Kalau Tak Kunjung Dapat Kerjaan, Barangkali Kamu Lakukan Kesalahan Ini

Ternyata enggak hanya jodoh yang bikin resah.

Persoalan kerjaan juga masih sering bikin masalah. Sudah lulus kuliah, tapi susah cari kerjaan. Kalau yang bapaknya kaya, mah tenang-tenang saja.

“Ah, warisan bapak tuh enggak bakal habis sampai tujuh turunan.”

Realitanya enggak semua lulusan sarjana, atau ahli madya, maupun yang lainnya bisa hidup tenang setelah wisuda. Kebanyakan bapaknya bukan orang kaya. Mereka banyak yang ketika kuliah mati-matian ngencangin ikat pinggang. Demi bisa makan dan tetap lancar bayar semesteran.

Begitu lulus kuliah, nganggur di rumah kontrakan. Bulan demi bulan berjalan, persediaan logistik pun semakin menipis. Uang jajan bulanan jelas otomatis di-stop. Jangankan mau nge-date, mau SMS “papa minta pulsa” saja enggak mampu.

Jalan alternatifnya, ya cari kerjaan atau nyoba jadi pengusaha. Namun, biasanya dalam kondisi terhimpit begitu selalu pesimis enggak punya modal. Jadi sebagian besar larinya ya, cari kerjaan.

Akhirnya mau enggak mau mondar-mandir cari kerjaan. Tanya sana-sini untuk mendapatkan info lowongan. Apakah kerjaan itu akan bisa didapatkan dengan mudah? Nyatanya masih banyak yang mengeluh belum dapat kerjaan, tuh.

Coba deh, renungkan beberapa kesalahan ini. Barangkali di antaranya secara enggak sadar telah menghambat kita mendapat kerjaan. Apa saja?

Kurang Paham Potensi dan Nilai Jual Diri Sendiri

Ijazahnya sarjana perawat, tapi enggak paham spesialisasi mana yang paling dikuasi. Perawatan medikal bedah, perawatan anak, perawatan penyakit dalam, atau yang lainnya. Tahunya ya, lulusan perawat kerjaannya merawat orang sakit. Jadi, kudu masukin lamaran di rumah sakit.

Ini berlaku juga pada lulusan lainnya. Jangan sampai enggak punya spesialisasi di bidang yang kita pelajari selama kuliah. Kenapa harus paham?

Katakanlah kita melamar kerjaan di suatu perusahaan yang butuh sarjana perawat, misalnya. Tentu semua calon karyawan yang masuk kriteria adalah yang memiliki ijazah perawat. Kita dan semua yang melamar di perusahaan itu jelas sudah memastikan punya ijazah perawat.

Realitanya perusahaan kan enggak cuma melihat dari sisi lampiran fotokopi ijazah? Mereka masih akan melakukan seleksi lanjutan. Seleksi administrasi, ujian tertulis, ujian wawancara, dan lain sebagainya.

Dalam seleksi lanjutan inilah momen kita jualan. Menunjukkan potensi diri dan nilai jual yang kita miliki. “Ini loh, saya punya sertifikat pelatihan bedah. Ini loh saya pernah jadi tim relawan PMI.” Semua hal-hal yang baik dalam diri kita, sebaiknya disiapkan sebagai senjata. Agar memiliki daya tawar agar bisa diterima kerja.

Lah, bagaimana kalau enggak punya sertifikat keahlian atau yang lainnya? Ya, minimal tunjukkan kalau kita punya komitmen dan sebagai pembelajar yang baik.

Terlalu Bergantung pada Lowongan Kerja

Ini kesalahan yang sering dilakukan para fresh graduate. Mereka kebanyakan menghabiskan waktu untuk mondar-mandir cari info lowongan kerja. Dari koran, internet, dan lain sebagainya.

Kenapa enggak nulis saja surat lamaran kerja sebanyak-banyaknya, lalu dikirim ke beberapa perusahaan?

Mending menunggu panggilan tes masuk kerja ketimbang menunggu lowongan. Karena enggak semua perusahaan mempublikasikan informasi lowongan pekerjaan ketika mereka butuh karyawan.

Ada perusahaan yang lebih suka memprioritaskan surat lamaran yang sudah masuk. Menyeleksi dan mencari calon karyawan yang cocok. Kalau belum ketemu, ya biasanya akan mempublikasikan untuk mencari yang lebih cocok.

Nah, kalau surat lamaran kita lebih dulu terarsip di sana, ya kita tentu saja punya peluang lebih banyak. Lamaran kita diseleksi duluan sebelum edaran lowongan kerja diedarkan. Beda kalau kita menunggu info lowongan, saingannya bisa lebih berat.

Kurang Tepat Menentukan Sasaran Kerjaan

“Ah, saya mau jadi PNS aja. Kerja di swasta gajinya kecil.”

PNS masih jadi pilihan favorit. Selain dianggap gajinya lebih gede, kerjaannya juga lebih ringan daripada swasta. Entah ini mitos atau kenyataan. Hehe.

Kita boleh menarget di perusahaan mana saja tempat kita akan bekerja. Enggak ada yang melarang. Tetapi harus selalu ingat dengan kapasitas diri kita. Jangan-jangan enggak cocok dengan kualifikasi yang dibutuhkan.

Kalau mau jadi PNS, misalnya. Ya, pastikan kualifikasi yang ada pada diri kita sesuai dengan formasi yang dibutuhkan. Kalau pegawai swasta, ya tujukan lamaran pada jabatan yang sesuai kebutuhan. Minimal yang sesuai dengan background pendidikan dan keahlian yang kita miliki.

Kurang Pergaulan

Pergaulan ini penting. Semakin banyak teman, semakin banyak jalan untuk mendapatkan kerjaan. Banyak loh yang dapat kerjaan karena lantaran rekomendasi dari teman.

Silaturahmi memperlancar rezeki. Yakin saja. Kadang pas kita kepepet butuh sesuatu, ada saja teman yang membantu. Begitu juga soal kerjaan. Kadang kita sudah mentok mencari kesana-kemari, ternyata teman kita sendiri yang nawarin kerja.

Percaya enggak percaya, kekuatan rekomendasi dari teman itu sangat kuat. Kadang di beberapa perusahaan masih mengandalkan “orang dalam” sebagai perantara lamaran kerja. Entah sekarang masih ada atau enggak. Yang saya amati sampai saat ini rekomendasi orang yang dekat dengan perusahaan biasanya bisa memuluskan lamaran kerja.

Kurang Istiqomah Berdoa dan Berusaha

Ini kuncinya. Doa dan usaha jangan sampai putus. Kalau baru ditolak sekali, yakin saja Allah punya rencana yang lebih baik. Kalau ditolak berkali-kali, tetap yakin saja bahwa Allah sudah nyiapin momen yang pas.

Jangan buru-buru putus asa karena ditolak perusahaan yang sudah menjadi incaran. Bisa jadi karena kita belum mampu meng-handle tanggung jawab di perusahaan tersebut. Sehingga Allah ngasih kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman kita terlebih dahulu.

Nah, itulah kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan hingga membuat kita susah mendapat pekerjaan. Bagaimanapun kondisinya, jangan pernah menyalahkan orang lain atau diri kita. Apalagi menyalahkan Allah yang sudah begitu baik melimpahkan segala nikmat untuk umatnya.

Tak kunjung dapat kerjaan bukan berarti Allah tidak adil sama kita. Bagian rezeki kita tuh sudah jelas. Kalau memang belum waktunya, ya dikejar sampai manapun belum tentu bisa jadi milik kita. Yang perlu kita lakukan hanya bersabar dan berdoa. Tetap berusaha dengan segenap kemampuan kita. So, tetap semangat, Gaes ….

Oleh: Seno Ners.

Tinggalkan Balasan