Rasanya kok deg-degan ya menyambut 2019. Entah apa yang akan terjadi di tahun yang diperkirakan akan “memanas” itu. Apakah mulai sekarang hatimu juga terasa mulai terbakar? Wah, siap-siap ya. Barangkali artinya kamu harus punya “pemadam kebakaran” pribadi.

Ini sebenarnya lagi bahas apa sih, kok bawa-bawa tahun “panas” 2019? Bukan bukan. Ini bukan lagi mau bahas suhu politik di negeri ini. Ada tanda tanya besar yang juga nggak kalah penting dari hajat pesta demokrasi nanti.

Pertanyaannya, sudah mau 2019, kamu masih emosian? Masih suka membesar-besarkan masalah dalam hidupmu?

Ini memang bukan pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh guru atau teman yang lama tak saling sapa. Jarang-jarang ya, ada teman atau saudara yang tetiba tanya, “Hey, Bro, masih suka ngumpat di jalan raya kalau macet?”, “Masih suka marah-marah hanya karena hal sepele?”, “Masih nggak bisa kontrol emosi dan mood?” atau “Masih sering senggol bacok?

Tapi, kalau pertanyaan itu benar-benar ditanyakan ke orang yang masih kerepotan dengan emosinya, bisa-bisa malah kita yang diserang balik seperti ini, “Apaan lu nanya-nanya kaya gitu? Nggak usah urusin hidup gue”. Nah, kelar deh semua usaha untuk saling mengingatkan.

Lalu, seperti apa sih gambaran kehidupan seseorang yang emosian atau suka membesarkan masalah. Kita coba buat simulasinya, ya? Bayangkan ada sosok bernama Boni. Boni setiap hari bekerja sebagai buruh pabrik. Pekerjaannya adalah mengangkat barang dari bagian logistik ke bagian produksi. Itu bukan pekerjaan impiannya, Boni ingin pekerjaan yang membuatnya cepat kaya, tapi apa daya kemampuannya hanya sampai sana.

Boni juga merupakan seorang bapak dengan dua anak. Setiap kali berangkat kerja, Boni harus melewati jalanan macet dari rumahnya. Setiap kali melewati kemacetan, Boni selalu mengumpat, baik yang dia lakukan dengan suara lantang atau sekedar membatin di hati. “Woy, maju.” Tak jarang suara Boni lebih kencang dari suara klakson kendaraan.

Di rumahnya sendiri, Boni juga kerap kali gampang merasa kesal. Entah karena minuman yang telat disuguhkan istrinya, kerewelan sang anak atau bahkan melihat kebahagiaan tetangganya saja bisa membuatnya kesal. Akibatnya, Boni jadi sering merasa hidupnya dipenuhi kemurungan dan kemalangan.

Tak jauh dari Boni, ada sosok Lala. Dia adalah seorang gadis muda berkarier cemerlang di ibu kota. Lala selalu bergerak cepat. Baginya, hidup seperti sebuah kompetisi yang harus selalu dimenangkan. Di sisi lain, Lala jadi sulit merasakan simpati atas kebanggan yang dirasakan orang lain.

Lala berusaha menjalani hidupnya dengan sempurna, setidaknya harus terlihat sempurna. Dari cara berpakaian, apa yang dimakan dan diminumnya, gaya hidup, semuanya harus sempurna. Setiap kali berbicara, Lala sering memotong pembicaraan lawan bicaranya. Lala juga jarang melontarkan pujian untuk orang lain. Jika dia seorang customer, dialah tipe customer yang mudah complain tanpa basa-basi. Itulah dia, Lala si penggerutu, sebutan yang melekat pada dirinya.

Boni dan Lala memiliki kemiripan. Adakah yang sudah menemukan kemiripan di antara dua sosok ini? Bayangkan kalau kamu tiba-tiba melakukan perjalanan dengan mereka. Apa yang akan terjadi? Dapatkah kamu merasa nyaman di dekat orang seperti mereka? Mungkin kalau tidak terjadi apa-apa, tidak masalah. Tapi, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi? Terbayang kan, apa yang bisa terjadi?

Terkadang, setiap kali berhadapan dengan situasi yang buruk, hal yang mengecewakan, kebanyakan dari kita mungkin masih terjebak dalam cara bereaksi yang tidak mendatangkan kebaikan bagi hidup kita. Tak hanya tak bernilai kebaikan, tapi juga menghabiskan energi karena yang dikeluarkan adalah energi negatif.

Menurut Richard Carlson, dalam bukunya yang berjudul Don’t Sweat the Little Small Stuff (Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Masalah Besar), ketika kita terpaku oleh hal-hal kecil waktu kita disakiti, diacuhkan, dikecewakan, reaksi kita tidak hanya membuat kita frustasi tetapi juga membuat kita terjebak mengejar apa yang kita inginkan, daripada yang kita butuhkan. Singkatnya, kita menjalani hidup seolah-olah sedang berada dalam keadaan darurat!

Richard Carlson (2000: 1-2) juga menegaskan, “kita sering kelihatan sibuk, berusaha memecahkan masalah, tetapi kenyataannya, kita kerap kali malah memperbesar persoalan. Karena menganggap segalanya sebagai persoalan besar, akhirnya kita menghabiskan hidup kita dari satu drama ke drama lainnya. Tak lama kemudian, kita jadi terbiasa menganggap semua persoalan sebagai persoalan besar.”

Wah, jangan-jangan kita termasuk di dalam lingkaran orang-orang yang suka membesarkan masalah, ya? Yang kalau ada masalah dikit langsung galau, sedih, kecewa, ujung-ujungnya stress. Duh, gawat, jangan sampai itu terjadi padamu, Kawan.

Contoh hal kecil yang disebutkan oleh Richard Carlson adalah, bila ada orang yang menyalip kendaraan kita, bukannya membiarkannya dan melanjutkan urusan kita, kita malah meyakinkan diri sendiri bahwa kita berhak untuk marah. Kita menayangkan pertengkaran imajiner di kepala kita. Banyak yang malahan kemudian menceritakan kejadian ini kepada orang lain, bukan melupakannya begitu saja.

Andaikan itu adalah Boni, bisa jadi bukan hanya dia menceritakan kejadian itu ke orang lain, tapi juga mengumpat di jalanan. Karena itulah, mungkin kamu nggak asing lagi melihat pertengkaran orang-orang di jalanan. Begitu banyak orang yang menghabiskan energinya dengan melampiaskan emosi, hingga kadang mereka kehilangan sentuhan keindahan hidup.

Perilaku membesarkan persoalan kecil lainnya, terutama sering dialami oleh kaum wanita adalah tidak mampu berdamai dengan ketidakkesempurnaan. Richard Carlson menyebutkan, kebutuhan untuk menjadi sempurna dan keinginan untuk mendapatkan ketenangan batin merupakan dua hal yang saling bertentangan.

Lepaskanlah dirimu sebelum terperangkap dalam tingkah laku memaksakan sesuatu yang menurutmu lebih baik daripada yang sudah ada. Ingatkan dirimu bahwa hidup akan baik-baik saja seperti adanya saat ini. Segala sesuatu akan baik-baik saja tanpa penilainmu (Richard Carlson, 2000: 3).

Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Lala, setiap kali dia merasa ada yang kurang dengan dirinya. Bahkan ia harus berpikir keras untuk membuktikan bahwa dirinya lebih berkualitas dari yang lain. Hal ini menyita energi yang besar dalam hidupnya. Karena ia harus selalu mengambil kesempatan untuk menjadi “pemenang”, menjadi yang benar, menunjukkan prestasi-prestasinya.

Lala jadi kehilangan kesempatan untuk merasakan kenyamanan dan ketenangan dengan dirinya sendiri. Ia pun sering kehilangan kesempatan untuk berbuat baik pada orang lain. Nah, untuk itu, ada tiga tips utama yang tertulis di buku Don’t Sweat the Little Small Stuff, agar kamu tidak terjebak suka membesarkan-besarkan masalah dan kehilangan kesempatan untuk jadi orang yang lebih baik:

Pertama, perbesar rasa pedulimu. Menurut Richard Carlson (2000: 8), tidak ada yang lebih membantu memperluas sudut pandang kita daripada memperbesar rasa peduli kita kepada orang lain. Dengan peduli, kita berusaha menempatkan diri kita pada posisi orang lain, tidak memikirkan diri sendiri dan membayangkan bagaimana rasanya bila kita yang mengalami kesulitan yang dialami orang lain.

Kedua, hidup adalah ujian. Kalau hidup dipandang sebagai ujian, maka semua masalah akan menjadi kesempatan untuk jadi lebih baik. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan bahwa hidup hanyalah ujian, sebagaimana yang termaktub dalam ayat berikut, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan (kami telah beriman), sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS.Al-Ankabut: 2).

Ketiga, cari tahu dulu untuk mengerti. Kalimat ini juga berarti kita lebih tertarik untuk memahami diri orang lain dan tidak terlalu menuntut orang lain untuk memahami kita. Ini bukan tentang persoalan siapa yang salah dan siapa yang benar. Ini adalah tentang membangun sikap efektif. Dengan menahan keinginan dimengerti, kita sudah membangun pondasi komunikasi dan interaksi yang nyaman untuk semua.

Dalam Islam, persoalan ini sebenarnya sudah banyak dijelaskan di Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Seorang muslim seharusnya adalah seorang yang paling lapang hatinya. Sosok yang paling mudah memaafkan, merendahkan hati dan bersabar, karena Islam menjadikan akhlak baik sebagai tolok ukur kedudukan seorang hamba di mata Tuhan.

Seorang yang dicintai Allah tidak dinilai dari kedudukan duniawinya. Bukan dari seberapa kaya, cantik, tampan, tinggi jabatan dan kekuasaan yang dimiliki. Jika semua orang hidup dengan kesadaran itu, bahwa akhlaknya lah yang paling penting, maka dia tak akan memusingkan hal-hal kecil yang mengganggu hidupnya. Karena dia sadar, untuk diakui Allah, bukan dengan mengejar keinginan diri sendiri, tapi mengambil sikap terbaik sesuai ajaran Nya.

Yuk, 2019 ganti kebiasaanmu, Kawan. Ubah yang dulunya negatif jadi positif. Ganti marah dengan ramah, meremehkan dengan menghargai, nyinyir dengan doa, ketus dengan senyum, mengeluh dengan memuji, kecewa dengan ikhlas, mengumpat dengan memberi semangat. Niscaya, hidupmu akan jauh lebih indah dan nikmat.

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: