Kamu, Terima kasih Atas Perasaan Fiktifmu Itu

Cewek mana yang enggak senyum-senyum sendiri coba, kalau baru bangun terus baca chat yang isinya, ‘Selamat pagi, Melly.’ Atau, ‘Jangan lupa sarapan ya, cantik.’ Terkadang yang bikin semakin hatiku enggak karuan adalah tawaran berangkat bareng, ‘Ntar kujemput ya.’ Saking seringnya kita pergi bareng, aku sampai tercandu oleh aroma parfummu yang maskulin.

Belum lagi ketika ada tayangan romantis di bioskop. Kamu bahkan mengajakku untuk menikmati film dengan scene-scene yang begitu aduhai manis, hanya berdua. Iya, aku dan kamu. Sesekali kamu belai rambutku, kita tertawa dengan lepas, seakan dunia itu hanya milik kita berdua.

Tapi, ternyata aku salah menilaimu. Entahlah, aku yang terlalu terbawa perasaan atau kamu yang sering memberikan harapan-harapan yang bisa dibilang palsu.

Baru saja aku bertemu dengan teman SMP-ku. Ternyata dia mengenalmu, sangat mengenalmu. Dulu, sebelum temanku ini sadar, siapa kamu, dia pernah merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan.

“Kamu pacaran sama cowok ini?”

Aku menggeleng. Ya, memang itu kenyataannya.

“Baguslah,” komentarnya.

Rasa ingin tahuku meningkat. “Kenapa?”

“Sampai sekarang dia masih loh ngajakin aku nonton, sampai makan bareng. Kamu tahu itu artinya apa? Bisa jadi beberapa cewek di kelasmu juga diberikan perhatian yang sama olehnya.”

Ketika mendengar cerita itu, entah kenapa hatiku terasa tercabik-cabik. Aku pun memutuskan untuk bertanya random ke teman cewek sekelas. Dari lima orang yang kutanya soal sikapmu, empat orang menjawab sama yakni seakan-akan kamu menyukai mereka.

Kamu tahu gimana perasaanku sekarang? Sakit! Perasaan yang mungkin juga dirasakan oleh cewek-cewek yang sudah menjadi korban ‘kemanisan’ sikapmu, jika tahu siapa kamu sebenarnya. Saat ini juga aku harus mencabut paksa benih-benih cinta yang tumbuh dari perhatian-perhatian manismu, dari sikap sayangmu, dari segalanya tentang kamu.

***

Pagi ini, kamu masih melakukan ‘ritual’ seperti biasanya; menyapaku, mengingatkan untuk sarapan, dengan kalimat-kalimat manis lainnya. Tapi aku bukan cewek yang kemarin kamu kenal. Pesan singkat darimu pun sengaja kuabaikan, dengan melanjutkan aktivitas seperti biasanya.

“Kamu kenapa?” tanyamu saat kita bertemu.

“Enggak apa-apa,” jawabku singkat. Tidak mungkin aku harus menjawab jujur atas sakit dari kelancangan hatiku sendiri.

“Nanti siang kita makan bareng yuk,” ajakmu dengan senyum penuh percaya diri.

Aku menggeleng. Seketika itu rona wajah kecewamu begitu terlihat. Ya sudahlah, itu yang kutangkap dari sorotan matamu. Aku yakin, setelah ini kamu akan mencari cewek lain yang memiliki waktu lebih, atau yang haus akan perhatian seorang cowok.

Lucu sekali, baru saja sepuluh menit kita berpisah, karena aku harus pulang lebih dulu. Aku mendapatkan kabar dari salah seorang teman sekelasku, kalau kamu mengajaknya untuk makan siang bareng.

Cemburu? Bahkan aku sudah lupa arti dari cembutu itu sendiri. Kenapa aku harus cemburu dengan orang sepertimu? Aku meminta pada temanku untuk menerima tawaranmu.

***

“Temenin aku nonton aja yuk, please,” ajakku. Dengan hati bedebar menunggu jawaban darimu.

“Maaf, Mel. Aku lagi nemenin mama belanja,” jawabmu jelas berbohong.

Aku pun berdiri dari posisiku, lalu mendekat ke arah di mana kamu makan bersama teman sekelasku. Kamu sejak tadi terlihat begitu manis bersamanya, sama dengan apa yang kamu lakukan padaku. Lantas apa artinya semua ini?

“Hai, Rani,” sapaku ketika sudah sangat dekat dengan meja makanmu. “Loh, ada kamu di sini? Mana Mamamu?” Aku bertanya kepada cowok yang beberapa menit lalu kuajak nonton, kemudian sengaja memandang sekitar.

“Emm, tadi Mamaku diare jadi … ya gak jadi belanjanya,” alasanmu yang benar-benar membuat aku gregetan. Wajahmu saat itu bagaikan maling di siang bolong yang tertangkap basah.

Tanpa sadar, mungkin karena bawaan perasaan yang sudah menumpuk kekesalan karena sikapmu. Aku mengambil segelas minuman di meja, lalu menyiramkannya ke wajahmu. Kamu kaget? Sama aku pun juga.

“Apa maksudnya ini?”

“Kamu bahkan masih menanyakan hal yang kamu ketahui. Mulai sekarang berhentilah mempermainkan perasaan cewek seenaknya.”

Setelah cukup membuatmu malu, aku balik badan meninggalkan kalian. Beberapa langka kemudian, terdengar suara tamparan yang cukup keras. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.

Kusempatkan menoleh ke belakang, ternyata kamu sudah sendirian berdiri di sana. Seketika itu kamu seperti ayam yang sudah kehilangan tajinya. Aku rasa ini yang terbaik untuk semuanya. Ya, kamu mendapatkan pelajaran dari sikap burukmu, dan aku akan lebih membentengi hati ini supaya tidak gampang percaya dengan modal sapaan selamat pagi, atau ajakan nonton bareng.

Terima kasih untuk perasaan fiksi yang tercipta, sebuah perasaan yang terbangun begitu indah dari tokoh yang terlihat sempurna oleh hati ini. Semoga kamu lebih bisa mengerti bagaimana perasaan cewek seutuhnya. Sekarang aku hanya perlu cukup tahu dan masa bodoh akan sikapmu lagi.

Oleh: Nurwa R.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan