Kau, Jodoh yang (Tak Pernah) Kurindukan

Berawal dari persahabatan, cinta itu mekar. Tapi hanya di hati Panji, tidak dengan hatiku. Ia pernah menyatakan cinta. Tapi aku berdalih, “Lebih enak jadi teman. Lebih bebas.”

Persahabatan kami begitu akrab, hingga sebuah takdir menjauhkan. Aku melanjutkan ke SMA favorit, sedangkan ia masuk STM.

“Duh, tugasku banyak banget! Nggak bisa ikut nongkrong. Sory ya?” ucapku memberi alasan saat Panji mengajak malam Mingguan di studio musik.

“Segitunya amat sih!” tukas sahabatku itu. “Ayo donk! Nggak asik kalau nggak ada kamu.”

Percuma memberi alasan, pada akhirnya Panji menarik tanganku dan mengajakku ke tempat biasa kami ngeband.

“Tante, Vivi aku ajak main ya,” teriak Panji dari depan pintu diiringi jawaban dan pesan ibuku agar pulang tidak lewat jam sepuluh.

Keluarga kami memang akrab, sudah seperti saudara. Ibu dan ayah bahkan menganggap Panji sebagai anaknya sendiri.

Sejujurnya, keenggananku main bersama Panji bukan karena banyak PR. Tapi, belakangan aku merasa risih jika terlalu dekat dengan sahabatku itu. Barangkali karena sekarang aku ikut Rohis dan bergaul dengan para jilbaber.

***

Hari ini setelah satu semester aku mengikuti Rohis, akhirnya aku putuskan berjilbab. Bismillah ….

“Eh, sejak kapan?” tanya Panji saat ia datang ke rumah.

“Belum lama kok.”

“Wah, bakal rame nih kalau anggota band kita ada yang pake jilbab,” kelakar Panji sambil melirikku.

“Kayaknya aku off dulu deh dari grup.”

“Loh?”

“Em … aku mau fokus belajar.” Panji menatapku, pastinya ia tidak percaya dengan alasan yang aku utarakan. “Serius! Aku mau fokus belajar!”

“Kamu berubah ya?”

“Karena pakai jilbab maksudnya?”

“Bukan itu!” Panji masih menatapku penuh selidik. “Sejak kita beda sekolah kamu jadi nggak asik! Nggak cair kayak dulu.”

“Mmm ….”

“Apa kamu punya pacar di sekolah yang baru?” tanya Panji penuh curiga.

“Apaan sih! Nggak!”

“Terus kenapa kamu seperti mulai menghindariku?”

“Jadi gini ya, kita kan bukan muhrim sebaiknya mulai sekarang jangan terlalu dekat.” Pada akhirnya aku jelaskan pada Panji tentang tata cara pergaulan yang baru saja aku pelajari.

“Alesan!” Panji pergi tanpa pamit pada orangtuaku.

Sepeninggal Panji, aku merenung. Apakah yang telah aku lakukan benar? Ya Allah … aku ingin sahabatku itu juga Kau kenalkan pada Islam.

Setelah kejadian itu, aku dan panji lama tidak bertemu. Bapak dan ibu sampai-sampai menanyakan kenapa anak tetangganya itu lama tidak main ke rumah. Hingga suatu sore saat aku mengantarkan makanan ke rumah Panji, aku dibuat kaget dengan perubahannya.

“Panji, kok?” sapaku saat melihatnya

“Kenapa?”

Dengan masih menyimpan tanya, aku akhirnya pulang karena Panji pun tidak memberi respon yang baik.

Baru juga sampai di rumah, telfon berbunyi.

“Vi.”

“Ya.”

“Maaf ya tadi aku cuek?”

“Iya.”

“Kamu nggak tanya kenapa aku jadi gini?”

“Kenapa emang?”

“Gara-gara kamu menjauh.”

Aku diam, bingung mau menjawab apa.

“Aku mau kok berubah kayak dulu. Rambutku yang aku cat nanti aku potong dan aku akan berhenti ngerokok, demi kamu.”

“Alhamdulillah kalau kamu mau berubah.”

“Tapi kamu harus tolong aku ya?”

“Apa?”

“Kamu jadi pacar aku, biar aku semangat jadi baik.”

***

“Tak ada istilah pacaran, meski tujuannya mengubah seseorang menjadi baik,” jawab kakak rohis saat aku cerita perihal Panji.

‘Panji Panji. Andai kau tahu aku terus mendoakanmu siang dan malam. Berharap suatu saat persahabatan kita bermetamorfosa dari nongkrong bareng menjadi ngaji barsama.’

Lain harapan, lain kenyataan. Malah terbalik seratus delapan puluh derajat. Setelah kusampaikan keputusan untuk berteman saja, Panji seperti sengaja menunjukkan tabiat buruknya. Merokok di depan rumahku.

Waktu melesat, masa SMA tinggal hitungan minggu. Hari-hariku sibuk dengan ujian dan mendaftar perguruan tinggi. Fokusku hanyalah sekolah dan sekolah, hingga aku tak lagi tahu berita tentang Panji.

Empat tahun lewat.

“Bagaimana nduk, apakah bapak terima saja lamaran ayahnya Panji?”

Wajahku mendadak beku. Kesenangan setelah mendengar jadwal wisuda beberapa menit yang lalu menguap tak bersisa.

“Bapak harap kamu segera memberi jawaban. Tidak enak membuat orang menunggu.”

Aku masih bungkam. Ada gemuruh yang coba kutahan.

Bayangan Panji dengan rambut dicat dan merokok membuatku pening. Empat tahun terakhir aku telah menulis mimpi seorang suami yang sholih.

“Aku udah punya calon Pak,” jawabku sekenanya.

“Kamu serius?”

“Nggih pak, bulan depan pas mudik Vivi kenalin.”

Perbincangan di telfon tadi menyisakan PR besar yang harus kuselesaikan dalam waktu satu bulan. Mencari calon suami.

***

“Ya Allah … jauhkan hamba hamba dari jodoh yang tidak taat padaMu. Ya Allah… bagiMu tidak ada yang tidak mungkin. Maka kirimkanlah padaku seorang laki-laki sholih yang akan menjadi imam dan akan membawaku semakin dekat denganmu.” Doaku setiap selesai salat.

Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Pikiran tegang.

‘Jangan Panji ya Allah … jangan dia.’

‘Kirimkan ikhwan mana saja, asal jangan Panji.’

Ikhtiar dengan jalan ta’aruf pun aku lakukan.

Wahyu Wahid, umur 25, Mahasiswa kedokteran asal Lampung. Imam masjid Mutaqien Solo.

Biodata yang diberikan oleh guru mengaji segera kubaca, Bagiku tidak masalah siapa pun calonnya, yang penting dia sholih dan bertanggung jawab.

Nafsu untuk segera mendapat calon suami yang shalih membuatku langsung menjawab iya tanpa istikharah. Ternyata sikapku ini mendapat teguran dari Allah swt.

Satu minggu sebelum rencana perkenalan dengan bapak, nyatanya Akh Wahyu membatalkan ta’aruf dengan alasan keluarga tidak menyetujui dapat menantu orang Jawa. Pupus sudah harapan terakhir.

Hari yang kujanjikan tiba. Hari di mana aku akan mengenalkan bapak pada pria sholih yang siap meminang.

Siapa? Itulah masalahnya. Belum ada. Mengenaskan.

Kuhembuskan nafas dalam. Berdamai dengan keadaan.

Bis melaju cepat. Pengamen silih berganti menyanyikan lagu yang hampir sama. Pendagang asong naik turun di setiap pemberhentian. Panorama hutan di sepanjang jalan Pantura dengan matahari yang mulai condong ke barat menandakan sebentar lagi tenggelam. Solo-Pekalongan, memerlukan waktu setidaknya enam jam. Sebentar lagi tiba.

Jam tiga sore turun di terminal. Bergegas menuju mushola. Menunaikan sholat Asar dan Dhuhur secara Jamak.

Di depan pintu mushola, iseng kubaca tempelan kertas pamphlet. Telah dibuka kelas tahfid dengan pengampu lulusan LIPIA. Mengagumkan, ini pertama kalinya kota kelahiranku punya lembaga tahfidz Al-Qur’an. Dan rasanya tak percaya, pondok tahfidznya itu terletak di kecamatan Kajen, kecamatanku.

***

Belum juga masuk ke rumah, bapak yang menjemputku di terminal menanyakan hal yang membuatku sebal. “Mana pria sholih itu? Kok tidak ikut?”

Kujawab sejujurnya, seadanya.

“Ya sudah, kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Kita terima apa yang bisa kita terima,” nasihat bapak padaku. “Besok keluarga Panji akan datang, silaturrahmi. Tapi jika mereka membahas lamaran lagi, kamu terima saja.”

“Tapi kan, Panji bukan pria idamanku!” Kalimat tak terucap. Tertahan di usus besar. Bingung. Jika menolak, terus menunggu siapa. Sampai kapan?

Cibiran orang kampung terhadap gadis yang menolak lamaran menggangguku.

Hari kunjungan tiba. Kutunaikan dhuha sebagai pengusir galau. Lama tenggelam dalam harapan, memohon jodoh sholih yang mencintai-Nya, calon imam dunia akhirat.

Semakin dekat ke ruang pertemuan, getar hati begitu kencang. Entah karena gugup, takut atau apa. Kududuk di dekat bapak. Perlahan kuangkat wajah dan menemukan sosok orang-orang yang kukenal. Ayah dan ibu Panji, Angel adik manis yang sudah remaja dan ….

Keningku berkerut. Memindai satu wajah yang tidak asing. Tapi kok? Perlu beberapa detik hingga benar-benar yakin, lelaki di hadapanku adalah Panji. Iya sahabatku, pria urakan itu kini salin rupa. Peci putih nyaman melindungi kepalanya. Sekilas, pandanganku menangkap, jidat itu kehitaman dengan pandangan menunduk ke bawah.

Ups! Mata kami beradu, segera aku menunduk. Tapi dadaku bergemuruh, pertanyaan muncul menyesaki pikiran. Mulut ini hanya bungkam, rasa gugup menyerang. Tak bisa mengatakan apa-apa hingga usai makan-makan.

“Panji, katanya ada yang ingin kamu sampaikan, Nak!” ucap ayah Panji

“Oh ya, kepada keluarga Vivi, saya mohon waktunya.”

“Oh silakan, silakan .…”

Jantungku berdebar.

“Vivi!” fasih Panji memanggil.

“Ya.”

“Mungkin kamu heran. Ya inilah aku sekarang. Empat tahun pendidikan LIPIA menempaku untuk hijrah. Lalu demi berbagi sedikit ilmu yang kudapat, hendak membuka lembaga Tahfidzul Qur’an,” terang Panji pelan namun bertenaga. “Jika kamu bersedia, jadilah pendampingku untuk bersama membumikan Al-Qur’an.”

Oleh: Sri Bandiyah.

Tinggalkan Balasan