Kamu Harus Tahu, Inilah Bedanya Cinta dengan Nafsu

Cinta. Satu kata yang kaya makna. Bagi seorang yang sedang jatuh cinta, cinta itu membahagiakan. Namun ketika cinta itu tidak sesuai dengan harapan, maka secara otomatis dapat berubah menjadi penderitaan. Cinta tergantung pada orang yang menjalaninya. Bila kamu bisa mengambil sisi positif dari rasa cinta, maka cinta dapat membangun dirimu menjadi pribadi yang lebih baik. Sebaliknya, kalau kamu terlalu mencintai seseorang, maka cinta bisa membunuhmu secara perlahan. Kalau kamu ingat cerita Qois dan Laila, cinta menjelma menjadi sangat kejam. Bahkan lebih kejam daripada pembunuh berdarah dingin sekalipun. 

Sayangnya di zaman sekarang, banyak orang mudah sekali berbicara cinta. Cinta menjadi semacam komoditas murahan yang dapat kita temui di mana pun. Banyak laki-laki berkata cinta pada perempuan. Padahal yang ada di otaknya hanya soal nafsu. Entah itu nafsu birahi, nafsu untuk mendapatkan pacar yang ganteng atau cantik, nafsu untuk mengambil manfaat dari orang lain.

Nafsu. Satu kata dan jelas hanya memiliki satu makna. Ia ada hanya untuk pemuasan kesenangan sesaat. Semoga kamu bukan termasuk dari orang yang mudah berkata cinta, tapi yang ada di hatimu sebenarnya hanya nafsu sesaat. Oleh karena itu, kamu harus bisa membedakan apa itu cinta dan nafsu?

Cinta itu menjaga, bukan merusak

Ketika kamu menyukai lawan jenis, itu sebenarnya manusiawi. Yang tidak normal ialah bila kamu menyukai sesama jenis. Namun yang perlu kamu ketahui, cinta itu menjaga, bukan merusak. Sebagaimana kamu mencintai mainan atau barang kesayangan kamu. Kamu tentu tidak ingin barang tersebut rusak. Maka secara naluri kamu akan menjaganya dengan baik agar tidak cepat rusak. Begitulah cinta kepada lawan jenis. Kamu juga seharusnya menjaga dia dengan baik. Jangan sampai rusak oleh tangan-tangan jail. Apalagi oleh tanganmu sendiri. 

Cinta itu membahagiakan, sedangkan nafsu menghancurkan

Cinta juga berarti upaya untuk membahagiakan orang yang kamu cintai. Ketika kamu mencintai sesuatu, kebahagiaanmu bukanlah yang utama. Yang terpenting adalah kebahagiaan orang yang kamu cintai.

Sebaliknya, nafsu justru memberikan penderitaan karena menghancurkan. Entah itu menghancurkan kepercayaan, menghancurkan kebaikan bahkan menghancurkan masa depan. Tidak ada yang namanya cinta menghancurkan. Sebab Allah pun mengajarkan tentang cinta agar menjadi kekuatan dalam kehidupan. Bukan justru membuat cinta menjadi penyebab kehancuran. 

Cinta akan mendorongmu menjadi pribadi yang lebih baik

Jangan berkata cinta bila kamu merasakan suatu perasaan yang membuatmu berpikir untuk melakukan hal-hal negatif. Apalagi sampai membuat kamu meninggalkan kebiasaan baik dan berubah kepada perilaku kurang baik. Cinta sejati akan membuat kamu berupaya untuk menjadi lebih baik. Minimal kamu merasa termotivasi untuk menjadi pribadi lebih baik.

Sebab ketika kamu jatuh cinta, kamu pasti melihat orang yang kamu cintai sebagai sosok yang baik. Oleh karena itu, kamu akan termotivasi untuk menjadi lebih baik sebab ingin ‘dilirik’ oleh si dia. Menjadi luar biasa dari yang awalnya biasa-biasa saja tentu tidak mudah. Karena kamu akan merasakan jatuh-bangun, perjuangan untuk menjadi lebih baik. Atau minimal terlihat baik di matanya. Jika tidak ada perasaan semacam ini, jangan sebut itu sebagai cinta. Mungkin hanya kekaguman sesaat. Atau bahkan bisa saja itu nafsu. 

Cinta membuatmu belajar berkorban, sedangkan nafsu hanya mengorbankan dirimu

Jatuh cinta akan membuatmu belajar bagaimana caranya berkorban secara ikhlas. Tanpa mengharap orang yang kamu cintai membalas perasaanmu. Memang tidak mudah. Tapi itulah tingkatan cinta yang sejati. Kamu masih terus mencintai, dan masih saja mau berkorban, di saat kamu tahu dia tidak mencintaimu.

Karena hidupmu hanya seputar membahagiakan orang yang kamu cintai. Berbeda sekali dengan nafsu. Nafsu justru akan menjadikan kamu dan dia sebagai tumbal ketamakan dan keserakahan. Nafsu bukan hanya menghancurkanmu, tetapi juga menghancurkan dia (orang yang katamu kau cintai).

Bila kamu berpikir soal masa depan bersamanya, itulah cinta

Jatuh cinta dapat dirasakan oleh siapa pun. Terutama kamu yang sudah menginjak usia remaja atau masuk masa puber. Bibit-bibit cinta biasanya tumbuh seiring dengan kebersamaan. Namun cinta sejati ialah dia yang menbuatmu berpikir panjang soal masa depan.

Cinta akan membuatmu berangan-angan bila kelak kamu hidup bersama dan membina rumah tangga bersamanya. Perasaan semacam ini dapat muncul di kalangan remaja sekalipun. Tentu bila apa yang kamu rasakan, benar-benar cinta. Persoalan angan-angan tentang masa depan yang panjang, memang ada yang dilanjutkan dengan upaya terperinci untuk mewujudkannya. Ada layang sebatas menjadi angan-angan dan menghilang begitu saja karena sadar saat itu bukan waktu yang tepat. Saat sadar masih banyak yang lebih penting dan harus lebih dulu dicapai, mungkin kamu akan lebih memilih mundur dan pasrah sepenuhnya pada ketentuan Allah swt.

Nafsu hanya membuatmu memikirkan soal kepuasan sesaat

Sebaliknya, nafsu hanya memunculkan pikiran atau angan yang sifatnya sesaat dan sesat. Nafsu hanya berbicara soal bagaimana kamu mendapatkan dia. Betapa bahagianya kalau kamu bisa bersama dia saat itu juga. Tanpa berpikir konsekuensi apa yang harus diterima atas setiap tindakan yang dilakukan. Intinya, yang penting sekarang senang dulu lah. Urusan akibatnya, biar nanti saja dipikirkan. Itulah nafsu. Grusa-grusu dan tanpa pertimbangan. Yang penting sekarang senang.

Sekarang sudah tahu kan perbedaan nafsu dengan cinta? Bila iya, ke depan, jangan mudah berkata cinta. Kenali dulu perasaanmu dengan baik. Lalu putuskan dengan penuh pertimbangan, apakah itu cinta atau sekadar nafsu sesaat yang menyesatkan? Nah.

Oleh: Gafur Abdullah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan