Ke mana Perginya Lagu-Lagu Anak Itu?

Sore itu saya kaget betul ketika mendengar seorang anak—usia sekitar delapan tahun—menyanyi lagu ini:

Yo wis ben, duwe bojo sing galak

Yo wis ben, sing omongane sengak

Seneng nggawe aku susah

Nanging aku wegah pisah

Begitu ya kira-kira lirik lagu yang lagi ngehits banget di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Tidak hanya satu anak lho, tapi beberapa anak menyanyi lirik itu berkali-kali, rame-rame, dan asyik joget bareng-bareng. Apakah mereka paham arti lirik itu? Ataukah mereka hanya asyik menyanyi saja?

Apa pun jawabannya, patutlah kita mengelus dada. Meskipun itu terdengar hanya sebagai lirik lagu biasa, pahamilah bahwa sebagian dari syair itu adalah sihir. Serius ini. Bukan sihir yang langsung mencelakakan secara fisik sih, cuma asupan ke dalam pikiran anak-anak itu yang mengkhawatirkan. Meski memang tidak secara langsung mengganggu kejiwaan mereka, setidaknya perlulah kita khawatir dengan lagu-lagu yang mereka konsumsi itu.

Ingat lho, apa-apa yang tersimpan di dalam pikiran, itu akan melahirkan perspektif baru terhadap sesuatu dan menjadi sebuah pemahaman baru. Ini serius. Kebanyakan orangtua menjaga apa-apa yang anak-anak makan—menu makannya, jajannya, dan minumannya—tetapi mengapa segala hal yang masuk ke dalam pikiran anak tidak dijaga?

Setidaknya orangtua memberikan pemahaman kepada anak, mana saja sih lagu-lagu yang perlu mereka dengarkan dan mana saja jenis lagu yang tidak usah mereka dengarkan. Persis dengan makanan dan minuman itu, dengan berkata, “Jangan jajan sembarangan ya, Nak.”

Kenapa orangtua tidak memberi nasihat kepada mereka, “Jangan sembarangan mendengarkan lagu-lagu ya, Nak.”

Sebabnya, anak-anak itu mudah sekali menghafal. Mereka seperti lembaran kertas yang putih dan bersih. Mau ditulis apa saja sangat mudah sekali. Andai orangtua mau memberikan asupan pikiran yang bernutrisi, tentu anak-anak pun akan tumbuh dengan sehat—baik sehat fisiknya, pikirannya, dan juga jiwanya.

Bisa saja orangtuanya berdalih, “Kami di rumah sama sekali tidak pernah kok memutar lagu-lagu yang bisa mengganggu pikiran anak.”

Yes, bila di rumah tidak diputar lagu-lagu tersebut, bisa jadi ya anak-anak mendengarkan lagu-lagu itu di sekitar rumah tetangga, di warung, atau di tempat lain. Inilah yang perlu kita bahas serius saat ibu-ibu kumpul di acara PKK atau bapak-bapak kumpul setiap bulan di acara rapat RT.

Maksudnya? 

Seringkali acara-acara bapak dan ibu itu sebatas membahas urusan orang dewasa dan sangat jarang membahas urusan anak. Alangkah baiknya bila dalam acara tersebut, diselipkan agenda untuk bahas bagaimana menjaga kehidupan anak yang sehat minimal di lingkungan se-RT dulu. Tidak sekadar menjaga kebersihan lingkungan dari sampah-sampah, melainkan juga bersih-bersih lingkungan dari polusi suara dan polusi pikiran.

Tidak usah repot-repot juga, minimal kita sepakat dan saling menjaga untuk tidak memutar musik dan lagu-lagu yang tidak pas untuk didengar anak-anak. Maka pada situasi ini, tentulah kita harus berterima kasih kepada Abang Odong-odong. Ya, karena dialah yang menjaga kewarasan pikiran anak dengan tetap melanggengkan lagu-lagu anak. Ya, kan?

Karena Abang Odong-odonglah, anak-anak masih bisa—dengan begitu santainya sambil naik odong-odong—mendengarkan dan menikmati berbagai lagu anak-anak. Ada lagu Bintang Kecil, Pelangi-Pelangi, 4 Sehat 5 Sempurna, Anak-Anak Indonesia, Bangun Tidur, Jangan Marah, Naik Kereta Api, Ibu Pertiwi, dan banyak lagu lainnya.

Sayangnya, odong-odong tidak datang setiap hari. Maka lagu-lagu yang dikemas dengan suara musik menggembirakan itu tidak selalu terdengar. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Mulai download aplikasi kumpulan lagu-lagu anak. Putarlah lagu itu pada pagi hari saat anak-anak mau mandi dan sarapan. Agar mereka ceria mendengar nada-nada ceria dan lirik-lirik yang penuh semangat—sesuai usianya.

Kalau yang saya dan istri lakukan, kami memutar lagu anak-anak Islami, seperti lagu Rukun Islam, Abatasa, Sepuluh Malaikat Allah, Mengenal Nabi Muhammad, Asmaul Husna, Sifat-Sifat Allah, dan lagu 25 Nabi.

Selain lagunya bagus-bagus, liriknya pun sangat bermanfaat untuk mengenalkan anak pada agamanya sendiri. Jadi sekali mendayung, dua sampai tiga pulau terlampaui. Hiburan dapat, dan ilmu pun dapat. Sebagai tambahan, untuk muratal al-Qur’an, kami putarkan setiap hari habis magrib.

Oh ya, selain upaya tersebut, secara khusus istri saya pun sudah membuat satu lagu yang sering ia nyanyikan saat memandikan dan memakaikan baju kepada anak-anak. Lirik dan nadanya ia buat sendiri. Liriknya seperti ini:

Ay-yub El-Faru-qi

A-isyah Khaoirun-nisa

A-fifah Az-zaria

Itulah anak-anak umi

Dek Fifah cantik, ya umi ya umi

Dek Nisa pinter, memang betul

Mas cakep, hebat dan juga anak yang shaleh

Ya, liriknya seperti sebuah kudangan (ngudang, dalam Jawa), sebuah nyanyian yang di dalamnya bermuatan doa. Jadi selain terhibur, anak-anak juga termotivasi. Pikiran dan jiwa mereka mendapat asupan bergizi. Apalagi yang menyanyikan lagu-doa tersebut adalah si ibu sendiri. Bukankah doa dari seorang ibu untuk anak-anaknya sangatlah mustajab dan bakal lekas diijabah?

Ibu saya pun, kepada cucu-cucunya selalu menyanyikan lagu-lagu terbaiknya. Begini liriknya yang sering kali beliau nyanyikan saat ngudang anak kami:

Anak lanang ngono, mbah

Pinter dewe, ngono mbah

Hafal Quran, ngono mbah

Hafal hadis, ngono mbah

Temenku banyak, ngono mbah

Keuntungan lainnya dengan membuat lagu anak bernuansa doa seperti itu, ialah adanya kedekatan anak dengan orangtuanya (terutama ibu, karena biasanya yang menyanyikan adalah si ibu).

Tidak hanya kedekatan fisik, melainkan juga kedekatan jiwa dan emosinya. Si ibu berhasil menyentuh hati anak dengan penuh kelembutan dan kekuatan liriknya. Sebab, hanyalah ketulusan seorang ibu yang bisa menyanyikan lagu-lagu doa seperti itu.

Jadi, ke manakah perginya lagu-lagu yang ramah anak itu? Lagu itu tidak pernah pergi, ia ada di dalam diri orangtua, lantas kapan orangtua akan menghadirkannya untuk si buah hati tercinta?

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan