Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

Alangkah bahagianya saya, ketika menemukan hikmah di rumah seorang umahat (ibu) yang belum lama saya datangi dalam rangka wawancara perihal aktivitas beliau.

Setelah menyampaikan maksud kedatangan, beliau pun dengan ramah, mulai menjawab satu persatu pertanyaan yang diajukan. Betapa kaget, ternyata beliau telah memulai aktivitas mulia itu sedari kecil.

“Oh, jadi sudah sejak SMP?” tanyaku takjub. “Sekitar tahun berapa, itu?”

“Tahun delapan puluh lima kalau nggak salah, hmm … nggak salah, ya, bener maksudnya.” Wanita dengan kerudung putih tanpa bros itu tertawa.

Sementara saya itu, manggut-manggut dan semakin takjub. “Tahun delapan lima saya belum lahir, hehehe ….”

“Wah, ketahuan tua, deh!” selorohnya cair, membuat suasana semakin akrab.

Ya, sore itu, saya berkunjung ke rumah seorang wanita dengan predikat peserta terbaik MQW (Muqoyam Quran Wilayah) Jateng 2016. Beliau juga pernah mendapat penghargaan sebagai ‘Ibu Teladan’ se-kabupaten Purworejo tahun 2010.

Gerimis turun, di antara rintik keberkahan air hujan itu, beliau melanjutkan kisah perjalanannya dalam membumikan Alquran.

***

“Bapak doakan, besok kamu jadi dai,” pinta bapak kepadaku sembari mengelus kepala. “Kasihan kalau nggak ada yang mulang (ngajar),” lanjutnya lagi.

Hari itu, bapak sakit dan aku diminta menggantikan beliau untuk mengajar ngaji di kampung nan jauh, dekat Gereja Tulung, Jogja. Padahal, tempat tinggalku di Gambrengan, Kokosan, Prambanan, Klaten.

Bukan perkara jarak yang membuatku ragu, tapi aku merasa belum pandai, masih anak kecil pula.

 Sebelum mengangguk tanda setuju, kulihat sekali lagi wajah bapak. Beliau pun tersenyum dan mengangguk yakin. “Bapak doakan,” ucap bapak lagi, lebih mantap.

Mendengar ucapan bapak, tiba-tiba, keberanian dalam diri muncul begitu saja. Rasanya, umur tidak lagi menjadi masalah. Imam Syafi’i saja, di usia sembilan tahun telah membacakan kitab Al-Muwatha’ di hadapan gurunya, Imam Malik. Sedangkan aku, lebih tua dari itu, umurku tiga belas tahun, kelas dua MTSN Prambanan.

Benar saja, aku yang ngos-ngosan karena menggoes sepeda di bawah terik matahari, segera disambut oleh peserta pengajian. Subhanallah, mereka sangat antusias. Ibu-ibu, bukan hanya yang muda saja, bahkan yang telah sepuh pun turut serta.

Satu ayat kubaca (tentu dengan sangat grogi dan keringat yang menetes-netes) kemudian diikuti oleh mereka, peserta pengajian. Metode ini disebut meloloh, artinya mengajarkan melalui ucapan dan ditirukan. Memang saat itu belum populer metode lain seperti metode baca quran dengan iqro, qiro’ati, ummi, atau lainnya.

Pengalaman pertama itu, akhirnya memberi keberanian padaku untuk berbagi ilmu baca quran pada kesempatan yang lain. Alhamdulillah, bertahun setelahnya, berdirilah TPQ di rumah.

Semua berawal dari sebuah kegelisahan. Kenapa mushala dekat rumah hanya ramai ketika Ramadan saja? setelahnya sepi, tidak ada lagi acara keagamaan.

Akhirnya, di tahun sembilan puluh-an, aku mengusulkan pada bapak untuk membuka TPQ di rumah (Sebelumnya, bapak memang telah mengajar ngaji orang tua, tapi tidak khusus pada bacaan Qur’an. Bapak mengajar tata cara salat, wudhu, dzikir, dan hafalan doa selepas maghrib). Saat itu, aku telah menjadi mahasiswa, semester lima di IAIN Suka, Yogya.

Sebelum dibukanya TPQ di rumah, aku kos di sekitar kampus karena mengurusi banyak kegiatan yang berhubungan dengan dakwah. Tapi, hatiku resah, ‘Di Jogja aku mengurusi banyak hal, tapi siapa yang akan membimbing anak-anak di kampungku?’ Olehkarenanya, akhirnya aku memutuskan untuk laju Klaten-Yogya.

Ternyata, laju membutuhkan ekstra kesabaran. Jangan dikira seperti sekarang Klaten-Jogja cukup wuzz naik motor, dua hingga tiga jam sampai. Dulu, untuk sampai di kampus dan kembali lagi sore hari, aku harus jalan kaki kurang lebih 2 KM dari rumah hingga terminal kecil Candi Prambanan. Bus dari Prambanan hanya sampai Njanti dan harus nyambung menggunakan colt hingga kampus.

Alhamdulillah, untuk perjalanan berangkat cukup aman. Artinya, selalu ada angkutan untuk sampai di kampus. Bahkan kadang, jika sedang beruntung, ada saja, orang yang menawari mbonceng, hingga kampus.

Nah, yang agak rawan itu justru pas perjalanan pulang. Ya, capek, ya, malas, yang terkadang membuat semangat kembang-kempis. Terlebih, saat kesorean karena urusan kampus belum selesai, angkutan dari terminal Prambanan ke Gambrengan sudah habis dan harus jalan kaki sekitar 5 KM.

Pernah, saat kurang sehat, ketika turun dari bus, badan rasanya sudah tidak menjejak bumi, mau pingsan. Akhirnya, dengan sopan, kuketuk pintu seorang warga dan ijin rebahan di rumahnya untuk istirahat sejenak. Alhamdulillah, Allah beri kekuatan hingga bisa melanjutkan perjalanan sampai rumah.

Rasanya, jika ingin egois, ya mending kos saja. Tidak perlu repot sore-sore pulang dan tentu lebih gampang jika ada tugas kampus yang harus segera dikumpulkan.

Oya, kembali pada ide pembukaan TPQ. Usulku akhirnya direstui bapak dan beliau mensyi’arkannya melalui seseorang, kemudian disampaikan pada orang lain. Tak kusangka, sambutan masyarakat sungguh luar biasa. Ruang tamu, ruang tengah, selasar, bahkan sampai teras, penuh orang yang ingin ikut mengaji. Mulai anak-anak usia Balita, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan simbah-simbah sepuh.

Aku merasakan betul, TPQ ini ibarat oase di tengah gurun. Masyarakat yang tidak pernah salat (ada yang salat tapi paling hanya satu, dua orang saja) ternyata rindu pada ajaran agama. Bahkan, bagi mereka, belajar membaca alquran itu lebih penting dari salat. Ya, karena mereka beranggapan bahwa salat itu kan harus bisa baca quran dan doa-doa. Jadi, sebelum melakukan salat, ya harus pintar mengaji lebih dahulu.

Tantangan pun dimulai, banyaknya santri TPQ ternyata tidak sebanding dengan ketersediaan iqro. Maka, sebagai mahasiswa yang tentu saja biaya kuliah masih meminta orangtua, aku tidak bisa banyak membantu masalah dana untuk operasional TPQ.

Beberapa waktu berjalan dengan keterbatasan. Untuk mensiasatinya, khusus orang tua (ibu-ibu, bapak-bapak, dan simbah-simbah) yang mengaji, masih menggunakan metode meloloh. Sedangkan untuk anak-anak dan remaja mulai belajar menggunakan iqro’.

Meskipun hanya remaja dan anak-anak saja yang menggunakan iqro’, ternyata jumlah buku iqro’ pun masih kurang. 

Mulailah aku mencari kegiatan yang mendatangkan uang. Jualan kue, menjahit baju, bahkan pernah menjadi karyawan toko. Semua penghasilan aku alokasikan untuk pengadaan buku iqro’. Alhamdulillah ….

Beberapa waktu berjalan, semangat belajar mengaji para santri tidak luntur meskipun sarana yang ada jauh dari kata memadai. Buku iqro’ yang masih sedikit jumlahnya, dan tenaga pengajar (aku, ibu, dan bapak) yang kadangkala kurang sehat karena kelelahan.

Perjuangan semakin terasa karena para santri belajar dari nol, mengenal satu persatu huruf hijaiyyah. Alif, ba, ta, dan seterusnya hingga khatam dua puluh delapan huruf. Lanjut belajar harokat, tanda sukun, tasydid, dan terus berlanjut. Membaca satu baris iqro’ kemudian menjadi satu halaman. Dari satu halaman, menjadi banyak halaman. Terus, terus, dan terus.

Adakalanya, sangat lelah ketika apa yang diajarkan tak kunjung nyangkut di kepala para santri. Salah lagi, salah lagi. Tapi seringnya, kesalahan itu membuat tawa berderai dan suasana bertambah ramai. Ya, mau bagaimana lagi, santri juga masih suka salah mengucap ba menjadi na, atau ya menjadi ta. Pun menjadi sangat lucu ketika anak Balita belajar mengucap sya hingga bibir monyong dan ludah menyembur. Dik, dik, ustazahnya kok disembur! Waduh, jian!

Namun begitulah sunatullahnya, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu berusaha mengubahnya sendiri. TPQ yang berjalan dengan segala pernak-perniknya, pada akhirnya mampu meluluskan beberapa santri remaja. MasyaAllah … saat itu, sungguh hanya keharuan yang mendesak-desak memenuhi dada. Air mata bahagia pun tidak bisa ditahan. Kupeluk mereka satu persatu, tanpa kata, hanya mata yang berbicara.

Sebuah nikmat dari Allah, setelah beberapa santri remaja diwisuda, akhirnya TPQ anak dan remaja pindah ke mushala (milik Ibu Suwarni) dan dilaksanakan sore hari. Kali ini, yang mengajar aku dan para santri yang telah diwisuda. Sementara bapak dan ibu masih istiqomah mengajar ngaji para orang tua selepas maghrib.

***

Cerita awal mula perjuangan beliau dalam membumikan alquran telah selesai disampaikan. Hati saya bergetar, dan semangat perjuangan seakan-akan merasuk dalam dada.

“MasyaAllah ….” Saya terkesima, terbayang sebuah rumah dengan keramaian yang membuat decak kagum. Dengungan bacaan quran, lampu petromak yang mulai redup karena bahan bakar hampir habis, buku iqro’ yang telah lusuh karena seringn berpindah banyak tangan, juga wajah lucu Balita yang menguap berkali-kali lantaran mengantuk.

“Ternyata njenengan dapat semangat ngajar ngaji dari bapak dan ibu ya? Salut! Subhanallah,” ucap saya pada beliau, tuan rumah yang kuwawancara.

“Bapak dan ibu seorang pejuang yang luar biasa, mudah-mudahan apa yang aku lakukan, jadi jariyah untuk mereka.”

Saya pun mengamini dengan sepenuh doa.

Monggo lho, diminum tehnya.”

“Oh, ya,” jawab saya malu-malu dan segera saja, teh dengan aroma khas melati itu, tandas setelah beberapa kali tegukan. “Emm … sebelum menetap di sini (Purworejo), njenengan sepertinya pernah di Kebumen kan ya?”

“Ya, di Kebumen enam tahun.”

“Ngajar quran juga?”

Always, hehehe ….” Tawa renyah itu kembali berderai. “Ya, selama di Kebumen ngajar ngaji. Waktu itu, ada satu kelompok quran khusus ibu-ibu PEMDA Kebumen, ibu-ibu perumahan, dan beberapa majelis ta’lim.”

Hujan yang awalnya gerimis, kemudian menjadi lebih lebat. Beberapa kali, angin menerabas melalui celah jendela ruang tamu, tapi hawa dingin angin sama sekali tak saya rasakan. Mungkin karena semangat mengabdi, membumikan alquran yang disampaikan wanita di depan saya ini, membuat badan hangat, sehangat gelora dakwah yang saya peroleh darinya.

“Oh, ya, jadi njenengan sudah berapa tahun di Purworejo?”

“Sejak 2001, berapa tahun ya berarti?”

“Hmm … delapan belas-an berarti ya? MasyaAllah …,” ucap saya dengan intonasi yang masih sama dengan sebelumnya. Kagum, tersengat semangat, dan perasaan entah yang tak bisa dijabarkan dengan gamblang. Kekaguman itu wajar, karena kiprah beliau di Purworejo sedikit-banyak sudah saya ketahui.

Tentang Rumah Quran Nusantara, tentang majlis ta’lim cinta alquran di beberapa daerah, tentang gerakan orang tua mengaji yang beliau inisiasi di sekolah-sekolah, sekolah ibu dan banyak hal lainnya.

Obrolan pun berlanjut pada makna dan hakikat mengajarkan quran. Sesungguhnya, orang yang paling baik adalah orang yang belajar dan mengajarkan quran (berdasar hadis riwayat Bukhari) maka beliau berpesan, “Selain ngajar quran, kita harus punya keahlian lain. Sehingga, saat ngajar, kita tidak mengharapkan imbalan.”

Aku mengangguk, meresapi nasihat beliau.

“Supaya masyarakat menerima alquran, maka perlu ketulusan dan niat lillahi ta’ala. Jadi, ngajar quran itu, bukanlah pekerjaan untuk mendapatkan uang, tapi pekerjaan untuk transaksi dengan Allah. Memohon keridaan pada Allah. Memohon dilimpahkan cinta pada hati kita, supaya alquran lekat di hati. Hingga cinta itulah yang akan menuntun kita menemukan ketentraman hidup, menemukan semangat untuk terus membumikan quran.”

Lagi-lagi, saya terkesima dan hanya bisa menyimak dengan takzim. Obrolan masih seru, tapi karena beliau ada jadwal ngajar ta’lim di tempat lain, maka pertemuan ini dicukupkan.

“Jangan lupa, bukan kita yang mampu ngajar ngaji, tapi Allah yang memampukan kita, memilih kita.” Ucapan terakhir setelah salam itu, sungguh-sungguh menembus, masuk ke dalam ruang paling sepi, di hati.

Sesaat sebelum menstater motor, saya yakinkan diri sendiri sekali lagi, bahwa cintalah yang membuat wanita di depan saya mampu terus berpijak dan melangkah membumikan quran. Cintalah yang mengalahkan berbagai keterbatasan: Sibuk, tua, tidak ada teman, malu, miskin, dan segala entah yang membuat kaki enggan melangkah.

Hari itu, pertama kalinya dalam sejarah, saya mengendarai motor dalam keadaan hujan setengah gerimis tanpa mantel. Rasanya, luapan semangat yang baru saja didapatkan meminta untuk diguyur kesegaran barang sebentar.

Wanita hebat dan menginspirasi itu bernama Umi Mar’fuah S.Ag.

Dituturkan langsung oleh Ibu Umi Marfu’ah dan ditulis oleh Sri Bandiyah berdasarkan sudut pandangnya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: