Ilustrasi dari blog.ryan-collection.

Kalian Yakin Kan, Rasa Sakit Akan Membuatmu Lebih Tegar

Bayi kami baru lahir. Tak hanya kebutuhan yang harus kami siapkan, qodarullah bayi kami belum bisa BAB (Buang Air Besar) saat usianya baru menginjak 3 hari. Aku masih di rumah sakit. Melewati operasi caesar yang terbukti lama dalam penyembuhannya, aku pun harus menelan pil pahit ini. Mendapati bayi merah kami harus mengikuti serangkaian tes.

Awalnya aku kira itu hanya kembung biasa. Perutnya memang membesar. Sering kentut dan sangat bau. Saat mengisap ASI pun tak jarang bayi kami memuntahkan lagi, atau sering disebut gumoh.

“Sus, bayi kami gumoh lagi hari ini. Sudah 2 hari seperti ini. Kenapa ya kira-kira?”

Saat suster mengecek kondisiku, sekalian melapor keadaan bayi. Kemarin Bu Dokter sudah mewanti-wanti untuk terus melapor keadaan bayi kami.

“Kami catat ya, Bu, nanti kami laporkan dokter. Ada lagi yang ingin disampaikan?”

“Makasih ya Sus, tolong sampaikan itu saja. Semoga besok sudah baikan.”

“Aamiin. Kondisi Ibu sudah mulai pulih. Besok bisa dicoba turun dari kasur, ya.”

“Baik Sus.”

Suster berlalu. Aku menatap bayi kami yang sudah pulas tertidur. Mas suami masih berada di kantor. Janjinya, sore ini dia akan menemani kami di kamar rumah sakit ini.

Esoknya, bayi kami tetap muntah. Akhirnya dari pihak rumah sakit meminta bayi disurvei di kamar khusus bayi. Suami mengantarkan bayi kami ke sana. Aku hanya bisa cemas. Ya Rabb tolong bayi kami. Rasanya tak percaya jika dia mengalami gangguan proses pencernaan seperti ini. Bahkan dia lahir dengan bobot yang bisa disebut besar dan juga sehat.

“Doain Dedek terus, Bun. Katanya kalau besok belum membaik, akan ada tindakan.”

Mas suami yang baru pulang mengantar memberikan wejangan. Aku semakin cemas jadinya.

***

Pagi harinya, aku dipanggil ke ruangan dokter. Adikku yang sedari pagi menjenguk, mengikutiku dan mencoba menenangkanku. Tapi akirnya aku hanya bisa pasrah mendengarkan penjelasan dokter.

“Bu, anak ibu belum juga BAB setelah hari pertamanya. Alhamdulillah hari pertama sudah keluar BAB-nya. Tapi ini sudah hari ketiga, sebaiknya adek dirawat di RS lain yang terdapat NICU-PICU.”

Deg! Ya Rabb. Ujian apa lagi kali ini. Belum juga aku pulang dari rumah sakit, anakku harus terpisah dariku. Harusnya kan kami pulang bareng-bareng.

“Bun, jangan sedih. Adek sudah ditangani oleh dokter yang bagus. Besok kan kamu juga sudah pulang. Kita bisa jenguk sama-sama.” Suami yang baru datang beberapa menit setelah kutelepon, memelukku.

Hari ini hari terakhirku dirawat. Kondisiku sudah mulai membaik. Hanya hatiku masih hancur. Ruangan ini besar, namun tak ada tangisan bayi yang kudengar. Apa aku benar baru saja melahirkan?

Soal uang, suami bilang, “Ya sudah, Bun, gadaikan dulu emasnya. Nanti kalau ada rezeki lebih, kita ambil lagi.”

Enam hari adek dirawat, esok dia boleh pulang. Kami sudah dimintai uang jaminan saat Adek masuk. Sebenarnya, bisa saja biaya adek dibayar BPJS. Sayang, aku tak sempat mendaftarkannya dulu.

Bismillah, yang penting Adek sembuh dulu. Tak apa emas hadiah mahar dari suami kupakai dulu.

***

Aku tak terlalu tahu apa yang terjadi saat Adek berada di NICU-PICU, tapi kata suami Adek dikasih selang karet di hidung, mulut dan anus. Awalnya, adek diperiksa bagian perutnya, lalu dokter memasukkan selang demi selang ke dalam tubuhnya. Saat mendapati foto yang dikirim suami lewat WA, rasanya lemas seketika. Bayi usia 3 hari sudah harus mendapat tindakan medis seperti itu.

“Bun, Adek perlu ASI. Kata dokter, simpan ASI di kantong dan masukkin kulkas di kamar pasien. Nanti aku ambil dan antar ke Adek,” suami menelepon saat aku sesenggukan di kamar sendirian.

Adek diobati hanya dengan ASI. Memang, untuk BAB yang masih di dalam perut, dokter mengambil tindakan irigasi. Semacam pengeluaran BAB yang disuntikkan obat agar luruh dan bisa keluar dengan mudah. Setelah itu, Adek harus dirawat dulu selama 7 hari, baru boleh pulang. Kata dokter, Adek memiliki gangguan pencernaan yang membuatnya tidak bisa BAB setiap hari. Tapi nantinya akan mulai berkembang lebih baik saat sudah besar.

***

Tawa adek ceria saat kupangku di ruangan bayi. Hari ini hari Adek keluar dari rawat inapnya. Tadinya dia berada dalam inkubator. Mengisap ASI yang kuperah sendiri memakai alat bantu. Sekarang dia mulai belajar menyusu lagi langsung kepadaku.

Tak terasa tetes demi tetes air mata bahagiaku turun. Rasanya seperti benar-benar melahirkan lagi. aku bisa mendekapnya lagi setelah berpisah seminggu lamanya. Setengah jam aku membiasakan lagi disusui. Ada suster yang mengajari kami untuk saling memberi. Aku memberinya ASI dan cinta, Adek memberiku kasih sayang dan rasa dikasihi.

“Bun, yuk kita order taksi. Kita pamitan dulu, lalu Adek digendong aku aja. Kamu masih capek kelihatannya.”

“Enggak Yah, aku mau mendekap dia lebih lama.”

Senja hari itu lebih berwarna. Rumah kami sebentar lagi terisi kebahagiaan lagi. Alhamdulillah.

Oleh: Dhita Erdittya.

Tinggalkan Balasan