SIAPA bilang pengiritan hanya identik dengan anak kos? Ah, kamu kan, tinggal sama orangtua, pasti aman. Makan dan uang saku sehari-hari jelas terjamin. Ha-ha … dalam kasusku, makan memang tidak perlu mikir. Tetapi untuk uang saku? Tunggu dulu.

Memang apa alasan Bapak enggak ngebolehin anak-anaknya kuliah ke luar kota? Ya … biar irit! Pengeluaran anak-anak bisa terkontrol. Minimal untuk tidur dan makan sehari-hari, Bapak Ibu enggak perlu khawatir. Terutama Ibu, yang belum bisa tidur kalau belum yakin anak-anaknya lengkap ada di rumah semua.

Gimana kalau anak-anak pada ngekos di luar kota? Apa Ibu enggak bakal empot-empotan tuh, mikirin anaknya udah makan belum, uang sakunya masih apa enggak, belajarnya bener atau malah baca komik melulu, sudah aman di kos atau masih keluyuran entah di mana, dan macam-macam kekhawatiran lainnya.

Oya, balik ke masalah uang saku. Kalau memakai kamus cash flow-nya orangtuaku, uang saku adalah uang bensin dan sedikit lebihan untuk jajan gorengan dan jaga-jaga kalau ban motor bocor. Kalau kira-kira pas makan siang enggak bisa pulang, barulah uang makan bisa diklaim, ha-ha. Ada sih, pos dana lain yang sifatnya wajib, meskipun enggak rutin. Seperti beli buku—buku ya, buku diktat perkuliahan—bukan buku bacaan, dan iuran keperluan praktikum.

Lah, padahal mi goreng di kantin itu harumnya luar biasa menggoda akal sehat. Belum lagi serial komik di persewaan buku yang memanggil-manggil minta dijemput dan dibawa pulang. Gimana coba? Itu pun sudah pakai prinsip ekonomi, kalau bisa sewa, ngapain beli?

Dulu kebutuhan bacaan memang beneran menggila. Rasanya hidup hambar kalau belum baca buku cerita. Lalu, kenapa enggak pinjam perpustakaan aja, kan gratis? Hemmm, di perpustakaan enggak ada komik. Novel pun kondisinya menyedihkan. Pernah pinjam dari perpus, malah patah hati, karena halamannya banyak yang hilang. Sekarang masih seperti itu enggak, ya?

Sayangnya, aku bukan tipe orang yang gampang menangkap ide dan berpikir kreatif. Kalau enggak ada yang memantik, maka aku tak kan menyala. Duh, ini apa, ya? Mencari padanan analogi untuk suatu situasi aja aku wagu gini. Jadi, semua serba ndilalah, mengalir mengikuti ketetapan Allah. Semoga kalian paham, ya.

Dulu, di zaman kehidupan belum terjamah internet, dosen akan kasih daftar literatur di awal perkuliahan. Setelah itu, dimulailah masa berburu buku. Apa kami akan segera menuju toko buku? Yo jelas! Tapi cuma mau survey harga. Haaa mbok yakin, ibuku kalau lihat totalan harga buku itu pasti bakal pijit kening, lalu aku diusir keluar dari kamar.

Lalu aku dan seorang temanku—Rini, terpikir cara lain. Duh, kalau ingat masa-masa ini kok, aku merasa berdosa, ya. Baiklah, sebaiknya aku jujur saja.

Jadi, aku dan Rini menjelajah perpustakaan. Berburu literatur dari perpus fakultas, perpus kampus pusat, sampai mentok di perpus kota. Setelah dapat bukunya, apa akan kami pinjam untuk dihapalkan? Atau mungkin akan kami buat rangkumannya? Oh, tentu tidak! Di sinilah dosa-dosa ini mulai kami buat. Kami menyalinnya! Bukan disalin tulis tangan, ya, tapi difotokopi!

Ya, dulu memang belum paham kalau sebetulnya yang kami lakukan ini ilegal. Motivasinya hanya karena ingin ngirit! Nah, berbekal rekap jumlah halaman dari semua buku-buku itu, aku mengajukan penarikan dana ke Ibu.

“Yakin deh, ini lebih murah daripada beli, Bu. Gimana, aku cerdas, toh?” Lalu, jreeeng! Dana cair. Aku tahu—dari pancaran wajahnya—Ibu sudah cukup senang, karena hanya mengeluarkan uang lebih sedikit dari yang seharusnya.

Saat eksekusi, baru aku tahu kalau ada diskon, karena jumlah yang di-copy cukup banyak dan bisa lebih murah lagi karena pakai kertas buram! Ha-ha-ha. Tetapi aku bilang loh … sama ibuku, macam anak kecil yang diminta tolong ke warung gitu, “Bu, kembaliannya buat aku, ya?” Alhamdulillah … bisa merasa agak-agak berduit, karena yang ada di dompet enggak cuma uang bensin.

Oya, for your information, zaman aku kuliah dulu juga enggak se-wow sekarang, yang hampir tiap mahasiswa punya laptop pribadi. Kami dulu harus ngetik di rental komputer untuk membuat laporan praktikum. Lalu apa hubungannya gitu, dengan uang sakuku? Ya, siapa sangka sifat mager-ku justru mendatangkan rupiah?

Dulu, aku—atas desakan orangtua—ambil dua jurusan perkuliahan, di dua kampus yang berbeda. Sebut saja di PTN X dan PTS X. Seringnya, kalau jadwal kelas di kampus X ada jeda waktu, maka aku pakai buat nongkrong di rental, ngerjain tugas dari kampus Y.

Lama-lama … kok, asyik juga, ya? Ngetik santai sambil dengerin musik. Lalu … kadang aku males kalau harus balik ke kampus, pada jam kuliah berikutnya. Kalau perbandingannya dengan teman-temanku yang GI alias Gila Ilmu, prosentase absenku emang lumayan … banyak. Tetapi aku ngelakuin itu dengan alasan—yang terdengar baik saat itu—untuk ngerjain tugas.

Oleh teman-teman, hobi ngetikku ditangkap sebagai peluang. Maksudnya, peluang untuk menghindar dari ribetnya ngerjain laporan praktikum. Haaa …. Terutama teman-teman yang hobi datang kuliah. Aneh ya, hobi tuh, membaca, mendengarkan musik, main teater atau traveling gitu. Hobi kok, kuliah. Ha-ha-ha.

Jadi gini, berhubung aku demen berlama-lama di rental—sampai dapat julukan ‘gadis rental’—oleh teman-teman satu kelompok, urusan membuat laporannya diserahkan padaku. Draft dan hasil kesimpulan praktikum tetap dari hasil kerja kelompok, tapi penyusunan sampai jadi dalam bentuk jilid itu jadi tugasku.

Wow … tentu saja, dengan senang hati! Aku makin betah di rental komputer karena banyak yang dikerjakan, bukan lagi hanya tugas dari kampus Y. Eh, tapi aku enggak selalu membolos kuliah buat ngetik laporan-laporan itu, loh …. Aku lebih banyak memakai waktu tunggu antara kuliah di kampus X yang hanya sampai siang hari, dan waktu kuliah di kampus Y di sore hari.

Aku hanya perlu mengumpulkan nota biaya rental komputer dan penjilidan laporan, lalu ditagihkan ke teman-teman satu kelompok. Jelas, sebagai yang paling banyak meluangkan waktu dan tenaga, maka aku enggak perlu ikut iuran. Lalu, tambahan uang sakunya dari mana? Apa aku me-mark up biaya? Duh, aku enggak secerdas itu, haaa.

Tambahan uang saku itu sebetulnya uang dari orangtuaku juga, untuk pos biaya praktikum, tapi bersisa, karena aku tidak perlu membayar biaya pembuatan laporan praktikum. Aku menganggapnya sebagai upah, uang lelah mengetik laporan. Hemmm, bisa dibilang waktu itu aku sudah berkarir kecil-kecilan ya, tapi kok, enggak terpikir ada peluang wirausaha di situ. Lagi-lagi karena miskin ide, hadeuh ….

Ya, dari situlah aku bisa punya ‘sedikit’ uang saku, dan itu pun harus diimit-imit pemakaiannya. Sebab dari orangtua memang enggak ada pos khusus untuk kebutuhan tersier, di luar kebutuhan proses kuliah.

Ada satu momen paling memprihatinkan dalam sejarah perkuliahanku, yaitu ketika harus membayar biaya KKN. Qodarullah, Bapak dan Ibu sering sekali bergantian opname. Bapak yang lebih sering dirawat sebenarnya. Tentu saja pengaruhnya besar sekali untuk keuangan keluarga kami. Sampai-sampai waktu aku bilang tentang biaya KKN, gelagat ‘belum ada dana’ bisa aku tangkap jelas dari raut wajah Bapak dan Ibu.

Yo, jajal, ndelok sesok.” Coba, lihat besok, begitu saja tanggapan Bapak, sekadar untuk melegakan hati. Ibu terdiam, mungkin auto mikir keras juga. Sedangkan aku memilih undur diri. Pamit masuk kamar dengan hati galau. Masa aku harus menunda KKN? Enggak asyik dong, enggak barengan sama teman-teman.

Entah doa siapa yang diijabah oleh Allah. Esok harinya Tante Tuti, adik Ibu, menelepon.

“Eh, kamu kan, pernah usaha parcel ya, waktu SMA? Kantorku mau bikin nih, kamu bantuin ya, soalnya aku sama teman-teman enggak punya pengalaman.” Aku masih mencernanya sebagai tambahan tugas. Lagi pusing malah disambati gawean.

Tetapi kemudian Tante Tuti bilang lagi, “Ojo kuatir, nanti ada uang bensin sama upah.”

Uwaaah … siap!

Untungnya tanteku oke aja, aku atur waktu sendiri. Aku bantu mulai dari nge-set harga, buat daftar belanja, dan menatanya sampai jadi bingkisan parcel yang cantik. Selain aku, ada beberapa kerabat juga yang membantu, terutama untuk penataan. Semua itu aku kerjakan di waktu-waktu kosong antar jam perkuliahan dan usai kuliah malam, sampai larut.

Aku sempat mengira-ngira berapa upah yang bakal aku dapat. Semoga lumayan buat tambah-tambah, nanti kurangnya bisa coba minta ke Bapak lagi, pikirku.

“Bingung nih, sama ponakan sendiri, berapa mesti ngasih gaji,” canda Tante. Beliau memang menjabat sebagai bendahara di kantor. Jadi terbiasa mengurus gaji pegawai. “Gini aja, kamu lagi pengen beli apa?”

Sebetulnya aku ragu, khawatir salah bicara dan saru kalau sampai menyebut nominal dan minta ‘mentahan’ saja. Tante terlihat gusar, mendesak dengan mengulang pertanyaannya.

“Anu … Te, sebenernya aku sedang butuh buat tambah-tambah bayar KKN.”

Tante kulihat sempat kaget, karena dia pikir aku ingin beli sesuatu yang berupa kesenangan buat aku sendiri. Mungkin baju, sepatu atau jilbab baru, misalnya.

Lha, berapa butuhnya?”

Aku menyebutkan nominalnya, lalu menunggu. Sambil mencoba untuk membaca perubahan ekspresi wajah Tante. Deg-degan, cemas tapi ngarepin.

Waktu Tante kemudian mengulurkan beberapa lembar uang kertas, dan bilang, ‘ini, lunasin aja semua’, rasanya ada yang mencelos di dada ini, berdenyit. Allahu Akbar! Alhamdulillah ….

Kalian bisa bayangkan ketika aku mengabarkan hal itu ke Bapak dan Ibu?

Ibu yang ekspresif langsung bersyukur dan bisa kutangkap jelas keharuannya. Lalu bagaimana dengan Bapak? Wajahnya yang memang selalu kalem, tampak bersinar. Ada senyum tipis yang terukir sekejap, meski tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya, tapi mata beliau berbicara. Tatapan yang hingga saat ini masih bisa aku ingat dengan sangat jelas. Kira-kira arti tatapannya seperti ini: Bapak tahu, kamu pasti bisa.

Begitulah, pengalaman masa prihatin—yang dulu bikin hati nggerentes—sekarang justru jadi salah satu alasan untuk disyukuri. Aku menyebutnya sebagai masa pelatihan, sehingga kini tidak terlalu kaget kalau harus bertemu dengan kesulitan. Insyaallah, minimal punya modal berupa ketabahan, ha-ha. Semoga ini tidak terbaca sebagai satu kesombongan dan gagah-gagahan, ya? Percaya diri itu perlu banget kan, ya?

Serius, sebab dalam ketabahan ada kekuatan untuk bertahan saat menjalani ikhtiar dan menjaga rasa percaya pada ketentuan Allah. Yakin bahwa rezeki sudah Dia sediakan, tinggal bagaimana kita mengalir untuk menjemputnya. Di arus seperti apa kita mengalir? []

***

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: