Ilustrasi dari Kompas

Kamu, Sudah Terbebas dari Pertanyaan, “Kapan Nikah?” Jangan Senang Dulu, Masih Ada Pertanyaan Selanjutnya!

“Sudah isi, Nok?” tanya Ibu Rika, tetangga sebelah rumah.

“Mohon doanya, Bu,” balasku singkat.

Tampaknya, pertanyaan itu menjadi pertanyaan wajib untuk hampir semua perempuan yang baru saja menikah. Uhmm, tidak tidak, aku ralat. Pertanyaan basa-basi yang ditujukan kepada hampir semua perempuan menikah tetapi belum punya momongan. Termasuk aku.

Aku sudah terbebas dengan pertanyaan, “Kapan nikah?” Kini, pertanyaan yang ditujukan untukku telah berganti.

Sejak tahun pertama, aku sudah kebal dengan pertanyaan basa-basi berupa “sudah isi belum?” atau “sudah hamil belum?” Bahkan pertanyaan itu pernah dilontarkan seseorang di usia pernikahanku yang belum genap dua minggu.

Apakah aku sakit hati? Tidak. Apakah aku sedih? Tidak. Alhamdulillah, pertanyaan yang demikian tidak pernah membuatku merasa sakit hati atau pun sedih.

Alhamdulillah, aku masih diberi kekuatan Allah untuk tetap berprasangka baik kepada mereka—baik dari tetangga, teman, saudara, bahkan saudaranya tetangga—setiap kali mendapat pertanyaan serupa. Aku mengartikan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sebagai wujud kepedulian juga perhatian mereka padaku.

Sesekali aku pun menjawab pertanyaan mereka dengan hal-hal konyol. Hal yang tak terduga bagi mereka.

“Sudah isi, Dek?”

“Sudah, Mbak. Isi bakso.”

Setelahnya, kami tertawa bersama. Entah menertawakan apa.

Terlepas dari apapun itu, pertanyaan seputar kehamilan yang ditujukan untuk perempuan menikah tetapi belum punya momongan membuatku semakin sadar bahwa aku memang benar-benar tinggal di Indonesia. Hahahhaa …

Seperti pasangan yang sudah menikah lainnya, aku dan Abimanyu, suamiku, menginginkan hadirnya buah hati. Tetapi kami tidak terlalu buru-buru, tidak ngoyo. Tidak juga menundanya. Kami menikmati masa-masa berdua, terlebih kami jarang bersama.

Ah iya, aku dan Abimanyu tidak setiap hari berjumpa. Kami menjadi salah satu pejuang pernikahan jarak jauh. Sejak awal menikah, kami tidak bisa bersama setiap harinya. Kami bertemu dengan periode sebulan dua kali. Meski demikian aku dan Abimanyu tetap merasa beruntung, terlebih jika dibandingkan dengan pasangan pernikahan jarak jauh lainnya. Diantara mereka ada yang baru bisa bertemu pasangan dengan rentang waktu enam bulan sekali bahkan setahun sekali.

Menuju setahun usia pernikahan, aku juga belum kunjung hamil. Bertepatan dengan usia satu tahun pernikahan kami, aku merasa sudah semakin siap dengan kehadiran buah hati. Aku mempersiapkan diri sebaik mungkin, baik secara fisik maupun mental. Aku memutuskan untuk menyambut kehidupan baru di rahimku dengan semua hal yang terbaik. Ikhtiar-ikhtiar terbaik, juga doa-doa terbaik.

Sebagai bentuk ikhtiar, aku melakukan cek kondisi rahim ke dokter. Aku berangkat sendiri ke sebuah klinik ibu dan anak di kota tempat aku tinggal. Sendiri? Ya, aku berangkat sendiri. Saat itu, Abimanyu sedang bertugas ke luar pulau dan aku tidak ingin merepotkan orangtua juga mertua.

“Toh hanya ke dokter untuk cek saja. Belum program kehamilan,” batinku.

Sesampainya di klinik, banyak ibu yang diantar oleh suaminya. Beberapa diantaranya sudah hamil, beberapa lainnya masih menjalani program hamil. Jika boleh jujur, ada sedikit rasa iri pada mereka. Iri karena aku juga ingin didampingi suami. Aku hanya tersenyum melihat mereka. Aku melangitkan doa-doa terbaik untuk mereka, juga untuk diriku sendiri.

“Ibu Diana.”

“Ibu Ledi.”

Satu persatu nama yang terdaftar di klinik itu dipanggil. Semakin lama, semakin sedikit jumlahnya karena mereka langsung pulang setelah selesai pemeriksaan. Sambil menunggu namaku dipanggil, aku berselancar ke dunia maya.

Aku mencari informasi tentang tahapan-tahapan dalam mempersiapkan kehamilan. Aku juga mencari tahu informasi melalui forum-forum diskusi program kehamilan secara online. Melalui forum itu, aku semakin tahu bahwa di luaran sana ternyata banyak teman-teman seperjuangan—sepertiku—yang belum mendapat momongan juga. Mereka lebih ditempa.

Tidak sedikit air mata yang tertumpah. Emosi yang terkuras. Waktu yang tersita. Juga biaya yang dikeluarkan. Masyaallah, perjuangan mereka. Pasangan-pasangan yang Allah pilih. Masyaallah, Allahuakbar… Allah Mahabesar!

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qs. Al-Baqarah: 286)

Aku jadi teringat, betapa jahat dan teganya seorang ibu yang membuang anak kandungnya sendiri. Masih dalam kondisi merah, lemah. AstaghfirullahAmpuni kami ya Allah… Sedangkan di lain sisi, banyak pasangan yang menanti buah hati. Masa penantiannya pun tidak hanya hitungan bulan tetapi belasan tahun, bahkan ada yang puluhan tahun.

Sama halnya dengan pertanyaan “kapan nikah?”, pertanyaan “sudah hamil belum?” atau “sudah isi belum?”, untuk menjawabnya memerlukan kelapangan hati. Butuh kekuatan lebih agar semuanya (tampak) baik-baik saja. Padahal, disadari atau tidak, pertanyaan seperti itu akan meningkatkan detak jantung orang yang ditanya. Sayangnya, tidak sedikit yang justru menjadi stres, tidak rileks. Sedangkan orang-orang yang sedang merencanakan program kehamilan harus bahagia, minim stres, santai.

Ada satu hal yang sering dilupakan oleh orang: anak adalah hak mutlak Allah.

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendakiNya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Qs. Asy-Syura ayat 49-50)

“Ibu Lupita.”

Namaku dipanggil.

Aku menyimpan handphone yang tadi kugunakan untuk berselancar di dunia maya. Aku berdiri, kemudian berjalan memasuki ruangan yang sudah sedari tadi aku nanti.

Doakan semoga, aku segera dapat dua garis, ya! Biar segera ganti pertanyaan juga, “Kapan nambah anak?” Hahahaha…

Ya, begitulah.

Karena setelah pertanyaan “kapan nikah”, masih ada pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

Oleh: Yulia Hartoyo.

Facebook Comments

1 thought on “Kamu, Sudah Terbebas dari Pertanyaan, “Kapan Nikah?” Jangan Senang Dulu, Masih Ada Pertanyaan Selanjutnya!”

Tinggalkan Balasan