disiplin, tidak mau mengikuti aturan main perusahaan, dan berbagai konflik pribadi yang dialaminya selama bekerja.

Atas nama ketidaknyamanan, kemudian dia menggugat sistem perusahaan. Akan tetapi dia tidak pernah berhasil memberikan kontribusi (prestasi) bagi perusahaan, akhirnya dia frustasi.

Elwood N. Chapman dalam bukunya yang berjudul Attitute: Your Most Priceless Possession—buku ini telah diterjemahkan dengan judul Sikap: Kekayaan Anda yang Paling Berharga yang telah diterbitkan oleh Binarupa Aksara (1991)—telah menuliskan bahwa bagi banyak orang, pekerjaan bukanlah suatu yang sangat mereka sukai.

Perasaan tidak menyukai pekerjaan inilah yang diduga telah melahirkan sikap negatif terhadap pekerjaan dan memberikan nuansa buruk kepada lingkungan kerjanya. Itulah awal mula seseorang menjadi frustasi di tempat kerja. Jadi sebenarnya sumber masalah ketika dia bekerja adalah dirinya sendiri.

Ketiga, mantan kantor sebenarnya sudah memberikan haknya sebagai karyawan yang sesuai kesepakatan kontrak kerja. Maka pada posisi ini, jelas sekali perusahaan berada pada posisi yang sudah benar. Karena ketika dulu disepakati, bahwa si karyawan mau kerja dengan segala kewajiban dan haknya, otomatis secara legal formal dia setuju dengan isi kontrak kerjanya.

Termasuk di dalamnya telah dibahas tuntas tentang jam kerja, tanggung jawab kerja, sampai berapa gaji yang akan diterima. Namun ketika sudah bekerja, dia komplain, maka sangat bisa dipastikan dia tidak memahami pasal-pasal dalam perjanjian kerja tersebut.

Jadi sumber masalahnya sebenarnya bukanlah ketidakjelasan perjanjian kerja, melainkan sikap dia yang cuek dengan peraturan kerja yang telah ditandatanganinya sendiri.

Keempat, berbicara buruk tentang mantan kantor sama dengan membuat lubang jebakan untuk diri sendiri. Terlebih lagi ketika dia memutuskan resign sebelum masa kerja habis. Katakanlah dia sudah bersedia bekerja selama satu tahun (kontrak), tetapi pada bulan keenam dia resign. Parahnya, pihak perusahaan tidak mau memberikan surat keterangan kerja. Itu artinya, ketika dia ingin melamar kerja di perusahaan lain, maka dia tidak bisa melampirkan surat keterangan kerja.

Padahal menurut Dale Carnegie dalam bukunya Make Yourself Unforgettable, bahwa orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan tetaplah membutuhkan apresiasi. Bahkan apresiasi ini tingkatannya sampai pada level individu. Minimal ketika dia resign bisa mendapatkan surat keterangan kerja.

Jadi ketika seseorang memutuskan resign dengan menyisakan sikap yang buruk, sesungguhnya dia telah membuat perusahaan menjadi tidak simpati lagi. Karena itulah dia tidak akan mendapatkan apresiasi apa pun dari perusahaan.  

Kelima, ketika karyawan memutus ikatan kerja, itu artinya dia memutus kesempatannya untuk belajar lagi. Dia tidak menyadari bahwa bekerja itu sama dengan proses belajar terus menerus.

Ketika dia masuk kerja tidak bisa mengoperasionalkan sistem komputer tertentu misalnya, lalu dia diajari oleh pihak kantor, lantas dia bisa menguasai sistem tersebut, sesungguhnya dia telah bertambah ilmu dan skill.

Sebab itulah, di beberapa perusahaan memberlakukan masa training (uji coba) selama tiga bulan sebagai proses belajar tahap awal.

Bahkan setelah dia bekerja beberapa tahun, dia diberi kesempatan untuk belajar banyak hal. Seperti belajar tentang kepemimpinan, mengatasi konflik, belajar negosiasi, dan berbagai ilmu lainnya yang dulunya belum pernah dikuasainya. Semua peluang itu telah ditinggalkannya dan dia justru mengatakan hal-hal negatif tentang mantan kantornya.

Bukankah itu tindakan yang tidak bijak untuk dirinya sendiri?

Keenam, kita mantan karyawan membenci mantan kantornya dan sengaja masih meninggalkan percikan api konflik, sesungguhnya dia telah memutus jaringan/relasinya sendiri. Tanpa sadar dia telah memutuskan rantai rezekinya sendiri. Karena ketika dia berbicara hal-hal negatif tentang mantan kantornya kepada orang lain, tentu saja orang lain akan berusaha memastikan kebenaran informasi tersebut.

Lalu ternyata orang tersebut mendapatkan informasi yang berbeda dari pihak kantor, maka otomatis orang lain akan malas bekerja sama dengannya.

Elwood N. Chapman menegaskan di dalam bukunya (1991: 13), bahwa sikap positif memicu kreativitas. Itu berlaku sebaliknya, kalau seseorang bersikap negatif, maka dia memicu sikap malas. Parahnya, sikap negatif tersebut bisa menular dan membuat hubungan seseorang dengan orang lain menjadi tidak harmonis.

Lantas apa jadinya hubungan (kerja sama) yang dibangun dengan suasana negatif? Orang-orang yang ada di dekatnya otomatis tidak akan nyaman dan tidak akan bertahan lama untuk bekerja sama. Bukankah kondisi tersebut sangat merugikan dirinya sendiri?

Ketujuh, suatu saat mantan karyawan bisa jadi akan butuh bantuan mantan kantornya. Entah dalam urusan apa saja yang bisa jadi tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Misalnya dia kerja di bank, lalu resign begitu saja. Setelah itu dia menjelek-jelekkan kantornya.

Lain waktu, ternyata dia membutuhkan uang dan mau mengajukan kredit di kantor lamanya. Apakah hal tersebut tidak mempermalukan dirinya sendiri?   

Itulah bukti bahwa apa yang dilakukan seseorang pada masa lalu sangat memengaruhi kondisi dirinya pada saat ini. Begitu juga keputusan-keputusannya saat ini, nantinya akan berpengaruh pada masa depannya.

Kalau saja karyawan yang resign karena frustasi dan menyimpan dendam di hatinya mau memerhatikan ketujuh hal penting tersebut, tentu saja dia tidak akan pernah memosisikan dirinya sebagai musuh kantor lamanya. Ya?

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Referensi:

Carnegie, Dale. 2011. Make Yourself Unforgettable. Terj. Fairano Ilyas. Jakarta: Gramedia

Chapman, Elwood N. 1991. Sikap: Kekayaan Anda yang Paling Berharga. Terj. Agus Maulana. Jakarta: Binarupa Aksara

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: