“Kalau ke pantai selatan jangan memakai baju biru,” ucap Ibu lirih.

“Emang kenapa, Bu?” tanyaku heran.

“Banyak orang yang memakai baju biru, hanyut dan menjadi abdi dalem Ratu Laut Selatan,” ujar orangtuaku satu-satunya itu.

“Abdi dalem?”

“Iya. Semacam anak buah keraton.”

“Dari mana Ibu dengar kabar itu?”

Rasa penasaranku membuncah. Ibu diam seakan mengingat-ingat sesuatu.

“Hum, itu kata Nenek. Ibu belum pernah lihat langsung, tapi apa salahnya menuruti nasihat orangtua?”

“Iya, Bu.”

“Coba deh cari di internet! Ada enggak kabar tentang hal itu.”

Mata ibu menyelidik. Seakan-akan Beliau ingin memastikan aku tidak melanggar. Mungkin ada kekhawatiran kalau aku ragu atau tidak percaya. Memang aku tidak percaya, pikirku. Bukan masalah menentang orangtua, tetapi ini menggelikan saja. Secercah rasa penasaran muncul. Apa benar? Seperti apa sih wajah Ratu Laut Selatan itu? Apa aku berani membuktikan? Pertanyaan-pertanyaan datang silih berganti.

Saat aku browshing internet malah kutemukan kegiatan upacara labuhan di Pantai Goa Cemara. Upacara labuhan ini dilakukan setahun sekali oleh masyarakat sekitar. Mereka membuat boneka kambing setiap tanggal 1 Muharam atau 1 Suro untuk dibuang ke laut. Boneka kambing yang diberi nama Kambing Kendhit itu diarak bersama beberapa hasil bumi lain. Setelah tiba di Pantai Goa Cemara, kambing dan hasil bumi tersebut dilarung ke laut.

Menurutku itu sia-sia dan aneh. Kalau sekadar untuk daya tarik wisata, aku sih setuju saja. Namun, kalau untuk persembahan kepada Ratu Laut Selatan itu yang terdengar mubazir. Siapa yang mau makan labuhan itu, paling-paling ikan di laut. Dan aku tidak menemukan larangan memakai baju biru ke laut selatan, tepatnya di Pantai Goa Cemara.

Bagaimana pun, aku dan Rindu –pacarku- akan tetap ke sana. Aku tidak mau membuat kekasihku kecewa. Jadi aku tidak akan mengubah rencanaku. Siapa sih yang mau membuat kekasihnya kecewa? Tidak ada, termasuk aku.

Seperti kesepakatan kemarin, kami akan pergi ke pantai pagi ini. Pagi-pagi sekali, habis Subuh. Gila enggak sih? Dari sekian pantai yang ada, kami memilih Pantai Goa Cemara. Kata orang-orang, pantai ini indah sebab teduh, asri dan landai. Apalagi pohon cemaranya banyak yang melengkung membentuk gua-gua. Cantik sekali. Tidak ada kesan menakutkan atau mistis sama sekali. Kami tidak berencana untuk mandi, hanya duduk dan menyaksikan sunrise. Itu saja.  

“Bu, aku pergi dulu,” kataku sambil mencium tangannya.

“Ya, hati-hati,” pesan Ibu.

Segera kunaiki sepeda motor dan menggebernya menuju kost Rindu. Sesampai di kost-nya, kulihat dia baru siap-siap. Kulepas jaketku berhubung suasana agak gerah.

“Mas, aku juga pakai kaus biru ya? Kita couple-an,” ucapnya sedikit manja.

“Okelah,” jawabku sambil melemparkan senyuman.

Beberapa menit kemudian, dia sudah keluar kamar. Ternyata, tidak hanya kausnya yang biru, sandal dan rok pun senada. Mungkin dia berharap agar matching. Itu memang cocok dan menambah kecantikan. Apalagi kulit Rindu putih dan bersih, cocok deh.

“Yuk, berangkat,” ajaknya.

“Ayuk.”

Kami segera melesat ke arah selatan. Jalanan masih terlihat lengang. Hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang, termasuk bus pembawa pedagang pasar hanya satu dua. Rindu memegang erat pinggangku. Kutancap gas sepeda motor agar melaju dengan lebih kencang. Sebab kami tidak mau kehilangan momen mentari pagi muncul di ufuk timur.

Setelah empat puluh menit perjalanan, kami tiba di Pantai Gua Cemara. Suasana terlihat lengang. Sebagian besar warung masih tutup. Begitu kendaraan terparkir dengan aman, kami melangkah ke tepi pantai. Kami duduk berdekatan di bibir pantai. Ombak datang susul menyusul.

Tanpa kami sadari lidah ombak menjilat kaki beberapa kali. Kami tertarik untuk lebih dekat dan bermain air. Kemudian kami melepas alas kaki dan berlari menyongsong ombak berikutnya. Kulipat ujung celana agar tidak basah saat bermain. Ombak datang silih berganti. Namun ombak semakin jauh dan menjauh. Kami mendekat dan mengejarnya. Entah berapa meter, kami telah berlari ke tengah.

Kugandeng tangan Rindu. Beberapa kali kuajak dia melompat saat ombak datang. Dia tampak gembira dan tertawa lepas. Kami sangat menikmati ombak yang terus menerus menerjang. Tiba-tiba ombak hilang dan berubah tenang. Air menyusut dan menepi membentuk jalan setapak menuju sebuah pintu. Pintu yang besar dan megah. Ini seperti sebuah kerajaan di negeri dongeng, batinku.

Ada dua penjaga yang berdiri di kiri dan kanan pintu. Mereka membukakan pintu berwarna keemasan. Aku dan Rindu saling pandang. Antara takut dan penasaran menjadikan kami ragu-ragu melangkah. Namun, kami memutuskan menyusuri jalan sampai ujung. Di bagian kiri ada tembok tinggi menjulang. Sementara sebelah kanan tiang-tiang besar berdiri kokoh. Bangunan ini besar dan sangat megah.

Bangunan apa ini? Apakah ini istana? Tibalah kami di aula yang sangat besar. Di depan kami terdapat kursi besar dan tinggi. Kursi itu keemasan dan terukir dengan indah. Di pegangan kursi terdapat ukiran ular dengan lidah menjulur. Sangat mengerikan. Bulu kudukku mulai berdiri.

“Selamat datang di istanaku.”

Sebuah sapaan terdengar lembut di belakang kami. Aku menoleh dan kulihat seorang perempuan berdiri dengan elegan. Perempuan berambut panjang dengan pakaian biru gemerlap. Bak seorang bidadari yang turun dari langit, sangat cantik. Di belakangnya berdiri banyak gadis cantik dan orang tua berjenggot lebat. Kemudian ada juga orang berbadan tegap dan berpakaian laksana prajurit keraton. Kini tempat ini tampak ramai.

“Ka… kami ada di mana?” kataku sedikit gugup.  Kugenggam tangan Rindu semakin erat.

“Kalian berada di istanaku?” jawab putri cantik berbaju biru. Dia memakai mahkota emas berkilau.

“Istana?”

“Ya. Kalian telah terpilih untuk mengunjungi dan bertemu Kanjeng Ratu,” sela orang tua berambut putih. Apakah ini yang disebut Ratu Laut Selatan? batinku.

“Ya. Aku Ratu Laut Selatan,” ucap perempuan cantik berambut panjang itu.

Oh. Aku terpana. Aku berdiri di depan seorang ratu yang melegenda. Entah, aku beruntung atau naas, bisa bertemu langsung dengannya. Rindu menggenggam lenganku dengan erat. Keringat dingin mengucur deras.

“Mas gimana nih?” bisik Rindu cemas.

“Tenang. Biar aku yang bicara,” jawabku lirih menenangkan. Padahal detak jantungku sudah tidak beraturan. Ketakutan menyelimuti segenap ragaku.

“Karena kalian sudah berada di istana maka kalian harus tunduk aturan kami,” perintah kakek berbaju putih putih itu.

“Apa yang mesti kami taati?”

“Kalian harus bersimpuh dan menyembahku,” perintah Kanjeng Ratu. “Bersimpuhlah. Sebab itu tanda kalian tunduk dan mengabdi kepadaku.”

Mendadak Rindu bersimpuh. Kepalanya menunduk. Sementara aku bersikeras tidak melakukan. Untuk apa aku bersimpuh? Aku mau pergi dari sini cepat-cepat.

“Aku tidak mau,” teriakku.

Langsung datang beberapa punggawa mengepungku. Mereka memegang tombak dan perisai. Aku tidak akan menang melawan mereka, bisikku. Namun itu jauh lebih baik daripada aku tunduk kepada demit ini. Kutarik tangan Rindu dan mengajaknya berlari. Kami berlari sekencang-kencangnya. Rindu agak kesulitan berlari. Napasnya terenggah-enggah. Kulihat para punggawa di belakang terus mengejar. Mereka melayang dengan cepat.

Tiba-tiba muncul dua orang prajurit di depan kami. Sebuah ayunan tombak mengarah ke perutku. Aku bergeser ke samping. Tombak bisa kuhindari tetapi ayunan perisai menghantam pelipis. Buk! Keras sekali. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

“Mas. Bangun Mas, Mas.”

Sayup-sayup kudengar orang memanggil. Beberapa percikan air menerpa wajah. Kubuka mata pelan-pelan. Samar-samar bayangan muncul dan semakin jelas. Banyak orang mengerumuniku. Kenapa aku ini? Di mana para prajurit tadi? Hanya ada dua orang berompi oranye memegang tubuhku.

“Syukurlah. Masnya sudah siuman,” ucap salah satu pria berompi itu.

“Haduh,” keluhku lirih. Pelipis kiri terasa sakit. Kupegang pelan-pelan, terasa ada benjolan.

“Hum, mungkin Mas tadi terbentur karang,” ujar Bapak paruh baya itu. “Mohon maaf yang lainnya bubar ya? Biar Masnya bisa sedikit lega.”

Laki-laki paruh baya itu mengusir orang-orang dengan halus. Beberapa orang segera meninggalkan tempat itu. Ada orang yang sempat menggambil gambarku. Entah untuk apa dia lakukan itu. Padahal aku tidak mengenalnya.

“Teman saya mana, Pak?” tanyaku saat ingat Rindu.

“Teman? Tidak ada orang lain. Saya tadi melihat Mas terapung sendirian di tengah laut.”

“Sendirian? Saya tadi bersama pacar saya, Pak.” Suaraku tertahan.

“Maaf Mas. Saya petugas SAR di sini. Saya tidak menemukan siapa-siapa di tengah laut kecuali njenengan.”

Rindu, ke mana dirimu? Ya Allah, temukan Rindu. Aku takut Rindu tertinggal di istana Ratu Laut Selatan. Pikiranku kacau dan aku tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus mencari sendiri ke laut? Apa aku harus kembali ke istana Sang Ratu? Atau jangan-jangan Rindu tertahan di sana?

“Terus bagaimana dengan teman saya, Pak?” Di tengah kebingungan hanya itu yang bisa kukatakan.

“Nanti, biar kami cari lagi.”

“Tolong ya, Pak. Temukan teman saya,” pintaku.

Air mata tidak bisa kutahan lagi. Air bening menetes membasahi pipi. Ada kekhawatiran. Ada penyesalan. Mengapa aku mengajak Rindu ke sini? Bagaimana nanti kalau tidak ditemukan? Atau dia ditemukan dalam keadaan sudah meninggal? Bagaimana aku menjelaskan kepada bapak ibunya? Bagaimana kalau mereka menyalahkanku? Aku terduduk lemas. Aku hanya bisa menunggu. Ya, aku akan menunggu sampai Rindu ditemukan.

Bapak petugas SAR segera menghubungi teman-temannya. Mereka berkoordinasi dengan cepat. Sejurus kemudian mereka sudah berpencar. Ada yang mencari speedboat, pelampung, dan alat selam. Semua bergerak cepat. Satu per satu speedboat meluncur ke tengah laut.

Aku hanya bisa memandangi dengan nanar. Harapan menggunung, semoga Rindu ditemukan segera. Penyesalan hinggap di relung hati. Andaikata pagi tadi aku hanya duduk dan mengobrol, tentu semua ini tidak akan terjadi. Andaikata kami tidak bermain ombak. Andaikata kami pergi ke pantai yang lain. Andaikata aku mendengarkan Ibu. Andaikata aku tidak ke pantai dalam musim seperti ini.

 Ah, semua telah terjadi. Memang benar, penyesalan selalu datang belakangan.

Jam terus berjalan. Matahari semakin terik. Entah pukul berapa sekarang. Aku tidak beringsut. Tetap duduk di tempat semula. Tetap berharap Rindu ditemukan.

***

Oleh: Jack Sulistya.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: