WISUDA telah dilaksanakan seminggu yang lalu. Aku memutuskan untuk berlibur dan beristirahat di rumah, sambil menunggu ijazah keluar. Biasanya, kalau ada jeda waktu panjang begini, sering kuhabiskan dengan bermain bersama anak-anak. Tidak pure bermain, kami belajar bareng dulu, setelah selesai, baru mereka bebas bermain-main.

Kelas mereka beragam, mulai dari TK sampai SMP kelas IX. Jumlahnya sekitar dua puluh lima anak. Ramai, seru. Kali ini pun aku berencana akan mengisi waktu dengan aktvitas tersebut sebelum ke Jogja lagi untuk melanjutkan S2.

Namun, aku merasa perlu bekerja. Setelah lulus, ada rasa segan meminta pada orangtua. Apalagi, aku telah banyak menghabiskan uang untuk pergi ke Jepang kemarin. Walau dapat uang saku dari kampus, tetap saja orangtua menambahi dan tabungan juga terkuras. Belum lagi, biaya penelitian dan wisuda. Tidak sedikit, uang yang mesti dikeluarkan Umi dan Babe.

Apa aku tarik biaya saja, untuk anak-anak les? Seminggu tiga kali, lima ribu per pertemuan, sepertinya lumayan. Pikirku. Lalu, aku berdialog lagi dengan hatiku. Tetapi, mereka—anak-anak—bukan dari golongan menengah ke atas. Orangtua mereka sudah cukup pontang-panting membiayai sekolah. Apa aku tega, meminta bayaran untuk ilmu yang sebenarnya tidak seberapa?

Akhirnya, di antara kegalauan, aku iseng searching lowongan kerja sebagai penulis lepas. Beberapa waktu lalu, aku melakukan hal yang sama—menulis artikel untuk satu website—sebelum sibuk dengan persiapan study abroad ke Jepang, kuliah praktikum, dan penelitian. Fee-nya cukup untuk menyambung hidup di Jogja, kala itu.

Alhamdulillah, setelah mengirim contoh artikel dan scan KTP, aku diterima menjadi penulis lepas atau istilah kerennya ghost writer oleh salah satu website. Bayarannya lumayan, Rp. 40.000,00 per hari dengan syarat mengirimkan artikel lima ratus kata sesuai ketentuan. Hari minggu atau tanggal merah, libur.

Pagi sampai siang, aku menyelesaikan pesanan tulisan. Sore, jadwal les anak-anak TK sampai SD kelas VI. Sedangkan malam, les dengan anak-anak SMP. Semuanya berjalan menyenangkan. Sedikit demi sedikit gaji menulis artikel kutabung. Pak Galih—pemilik website—mentransfer setiap seminggu sekali. Jika terkumpul, dalam sebulan aku bisa mendapat uang kira-kira sembilan ratus ribu sekian. Cukup untuk biaya hidup saat balik ke Jogja nanti.

**

Dua minggu beraktivitas di rumah, aku dapat kabar dari kampus kalau ijazah sudah bisa diambil. Aku pun berangkat ke Jogja, sekalian mengurus berkas pendaftaran masuk pascasarjana. Kebetulan minggu depan terakhir pendaftaran untuk semester ini. Agar hemat dan tidak perlu minta uang saku ke orangtua, aku berencana tidur di indekos semalam saja.

“Mi, besok aku ke Jogja, ya!” Aku minta izin pada Umi.

“Sudah keluar ijazahnya? Sana minta sangu (uang saku) ke Bapak!” perintah Umi.

“Aku, kan, sudah gajian, Mi, dua minggu ini. Hahaha …,” ucapku sedikit sombong.

“Ya, nanti biar ditransfer Bapak, buat jaga-jaga,” bujuk Umi.

“Enggak perlu Umi, insyaallah uangku cukup.” Aku tetep keukeuh tidak mau.

Lagian, gaji kemarin masih utuh Rp. 240.000,00 ditambah minggu ini, jadi empat ratus ribuan, untuk makan di Jogja sehari sangat lebih. Apalagi aku biasa makan sehari dua kali. Kalau pun terpaksa agak lama di indekos, tak akan ada masalah.

Selasa pagi, aku  kembali ke kota Gudeg. Karena merasa semua dokumen sudah terbawa, aku tidak mengecek lagi sebelum berangkat. Di tengah perjalanan, aku sempat mampir di ATM untuk mengambil uang cash. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga sampai empat jam. Aku tiba di kampus pukul 10.00 WIB. Beberapa antrean masih memenuhi kursi ruang tunggu di depan TU. Teman-temanku juga ingin mengambil ijazah.

Aku duduk lalu menyandarkan badan di bangku yang masih kosong. Naik motor empat jam dari Sragen, membuatku cukup kelelahan. Tiba-tiba ada WA masuk.

Pak Galih: Mbak, maaf minggu ini saya banyak kesibukan, jadi transfernya kemungkinan hari Jumat atau Minggu, ya!

Aku : Oh, iya Pak. Tidak apa-apa.

Pak Galih : Oke, terima kasih.

Aku menjawabnya dengan santai. Misalnya mau ditransfer akhir bulan juga tak apa-apa. Aku kembali fokus menanti nomor urutku disebut. Kira-kira jam satu, ijazah sudah ada di tanganku. Aku langsung menuju tempat fotokopi untuk melengkapi dokumen syarat S2 yang masih kurang. Ya Allah mudahkanlah. Doaku.

Kubolak-balik dokumen-dokumen yang ada di hadapanku setelah ijazah dan transkrip nilai usai difotokopi. Sepertinya, ada yang kurang. Batinku. Aku membuka persyaratan yang ada di website kampus yang ingin kudaftari.

“Astagfirullah, sertifikat TOEFL-ku mana?” Aku kaget dan setengah berteriak.

“Ada apa e, Mbak?” tanya Mas petugas fotokopi.

“Saya mau daftar S2 tapi sertifikat TOEFL enggak ada, Mas.” jawabku lesu.

“Lah, ketinggalan?” Masnya bertanya lagi.

“Mending kalau ketinggalan, Mas. Ini lupa saya taruh mana.”

“Tes TOEFL lagi saja, Mbak! Di dekat UGM, apa ya, namanya? Saya lupa.”

“Mahal enggak, Mas?”

“Kalau mau yang langsung lulus, sekitar 450-an, yang umum 250 ribu kayaknya.” jelasnya.

Kepalaku semakin cenat-cenut. Dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk tes TOEFL? Apalagi, seringnya, sertifikat bakal jadi setelah seminggu. Ini, kan, minggu terakhir pendaftaranTerus bertahan seminggu di Jogja mau pakai uang dari mana?

Kuingat-ingat lagi di mana aku meletakkan sertifikat itu. Tetap tidak kutemukan jawaban. Aku pulang ke indekos dengan penuh harap, semoga terselip di satu tempat. Entah lemari, atau mana pun di indekos.

Sampai di indekos, aku buru-buru mengobrak-abrik barang-barangku.

“Kenapa, Fa? Kok diberantakin kayak gitu?” tanya Mbak Neni—penjaga indekosku.

“Nyari sertifikat TOEFL, Mbak. Mau buat daftar S2,” jawabku sedikit terengah-engah.

“Kamu yakin di sini? Enggak di rumah?” selidiknya lagi.

“Enggak yakin sih, Mbak. Tapi semua dokumenku untuk syarat S2 sudah kujadikan satu. Aku enggak ada ngeluarin lagi.”

“Coba tanya Ibu di rumah dulu, mungkin ketinggalan.” Mbak Neni memberikan saran.

Aku hanya nyengir. Bukannya apa-apa, bahkan seandainya aku telepon Umi pun, aku tidak tahu mesti minta tolong untuk dicarikan di mana. Map yang berisi dokumen-dokumen telah kubawa.

Hampir dua jam, aku membongkar isi kamar. Aku mulai putus asa. Sepertinya, satu-satunya jalan adalah tes ulang. Aku merebahkan tubuh di kasur. Berpikir, bagaimana caranya bisa ikut tes tanpa minta uang ke orangtua? Meskipun jelas dikasih, kok rasanya enggan sekali minta. Kemarin bilang tidak perlu, apa iya sekarang kutarik kata-kata itu?

Hemm … aku menutup muka dengan kedua tangan. Uang di ATM tinggal dua ratus ribu. Aku hanya membawa cash seratus ribu. Cukup untuk mendaftar TOEFL, tetapi aku akan sama sekali tak punya uang. Ya Allah ….

Klunting … ada WhatsApp masuk.

Dek Fitri : Assalamualaikum Mbak Fa, Mbak di Jogja?

Waduh, apalagi ini? Firasatku kurang baik pada pesan yang dikirimkan Adik kelas SMA-ku barusan.

Aku : Waalaikumsalam, iya Dek, kenapa?

Dek Fitri : Boleh, enggak, Mbak? Kalau lusa aku nginep di kos Mbak Fa?

Nah, kan? Ya Rabb … kenapa mesti hadir masalah baru? Aku menjambak-jambak rambutku sendiri. Tak enak aku menolaknya dan tak mungkin pula tidak kusediakan sesuatu selama dia di indekosku.

Aku : Hehehe … boleh, Dek. Berapa lama, ya?

Dek Fitri : Insyaallah sampai hari Sabtu, Mbak. Kebetulah ada ujian Kompetensi di UMY hari Kamis dan Jumat, Mbak.

Aku mengiyakan meski batin berkecamuk. Tanganku masih menarik-narik rambut. Entah kenapa, aku memang suka melakukan itu ketika sedang pusing. Karena pikiran berantakan, aku wudu. Selepas itu, kutarik napas dalam, lalu kulepaskan perlahan.

Kuambil Alquran dan membaca satu surat—Ar Rahman. Hatiku sudah mulai damai. Agar lebih tenang, aku berkeliling naik motor ke sekitar. Sekadar mengamati sekitar agar bisa lebih bersyukur.

Laju motor membawaku sampai di perempatan Demak Ijo. Setelah melewati perempatan, kupinggirkan motor. Aku berhenti sejenak, mataku beredar ke sekitar. Tak jauh dari tempatku berdiri, ada seorang laki-laki tua, barangkali usianya lebih dari enam puluh tahun. Bapak itu membawa karung berwarna putih yang tampak lusuh. Pakaiannya juga terlihat compang-camping.

Sepertinya, beliau seorang pemulung. Bapak tua tadi semakin mendekat kepadaku. Lima meter di depanku, beliau menyungging sebuah senyuman. Senyum sederhana yang terasa begitu tulus. Aku mencoba berjalan ke arah beliau.

Aku balas tersenyum, “Nembe pados rosok, nggih, Pak (sedang mencari barang bekas, ya, Pak)?”

Dia masih tersenyum, tak menjawabku. Kuulang lagi pertanyaan tadi, responnya tetap sama. Karena aku enggak tega, kukeluarkan uang cash-ku satu-satunya dan kuserahkan pada beliau. Kali ini, beliau terlihat bingung, berkaca-kaca dan menepuk-nepukkan uang yang kuberikan ke dahinya. Kurasa beliau tunawicara. Allah ….

Aku berlalu meninggalkan Bapak pemulung itu, tak kuat menahan tangis. Airmataku meleleh. Aku tak patut berduka hanya karena kehilangan sertifikat TOEFL dan tak memiliki uang. Jika ada orang yang pantas bersedih atau protes, Bapak pemulung itulah orangnya. Bukan aku.

Aku bertawakal pada-Nya, bukankah Dia akan menolong siapa saja yang mau membantu orang lain? Aku tak lagi memikirkan nasib tes TOEFL-ku. Kupasrahkan semua pada Dia. Sisa uang di ATM, kubelikan snack juga bahan makanan, untuk menyambut kedatangan Dek Fitri.

Ajaibnya, pada hari Sabtu, saat aku datang ke kampus untuk mengumpulkan syarat pendaftaran masuk S2, ternyata sertifikat TOEFL boleh menyusul jika nanti lulus ujian tulis. Bersamaan dengan itu, pemilik website tempatku bekerja memberi kabar telah mentransfer gaji dua minggu sekaligus karena kemungkinan beliau akan lebih sibuk minggu depan.

Begitulah kalkulator Allah. Kita tidak kehilangan sesuatu dengan memberi dan berbagi, justru berlipat-lipat ketika kembali. Tugas kita hanya sabar, tetap setia pada perintah-Nya, lalu kemustahilan-kemustahilan itu akan terjadi. Sebab, keajaiban, hanya datang pada mereka yang percaya kepada-Nya.

***

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasinya dari sini

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: