TERNYATA, memakai jilbab di sekolah umum enggak seburuk yang kubayangkan. Hari ini, aku berhasil melaluinya dengan mulus. Semua baik-baik saja, enggak ada yang mengusik atau mengejekku. Terlebih lagi, aku harus menjadi MC pengganti saat upacara, jadi otomatis seluruh anak SMK Nusa Bangsa sudah tahu akan perubahanku. Terus, ada juga ulah Dwi—ketua OSIS—yang memberikan permen bertangkai segala, katanya sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau menjadi MC upacara pagi tadi.

***

Entah sudah keberapa kali aku menghela napas panjang. Malam ini, aku merasakan suatu hal yang sulit untuk kujelaskan. Ada rasa cemas, tapi entah apa yang harus kukhawatirkan? Ada perasaan bingung, padahal aku enggak sedang menghadapi suatu pilihan atau pertanyaan yang harus kujawab.

Aku memilih meraih ponsel, lalu membuka akun Instagram, berharap bisa sedikit mengalihkan perasaan enggak jelas ini. Jempolku terus mengusap-usap layar ponsel. Jariku berhenti begitu ada sebuah video yang otomatis terputar, dan itu pas banget dengan apa yang aku rasakan.

            Bila dadamu sesak.

            Pikiranmu dipenuhi oleh rasa cemas.

            Serta hidupmu terasa hampa.

            Alquran, ya Alquran yang mampu mengatasi itu semua.

            Alquran akan memberikan ketentraman dalam jiwa.

            Maka dari itu, ayo, ngaji sebelum mati.

Jempolku langsung memberikan love pada postingan itu. Benar juga, pikirku. Aku langsung melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang dua belas. “Astagfirullah,” ucapku sambil menguap. Giliran ada niat mau ngaji, eh malah ngantuk banget.

Aku berdiri lalu berjalan sedikit gontai menuju kamar mandi untuk menjalankan ritual sebelum tidur. Biasanya aku hanya sikat gigi dan cuci kaki. Namun, Ibu pernah berkomentar saat melihatku. Katanya lebih baik sekalian berwudu, lebih barokah dan dilindungi oleh para malaikat selama kita tidur.

Aku kembali ke kamar, lalu memasang jilbab dan mengambil Alquran di meja. Aku sadar, ngajiku belum sempurna, masih ada beberapa huruf yang kadang membuatku berpikir keras untuk mengucapkannya. Memang harus minta bantuan seseorang untuk mengajariku mengaji.

***

Aku berangkat sekolah. Selama di bus, perasaan cemas itu muncul lagi. Aku mencoba mengingat-ingat, apa ada PR hari ini? Enggak. Ya Allah, jaga perasaanku dari godaan setan-setan yang terkutuk.

Bus berhenti, aku menyodorkan uang kepada kenek, lalu turun. Beberapa langkah memasuki gerbang. Ada suara Merlin berteriak memanggilku dari belakang. “Ya ampun, santai aja kali,” komentarku melihatnya berlari ke arahku.

Dia berhenti, lalu memegangi dadanya dengan napas terengah-engah. “Aku harus cerita ke kamu, penting!” ucapnya tersengal.

“Tenang-tenang,” ucapku sambil mengusap bahunya, “kita ngomong di kelas aja, yuk.”

Aku sengaja mengajaknya ke kelas, supaya bisa memberikannya kesempatan untuk mengatur napas yang putus-putus. Sepertinya memang terlihat sangat genting, tapi enggak bisa dipungkiri sih, kalau Merlin ini memang anaknya heboh. Terkadang suka berlebihan dalam segala situasi.

“Mau ngomong apa?” Aku menaruh tas di meja, lalu duduk.

“Semalam itu, Dwi kayaknya kepoin kamu, deh,” ucapnya sedikit berbisik sambil mata mengawasi sekitar.

Aku menajamkan pendengaranku dengan sedikit mencondongkan bahu ke arahnya.

“Si Dwi semalam tanya-tanya tentang kamu,” ucapnya dengan sedikit lebih jelas.

“Tanya apa dia?” Aku membenarkan posisi duduk, lalu kembali menatapnya.

“Tanya kamu itu sukanya sama siapa? Tipe cowok kamu tuh gimana?”

“Terus kamu jawab apa?” Dadaku terasa berdebar lebih cepat dari sebelumnya.

“Ya aku jawab aja, enggak tahu. Ya, emang aku enggak tahu. Entah, sahabat macam apa aku ini enggak tahu tipe cowok sahabatnya sendiri. Ya, kamunya juga enggak banyak cerita ….”

Merlin mendadak berteriak seakan teringat akan sesuatu. “Aha! Kamu pernah bercerita soal Habil!” ucapnya dengan nada tinggi.

Aku memukul pahanya, supaya bisa mengendalikan suaranya. “Merlin!” ucapku pelan, tapi tegas. Aku merasa, pipiku mulai menghangat. Duh, nama itu, Apa kabar ya dia?

Merlin menutup mulutnya sejenak, lalu berkata, “Aku mau kasih kabar ini semalam, tapi setelah jawab pertanyaan dia, paket dataku habis, hahaha.”

Aku memutar kedua bola mataku. “Sudah ah, aku mau ke Ruang OSIS. Harus mengurus LPJ acara seminar waktu itu.” Aku berdiri kemudian keluar kelas, meninggalkan Merlin di kelas.

Apa ini arti dari perasaan cemas semalaman? Aku berjalan menuju ruang OSIS dengan perasaan aneh setelah diceritakan tentang Dwi barusan. Kucoba untuk bersikap senormal mungkin, seolah enggak terjadi apa-apa.

Aku memasuki ruang OSIS, terlihat ada Dwi sedang duduk di mejanya. Dia menatapku sekilas,  seolah hanya memastikan siapa yang masuk. Setelah itu dia kembali dengan buku yang ada di tangannya. Tanpa senyuman, atau sapaan untukku.

“Dwi, LPJ kemarin sudah ditandatangani?” tanyaku karena enggak melihat berkas tersebut di meja sekretaris. Lima detik berlalu tanpa jawaban. Aku menelan ludah. Perasaan suaraku sudah cukup jelas untuk didengar olehnya. “Dwi, LPJ acara kemarin—”

“Masih di ruangan kepala sekolah,” jawabnya sambil berdiri tanpa menatapku, kemudian ke luar begitu saja.

Sedangkan aku mematung dengan perasaan penuh tanya akan sikapnya yang asing. Seketika itu aku ingat apa yang diceritakan Merlin saat di kelas tadi. Apa artinya semua ini, sih?

Aku menahan sesak di dada, memilih kembali ke kelas. Perasaanku jelas enggak karuan saat ini. Dwi itu orangnya hangat, enggak dingin seperti aku ini, asing. Dwi itu orangnya ramah, bukan cuek dengan sikap masa bodohnya.

Begitu sampai di kelas, aku langsung menghampiri Merlin yang terlihat sibuk membersihkan kukunya. “Mer, kamu cerita apa aja sama Dwi?”

Merlin langsung berhenti mengikir kukunya, lalu menatapku yang duduk di sampingnya. “Ya, kan aku sudah cerita tadi sama kamu, Lu. Ada apa?”

“Soal lolipop kemarin, kamu cerita juga sama dia?” Aku membahasi kerongkongan yang mengering dengan air yang ada di tas.

“Ya, enggaklah, Lu, masa aku cerita hal begituan. Ada apa, sih?”

Aku tercenung mendengar jawaban Merlin. Apa jangan-jangan ….

***

Awalnya aku hanya kagum padanya, caranya bekerja dalam tim, semangatnya dalam berorganisasi, membuat ada getaran aneh di hati setiap kali menatapnya. Terakhir kemarin, pertama kali melihatnya mengenakan jilbab, sudah paket komplet pokoknya.

“Mer,” ucapku mengagetkan dia yang sedang membaca buku, “titip ini, ya.” Aku menyodorkan sebuah lipatan kertas ke Merlin.

“Untuk?” Merlin memasang wajah bingung.

“Si Lulu.”

“Oh, oke!” Merlin menyatukan ujung jempol dengan ujung telunjuknya, membentuk lingkaran.

“Makasih, ya.” Jantungku berdebar enggak karuan saat itu, terasa tertompa lebih cepat, melebihi ritmenya saat aku bermain basket.

Aku mengurungkan niat untuk kembali ke kelas, sepertinya lucu aja melihat ekspresinya ketika membuka hadiah dariku. Aku memilih memutari kelas, kemudian mengintip dan menunggu dari jendela paling ujung.

Enggak perlu waktu lama, terlihat Merlin sudah menarik-narik tangannya, membawa cewek itu ke meja mereka. Terlihat wajahnya tersenyum begitu membaca tulisan dariku. Kemudian dia mengambil sesuatu dari kolong meja. Kini aku yang tersenyum melihatnya.

Namun, seketika senyumku memudar, begitu kulihat dia menyerahkan lolipop pemberianku kepada sahabatnya. Apa maksudnya ini? Kenapa harus diberikan ke orang lain? Hatiku rasanya nyeri. Hilang debar menggembirakan yang kurasakan sebelumnya. Secepat ini aku menerima jawaban atas apa yang aku rasakan kepadanya.

Aku meninggalkan tempat itu, menuju kelas dengan perasaan yang berantakan. Selama di dalam kelas, aku enggak bisa menerima pelajaran dengan baik, akhirnya aku memilih izin untuk ke ruang OSIS. Selama di ruang OSIS pun aku enggak bisa nyaman, hingga akhirnya bel pulang berbunyi. Aku kembali ke kelas dan memilih langsung pulang. Terdengar beberapa orang memanggilku, tapi kali ini aku sedang enggak mau diusik. Maaf.

Aku mengeluarkan ponsel, kemudian menelepon Habil—sahabat SMP. Hanya butuh dua kali nada sambung, suara salam dari Habil sudah terdengar.

“Waalaikumsalam,” jawabku, “aku sekarang ke rumahmu, ya?”

“Oh, sini aja, My Brother, ditunggu.”

“Oke.” Aku menutup panggilannya tanpa salam.

Terlihat ada dia di depan kelasnya, aku memilih lewat jalan di belakang kelas. Entah rasanya malas untuk bertemu dengannya. Aku mengambil motor, lalu menarik gas dengan kecepatan tinggi, melaju menuju rumah Habil.

Awan terlihat menghitam di ufuk barat. Dedaunan yang kering pun mulai berguguran, terbawa angin yang cukup kencang. Aku langsung menutup kaca helm, menghindari debu supaya enggak mengenai mata.

Sampai di rumah Habil. Aku langsung menuju kamar Habil, setelah mendapat izin dari ibunya.

“Habil, di dalam?” teriakku dari ambang pintu, karena terlihat kamarnya setengah terbuka.

“Ya, masuk aja, Wi.”

Aku sedikit mendorong pintu, lalu masuk. Aroma cokelat yang menenangkan, menyambutku, memberikan efek relaks. Habil sedang duduk di balik laptopnya, ya dia memang seorang content creator, enggak heran kalau followers-nya banyak.

Dia berdiri, lalu menyalamiku. “Bentar ya, kuambil minum dulu.”

“Sip, kalau bisa yang berwarna, ya, hehe.”

Sebisa mungkin mengalihkan perasaan yang baru saja terjadi. Aku menghela napas. Kemudian memilih duduk di meja kerja Habil, ya aku menyebutnya begitu. Layar laptop menampilkan akun Instagram-nya, iseng aku mengarahkan kursor pada kolom pencarian. Aku sudah biasa melakukan ini, kata Habil kalau cuma lihat-lihat enggak masalah, asal enggak merusak konten atau akunnya.

Klik! Kursor sudah berada pada panel pencarian. Otomatis tampak akun-akun yang sering dikunjungi oleh Habil. Pandanganku terfokus pada akun teratas ada @lulu_. Hah? Ternyata Habil juga …. Hatiku yang tadi luka, kini seperti disiram oleh perasaan jeruk nipis. Perih.

“Gimana kabar anak-anak?”

Habil masuk dengan membawa minuman berwarna oranye. Aku langsung mengklik sembarang pada layar, untuk menutup tampilan pencarian. Aku menghampirinya sambil menahan perih di hati ini, lalu mengambil segelas minuman. “Baik,” jawabku, kemudian menegak air dalam gelas.

“Lulu gimana?”

Uhuk! Uhuk! Aku tercekat mendengar pertanyaan itu. Kenapa harus menanyakan dia? Aku meletakkan gelas kembali ke asalnya.

“Dia baik,” jawabku singkat. Sepertinya aku salah memilih tempat untuk mengistirahatkan hatiku. “Oh, iya! Aku harus mengantar ibu ke tempat bude,” ucapku sambil menepuk dahi. Aku bergegas menyalaminya lalu ke luar.

“Kok buru-buru?” tanya ibunya Habil yang ternyata masih di ruang tamu.

Aku berhenti sejenak. “Iya, Bu, baru ingat ada tugas, permisi, Bu.”

“Bentar lagi hujan, Nak,” suara ibunya Habil menguap begitu saja.

Aku sudah berada di luar. Duar! Suara guntur mulai terdengar. Kutuntun motor untuk sampai di depan pagar. Satu-dua tetesan hujan terlihat membasahi jok motorku. Ah, persetan dengan hujan. Aku menaiki motor, kemudian memutar kunci. Setelah mesin motor menyala, aku menarik gas, bersamaan dengan derasnya hujan yang mulai turun.

Kalau tahu cinta sesakit ini, enggak akan aku mengenalnya.

***

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: