Ilustrasi dari Assets Image.

Mana ada orang hidup yang selalu tertawa, senang, dan bahagia? Niscaya ada sedih-sedihnya juga dong, kecewa-kecewanya juga. As called it galau.

Oke, kamu tak salah. Pepatah bilang: hidup bagai roda Avanza, kadang di atas kadang di bawah. Kalau nggak muter, malah bukan roda dong, malah nggak bakal melaju. Begitu, kan? Iya, hidup memang melaju karena gelindingan-gelindingan naik turun itu.

Tetapi begini, Dek.

Ada perbedaan sangat mendasar dan mencolok antara orang yang lagi galau tetapi dekat sama Allah, dekat sama al-Qur’an, dengan mereka yang galau dan jauh dari al-Qur’an.

Mendasar secara “dampak psikologisnya” dan mencolok kemudian dalam cara berpikir dan berperilakunya. Peranh kan mendengar ada sejumlah orang yang ketika galau melarikan diri dengan cara lari ke drug. Ada pula yang memilih pergi ke tempat-tempat wisata untuk menjerit-jerit. Ada pula yang curcol ke mana-mana sampai nggak lagi bisa membedakan apa-apa yang seharusnya tetap rahasia pribadi dengan tidak sehingga semuanya terhampar tanpa aling-aling. Berikutnya, ketika “kesadaran psikologis” pulih sepenuhnya, menyesallah ia telah menguak aib-aib dan rahasia-rahasianya.

Mengapa hal-hal merusak demikian bisa dilakukan oleh galauer, yes?

Jawabannya mutlak: sebab mereka jauh dari Allah, jauh dari al-Qur’an.

Mari bandingkan dengan mereka yang juga sebaya denganmu, sama-sama menghadapi kenyataan hidup sejenis, dan sama-sama memikul level psikologis yang kurang lebih sejajar, tetapi ia punya tradisi dan kebiasaan mengaji atau mendaras al-Qur’an.

Umpama ia ditelikung oleh teman baiknya sendiri, secara psikologis ia juga kecewa, sedih, marah, kesal, dan huh banget. Sama denganmu, kok.

Tetapi, bayangkan saja, lantaran ia pernah membaca ayat 13 dari surat al-Ahqaf: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhanku adalah Allah kemudian mereka istiqamah (dengan ungkapan tersebut), maka tiada rasa takut dan rasa sedih bagi mereka.”, ia lalu memiliki “benteng batin (ruhani)” yang menjadikannya kuat untuk tidak terseret ke dalam ketakutan dan kesedihan itu.

Bagaimana cara memahami hal tersebut?

Begini, Dek. Orang yang menyeru secara lisan dan berikrar dalam hati, lalu beristiqamah dengan sungguh-sungguh di dalam jiwanya, bahwa Tuhanku adalah Allah, la ilaha illallah, la haula wa la quwwata illa billah, niscaya akan tumbuh pengertian dan keyakinan di dalam hatinya bahwa segala apa yang terjadi di dunia dan diri ini adalah sepenuhnya berkat izin Allah. Karena adanya Allah semata sesuatu bisa terjadi. Apa pun itu!

Mau itu kesuksesan, kejayaan, dan kebahagiaan atau kegagalan, kepiluan, dan penderitaan, semua itu HANYA bisa mungkin terjadi jika diizinkan oleh Allah semata. Tidak ada faktor selainnya.

Jika hati sudah dihiasi oleh keyakinan menghunjam demikian, lalu masihkah ada rasa takut, khawatir, cemas, dan sedih dalam hidupnya, apa pun itu yang harus dihadapi? Logikanya haruslah tidak ada lagi. Sama sekali tak ada lagi. Semuanya kehendak Allah dan berpulang kepada Allah.

Jangankan cuma dibohongi teman, bahkan hidup dan mati kita sendiri pun sangatlah mutlak berada dalam kuasa-Nya. Iya, kan? Iya, kan? Iya, kan?

Ini adalah inti iman, saripati tauhid, yang dipahami dan disadari dan lantas dihunjamkan di dalam hati berkat membaca ayat-ayat al-Qur’an: mengaji, mendaras, merenungkan makna-maknanya. Tanpa mengaji, mendaras, dan dekat dengan al-Qur’an, muhallah prinsip hidup demikian bisa dimiliki.

Maka, Dek, mengajilah, mendaraslah, berdekat-dekatlah terus dengan al-Qur’an, agar segala bentuk kegalauan hidup ini mudah sekali untuk kamu hadapi, pahami, lalu letakkan pada kursi hakikinya, yakni Kemahakuasaan Allah Swt.

Dengan cara hidup demikian, halah … bereslah semuanya. Kamu tahu, inilah bendera agung anugerah Allah kepada kita-kita muslim dan muslimah ini.

Yes!

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: