Kebencian itu Justru akan Membunuhmu Pelan-Pelan

Kalau kamu seorang penulis, terus naskah kamu di-ACC penerbit, tapi selama setahun belum terbit juga, terus kamu marah-marah, berarti kamu harus tahu kisah saya. Tahun 2010, saya menulis naskah buku sampai delapan naskah dan semuanya di-ACC penerbit. Namun yang terbit hanya empat buku saja. Lalu ke mana empat naskah lainnya? Tidak terbit sampai lima tahun! Sampai naskahnya dikembalikan lagi kepada saya.

Jadi kalau kamu baru kirim satu naskah, di-ACC, terus belum terbit, terus kamu marah-marah kepada penerbit, terus posting pisuhan di jejaring sosial, terus kamu merasa menang? Duh dek, dolanmu kurang adoh.  

Begini lho.

Kecewa itu boleh, itu biasa, dek. Kecewa itu manusiawi, dan itu wajar. Lantas apa yang tidak boleh dan tidak wajar? Saat sakit hatimu membuat lisanmu menjadi runcing dan lidahmu menjadi tajam, kemudian kamu gunakan untuk menusuk hati orang lain.

Kalau kamu mau baca banyak ragam tulisan, dek, sesungguhnya yang paling berbahaya ialah ketika rasa kecewa—lantas marah—itu berbuah dendam. Pertama, kalau kamu tidak mampu mengerem kondisi itu, kamu bisa meledakkan dirimu sendiri. Yang diawali dari terbakarnya hatimu, kemudian api yang ada di dalam dirimu itu akan membakar semua orang.

Lho saya juga pernah alami seperti itu, dek. Di usia 20-an, tentu ego itu begitu besar. Pengin diakui, pengin dipuji, pengin segalanya harus sesuai dengan kemauan kamu, pengin selalu tampak waow, pengin jadi pusat perhatian, dan begitu banyak keinginan kamu secara personal yang tidak bisa dipenuhi orang lain. Kamu bakal mudah kecewa, dek.

Maka pada situasi pertama itu, yang harusnya kamu lakukan, dek, ialah kemampuan kamu untuk memeluk rasa sakit itu. Di buku Jalani, Nikmati, Syukuri, saya tuliskan kalau kamu sudah terbiasa memeluk rasa sakit, maka rasa sakit itu akan memudar. Masalahnya adalah, kamu melepaskan rasa sakit itu keluar, tidak mampu kamu redam sendiri. Itu masalah pertama yang menjadi PR kamu, dek.

Kedua, kamu bakal terluka dua kali ketika kamu berani memusuhi dan membenci orang lain. Apalagi dengan sengaja menyerang dengan kata-kata yang menurutmu bisa menghancurkan orang lain, tetapi justru itu bakal kembali ke dirimu sendiri.

Kamu harus tahu, dek. Di zaman sekarang, orang sedunia terhubung di sosmed. Saat kamu marah-marah di sana, potensi seluruh umat sosmed tahu pisuhanmu itu sangat besar. Andai dirimu punya waktu untuk menghapus postingan itu, duh, tentu saja orang-orang yang sudah membacanya bakal teringat seumur hidup mereka.

Celakanya lagi, hanya kamu yang membenci seseorang, sedangkan orang yang kamu benci itu dicintai dan disayangi banyak orang. Bagaimana bisa kamu membenci seseorang yang dicintai banyak orang? Ada apa dengan hatimu?

Tidak ada cara lain, dek, kecuali kamu banyak dolan. Istilahnya silaturahmi. Banyak-banyaklah dolan dan nongkrong sama orang-orang yang memang kamu nilai tidak akan sejalan dengan dirimu. Latihan, dek. Kalau kamu selalu ngumpul sama orang itu-itu saja, ya kamu bakal kagetan kalau ketemu orang yang tidak seperti kamu.

Selain itu, dolan juga penting untuk kesehatan batinmu. Refreshing. Piknik, dek, piknik. Hirup udara segar, kasih kesegaran ke mata, kasih stimulus positif ke pikiran, berikan terapi untuk hati. Yang begitu-begitu itu, dek, murah kok. Tidak perlu biaya banyak. Syukur-syukur kamu mau wudhu, terus shalat dua rakaat, terus berdiam diri di atas sajadah. Itu luar biasa sekali.

Atau rumus mudahnya ini, formula praktis, kalau kamu lagi marah, coba pergi tinggalkan tempat itu. Pindah tempat. Kalau memang nggak bisa pindah tempat, coba kamu duduk. Posisi kepala menunduk, tapi jangan main HP. Bahaya. Jauhkan tangan dari HP kalau lagi marah. Tahan, jangan ngetik, jangan posting apa-apa ke sosmed. Udah percaya aja, matikan akses internet kalau hati lagi terbakar.

Terakhir, ada baiknya kamu punya guru, dek. Guru ngaji. Jadi kalau ada apa-apa, kamu curhatnya ke guru ngaji. Setidaknya kamu bisa menumpahkan apa yang kamu rasakan, terus kalau ketemu guru ngaji itu bakal adem rasanya. Kalau kamu sudah menumpahkan semua isi hatimu, yakin deh beliau bakal memberi nasihat yang bijak. Nyes di hati.

Tapi memang ada kalanya, perjalanan hidup itu perlu juga keblangsak, tersesat, asalkan jangan jauh-jauh biar mudah baliknya. Khawatirnya, kamu sudah tersesat jauh dan nggak bisa pulang, kemudian kamu merasa sudah di jalan yang benar dan nyaman tinggal dalam kesesatan itu. Padahal kamu terjauhkan dari kasih sayang orang-orang yang menyayangi, dan terjauhkan dari kasih sayang-Nya.

Pulanglah, dek. Pulanglah ke hatimu yang paling dalam, paling bersih. Di sana bakal kamu temukan siapa diri kamu sebenarnya. Coba temukan, ya. Semoga hidupmu, hidup saya, hidup kita semua bisa lebih legowo.

Oleh: Dwi Suwiknyo, penulis buku best seller Ubah Lelah Jadi Lillah. 

Facebook Comments

3 thoughts on “Kebencian itu Justru akan Membunuhmu Pelan-Pelan”

  1. Kesimpulannya : Piknik dek, piknik. He..
    Di kota saya ada dodol terkenal yang nama merknya itu “piknik”. Pas lebaran kemarin ada yang pasang spanduk, “dodol aja piknik, masa kamu nggak!”. Dan kalimat itu saya baca pas mau berangkat kerja.. Hadooh.. ^_^

Tinggalkan Balasan