kisah ditinggal kekasih

Kamu yang Ngakunya Sayang Aku, Di Mana Kamu Saat Aku Sakit dan Terpuruk?

Facebook, dialah media yang mempertemukanku dengannya. Facebook, dia pula yang menghentakkanku dari prasangka selama ini. Facebook juga akhirnya yang membuka semua tabir yang selama ini menutupi pandanganku. Facebook adalah perantaraNya, mediaNya, dan mungkin telah disetting menjadi media pewarna hidupku.

Beberapa tahun lulus dari bangku SMA, aku menjalin komunikasi dengan teman-teman melalui media sosial. Facebook kala itu yang sedang ramai digunakan khalayak. Tidak ketinggalan aku. Aku aktif berselancar di dunia maya. Menyapa teman lama di sana. Berbagi cerita, berbagi pengalaman, kadang juga berdebat asal tidak sampai menimbulkan permusuhan.

Semua bermula dari komentar-komentar di Facebook. Statusku kerap dia komentari, begitu pula sebaliknya. Istilah kerennya kami saling stalking satu sama lain. Mungkin kata orang tua jaman dahulu benar adanya. Tresna jalaran saka kulina. Kebiasaan saling balas komentar aku alihkan ke pesan pribadi.

Diawali dengan bertanya jawab tentang kabar. Dilanjutkan dengan pertanyaan seputar pekerjaan. Kala itu sedang ramai jadi perbincangan masalah ini. Maklum waktu itu untukku dan dia yang sedang selesai dari masa studi S1 pekerjaan adalah topik yang sangat asyik diperbincangkan. Asyik jika memang pekerjaan sudah didapatkan, akan sangat menyebalkan jika pekerjaan baru sebatas impian.

Dari obrolan-obrolan via chat di Facebook, aku tahu bahwa dia kini sibuk menjadi pengajar di suatu lembaga bimbingan belajar. Sebagai sarjana Pendidikan Kimia, tidak mudah memang sekedar mencari sekolah untuk mengabdi. Apalagi jika mengharap untuk menjadi PNS. Belas kasih pemerintah adalah jawabannya. Dan kapan belas kasih itu akan tiba? Entahlah. Mungkin menjelang pemilu nanti, sekalian untuk menarik perhatian masyarakat.

Aku sendiri sebagai seorang cowok lebih santai sebenarnya perihal pekerjaan ini. Dari awal memasuki bangku kuliah, aku berprinsip bahwa bekerja itu bukan berangkat pagi-pagi memakai seragam, mengejar waktu sekadar untuk menempelkan jempol di mesin pencatat kehadiran. Bekerja dalam tekanan atasan atau menekan bawahan. Ah, bagiku itu enggak banget.

Bekerja bagiku adalah menekuni hobi atau kegemaran. Cukup itu sajakah? Tentu tidak. Menekuni hobi atau kegemaran, tetapi harus menjadi sarana untuk mendapat penghasilan. Pertanyaannya, apakah hobi bermain game.ku ini bisa menjadi ladang penghasilanku?

Ibu dan bapakku sudah terlalu sering mengingatkanku. Aku saja yang agak gebleg, tidak mendengarkan mereka. Beruntung aku mengenal dia. Sosok yang akhirnya mendorongku untuk segera menyelesaikan studi S1-ku. Mengajakku untuk berpikir tentang masa depan. Dan tentu saja membicarakan masalah pekerjaan.

Sebagai lulusan sarjana pendidikan, PNS adalah incaran utamanya. Sedangkan aku, PNS bukanlah impian. Menjadi wirausaha atau lebih kerennya pengusaha lebih aku dambakan. Menjadi pengusaha tidak akan membuatmu kaya. Menjadi pengusaha hanya akan membawamu memiliki penghasilan yang tidak terbatas.

Itu adalah contoh obrolanku sama doi. Dalem dan tak jarang mengundang perdebatan. Untung tidak sampai uring-uringan atau bahkan memicu kemarahan. Begitulah pola hubungan di semester awal kedekatan kami. Setelah itu aku berani mengajaknya keluar, sekadar makan siang bersama. Bagiku itu sudah lompatan yang luar biasa. Secara gitu, aku belum pernah menjalin kedekatan dengan gadis manapun. Baru dialah gadis yang pernah dekat denganku. Dengannya pula aku berharap dapat menikmati sisa hidupku. Hingga akhir hayat.

Waktu berjalan dengan cepat. Setahun sudah aku menjalin hubungan istimewa dengan gadis itu. Dengan motivasinya, aku kini mulai mengurangi kebiasaan buruk bermain game online. Aku mulai mencari pekerjaan. Secara kebetulan ada seorang kawan memiliki usaha grosir peralatan dapur. Dia sedang membutuhkan staf marketing. Aku ditawari, dan aku mengambil kesempatan itu.

Intensitas hubunganku dengan kekasihku semakin baik. Keluarganya sudah mengenalku dengan baik begitu pula sebaliknya. Hingga suatu ketika ada sebuah pesan masuk ke gawaiku.

“Mas, aku diterima dalam program mengajar di daerah terpencil. Doakan aku ya!”

Pesannya aku balas tetapi bukan merespon pesan itu.

“Ada waktu nggak Dik? Kita makan siang di warung soto biasanya, ya!”

Dia mengiyakan ajakanku. Kami bertemu dalam suasana yang tidak kompak. Dia tampak bahagia, sedangkan aku masih ragu harus merasa bahagia atau sedih. Bagaimana aku akan gembira, kekasihku akan pergi nun jauh di sana. Namun, pantaskah aku sedih, sedang dia sedang berbahagia.

Aku menanyakan keseriusan tekadnya mengikuti program itu. Aku lalu menanyakan kelanjutan hubunganku dengannya. Aku ragu, jika harus LDR tanpa ada perjanjian apa pun. Aku sudah terlanjur mengharapkannya menjadi pendampingku. Darinya aku mendapatkan jawaban bahwa dia sudah mantap dengan pilihannya itu. Denganku, dia pun ingin merajut hubungan yang lebih serius. Hanya satu taun katanya program itu. Setelahnya, pelaminan adalah tujuan kita, katanya.

Aku memutuskan untuk melamarnya terlebih dahulu. Semata sebagai pengikat agar di kejauhan sana hubungan ini masih terjaga. Dia menerima lamaranku. Satu tahun mendatang, jika tidak ada aral melintang hubungan kami akan diresmikan. Aku dan keluargaku mengantar calon istriku hingga ke bandara. Dua keluarga kami melepasnya pergi mengejar cita-cita.

Dalam penantian aku bertekad untuk bekerja keras. Mengumpulkan keping rupiah demi menyongsong hari suci pernikahan kami. Jogja-Jateng adalah daerah operasiku. Tugasku hanya menawarkan barang ke toko. Tugas pengiriman barang sudah ada yang menghandle. Tiga bulan lamanya LDR sudah terlalui. Komunikasi berjalan dengan baik. Tidak hanya denganku, dengan orangtuaku, saudaraku, dia terus berkomunikasi. Aku pun begitu. Tidak jarang aku sowan ke rumah calon mertua, sekadar mengantar kue atau buah. Semua berjalan seakan akan berakhir indah.

Aku ingat hari itu, hari Kamis. Sekitar pukul 11.00 aku sudah kembali dari Temanggung. Sudah ada 5 toko menerima penawaranku. Bulan penuh berkah bagiku. Belum sampai setengah bulan, target sudah kulampaui. Aku pulang dengan penuh kegembiraan. Maka motor hanya kupacu pelan. Aku ambil jalan sepi. Selepas dari perempatan Tempel, aku ambil arah kanan menuju Seyegan. Jalan lengang. Motorku melaju sedang. Sayang hanya itu yang aku ingat.

Duapuluh hari kemudian aku baru siuman dari tidur panjang. Aku koma, karena kecelakaan. Memoriku hilang, entah untuk rentang berapa tahun. Untung aku masih ingat Ibu, Bapak, dan adikku. Teman-teman SMA yang menjengukku, masih aku ingat pula.

Teman kuliah ada beberapa yang tidak aku ingat. Fisikku sangat lemah. Berjalan harus dipapah. Kaki kanan, dan tangan kanan mengalami cedera. Patah, dan harus dipasang platina. Kepalaku mengalami cedera berat. Untung tidak terjadi pendarahan. Namun, memoriku banyak yang hilang.

Selama 18 bulan aku harus menjalani pengobatan. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan bapak dan ibuku untuk mengobatkanku. Anggota gerakku mulai bisa aku fungsikan. Hanya memori yang memang belum dapat aku pulihkan. Beberapa kawan datang, sekadar mengingatkan kenangan masa lalu. Mereka selalu mendukung agar aku mampu mendapatkan memoriku kembali. Dua tahun aku sudah berani membonceng motor lagi. Sayang, memoriku belum sepenuhnya kembali.

***

Dua minggu yang lalu, aku membuka beberapa postingan di Facebook. Aku melompat ke tahun 2016. Aku mendapati beberapa komentar dan pesan singkat dari seorang gadis. Aku ingat dia teman SMAku. Tetapi aku lupa, bahwa dulu aku dekat dengannya. Aku tidak percaya pernah berbalas komentar seperti yang aku baca sore itu.

Aku tidak ingat pernah berkirim pesan padanya untk mengajak makan siang. Itu bukan aku. Sempat terlintas pikiran semacam itu. Tetapi Facebook tentu tidak akan berbohong kan? tetapi ke mana dia selama ini? Saat aku terkapar dalam ketidakberdayaan, ke mana dia? Mungkinkah aku memiliki kedekatan seperti yang aku baca di dalam sosial media itu? Sedang saat aku menerima cobaan Tuhan dia tidak ada di sampingku.

Aku belum berani membuka komunikasi kembali. Biar waktu dan skenarioNya yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku sudah berbahagia dapat kembali seperti semula. Memori yang hilang sudah diatur oleh Tuhan. Entah akan seperti apa akhir dari kisahku ini.

Untukmu yang hilang dari memoriku, maafkan aku. Bukan inginku melupakanmu, inilah jalan Tuhan. Jika Dia berkehendak kita bersatu, maka percayalah, itu akan terjadi. Namun, jika memang kau bukan untukku, yakinlah, ketentuanNya akan lebih indah.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan