Ilustrasi dari Newshub.

Jika ada istilah “sudah jatuh kemudian tertimpa tangga” menurutku itu biasa banget. Bagaimana jika kita sudah jatuh, kemudian ditimpukin? Pernah? Terdengar sangat apes, apalagi jika itu terjadi pada saat kita masih berjuang move on.

Ini ceritaku yang hampir saja tenggelam oleh waktu. Kucoba mengailnya kembali, karena aku tidak ingin ada yang mengalami juga. Atau bila memang ada yang mengalaminya, berarti dia ada teman, yaitu diriku. Jangan bersedih. Kita tidak pernah sendirian. Sepakat?

Setelah Kak Rezi menyatakan bahwa dirinya belum siap menikah, aku terjerembab. Berusaha bangun dari perasaan yang sama sekali tidak berbalas. Apalagi, mantan pacarnya dulu juga sempat bertemu denganku. Dia cerita jika selama mereka menjalin hubungan pacaran, katanya si cewek setia, tapi Kak Rezi sebaliknya.

Aku merasa beruntung karena sampai saat ini tidak juga bercerita pada mantannya itu, bahwa aku pun pernah dilukainya. Biar saja cukup mantannya yang curhat, aku jadi pendengar dan menyimak saja. Tidak perlu berbalas curhat.

Kali itu, aku ada di Gelanggang Olah Raga Jakarta Utara. Tempat yang lebih terkenal dengan sebutan GRJU. Aku saat itu bertanding dan juga merangkap manajer tim. Maklum, daerah asal kami para seniornya sibuk bekerja, sedangkan aku kan kerja bisa izin. Hehe. Tepatnya sih, aku selalu punya alasan yang meyakinkan bahwa aku bisa izin. Hihihi. Agak maksa ya kedengarannya. Ya, memang.

Usai pemanasan, aku duduk di tribun kedua dari depan. Di sampingku ada cowok berkulit putih dengan gaya metropolis, dan berbadan tegap. Memakai kaus tim daerah lain, dan aku tahu, dari sepatu, celana dan baju yang dipakai, dia bukan atlet. Kemudian, aku melihat kalung tanda pengenal (cocard) yang dia pakai. Benar, dia manajer tim satu provinsi di luar Jawa.

“Gerakannya bagus,” pujinya.

Entah pujian, atau basa-basi awal perkenalan. Yang jelas, saat aku mulai ngobrol. Ada teman satu tim yang berulang menyodok lututku dengan sikunya. Saat itu, aku duduk memeluk lutut, akan sangat mudah bagi siapa pun yang duduk di sebelahku untuk menyodok dengan siku seperti temanku itu tadi.

“Kak, boleh juga.”

Ah, biasa banget sih. Setiap kali ada cowok yang ngobrol denganku, apalagi baru kenal, teman-teman selalu saja enggak kehabisan cara dalam menggoda. Apalagi adik-adik tingkat yang selalu protes, kapan aku punya pacar. Mungkin memang begitu status jomlo yang sebenarnya. Banyak ledekan.

Singkat kata-kata, kami pun bertukar nomor HP. Aku sama sekali tidak menganggap dia spesial, selain untuk link. Ya, siapa tahu sesekali akan ada pertandingan di mana, tim kami tersesat (halah sudah nyamain dongeng saja, ada kata tersesat), atau butuh penginapan terdekat, apalagi mungkin itu pertandingan di wilayah tempat tinggalnya, kan enak, tinggal telepon, tanya, atau sekaligus minta antar.

“Kira-kira tuh cowok sudah punya istri apa belum, ya, Kak?” tanya teman yang biasa memanggilku Kak.

“Mana aku tahu lah. Lagian, emang penting, gitu, tahu dia udah merit apa belum?”

“Yah, Kakak. Siapa tahu bisa jadi masa depan.”

“Masa depan itu, kalau kamu tanding, terus menang. Pulang bawa medali emas. Ini pertandingan nasional lho, lumayan kalau mau masuk perguruan tinggi. Bisa dapet poin.”

Dengan jawaban itu, dia yang bertanya langsung diam. Dan alhamdulillah, dia benar-benar memperoleh medali emas, serta beberapa tahun kemudia dia memang diterima di perguruan tinggi melalu jalur prestasi olah raga bela diri yang diikuti. (Sebentar, ini kalimat panjang banget, ya? Enggak usah edit ah. Sesekali, biar yang baca ngos-ngosan).

Baik.

Aku langsung lompati saja bagian-bagian bertele-tele dalam cerita ini. Langsung pada saat kami berpisah, dan pulang ke daerah masing-masing. Aku ke daerah di Jawa, dia menyeberang jauh ke sana (ya iya aku sensor, khawatir saja yang baca adalah dia. Hahahaha).

“Kamu masih single, kan?” tanyanya suatu waktu

“Ya. Kenapa?”

Aku sedang sedikit malas, karena aku juga ada tugas beberapa mata kuliah yang aku ikuti. Selain bekerja, aku juga sedang kuliah. Biar aktivitas maksimal, dan aku enggak terlalu berhayal punya pacar tampan rupawan, dan perkasa seperti tokoh sempurna dalam film (maaf, ya, aku mau nyebutin nama Fakhri, tapi masa itu belum ada. Jadi, nanti aku bakal kena vonis ngaco deh. Bisa gawat).

“Aku juga,” katanya membuyarkan materi kuliah yang sedang coba kutulis sebagai jawab tugas.

“Lalu?” tanyaku singkat.

Dan sudah bisa kamu tebak, kan?

Dia melancarkan rayuan seribu satu senapan cinta. Ungkapan yang mendadak membuatku ingin melakukan pemanasan dan memukul sand bag. Sayangnya, hal itu tidak mungkin kulakukan. Karena, di rumahku jelas tidak ada sand bag. Bahkan, aku melatih tendangan pun hanya memakai seutas tali panjang yang menjulur. Aku menendang sekuat mungkin tanpa menyentuh tali, tapi bisa bertenaga. Ah ya, aku lupa. Aku bukan seharusnya bercerita tentang program latihan. Ini kan sedang bercerita tentang dia yang tidak akan kusebut namanya di sini.

Semakin hari, dia bertambah sering menelepon. Hingga saat malam hari, pas jadwalku latihan sendiri, HP ku berdenyar. Aku mengambilnya dari atas meja. Aku mengenali nama itu. Ya nama dia yang tidak kusebut namanya. Tapi, suara yang bicara “halo” adalah suara cewek.

“Saya ini istrinya. Jadi cewek jangan suka kegatelan ya goda suami orang. Jika masih terus berhubungan dengan suamiku, akan kuhancurkan karir karatemu.”

Ini mohon maaf, ya, pembaca. Seharusnya ada tanda seru, karena si istrinya itu membentak-bentak, tapi, keyboard saya enggak mau kalau diketik tanda seru. Sepertinya keyboard sedang mengajarkan tentang kelembutan pada saya, dengan mogok tanda seru. Apa boleh buat, tanda serunya mohon dibayangkan saja.

“Kayak tidak ada cowok single aja, pakai goda laki-laki beristri. Ini aku lagi hamil. Aturan enggak boleh marah-marah. Tapi, sejak kenal kamu, suamiku jadi berubah. Dan aku yakin, kamu biang dari semuanya. Dan kamu membuatku marah.”

Oh, runtuh sudah kepercayaanku pada para cowok. Telak banget ini hantaman. Sebelumnya, baru dijawab kalau Kak Rezi belum siap nikah. Sekarang, kesemprot marah istri teman. Teman macam apa ini? Betul, ya? Sudah jatuh, masih juga ditimpukin. Hikz. []

Oleh: K. Mubarokah.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: