Sebut saja Kamila, adik tingkat yang mendadak menikah saat masih semester lima. Bukan! Bukan karena accident dia menikah.

Kala itu, sedang marak nikah dini.

Beberapa orang akan bangga jika umur belum genap dua puluh lima tapi sudah berstatus sebagai suami/istri.

Selang enam bulan dari pernikahannya, kudengar Kamila pulang ke kampung halaman. Lebih tepatnya ngambek dan kembali ke rumah orangtua. Tentu ia pulang tidak bersama suaminya. Padahal, saat itu, di kampus sedang diadakan ujian semester.

Aku sih tidak mau kepo apa yang menyebabkan Kamila sampai pulang ke rumah orangtuanya. Meskipun pada akhirnya aku tahu, adik tingkatku itu ternyata belum siap seratus persen melaksanakan perannya sebagai istri.

Memang menikah adalah salah satu solusi untuk meredam fitrah cinta yang menggelora. “Daripada pacaran, mending nikah kan? Iya kan?”

Tentu sangat benar pernyataan tadi, tapi … coba deh kita ukur kesiapan diri. Menikah itu bukan hanya soal menghindari zina. Bukan pula sekadar untuk happy-happy layaknya orang pacaran.

Dengan menikah, seseorang akan mendapat tambahan kewajiban. Bahkan dikatakan bahwa ijab saat menikah adalah sebuah perjanjian yang agung. Perjanjian yang disaksikan penduduk langit dan bumi.

Mitsaqan ghalidza.

Perjanjian ini di dalam Al-Qur’an disebutkan hanya ada tiga: sumpah/perjanjian seorang nabi, sumpahnya Bani Israil, dan sumpah saat ijab dalam pernikahan, bisa dilihat di surah Al-Ahzab [33] ayat 7, surah An-Nisa[4] ayat 154 dan 21.

Nah, perjanjian agung tersebut apa iya mau dilakukan dengan tanpa persiapan? Hanya modal niat dan takut zina saja?

Ah! Kamu pasti korban trend!

Coba deh kita ingat kembali kisah Ali dan Fatimah. Kenapa ya kok Ali baru melamar Fatimah setelah Abu Bakar dan Umar melamar terlebih dahulu?

Kira-kira sahabat Ali nih kurang persiapan apa sih?

Secara fisik sih udah yes lah ya, secara Ali pemuda yang kuat dan sehat. Secara keilmuan? Sudah donk, Ali kan dapat julukan: Gerbangnya Ilmu. Tapi ada satu hal yang Ali belum siap. Apa itu? Materi. Ya, materi!

Dikisahkan bahwa penghasilan Ali saat itu dalam sehari adalah tiga butir kurma. Maka Ali memakan dua butir kurma dan satu butirnya ia simpan sebagai bekal nikah.

Nah kan!

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah letak usahanya. Usaha Ali untuk ‘menabung’ biaya nikah. Bukan banyaknya jumlah tabungan.

Seseorang yang mau menikah, terutama lelaki, wajib tuh nabung. Mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk persiapan pernikahan.

Jangan sampai loh ya, traveling melulu, HP ganti-ganti, kuota selalu full, tapi giliran suka sama seorang gadis dan berniat melamar, alamak! Kagak punya tabungan. Jadilah merepotkan orangtua.

Coba yuk kita simak, persiapan apa saja yang perlu dilakukan untuk bisa mantap mengucapkan ijab:

Fisik.

Insyaallah kalau persiapan ini semua pasti siap lah ya. Kecuali mungkin orang tertentu yang mengalami ujian berupa sakit atau tidak berfungsinya alat reproduksi.

Mental.

Mental atau psikologi seseorang saat akan menikah harus benar-benar siap. Ia akan melihat kekurangan pasangan yang selama ini mungkin tidak terlihat. Ia akan banyak melakukan kompromi sifat antar pasangan.

Jangan sampai kita bilang, “Tahu gini, dulu aku ogah sama kamu!”

Loh … kan segala sesuatunya bisa ya dibicarakan, bisa diperbaiki. Iya kan? Nah, ini butuh mental untuk siap mengalah dan menurunkan ego.

Harta/pekerjaan.

Orang mau nikah tidak harus udah punya pekerjaan tetap kok. Yang terpenting sih tetap bekerja untuk mendapat penghasilan.

Nah, tetap bekerja ini tentu harus diusahakan, jangan hanya berpangku tangan dan lagi-lagi merepotkan orangtua. Kan udah nikah, masa iya nggak malu ngrepotin ortu terus.

Ingat janji Allah yang ini kan:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.

Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nuur [24]: 32)

So, nggak perlu takut jika masih kerja serabutan!

Ilmu.

Ini nih paling penting, ilmu sebelum amal. Ilmu agama terutama. Bagaimana menjadi seorang suami/istri menurut agama, bagaimana menjadikan keluarga sakinah, mawaddah, rahmah, dan barokah. Ini butuh ilmu.

Perlu juga belajar ilmu komunikasi. Penting loh! Jangan sampai istri yang suka bicara menjadikan suami tidak betah di rumah. Atau sebaliknya, suami yang pendiam menjadikan istri BAPER karena merasa dicuekin. Harus ada ilmu, bagaimana berkomunikasi antar dua orang beda jenis. Hehehe …

Ilmu lain yang tak kalah penting: memasak, bersolek, dan keterampilan dalam kamar. Yang ini tidak perlu diperpanjang bahasannya ya. Hehehe ….

Apa semua itu sudah harus siap sebelum menikah? Sebenarnya bisa sambil jalan sih, tapi lebih baik memang harus sudah siap semua dulu. Terutama harus punya bekal ilmu agama.

Kalau masih belum punya persiapan apa-apa bagaimana? Ya puasa aja dulu. Itu kan yang diajarkan nabi.

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Hai para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan.

Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat. (Mutafaq ‘Alaih)

Jadi gitu ya … jika udah siap, segeralah menikah. Tapi jika belum, segera lakukan persiapan dan bersabarlah. Jangan tergesa-gesa hanya karena ngikutin trend.

Gimana menurut kamu?

Oleh: Sri Bandiyah.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: