Kalau Nggak Ngapa-ngapain, Ngapain Pacaran?

Sebelum abad 20 pacaran didefinisikan masyarakat sebagai proses saling mengenal dua pihak sebelum ke jenjang pernikahan.

Semakin ke sini, pacaran bukan hanya dikhususkan untuk orang-orang yang akan menikah, namun sepasang manusia yang saling mencintai dan belum bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Itulah kenapa mereka lebih memilih pacaran agar bisa saling memiliki tanpa harus ada kewajiban-kewajiban berumah tangga yang harus mereka lakukan.

Peminat pacaran bukan hanya orang-orang dewasa yang sudah bekerja, namun juga anak-anak sekolah. Mirisnya, anak sekolah dasar bisa saja melakukan pacaran.

Kenapa jumlah remaja pacaran begitu meningkat dari hari ke hari?

Karena pacaran itu murah. Bisa memiliki seseorang yang kita cintai tanpa harus mahal-mahal menafkahi, tanpa harus memikirkan masalah rumah tangga yang katanya begitu rumit.

Hubungan pacaran hanyalah bersenang-senang tanpa tahu dibawa ke mana nanti hubungannya, yang penting satu sama lain saling senang dan menyenangkan.

Pacaran itu hanya untuk orang-orang yang tidak percaya diri bahwa kelak akan ada seseorang yang tepat datang untuknya. Katanya kalau tidak pacaran, tidak akan menemukan jodoh.

Ada hal yang harus kita ketahui dan percaya bahwa jodoh kita sudah tertulis di kitab langit sebelum bumi ini diciptakan dan tak akan berubah sampai bumi ini dihancurkan. Jadi, tidak perlu khawatir sampai-sampai menghabiskan waktu untuk menjelajahi hati anak manusia.

Tanpa harus membicarakan lagi halal-haramnya pacaran dalam Islam, sebenarnya sudah banyak yang tahu kalau pacaran adalah perbuatan haram. Bahkan, pelaku-pelaku pacaran sebenarnya sudah tahu bahwa pacaran itu haram.

Nggak percaya? Coba deh kalau berani, tanya ke mereka sendiri.

Lalu kenapa mereka masih pacaran?

Ya karena pacaran itu enak. Segala sesuatu yang diharamkan dalam agama dibungkus kenikmatan oleh setan. Itulah kenapa banyak orang menukar ayat-ayat Al-Quran dengan kenikmatannya yang hanya sesaat.

Banyak yang beralasan kan yang penting pacaran nggak ngapa-ngapain, ya terus kalau nggak ngapa-ngapain, ngapain pacaran? Ya nggak?

Katanya, pacaran bisa untuk menyemangati. Kalau pacaran untuk menyemangati diri, coba kita lihat berapa banyak orang yang bunuh diri karena pacarnya selingkuh.

Berapa banyak orang yang putus sekolah karena ketahuan melahirkan di kamar mandi sekolah. Berapa banyak orang yang rela menangis seharian, galau di status media sosial, atau mengurung diri di kamar karena bertengkar dengan pacarnya.

Kalau memang pacaran bisa menjadikan penyemangat, seharusnya hal-hal seperti ini tidak harus terjadi.

Mungkin orang-orang pacaran yang tidak mengalami hal-hal di atas bisa berkomentar, aku selama ini pacarannya positif kok makanya nggak sampai seperti itu.

Kalau kalian masih selamat sampai sekarang, tidak bunuh diri atau lainnya, bukannya kalian yang bisa pandai menjaga diri. Tapi Allah yang masih mau menjaga kalian. Allah yang cintanya kalian duakan itu masih mau memperhatikan keselamatan kalian.

Katanya, pacaran untuk mengenal calon pasangan lebih dalam. Kalian pernah tahu kan banyak kasus di sekitar. Pacaran lama ternyata setelah menikah beberapa bulan cerai karena sikap buruk pasangan yang baru diketahui.

Saat pacaran orang-orang menunjukkan apa-apa saja yang baik dalam dirinya. Kalian yang hanya bertemu beberapa jam sehari atau berapa kali seminggu tidak akan lebih mengenal seseorang sebelum hidup berhari-hari dengannya seatap.

Pasangan yang sudah menikah beberapa tahun pun, tak menjamin orang itu bisa mengenal baik pasangannya. Butuh waktu panjang untuk mengerti dan memahami karakter seseorang.

Orang-orang yang pacaran sudah merasa baik mengenal pasangannya. Padahal belum ada setengah dalam diri pasangannya yang berhasil diketahui, lebih buruknya mungkin belum sama sekali dikenalinya.

Daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk saling mengenal tanpa pernah menjamin apa-apa kecuali peluang melakukan dosa, lebih baik kita membangun kesiapan untuk saling menerima.

Sehingga proses yang saling mengenal tanpa didahului kesiapan untuk menerima hanya akan menimbulkan perasaan kecewa, yang jika ditumpuk lama-lama akan berbahaya. (Azhar Nurun Ala, Pertanyaan Tentang Kedatangan, halaman 45)

Katanya, kalian ingin mempunyai istri atau suami yang solih/ah. Padahal orang yang solih/ah itu bukan orang yang pacaran. Orang yang mengenal baik agamanya, pasti tahu hal apa yang tidak diperkenankan dalam agamanya.

Laki-laki atau perempuan yang baik, tidak akan menempatkan kesenangan pribadinya melebihi kecintaannya kepada Allah.

Orang yang benar-benar mencintai kita, akan menjaga kehormatan dan kesucian hati kita. Pacaran itu bukan didasari atas rasa cinta yang suci, namun karena nafsu ingin memiliki dan menikmati.

Orang yang benar-benar mencintai tidak mengajak berdua-duaan, tidak membawa ke utara sampai selatan dilihat orang, dan tidak memberi harapan tanpa kepastian.

Mencintai itu menempatkan kita pada posisi sebaik-baiknya dan melindungi dari fitnah.

Kalau sekarang saja dia berani membawamu ke mana-mana sebelum halal, kelak dia mudah tergoda pada apa-apa yang belum menjadi haknya.

Katanya, banyak orang takut tidak mengenal baik orang yang akan menikah dengannya. Banyak orang takut tidak bisa mencintai pasangannya dalam pernikahan. Padahal sebenarnya kuncinya itu hanya rasa cinta kita kepada Allah.

Hal pertama yang harus kamu tanyakan pada calon pasanganmu yaitu kedekatannya dengan Allah.

Jika dia begitu mencintai dan taat kepada Allah, maka dia insyaallah tak akan mengecewakanmu. Karena dia tahu bagaimana cara memperlakukanmu yang baik di mata Allah. Serta tidak akan sulit orang-orang yang mencintai karena Allah untuk saling mencintai dan menerima.

Padahal pacaran itu bisa menyisakan luka perih saat satu sama lain menyakiti. Serta menyisakan penyesalan yang tak akan bisa dihapus begitu saja saat sudah tak lagi bersama. Maka, sebelum menyesal dikemudian hari, mulai sekarang belajar yuk untuk menempatkan cinta pada sebaik-baiknya.

Oleh: Anik Cahyanik.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan