“Buat apa wanita sekolah tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya cuma sibuk di dapur, sumur dan kasur?”

Saya masih inget banget, waktu ada salah seorang saudara yang mengatakan itu dengan nada meremehkan. Saya heran, kok di zaman modern begini, masih ada orang berpikiran seperti itu. Apa sedemikian kuatnya stigma kuno tersebut melekat di masyarakat kita? Hingga masih saja menganggap bahwa kedudukan wanita hanya sebatas sebagai konco wingking (teman di belakang) bagi kaum laki-laki, yang kesibukannya tak lebih dari urusan memasak, mengurus anak dan melayani suami.

Actually, nggak ada yang salah, sih dengan anggapan tersebut. Emang bener, kok, kodrat seorang wanita itu, ya seperti yang sudah selazimnya. Bisa sebagai ibu, istri dan manajer rumah tangga. Tapi bukan berarti wanita jadi nggak bisa ngapa-ngapain, kan? Dan itu juga bukan berarti makhluk yang ada di bawah naungan Venus ini, nggak boleh punya pendidikan tinggi, kan? Soalnya kasian banget, kalau jadi wanita zaman now, tapi mau sekolah S-2 bahkan mau mengejar karier aja masih nggak dibolehin.

Ada juga sebagian orang yang berpendapat bahwa kalau mau jadi wanita shalihah, sebaiknya nggak bekerja di luar rumah. Pendapat ini bisa dibilang, justru jadi bumerang. Gimana, nggak? Coba aja kita pikir, kalau semua wanita muslim nggak ada yang bekerja di luar rumah, terus siapa yang akan jadi dokter atau bidan untuk membantu persalinan wanita muslim itu sendiri? Atau siapa yang akan jadi ustazah di pesantren atau sekolah-sekolah Islam?

Nah, di sinilah kemudian perubahan nilai itu terjadi. Nggak bisa dimungkiri, di zaman yang sudah serba instan ini, mau nggak mau wanita juga dituntut memiliki peran ganda. Ini artinya, dia nggak lagi hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja, tetapi juga sebagai wanita karier atau wanita yang bekerja.

Ada beberapa alasan dasar, menurut Siti Ermawati dalam jurnal Edutama Vol. 2 No.2 Bulan Januari 2016 yang berjudul Peran Ganda Wanita Karier (Konflik Peran Ganda Wanita Karier ditinjau dalam Perspektif Islam) halaman 8, yang mendorong wanita untuk berkarier. Antara lain karena adanya faktor pendidikan, alasan ekonomi dan adanya faktor individu yang ditimbulkan oleh keinginan untuk mengembangkan diri dan berperan dalam lingkungan sosial.

Keinginan individu inilah yang membuat banyak wanita mulai merasa tidak puas dengan hanya menjadi ibu rumah tangga. Wanita tidak lagi merasa menjadi orang nomor dua di bawah laki-laki. Terbukti, semakin banyak wanita yang melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi dan berkarier sesuai dengan bakat, minat dan keahliannya.

Bahkan saya sendiri membuktikan bahwa ternyata dalam beberapa profesi, memang wanita lebih bisa diandalkan dibanding laki-laki. Ini mungkin berkaitan dengan sifat wanita yang lebih telaten, teliti dan tekun dalam bekerja. Hal ini juga bisa dilihat dari fakta dalam masyarakat bahwa dewasa ini banyak wanita yang sukses berprestasi menjadi pimpinan di berbagai perusahaan dan lembaga publik.

Terus, gimana dong, agar peran sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier ini bisa berjalan dengan baik dan seimbang? Untuk menjawab pertanyaan ini, sepertinya saya harus bercerita tentang kisah dua orang wanita sukses yang paling dekat dengan kehidupan saya.

Wanita pertama adalah Ibu saya sendiri. Beliau meniti karier di bidang pendidikan. Sejak lulus SMA, sudah mendedikasikan dirinya sebagai seorang guru swasta yang mengabdi pada sebuah yayasan Islam. Selama kurang lebih empat puluh tahun bekerja, beliau pernah menduduki dua jabatan penting, yaitu sebagai kepala sekolah dan pengawas bidang pendidikan dasar dan menengah yang berprestasi.

Dan selama itu pula, Ibu berhasil menjalani peran gandanya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Ibu berusaha menyeimbangkan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya serta sebagai seorang pimpinan sekolah. Ibu nggak pernah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ibu bagi kami, anak-anaknya. Beliau sangat ahli dalam mengatur waktu, sehingga nggak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Dari subuh ke subuh sudah full dengan schedule yang tersusun rapi di otak beliau. Mulai bangun, beribadah, menyiapkan sarapan, berangkat kerja, lalu pulang, mampir belanja di pasar, memasak sampai menemani kami ngobrol, seolah dijalaninya dengan sangat enjoy, tanpa ada konflik yang berarti.

Sosok wanita yang kedua adalah sahabat saya semasa SMA. Sebut aja namanya Faizah. Saya sangat mengagumi sosoknya sejak dulu. Selain berparas cantik, Faizah juga gadis shalihah. Dia berjilbab sejak SMP, sangat tekun beribadah dan yang paling saya ingat dia juga rajin menjalankan puasa Sunah Daud. Pokoknya bisa dibilang dia benar-benar seorang calon istri idaman. Nggak heran, setelah lulus kuliah, dia langsung dipinang oleh laki-laki yang kini jadi suaminya.

Saya sempat berpikir, bahwa Faizah adalah seorang wanita rumahan yang tidak akan mengejar kariernya setelah dia menikah. Tapi ternyata saya salah. Faizah justru berkisah tentang pengalamannya ketika memulai bisnis sebuah produk kewanitaan dari nol hingga sekarang usahanya itu berkembang pesat. Kerennya lagi, dia menjalankan bisnis tersebut dari rumah, tanpa meninggalkan keempat buah hatinya.

Saya sama sekali nggak menyangka, kini dia menjadi seorang pengusaha wanita yang sukses. Bahkan dari hasil jerih payahnya sendiri, dia telah mampu menunaikan rukun Islam kelima bersama suami dan kedua orangtuanya. Dan dia juga memfasilitasi dirinya dengan sebuah mobil yang wow banget. Sungguh, sekali lagi saya dibuat terkagum-kagum olehnya. Dalam hati, terselip rasa ingin bisa seperti Faizah.

Dari keberhasilan kedua wanita tersebut dalam kehidupan karier dan rumah tangganya, saya kira sudah menjawab pertanyaan sebelumnya. Bahwa pada dasarnya, semua wanita bisa kok menjalani peran ganda tersebut. Asal ada komitmen yang kuat dalam hatinya. Komitmen untuk tidak hanya memprioritaskan salah satu diantara dua peran tersebut. Tetapi dua-duanya harus bisa berjalan beriringan tanpa mengorbankan peran lainnya. So, konflik yang biasanya terjadi antara keluarga dan pekerjaan (karier) sebetulnya kini bukan merupakan hambatan lagi bagi seorang wanita karier, melainkan sebuah tantangan yang harus diatasi.

Sebenarnya Islam sendiri memang nggak pernah melarang kaum wanita untuk menempuh pendidikan tinggi dan berkarier di masyarakat. Terbukti sejak masa Rasulullah Saw, sudah ada beberapa orang wanita yang terlibat dalam pekerjaan publik. Diantaranya: Ummu Salim binti Malham sebagai perias pengantin, Siti Khadijah yang berprofesi sebagai pengusaha dan Raithah yang berkarier sebagai seorang penulis.

Namun off course, Islam juga mempunyai beberapa ketentuan syar’i bagi wanita yang ingin berkarier. Jangan sampai kita hanya terjebak oleh arus modernisasi aja. Ini, nih, beberapa ketentuan syar’i tersebut, seperti yang direkomendasikan oleh Siti Ermawati dalam jurnalnya:

Pertama, kita harus dapat izin dari suami atau wali, karena izin dari mereka, wajib hukumnya dalam Islam.

Kedua, pekerjaan kita hendaknya tidak bercampur-baur dengan laki-laki yang bukan mahrom dan tidak berkhalwat (bersunyi-sunyi) dengan lelaki asing.

Ketiga, kita wajib menutup aurat di depan laki-laki yang bukan mahrom dan menjauhi hal-hal yang dapat memunculkan fitnah, baik dalam hal berpakaian, berhias maupun dalam wangi-wangian (parfum).

Keempat, kita harus memiliki komitmen untuk berakhlak Islami dan hendaknya benar dan tegas dalam berbicara, apalagi terhadap lawan jenis. Hindari berbicara dengan nada yang manja atau mendesah, ya.

Kelima, kita harus memilih pekerjaan yang sesuai dengan tabiat dan kodrat sebagai wanita, seperti pekerjaan di bidang pendidikan, kesehatan (khusus untuk ibu dan anak) dan pekerjaan yang memungkinkanmu untuk tetap melakukan kewajiban sebagai ibu dan istri.

Keenam, dalam memilih profesi, hendaknya kita juga mempertimbangkan waktu dalam bekerja. Sebaiknya jangan memilih pekerjaan yang terlalu banyak menyita waktu di luar rumah.

Ketujuh, sebaiknya kita jangan terlalu ambisius dalam kariermu. Boleh aja kita mengembangkan potensi seluas-luasnya, tapi jangan sampai mengorbankan diri dan keluarga hanya demi karier.

Nah, sekarang kalau kita udah tahu aturan-aturan syar’i tersebut, kita nggak perlu ragu lagi untuk memutuskan akan berkarier seperti apa nantinya. Terutama buat kita yang sebentar lagi mau married dan tetap ingin berkarir setelah berumah tangga nanti. Jangan lupa syarat yang paling atas dibaca dulu, ya, supaya langkah kita ke depan juga semakin mudah. He-he-he ….

Yang nggak kalah pentingnya untuk saya sampaikan, bahwa ternyata terjunnya seorang wanita dalam dunia karier, banyak memberi pengaruh positif bagi segala aspek kehidupan, baik pribadi, keluarga ataupun masyarakat sekitarnya.

Danu Aris Setiyanto, dalam bukunya yang berjudul “Desain Wanita Karier Menggapai Keluarga Sakinah” di halaman 14 menjelaskan, bahwa keikutsertaan wanita dalam lapangan pekerjaan justru merupakan kebanggaan tersendiri bagi sebuah keluarga, bahkan ini dianggap sebagai kemajuan yang patut dihargai. Pada keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke bawah, wanita yang memilih bekerja malah bisa membantu perekonomian keluarga dan meringankan beban suami selaku pencari nafkah utama.

Emang benar, sih. Kita nggak bisa mengelak bahwa, kehidupan ekonomi yang stabil itu juga mendukung terciptanya kebahagiaan dalam keluarga. Meski uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan, ya. Tapi diharapkan dengan keuangan keluarga yang stabil, maka kesejahteraan keluarga tersebut akan lebih baik, karena tidak mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhannya.

Selain itu, kalau boleh saya tambahkan, ada satu lagi sisi positif yang bisa diambil dari keberadaan seorang wanita karier. Ini juga saya alami sendiri, loh. Sisi positif itu terutama bagi anak-anak yang memiliki ibu seorang wanita karier. Anak-anak ini biasanya akan tumbuh lebih mandiri dan kreatif. Mereka akan beradaptasi dengan berbagai kondisi saat ibu mereka sedang sibuk, sehingga ini melatih kemandirian dan kekompakan dalam keluarga itu sendiri.

So, sekali lagi, buat kita para muslimah yang hidup di zaman milenial ini, jangan pernah takut lagi, untuk merintis karier dari sekarang, ya. Asal tetap diingat, bahwa karier yang kita jalani, harus sesuai dengan syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hingga kita tetap jadi wanita shalihah bukan hanya di mata manusia, tetapi juga dalam pandangan Allah Swt. Keep spirit!

 ***

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: