Kapan Terakhir Kamu Membuat Ibumu Tersenyum?

Sebelum Bibi Su pergi, ia masih melakukan banyak hal seperti biasanya. Menunggu menantu tetangganya yang sedang hamil di samping rumah untuk kemudian berjalan-jalan mengelilingi komplek. Ayam baru saja berkokok. Langkah mereka berdua santai. Dengan perut yang semakin membesar, Aisya tergopoh-gopoh mengikuti langkah Bibi Su. Telaten wanita muda itu menanggapi kelakar cerita dari nenek yang sejak kehamilannya menginjak enam bulan ke atas selalu menemaninya untuk berjalan mengelilingi komplek.

“Satrio masih tidur jam segini, padahal istrinya sudah sibuk sekali mengurus baju-baju tetangga yang akan ia cuci di sungai.” Bibi Su menggelengkan kepala berulang menceritakan anak semata wayangnya. “Seandainya anak pertamaku masih hidup, pasti bisa membuatku bahagia, tidak seperti Satrio,” lanjut Bibi Su.

“Bibi Su tidak boleh membanding-bandingkan seperti itu. Bagaimanapun, Pak Satrio itu anak Bibi.” Aisya menenangkan sebab nada bicara Bibi Su mulai terdengar emosi di tengah napas yang terengah lelah.

“Kau lihat sendiri, kan, Aisya, kelakuannya. Beruntung sekali kau mendapat pendamping seperti suamimu, yang peduli dengan keluarga.”

Aisya terdiam, ini satu hal yang kurang ia suka pada Bibi Su, jika sudah menyangkut anak semata wayangnya, nenek itu sering lepas kendali dan berujung pada omelan tidak jelas. Ia khawatir terjebak pada ghibah. Tapi bagaimanapun, Bibi Su adalah orang baik yang tetap menyayangi anaknya.

Pernah suatu malam, gigil di tubuh Bibi Su tak bisa terelak. Satrio yang baru tiba dari pos ronda menuju dapur dan tak mendapati tudung saji menutup menu makan malam. Itu artinya lauk telah tandas.

“Di lemari ada ikan pindang tinggal satu, kusisakan untukmu. Makanlah!” Bibi Su terbatuk-batuk saat mengucapnya.

“Pindang lagi, pindang lagi. Macam kucing saja makanku setiap hari. Belikan lauk yang lain Mak. Aku sudah lapar sekali ini. Aku mau sate kambing.” Satrio berkacak pinggang.

Tanpa meminta keringanan, tanpa menawar, dengan batuk yang masih merongrong, tubuh kurus penuh gigil, tanpa jaket, Bibi Su menembus gerimis di jalanan. Tangan rentanya terlipat di depan dada, berusaha mengurangi dingin yang semakin menusuk. Malam telah larut, sepanjang jalan tak ia temui penjual lauk permintaan Satrio.

Bibi Su mengeratkan beberapa lembar uang di tangan. Sebenarnya itu adalah uang terakhir yang ia miliki, cukup untuk mendapat lima tusuk sate kambing permintaan putranya, begitu pikir Bibi Su. Meski sering kesal atas sikap anaknya, namun Bibi Su tidak pernah protes kecuali menceritakan keluh kesahnya pada Aisya saja. Sebab bagi Bibi Su Aisya sudah seperti anak perempuannya. Cukup pula untuk mengobati kerinduan akan keinginan memiliki seorang anak perempuan.

Setelah berjalan hampir sejauh satu kilo, napas Bibi Su yang terengah nampak lega. Ia menemukan warung sate.

“Ya Rabb, mudah-mudahan suatu hari Satrio bisa menjadi lelaki yang baik,” bisik Bibi Su sambil menatap bungkusan sate di tangannya.

Pagi setelahnya, sudah hampir setengah perjalanan Aisya mengelilingi komplek sendirian, tapi ia belum bertemu Bibi Su. Tidak seperti biasanya Bibi Su tidak terlihat. Rumahnya juga tampak sepi tadi. Tangannya mengelus perut, ingatannya kembali pada Bibi Su yang sering mendoakannya agar persalinan kelak berjalan dengan lancar di tengah perjalanan mereka mengelilingi komplek setiap pagi. Nenek itu juga selalu bilang bahwa bayi yang dikandung Aisya nampaknya adalah seorang bayi laki-laki.

“Bersyukurlah, Aisya, Allah sudah memberikanmu segala yang baik-baik. Suami yang baik, ibu mertua yang baik, saudara yang baik. Pokoknya kau harus selalu bersyukur. Agar tidak sepertiku. Dulu aku sering sekali mengeluh. Sudah dikarunia dua anak laki-laki tapi aku tetap menyalahkan Tuhan, mengapa tidak menganugerahi anak perempuan. Akhirnya karena aku tidak bersyukur, Dia mengambil salah satu anakku. Aku masih belum sadar, akhirnya Dia seperti menutup pintu hati Satrio, dia berubah menjadi lelaki yang kasar dan tidak tahu terima kasih.” Bibi Su mengambil napas panjang. “Semoga Tuhan tidak semakin marah jika aku meminta maaf pada-Nya ketika orang tua ini sudah renta seperti ini.”

Aisya mengangguk mendengarkan dengan takzim, banyak sekali nasehat yang ia dapat dari Bibi Su selama ini. Bagaimanapun wanita senja itu sudah seperti ibu ketiganya setelah ibu kandung dan ibu mertuanya.

Lepas waktu dhuha keesokan harinya, Bibi Su pergi. Tanpa pamit Aisya, bahkan Satrio maupun menantunya. Satrio berlari keluar rumah tergopoh, mendadak seperti orang linglung tatkala mengabarkan kepergian Bibi Su kepada para tetangganya.

“Kalian tahu di mana Mamak? Mamak, Mamak, Mamak pergi. Mamak pergi.”

Sontak sekumpulan penduduk desa yang sedang bercengkerama sebelum sama-sama pergi ke sawah pada waktu dhuha itu saling berpandangan melihat tingkah Satrio. Mereka bergegas menggandeng Satrio kembali ke rumah, berpikir Satrio mungkin sedang mengigau..

Namun betapa terkejutnya mereka melihat sosok bermukena putih meringkuk dengan wajah pucat di atas sajadah. Bibi Su yang kemarin seharian tidak terlihat sosoknya, hari ini benar-benar pergi. Sosok itu pergi meninggalkan raganya sendirian. Dengan senyum merekah dan berbalut mukena sejak subuh.

Satrio meraung sejadi-jadinya. Belum sempat ia bersujud memohon maaf pada pemilik surga di bawah kaki itu. Sedang Aisya, wanita yang dekat dengan Bibi Su tepat pagi itu melahirkan seorang bayi laki-laki, tepat seperti dugaan Bibi Su. Meski sayang, bayi mungil itu tak sempat melihat nenek renta yang kerap mendoakan dirinya saat berada dalam kandungan. []

Oleh: Ummu Ayyash.

Tinggalkan Balasan