SEPULUH tahun yang lalu …

Beliau mendapatkan tawaran dari seorang teman yang bekerja di sebuah bank syariah. Sebuah tawaran yang akhirnya bakal mengubah hidup beliau. Takdir hidup beliau dimulai dari tawaran ini.

“Ada rumah KPR yang macet angsurannya, jenengan mau ambil?”

“Di mana?”

“Di Berbah.”

“Oke, saya lihat dulu ya.”

Beliau pun mencari rumah yang ditawarkan tersebut. Masyaallah, ternyata jauh sekali lokasinya. Meski letak perumahannya masih masuk wilayah Berbah, rupanya rumah yang dimaksud itu ada di ujung kampung. Tidak ada lagi kampung di belakang perumahan itu.  

Dulu, perumahan itu diperuntukkan bagi para pegawai AU (Angkatan Udara). Jadi tipe rumahnya sama semua, tipe 36. Jumlahnya lumayan, ada sekitar 65 rumah lebih, tapi yang dihuni hanya kisaran 54 rumah saja. Rupanya, tidak semua pegawai AU mau tinggal di sana. Sebagian besar rumah justru ditawarkan kepada masyarakat umum, dan akhirnya perumahan itu menjadi perumahan umum.

Memang letak perumahan ini kurang strategis. Tidak hanya berada di ujung pedesaan, posisinya di bawah desa sebelumnya. Jadi untuk masuk ke perumahan tersebut, kita harus melewati jalan yang menurun. Barangkali, faktor itulah yang membuat perumahan tersebut seolah-olah terisolasi dan para penghuninya jarang yang betah di sana.

Ditambah lagi, setelah beliau cek, ternyata air di perumahan tersebut pun keruh. Kalau ditampung di bak, airnya berwarna kuning dan seperti banyak kandungan besinya. Hanya dua sampai tiga rumah saja yang beruntung mendapatkan sumur dengan air cukup jernih. Sedangkan penghuni rumah yang lain berusaha menyaring air dengan alat seadanya. Karena itu, mereka tidak memasak dengan air tersebut. Mereka harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli air galon untuk memasak sehari-hari.

Melihat kondisi itu, sebenarnya beliau ingin menolak tawaran rumah tersebut. Namun, karena memang harga rumahnya jauh lebih murah dibandingkan rumah-rumah di wilayah lain, akhirnya beliau pun mengiyakan untuk membelinya. Selain itu, memang beliau juga belum punya rumah.

Beberapa hari setelah menyelesaikan kewajiban administrasi dengan pihak bank syariah, beliau bersama seorang karyawannya membersihkan rumah tersebut. Sebelum pindah dan tinggal di sana, beliau selalu datang pada siang hari saja. Nah, betapa kagetnya setelah beliau tinggal di sana, ternyata setelah matahari tenggelam, perumahan tersebut gelap dan sepi sekali. Sama sekali tidak ada kegiatan warganya selain dua sampai tiga laki-laki yang keliling perumahan untuk ronda.

Beliau ceritakan kondisi perumahan tersebut kepada saya, dan saya hanya berkomentar, “Ada sesuatu yang kurang di perumahan itu, ya?”

“Iya, masjid.”

“Masjid?”

“Iya, tidak ada masjid. Suara adzan dari kampung di atas juga tidak begitu terdengar. Di perumahan sama sekali tidak ada aktivitas keagamaan.”

“Jadi seperti kuburan ya. Eh, sori.”

“Nah itu, kalau ente mau, ayo tinggal di sana. Kita bikin masjid di perumahan.”

“Serius?”

“Ya. Serius.”

***

Oke, saya pun ikut pindah dan tinggal di sana. Waktu itu kami sama-sama masih lajang. Saya mengenal beliau sebagai pebisnis percetakan dan sekaligus kakak kelas di kampus. Saya pun sudah akrab dengan beliau karena sudah beberapa kali kerja sama. Kebetulan, kami pun sama-sama suka berdakwah—sesuai kemampuan kami.

Beliau langsung bergerak. Setiap hari tidak ada hal lain yang kami diskusikan selain masjid! Setelah beliau mengenalkan saya kepada pengurus warga perumahan (Pak RT yang belum resmi), beliau pun mengajak saya untuk negosiasi dengan pengurus warga.

“Dulu kami juga berpikir bisa ada masjid, tapi dana dari mana?” tanya seorang pengurus warga.

“Untuk dana pembangunan insyaallah bisa kita usahakan bersama, Pak. Yang penting warga menyetujui di sini ada masjid.”

“Iya, tapi kalau disuruh iuran, kasihan warga karena kebanyakan di sini itu tergolong rumah tangga baru. Kondisi ekonomi juga pas-pasan.”

“Oh bukan iuran, Pak. Kalau warga mau sedekah tidak apa-apa, tapi tidak iuran wajib. Kita bisa usahakan dari jalan lain. Yang penting warga setuju kalau di sini ada masjid.”

“Oh gitu, ya pasti mereka setuju. Tidak masalah. Itu kan sesuatu yang baik, dan tidak melanggar aturan.”

“Kalau begitu, boleh ya pak kita edarkan surat persetujuan warga. Mereka tanda tangan untuk pembangunan masjid.”

“Oke, siap. Nanti saya bantu minta tanda tangan persetujuan mereka.”

Alhamdulillah. Oh ya, ada satu hal lagi, Pak.”

“Apa itu?”

“Tanah untuk masjidnya, di mana nggih?”

“Oh ya, di atas sana. Setelah gerbang masuk itu, setelah jalan menurun, sebelum belok ke kiri, tanahnya untuk masjid ada di sebelah kanan.”

Alhamdulillah, cocok pak. Memang itu tanah yang disediakan pihak pengembang perumahan ini ya? Diperuntukkan khusus untuk masjid?”

“Iya, benar. Secara resmi ada gambarnya. Di situ ada tanah khusus buat masjidnya.”

Clear. Upaya pertama berbuah hasil. Beliau mendapatkan informasi yang begitu jelas dan secara legal formal di perumahan sangat layak didirikan masjid.  

***

Tantangan utama yang beliau hadapi justru dari sesuatu yang tidak terduga. Apa itu? Status beliau sebagai warga baru. Rupanya status itu membuat sebagian warga ragu, atau hanya dianggap semangat (maaf) tai-tai ayam saja. Cuma gembar-gembor di awal, tetapi bakal mlempem akhirnya. Semangat koar-koar mau bikin masjid, akhirnya akan terbengkalai.

Pada pertemuan rutin warga—di balai warga—ada seorang warga dengan postur tubuh besar dan bertato, berkomentar, “Bikin masjid itu banyak dana. Pengalaman kita, kalau urusan dana bakal susah. Lihat saja balai warga ini, jadinya lama dan tidak beres sampai sekarang.”

Rupanya pendapat tersebut diiyakan warga lain yang datang pada pertemuan malam itu. Karena mereka bercermin dari pembangunan balai warga yang memang kurang beres. Balai warga dibangun cukup lama dan belum selesai juga. Mendapat respon seperti itu, rupanya tidak menyurutkan niat beliau untuk membangun masjid.

Dengan nada lebih tegas, beliau menyampaikan, “Nanti insyaallah panitia pembangunan masjid yang akan mengusahakan dananya, tidak harus dari warga di sini. Nanti panitia bisa mencarikan dana dari luar.”

Saya sebenarnya kaget juga ketika beliau berkata seperti itu. Karena panitia pembangunan masjid pun belum dibentuk, dan entah mau nyari dana dari mana? Tapi karena beliau tampak yakin, saya dan beberapa orang ikut mendukungnya. Nah, beberapa orang ini yang akhirnya ikut menjadi panitia pembangunan masjid. Berapa orang? Lima orang.

Lima orang itu sudah termasuk beliau dan saya. Beliau pun membagi tugas, satu orang membuat data nama-nama warga dan nomor rumahnya, lalu meminta tanda tangan mereka. Satu lagi menghubungi pihak pengembang perumahan untuk memastikan tanah untuk masjid. Kemudian sisanya pergi ke tanah yang bakal didirikan masjid itu untuk diukur dan dipasang bambu serta tali rafia.

Ketika beliau, saya, dan satu orang lagi memasang pembatas tanah masjid dengan tali rafia, beberapa orang yang lewat memandang kami dengan tatapan gimana gitu. Barangkali hanya perasaan saya saja, tetapi sebagian besar dari mereka memang kurang yakin dengan ide pembangunan masjid itu.

“Tidak usah dipikirkan,” kata beliau, “keraguan mereka hanya soal dana, kan? Jadi kalau dananya sudah beres, saya yakin mereka bakal mendukung pembangunan masjid ini.”

Saya diam, karena masih bingung juga mau nyari dana di mana. Kemudian beliau mengutip sebuah ayat Quran yang artinya, “Jika kita menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kita.”

Keyakinan itulah yang terus membuat beliau tidak kenal menyerah dan terus meyakinkan kami, bahwa masjid ini nantinya benar-benar bisa kami bangun.

***

Satu orang yang mendapat tugas bertemu dengan pihak pengembang pun membawa kabar gembira. Pihak pengembang membenarkan bahwa di tanah tersebut boleh dibangun masjid. Bahkan seharusnya sudah beberapa tahun yang lalu dibangun, tetapi warga tidak pernah membangunnya. Nah, bukti (gambar tanah) dan stempel resmi dari pengembang inilah yang rupanya bermanfaat untuk pembangunan masjid.

Satu berkas sudah disimpan, lalu beliau meminta satu berkas lagi, yakni berkas yang isinya persetujuan warga. Kedua berkas itulah yang beliau bawa untuk mencari dana di luar perumahan. Ke mana? Entahlah.

Jujur saja, kami tidak tahu beliau membawanya ke mana. Seperti kata beliau itu, ya akan mencari dana di luar perumahan. Lha, itu dananya emang cuma sejuta atau dua juta? Tidak. Dana yang dibutuhkan sampai ratusan juga. Lha, dari mana? Nah, inilah yang membedakan beliau dengan kami. Andai saja beliau menyerah ketika sebagian besar warga meragukan soal dana pembangunan masjid, tentulah kami ikut menyerah juga. Nyatanya beliau tetap yakin, semangat, dan jalan terus itu.

Beliau pun tidak pernah bilang kepada saya akan membawa proposal pembangunan masjid itu ke mana. Asal jalan saja dan muter-muter ke semua relasi beliau. Itulah hebatnya beliau, ilmu bisnisnya digunakan dalam penggalangan dana di luar sana. Dalam proses pencarian dana ini, warga sudah tidak mendengar kabar apa-apa lagi. Barangkali mereka berpikir bahwa pembangunan masjid ini bakal gagal.

Namun hasilnya?

Benar-benar mengejutkan kami. Hari itu, beliau pulang dengan kabar yang sama sekali tidak pernah kami duga sebelumnya. Beliau mendapatkan peluang dari sebuah yayasan sosial keagamaan yang punya dana khusus untuk pembangunan masjid.

“Dapat berapa?” Salah seorang dari kami bertanya.

“Bukan dapat uang,” jawab beliau.

“Lalu?”

“Dibangunkan masjid sampai jadi!”

“Waow!”

“Kok waow, alhamdulillah ….”

Alhamdulillaaaah ….”

***

Dengan modal berkas persetujuan warga dan gambar denah tanahnya, masjid pun benar-benar terbangun. Masjid yang akhirnya beliau beri nama Quwwatul Islam itu berdiri megah hanya dalam waktu tiga bulan. Warga sama sekali tidak mengeluarkan uang kecuali mereka yang suka rela bersedekah untuk membeli karpet atau kelengkapan lainnya. Sedangkan pihak yayasan tersebut membangun dari pondasi sampai membuatkan kamar mandi dan tempat wudhu. Benar-benar paket lengkap!

Kepada mereka yang dulunya meragukan beliau, sama sekali beliau tidak musuhi. Justru beliau merangkul dan mengajak mereka untuk memakmurkan masjid. Laki-laki bertubuh besar dan bertato itu pun akhirnya terlihat salat di masjid. Beberapa warga pun berdatangan ke masjid ketika pertama kali azan dikumandangkan jelang salat Magrib. Mereka memandang masjid itu dengan penuh takjub. Rasanya baru kemarin dibicarakan, tiba-tiba masjid itu sudah ada di depan mereka. Masyaallah.

Oh ya, karena pihak yayasan tersebut hanya membangunkan bangunan masjid, tempat wudhu, dan kamar mandi, maka perlengkapan masjid pun dibelikan oleh beliau—dari uang pribadi. Termasuk pengeras suara (TOA). Tidak hanya gagasan saja yang beliau berikan, tetapi action nyata sekaligus keluar banyak dana juga.

Program masjid pun disusun, saya mengajar kitab Iqra dan al-Qur’an untuk anak-anak pada sore hari (setelah salat Ashar). Sedangkan beliau langsung kami minta sebagai ketua takmir masjid, sekaligus imam salat berjamaah. Karena beliau memang tartil dan fasih sekali bacaan Qurannya.

Tidak lama kemudian, masjid Quwwatul Islam diresmikan dengan mengadakan pengajian akbar. Papan namanya resmi dipasang di depan masjid. Untuk pertama kalinya, warga berkumpul dan ikut menyimak pengajian bersama di sana. Warga dari kampung atas pun ikut turun meramaikan pengajian tersebut. Setelah pengajian selesai, tampak beberapa warga (bapak-bapak) yang menyalami dan memeluk beliau. Semua warga perumahan berterima kasih kepada beliau. Karena tanpa keyakinan dan kegigihan beliau, tentu masjid itu tidak pernah dibangun dan kegiatan keagamaan pun tidak akan pernah ada.

Beliau, Pak Samino Setiawan.

***

Oleh: Dwi Suwiknyo, sebagai saksi hidup dan ditulis sesuai versi pribadi penulis.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: