HARI itu, langit Ngaliyan tampak mendung. Awan bergelayut menantang mentari yang harusnya bersinar cerah. Seolah mereka turut bersedih mengiringi kepergian seseorang yang begitu berjasa di perumahan ini. Serombongan tamu tampak datang dan pergi dari sebuah rumah sederhana yang catnya sudah memudar. Rumah itu adalah kediaman Mbah Karjo. Ya, pagi itu, Mbah Karjo, begitu kami biasa memanggil beliau, telah berpulang ke hadirat Illahi. Kami seluruh warga perumahan Bukit Permai tengah berduka karenanya.

Suara renyah dan senyumnya yang selalu mengembang kini tak lagi menghiasi hari-hari kami. Warga begitu merasa kehilangan sosok beliau yang dikenal ramah kepada siapa saja dan yang sangat peduli dengan keamanan perumahan. Apalagi kepulangannya begitu mendadak, hanya berselang sehari setelah beliau dilarikan ke RSUD terdekat, karena mengeluh dadanya sakit. Bapak, yang saat itu membesuk Mbah Karjo, bahkan masih sempat bercanda dengan beliau. Namun begitulah, kita memang tidak akan pernah tahu, kapan takdir kematian itu akan memanggil.

***

Sosok Mbah Karjo yang saya kenal, adalah seorang pensiunan polisi. Perawakan beliau yang segar, tegap dan masih gesit ketika beraktivitas, membuat saya tidak menyangka kalau ternyata beliau sudah sepuh (tua). Beliau sudah purna tugas pada tahun 1991. Sejak itulah, beliau berniat mengabdikan diri seutuhnya untuk warga perumahan. Semangatnya untuk melayani warga begitu kuat dan membara. Menurut putra beliau-Mas Hendra, Mbah Karjo memang telah berniat seperti itu, bahkan sejak sebelum beliau pensiun dari jabatannya.

“Bapak itu mungkin punya rasa bersalah yang begitu besar pada warga sini, Mbak.”

“Loh, kok bisa begitu, Mas?” tanya saya pada Mas Hendra, saat berkunjung ke kediaman beliau yang kebetulan memang tak jauh dari rumah.

“Iya, dulu sewaktu masih aktif bertugas, Bapak terlalu sibuk, hingga mengorbankan waktunya untuk bersosialisasi dengan warga di sini. Makanya setelah pensiun, Bapak benar-benar bertekad ingin mengabdikan dirinya, terutama untuk kepentingan keamanan lingkungan, Mbak.”

Ya Allah, seandainya semua abdi negara memiliki jiwa yang begitu mulia seperti Mbah Karjo, yang di masa istirahatnya masih ingin mengabdikan diri. Saya sendiri masih ingat bagaimana pengorbanan Mbah Karjo untuk kenyamanan dan keamanan lingkungan perumahan. Yang saya tahu, beliau memang tak segan berkeliling dari satu blok ke blok lain. Terutama di waktu-waktu rawan tindak kejahatan, yaitu di pagi hingga siang, saat rumah dalam kondisi kosong, karena ditinggal oleh pemiliknya bekerja dan saat larut malam hingga menjelang waktu subuh, ketika warga masih tertidur lelap.

Dulu, sewaktu kecil sampai remaja, saya sering mendengar warga perumahan acapkali diresahkan oleh banyaknya tindak pencurian. Bahkan keluarga saya pun pernah mengalami hal serupa. Kondisi lingkungan kami memang sangat rawan memicu tindak kejahatan tersebut. Di samping karena kontur wilayahnya yang berbukit, juga karena hampir sembilan puluh persen warganya bekerja di luar rumah. Jadi keadaan itu memudahkan para pelaku melancarkan aksinya, terutama justru di siang hari. Walaupun tak jarang ini juga terjadi di malam hari.

Saat yang paling rawan biasanya ketika menjelang lebaran. Maklum saja, sebagian besar warga adalah orang perantauan. Jadi tradisi mudik dan sungkem kepada orangtua wajib dilakukan. Mau tidak mau, mereka harus meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Keadaan dan situasi inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku pencurian, hingga mereka menguras isi rumah dengan mudahnya.

Namun, saya dibuat heran dengan banyaknya tindak kejahatan di perumahan kami yang belum juga menyadarkan warga untuk lebih antisipatif menghadapinya. Bahkan mereka terkesan cuek. Kasus-kasus pencurian yang banyak terjadi paling hanya jadi bahan obrolan ibu-ibu arisan, tanpa ada tindakan lebih lanjut.

Hal ini yang membuat Mbah Karjo sangat prihatin dan merasa bertanggung jawab atas kenyamanan warga perumahan. Jiwanya sebagai seorang perwira polisi, merasa terpanggil untuk mengayomi warga di sekitarnya, tanpa meminta balasan apa pun. Beliau yang kemudian mengusulkan agar kegiatan siskamling digalakkan kembali. Minimal di malam hari, warga merasa aman dan bisa tidur dengan nyenyak

“Awalnya memang enggak mudah, Mbak. Yah, tahu sendiri, warga di sini, rata-rata sudah sibuk bekerja di siang hari, sehingga saat tugas ronda, sering memilih absen, karena alasan capek. Apalagi kalau pas musim hujan seperti sekarang. Dulu, enggak ada seorang pun yang mau ronda. Mereka kurang menyadari tentang arti kebersamaan dalam menciptakan kenyamanan dan keamanan lingkungan. Pak RT dan Pak RW di sini juga seperti tidak punya taring untuk mengajak warganya sadar akan hal itu. Jadi, ya terpaksa Bapak yang mengambil peran itu, Mbak.”

“Iya ya. Mas. Apalagi dulu kita belum punya pos ronda yang representatif. Jadi pasti warga juga malas ngeronda.”

“Betul, Mbak. Alhamdulillah, perjuangan Bapak mendirikan pos ronda ternyata enggak sia-sia. Saya tahu, bagaimana dulu Bapak bekerja keras untuk itu.”

Saya sempat sedikit tercenung mendengar penuturan Mas Hendra, sebab yang saya tahu, pos ronda yang kini juga dikembangkan bangunannya sebagai balai RW itu, murni swadaya warga. Lalu, apa maksud Mas Hendra yang mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja Mbah Karjo? Rupanya Mas Hendra menangkap keingintahuan saya dan langsung menceritakan awal berdirinya pos ronda itu.

“Begini, Mbak. Upaya Bapak menyadarkan warga di sini memang tidak mudah. Beliau butuh waktu dan proses yang tidak sebentar. Beliau sering mengajak ngobrol Pak RT dan Pak RW. Awalnya, ya tidak digubris sama sekali, tapi beliau tidak mau putus asa. Nah, momen puncaknya adalah waktu ada perampokan beruntun di blok empat, kalau enggak salah itu terjadi saat lebaran.”

Sekilas saya jadi ingat Bapak pernah cerita tentang Mbah Karjo yang beberapa kali sempat menangkap basah beberapa orang yang berniat jahat di perumahan ini. Waktu itu pas momen menjelang lebaran. Jadi banyak rumah yang ditinggal mudik oleh pemiliknya. Mbah Karjo seperti biasa, berkeliling dari blok ke blok. Sebagai mantan polisi, beliau punya naluri yang tajam untuk melihat orang-orang asing yang pantas dicurigai.

Saat itu beliau memang melihat beberapa orang mencurigakan yang masuk ke salah satu rumah di blok empat. Mbah Karjo tidak gegabah. Beliau sempat bertanya kepada salah seorang di antara mereka.

“Mas, maaf jenengan (kamu) siapa?” tanya Mbah Karjo dengan nada tegas.

“Saya disuruh nengokin rumah ini, Pak,” jawab salah satu di antara mereka dengan bahasa tubuh yang mencurigakan.

Mbah Karjo kemudian berlalu dari rumah itu, tapi tetap mengamati dari kejauhan. Beliau pun langsung menghubungi kepolisian sektor, agar mengirimkan beberapa personilnya ke lingkungan perumahan kami, semata-mata untuk berjaga jika kecurigaannya benar.

 Beberapa orang polisi yang datang, diminta Mbah Karjo mengepung dari arah ujung blok sampai jalan ke luar blok. Dan kecurigaan Mbah Karjo pun terbukti, gerombolan orang yang dicurigai tersebut keluar dari rumah sambil membawa beberapa barang elektronik, seperti TV, tape recorder, VCD.

“Heee … ngapain kamu ngangkutin barang-barang, katanya tadi mau jaga rumah itu. Kamu maling (pencuri), ya!” teriak Mbah Karjo.

Para pencuri itu kaget dan celingukan. Belum sempat mereka menjawab, beberapa orang polisi yang tadi di hubungi oleh Mbah Karjo, segera mendekat. Mereka pun tidak bisa mengelak lagi dan langsung digerebek dengan barang bukti di tangan. Dan cerita seperti itu tidak hanya sekali atau dua kali saja terjadi.

Mas Hendra terus melanjutkan kisah perjuangan ayahnya dalam usaha mendirikan pos ronda di lingkungan kami. Setelah kejadian perampokan beruntun itu, Mbah Karjo segera mengambil inisiatif untuk mengumpulkan bapak-bapak di lingkungan perumahan. Di situlah, kata Mas Hendra, ayahnya melontarkan ide untuk mendirikan pos ronda yang nyaman, agar siapa pun yang bertugas ronda bisa kerasan.

Yah, memang benar dulu pos ronda kami sangat tidak nyaman. Buat duduk berdua saja, rasanya sudah cukup sesak, saking sempitnya. Maka tak heran, mereka yang kebagian jadwal ronda, paling-paling hanya bertahan satu sampai dua jam saja. Biasanya mulai ronda pukul sembilan malam sampai pukul empat, ini baru pukul sepuluh pos ronda sudah tak lagi berpenghuni alias kosong melompong. Mbah Karjolah yang sering menggantikan berjaga di pos ronda, sambil berkeliling.

Mas Hendra kembali menuturkan, bahwa saat ayahnya mengutarakan usul untuk mendirikan pos ronda itu, banyak warga yang menentangnya. Mereka keberatan jika harus dipungut iuran untuk itu. Apalagi sampai harus membayar denda jika berhalangan hadir.

“Aneh ya, Mas. Padahal itu kan demi kebaikan mereka sendiri,” ujarku.

“Duh, Mbak … dulu bahkan sempat ada yang bilang bahwa Bapak cuma mau nyari keuntungan dari hasil iuran warga. Yah mentang-mentang kami ini keluarga pas-pasan. Tapi alhamdulillah, Bapak kuat mendengar fitnah itu. Jadi Bapak enggak pernah menanggapi. Hanya saja, Ibu yang tidak ikhlas mendengar suaminya difitnah. Makanya Ibu jadi sering marah ke Bapak. Ibu tidak mau Bapak yang sudah kena fitnah seperti itu, masih saja lebih mementingkan mengabdi dan melayani warga di sini dibanding memerhatikan keluarganya,” ungkap Mas Hendra sedih.

Tak terbayangkan olehku, bagaimana perasaan Mbah Karjo saat itu. Dia harus bisa menyeimbangkan antara idealisme yang sudah menjadi tekad dan prinsip hidupnya, dengan keluarga yang juga butuh perhatian darinya. Sungguh, saya bisa memahami bahwa ini tidaklah mudah beliau jalani.  

“Lalu bagaimana warga akhirnya mau diajak iuran untuk membangun pos ronda itu, Mas?” tanyaku kemudian.

“Butuh waktu bertahun-tahun, Mbak. Bapak akhirnya mengusulkan untuk mengadakan iuran bulanan, semacam tabungan gitu, tapi dengan jumlah sukarela, sehingga tidak memberatkan warga. Dan uang itu disimpan dalam rekening atas nama RW, sehingga itu yang kemudian mematahkan anggapan warga yang sudah suuzan pada Bapak. Beliau juga yang mencari donatur untuk menutup kekurangan biayanya,” jawab Mas Hendra sambil menyeruput kopinya.

Dan akhirnya, pos ronda yang nyaman itu benar-benar berdiri empat tahun kemudian. Bahkan kemudian pos itu dilengkapi dengan fasilitas TV dan radio, karpet, peralatan masak, seperti kompor dan cerek, gelas dan teko serta piring. Beliau dan para ketua RT juga menyusun jadwal piket ronda sekaligus menyediakan makanan kecil untuk teman meronda.

Usaha Mbah Karjo tidak sia-sia. Alhamdulillah, setelah ada pos ronda baru beserta segala fasilitas pendukungnya, warga utamanya bapak-bapak dan remaja laki-laki, mau ikut meronda sampai menjelang subuh. Walaupun di siang hari beliau masih tetap harus berkeliling perumahan, tapi setidaknya Mbah Karjo bisa beristirahat di malam hari. Hingga lambat laun, tingkat pencurian di wilayah perumahan kami, berkurang drastis. Warga pun bisa hidup lebih aman dan nyaman, walau masih tetap harus waspada.

Saya tahu persis, Mbah Karjo bukan orang berada di perumahan ini. Memang tak ada harta yang beliau sumbangkan untuk kemaslahatan warga. Namun, tenaga, ide dan gagasan serta motivasi yang kuat, selalu dicurahkan olehnya. Sungguh itu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang ekstra. Warga perumahan dengan berbagai macam karakter dan kepribadian, telah berhasil beliau rangkul dengan senyum dan ketulusan yang luar biasa.

Satu hikmah yang dapat saya petik, bahwa dalam sebuah pengabdian, selalu dibutuhkan rasa ikhlas dan tulus. Itulah yang dapat menjadi kekuatan untuk terus bersabar dalam menghadapi kerikil dan batu yang menghadang. Selamat jalan Mbah Karjo, semoga amal ibadahmu tercatat indah di sisi Allah Swt. Aamiin.

***

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: