Ketika kita sudah menemukan bagaimana formulasi hebat agar kehidupan dan pekerjaan kita lebih bermakna, inilah saatnya kita melesatkan diri pada pencapaian yang melebihi apa-apa yang pernah kita cita-citakan!

Mari kita susun cita-cita kita lebih tinggi. Cita-cita untuk meraih kebahagiaan hakiki yang ada di sana, di akhirat. Dunia hanya sementara, hanya puluhan tahun saja jatah kita hidup di muka bumi. Adapun akhirat adalah alam abadi.

Apakah kita ingin merasakan kebahagiaan di sini saja, di dunia? Ataukah kita ingin merasakan kebahagiaan di akhirat nanti? Tentu saja jawabannya di dunia bahagia, di akhirat jauh lebih bahagia! Betul?

Jika betul, mari kita tambahkan formulasi meaningful menjadi formula meraih kebahagiaan Hakiki. Rumusnya Kebahagiaan adalah Meaningful + Ikhlas.

Orang-orang ingat Allah Swt dan meaningful, lalu berprinsip begin from the end, adalah orang-orang yang sangat luar biasa. Mereka bukan tipikal orang yang dunia-oriented, melainkan akhirat-oriented. Akhirat. Orang yang seperti ini terlihat seperti sedang bisnis, sibuk mengejar target, tetapi sesungguhnya yang dia kejar adalah akhirat.

Semua aktivitas mengarah pada la ilaha illallah.

Rasulullah Saw menjelaskan, sesungguhnya iman itu memiliki 70 cabang; yang tertinggi adalah la ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan duri dari jalan.

La ilaha illallah adalah visi. Dengan menetapkan kesadaran tauhid itu sebagai tujuan, apa pun yang kita lakukan sejatinya adalah “mengakhiratkan” dunia. Kehidupan kita diset menjadi akhirat-oriented, sehingga apa pun yang kita lakukan mengacu pada satu hal: mencari ridha Allah untuk membangun akhirat kita.

Orientasi akhirat juga membuat cara pandang seseorang pada segala sesuatu berbeda dari orang-orang yang berorientasi pada dunia. Coba uji pandang kita dengan hal berikut: ada sepuluh burung bertengger di atas dahan. Lalu, seorang pemburu menembak burung itu. Dor! Satu burung kena dan jatuh.

Pertanyaannya: berapa sisa burung di atas dahan? 

Semua jawaban bisa jadi betul. Bergantung pada bagaimana cara kita memandang. Jawabannya bisa nol, bisa satu, kalau burung hidup yang tersisa nol karena terbang semua. Kalau burung yang mati, ya sisa satu.

Soal cara pandang ini, Rasullullah Saw telah memberikan pelajaran kepada kita. Suatu saat Rasulullah Saw memotong kambing. Setelah selesai beliau hendak membagi-bagikannya kepada tetangga.

Nabi Saw menyuruh Aisyah, “Wahai  istriku, bagikanlah daging kambing ini kepada tetangga-tetangga kita.”

Aisyah ra pun membagikan daging kambing itu. Setelah selesai Rasulullah Saw pun bertanya kepadanya, “Wahai istriku, apa yang tersisa untuk kita?”

Aisyah menjawab, “Yang tersisa tinggal kepala dan kakinya, ya Rasulullah Saw.”

Rasulullah Saw berkata, “Tidak, istriku. Semua itu tersisa untuk kita, kecuali kepala dan kakinya.”

Di sini ada pelajaran tentang perbedaan cara pandang kepemilikan. Menurut Aisyah, harta yang hakiki adalah harta yang ada di tangannya. Kalau kita berpikir bahwa harta milik kita adalah Rumah, tanah, atau tabungan.

Bagi Rasul, tidak begitu. Itu bukan harta kita, atau belum tentu menjadi harta kita. Harta yang hakiki adalah harta yang kita berikan untuk kemanfaatan orang lain. Itulah menurut Rasulullah Saw. Cara berpikir yang mungkin sulit jadi sebagian orang, terutama mereka yang enggan berbagi.

Itulah kunci bahagia, ubah cara berpikir kita tentang harta: perbanyaklah berbagi!

Lalu soal ikhlas selalu menjadi pembahasan menarik. Ini sangat berhubungan dengan hidup yang penuh kebermaknaan (meaningful). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi “ikhlas” tertulis singkat padat, yaitu “bersih hati”, “tulus hati”.

Contohnya, jika seseorang memberi, dia tak meminta pamrih dari orang yang diberi, namun, dalam konteks spiritual, apakah cukup pengertian ikhlas seperti itu?

Mari kita definisikan ikhlas secara ringkas, yaitu “karena Engkau”. Segala perbuatan kembali bukan pada diri sendiri, melainkan kepada Sang Maha Pencipta. Perbuatan baik, seperti sedekah yang ditujukan untuk diri sendiri, masih tergolong ikhlas KW1, bahkan KW2, karena masih berorientasi “aku”, bukan Engkau.

Sah-sah saja jika ada yang bersedekah dan berharap mendapatkan apa yang dijanjikan Allah Swt. Dalam Al-Qur’an dijelaskan, orang bersedekah itu bagaikan menanam benih, lalu tumbuh pohon, di mana ada tujuh ranting di pohon tersebut, dan setiap ranting tumbuh 100 biji. Jadi, sedekah satu akan mendapatkan balasan 700 kali lipat dari pada apa yang dikeluarkan (Qs. Al-Baqarah [2]: 261).

Karena yakin dengan janji Allah Swt inilah beberapa orang bersedekah, lalu menunggu janji itu. Walau dengan keyakinan kepada Allah Swt, belum tentu itu kerena Engkau orientasinya masih pada “aku”, atau saya pribadi.

Jadi, inti keikhlasan itu adalah Engkau. Sedekah atau ibadah yang tingkatannya tinggi bukan lagi soal adanya imbalan surga atau bertambahnya harta, melainkan karena ridha Allah Swt semata. Seperti terungkap pada sebuah lagu popular yang dibawakan oleh Ahmad Dhani dan Chrisye, yang liriknya bisa dikatakan menyindir kebanyakan kita:

Bils surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?

Suatu saat Rabi’ah Al-Adawiyah membawa kendi dan obor melewati pasar. Seseorang bertanya, “Wahai Rabi’ah, mengapa engkau siang-siang membawa kendi dan obor?”

“Aku hendak memadamkan neraka dengan kendi ini.”

“Lho, mengapa, wahai Rabi’ah? Bukankah neraka itu penting sebagai motivasi dan untuk menakuti?”

“Ya, tetapi gara-gara neraka, orang tidak naik-naik. Mereka beribadah karena takut, bukan karena mengharap ridha Allah Swt.”

“Terus obor buat apa?”

“Aku ingin membakar surga.”

“Lho, surga kok dibakar?”

“Karena gara-gara surga, orang beribadah semata ingin mendapatkan surga. Bukan karena mengharap ridha Allah Swt.”

Nah!

Oleh: Tim Trenlis.co

Referensi:

Sakam, Wahfiudin. 2004. COME. Penerbit: Noura Books

Suwiknyo, Dwi. 2017. Ubah Lelah Jadi Lillah. Surabaya: Genta Hidayah

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: