Kau dan Aku, Sudahkah Kita Benar-Benar Bertauhid?

Kendati lebih memilih menggunakan istilah “Tauhid” ketimbang istilah makrifatullah yang lazim digunakan oleh para ahli tasawuf (sufi), Imam Junaid al-Baghdadi–salah satu guru terkemuka dari Madrasah Sufi Baghdad penulis kitab tasawuf Rasail dari paruh akhir abad 3 Hijriyah (9 M)—pada hakikatnya beliau tidak bisa dinyatakan tidak selingkup dengan pemuka-pemuka sufisme lainnya yang menggunakan istilah Ittihad (Ibn ‘Arabi) dan Wahdlatul Wujud (Al-Hallaj). Jamak kita mengerti bahwa akar kata semua istilah itu sama, yakni “ahada”, “wahid”, bermakna tunggal. Kemahatunggalan Allah Swt.

Dalam biografi yang ditulis oleh Dr. Ali Hasan Abdel-Kader, Imam Al-Junaid Al-Baghdadi: Pemimpin Kaum Sufi (2018), ketika Imam Junaid al-Baghdadi ditanya apa itu hakikat tauhid, jawabannya menukil ungkapan dari Abu Bakar ash-Shiddiq:

Segala puji milik Allah yang telah memberikan kepada makhlukNya ketidakmampuan untuk mempelajari segala sesuatu tentangNya, kecuali melalui ketidakberdayaan mereka untuk meraih pengetahuan tentangNya.”

Catat kata kuncinya: ketidakmampuan.

Tauhid, dalam ungkapan berikutnya, adalah lenyapnya individualitas dan rasionalitas diri dalam pengakuan ketakberdayaan diri di hadapan segala apa pun oleh Allah.

Tak ada daya sedikit pun pada diri kita untuk tahu, mengerti, mampu, kuasa, meraih, memiliki, dan sebagainya kecuali atas izin dan kehendak Allah. Semata. Ya, semata-mata.

Babaran konsep tauhid Imam Junaid al-Baghdadi ini tentunya tidak sesederhana konsep umum kita tentang tauhid: beriman kepada Allah.

Letak paling mendasar dari perbedaan sekadar “beriman kepada Allah” dengan “ketidakmampuan di hadapan kemahakuasaan Allah” adalah LENYAPNYA seluruh entitas diri manusia di dalam kuasa Allah, semutlak-mutlaknya, termasuk potensi pikiran dan tubuhnya!

Untuk memahami hal ini, baiknya saya tuturkan dulu tentang skema pengetahuan menurut Imam Junaid al-Baghdadi.

Pertama, Pengetahuan Pertama, yakni pencapaian akal, nalar, dan logika rasional manusia terhadap apa itu Allah, bagaimana kemahakuasaanNya, dan relasinya dengan hidup manusia, potensi ikhtiarnya, dan takdir yang terjadi padanya. Kita mendekati semua bentang hidup kita dalam narasi pengetahuan diskursif alias teoritik.

Kita lalu belajar, sekolah, kuliah, membaca buku, diskusi, menulis, dan sebagainya, dalam maksud untuk membentangkan jalan keilmuan bagi lempengnya masa depan kita: hidup kita, impian kita, dan menyikapi apa-apa yang terjadi.

Narasi materialisme, misal, menyatakan hendaklah kamu menabung 30% dari pendapatanmu tiap bulan untuk mempersiapkan beli rumah, mobil, pendidikan anak-anak, kesehatannya, dan masa tuamu.

Time is money, semakin efektif kamu menggunakan waktumu, siang dan malam, maka akan semakin besar penghasilanmu. Otomatis semakin aman hidupmu, baik hidupmu, sebanding dengan bertambahnya saldomu, asetmu, dan kepemilikan produktifmu.

Ikutlah asuransi untuk menjamin masa depanmu, pendidikan anak-anakmu, kesehatanmu, dan sebagainya. Semakin banyak asuransi, semakin aman proteksimu pada pelbagai kemungkinan kehidupanmu. Dan sebagainya.

Jika kita berhenti di level pengetahuan pertama ini, menurut Imam Junaid al-Baghdadi, kita ibaratnya hanya menempuh separuh jalan dalam memahami dan memaknai kehidupan ini, apalagi tentang Allah dan kemahakuasaanNya. Keterbatasan-tahu kita dari sumber pengetahuan pertama yang rasionalistik ini berpeluang besar menyeret kita pada kedangkalan, kehampaan, dan bahkan ketersesatan.

Bukti nyatanya ialah betapa sebagian besar kita kini tumbuh jadi individu-individu yang cerdas tapi licik, kaya tapi pelit dan serakah, mengaku beriman tapi gamangan, dan patuh syariat (ibadah) tapi tak mampu meraih makna-makna hakiki dari ibadah-ibadahnya.

Maka, kedua, beranjaklah kepada level Pengetahuan Kedua, yakni pengetahuan intuitif. Pengetahuan ini bersumber dari bentangan ruhani, batiniah, dan spiritualitas yang cemerlang, dikarenakan penyandaran diri dengan sepenuh-penuhnya hanya kepada Allah. Tak ada yang lain selain Allah. Tiada daya sedikit pun selain kuasa Allah. Pendeknya, la haula wa la quwwata illa billah.

Tepat pada posisi intuitif ini, pengetahuan pertama tadi, diskursus tadi, meluruh, melenyap, bukan dalam artian tak dipakai, tetapi hanya sebenar-benarnya sebagai “sarana” belaka. Tidak lebih.

Bagai tangga, ia dijadikan pijakan awal-awal untuk masuk ke semesta realitas (mau pahit atau manis), lalu selebihnya dilompatkan jauh memasuki intuisi (dzauq) yang bersandar dan bersumber pada kemahakuasaan Allah semata.

Jenjang ini niscaya semata menisbatkan kelemahan diri, kefanaan diri, kedhaifan diri, di hadpaanNya. Kita lalu merasa dan mengalami secara batiniah (rohani) yang setulusnya bahwa kita tak tahu apa-apa, tak berdaya apa-apa, tak punya akses apa-apa, sebab semuanya mutlak ditentukan terjadi atau tak terjadi hanya oleh Allah Swt.

Jika sedang berbisnis, mau gagal atau berhasil, semua itu diyakini lalu ditempatkan sebagai keputusan Allah yang terbaik buat diri kita saat ini. Otomatis, hati kita akan mampu melapangkan diri dengan sendirinya untuk menampung apa pun yang diterjadikanNya.

Kemampuan hati menampung segala apa ini sudah pasti memijarkan kerelaan, keikhlasan, dan ketawakalan pada apa saja pula. Hidup pun jadi berjalan tenang sedemikian rupa.

Mampukah akal rasional (pengetahuan pertama) memahami dan menerima pencapaian yang dipijarkan hati rohani (pengetahuan kedua) ini?

Jelas muskil. Mustahil!

Maka, sejatinya, kini kita punya dua pilihan dalam mengarungi hidup ini: berjibaku di posisi pengetahuan pertama dengan konsekuensi rawan didera cemas, sedih, takut, depresi, kalut, dan stres setiap mengalami hal yang kurang sesuai ekspektasi rasional kita atau mendiami keluasan rohani yang tak terbatas dengan menyandarkan segala apa yang terjadi hanya sebagai kehendak dan keputusan Allah—yang terbaik buat diri kita kini dengan buah nyata kehidupan yang tenang dan tenteram dalam segala keadaan dan cuaca.

Silakan dipilih.

Akal sehat mengatakan jelas enak pilihan kedua. Dan itu pun, kita akui dengan mantap, seshaf dengan prinsip keimanan kita kepada Allah (sebutlah la haula wa laa quwwata illa billah yang fasih benar kita rapalkan).

Tetapi, faktanya, berapa banyak sih di antara kita yang benar-benar menerapkan prinsip keimanan tersebut dalam hidup riil keseharian kita?

Berapa banyak sih di antara kita yang mengaku beriman dan cinta Islam sampai tulang sumsum benar-benar mengamalkan, misal, ayat 13 dari surat al-Ahqaf, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami adalah Allah” dan lalu beristiqamah dengannya (dalam hati) maka tidak akan ada rasa khawatir dan sedih pun pada dirinya.

Juga misal ayat 29 dari surat al-Hadid, “….mereka tidak memiliki kemampuan sedikit pun dari karunia Allah dan sungguh karunia itu hanya berada di tangan Allah dan Allah memberikannya kepada orang yang dikehendakiNya….”

Dalam surat Fussilat ayat 30, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.

Selanjutnya dalam surat Fussilat ayat 31, “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

Atau misal ayat 41 dari surat al-Ankabut, “Perumpamaan orang-orang yang menyandarkan dirinya kepada selain Allah seperti laba-laba yang membangun rumahnya dan sungguh selemah-lemahnya rumah ialah rumah laba-laba jika mereka mengetahuinya.”

Dan, jelas bejibun lagi ayat lainnya dalam a-Qur’an yang senada, yang mendorong kita untuk menjadikan Allah sebagai sebab dan penyebab bagi apa pun, apa pun, dalam hidup kita. Kita mengaku iman pada Allah dan al-Qur’an, tapi nyatanya di mana posisi kita di hadapan ayat-ayat penegas kemahakuasaan mutlak Allah tersebut?

***

Imam Junaid al-Baghdadi lalu menasihatkan dengan ilustrasi yang cantik tentang ‘Arif—istilahnya bagi orang yang telah mencapai keteguhan hati dalam bertauhid, bermakrifat, berittihad—yakni:

“Takkan menjadi seorang ‘Arif seseorang hingga ia mampu menjadi bagai bumi yang di atasnya berjalan orang-orang saleh dan orang-orang tidak saleh; menjadi bagai awan yang berarak di atas apa pun; menjadi bagai hujan yang turun di tempat mana saja, yang disukainya atau tak disukainya.”

Mau jaya atau hina, menjulang atau terjatuh, untung atau rugi, kondang atau tersembunyi, nyata atau fana, terlihat atau tertutupi, perkasa atau lemah, atas atau bawah, hendaknya diterima dengan sepenuh jiwa penerimaan, keikhlasan, dan ketawakalan semata inilah kehendak dan keputusan Allah. Inilah hakikat tauhid yang sejatinya TAUHID, sejatinya ITTIHAD, sejatinya WAHDLATUL WUJUD.

Hello, kau dan aku, sudahkah kita bertahuhid?

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

1 thought on “Kau dan Aku, Sudahkah Kita Benar-Benar Bertauhid?”

  1. Dan Tauhid belum sempurna tanpa ujian, sebagaimana Ibrahim AS diuji untuk mengorbankan Ismail AS, Rasulullah dan Sahabatnya diuji dengan peperangan, penyiksaan dan kemiskinan, atau manusia2 diuji dengan penindasan, kemiskinan dan ketidakberdayaan. Hingga pada akhirnya manusia mencapai kesadaran bahwa Ujian itu merupakan bentuk Kasih sayang dari Yang Maha Penyayang.

Tinggalkan Balasan