Kehilangan dan Sulitnya untuk Melepaskan

Kehilangan cenderung selalu menjadi beban psikologis yang amat menyakitkan buat kita. Handphone hilang, kalut. Apalagi motor. Apalagi mobil. Sebutlah suatu hari mobilmu yang telah dipoles kinclong sedemikian kemplingnya tiba-tiba diserempet motor butut di suatu jalan yang riuh. Besetlah bempernya.

Kamu marah, kan?

Mata mendelik, urat leher menegang, tambah menjadi-jadi melihat pihak yang menyerempet begitu ketakutan. “Matamu buta apa?!”

Beset yang menjadikan prejengan mobilmu terganggu pesonanya sungguh membuatmu kesal, marah, dan sakit hati. Hilangnya kekinclongan di mobil menjadi gangguan batin yang amat serius!

Lalu, di suatu hari, di antara kesibukan kerja dan ritunitas yang tak ada ujungnya, anakmu sakit. Tiga hari kemudian diperiksakan dan divonis kena demam berdarah. Harus diopname. Istrimu yang menjaganya siang malam. Kamu sendiri terus sibuk bekerja. Termasuk, memoleh-moles dan mematut-matut mobilmu yang tempo hari diserempet orang dan kini telah kembali kinclong.

Hari keenam kamu tergeragap dari sebuah meeting mendengar suara istrimu yang menangis di seberang. Anakmu tak tertolong!

Lupalah kamu seketika sama meetingmu, kolega-kolegamu, prospek-prospek bisnismu, juga mobilnya yang kinclong. Sontak kamu ngebut ke rumah sakit yang hanya sesekali kamu tengok di antara longgar kesibukanmu.

Kamu terhenyak dengan tanpa daya, tenaga, dan derai air mata di sebelah tubuh beku anakmu yang bungsu. Istrimu memekik-mekik menangis. Anakmu yang satu lagi, si sulung, membisu dengan wajah memerah.

Seketika, ya seketika, semua apa yang ada padamu, hartamu, asetmu, bisnismu, mobilmu yang amat kamu cintai, tiada guna. Sama sekali tak berarti.

Kehilangan yang terjadi seketika, dan kita semua tahu bisa bertandang kapan saja ke dalam kehidupan kita, bahkan diri kita sendiri, mengubah serentak warna kehidupanmu.

Allah, ya Allah ….

Begitu bisik hatimu, di antara leler airmatamu.

Hello, di kemanakan Allah selama ini?

***

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.

(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah ayat 111).

Ayat tersebut memberikan ilustrasi yang saya rasa sangatlah final, mendasar, dan “terakhir” bagi setiap hasrat manusia, yakni “berperang”.

Situasi dari berperang–bayangkanlah peperangan yang dilakukan di masa Rasulullah Saw. dengan saling berhadapan langsung menggunakan pedang dan tombak—hanyalah dua: membunuh atau terbunuh. Dan, risiko terbesar dari perang sejenis itu ialah (dapat dikatakan) 90% mati. Peluang hidup sangat lebih kecil daripada matinya.

Di hadapan fakta begitu, adakah hal lain yang mampu mendorong jiwa para prajurit muslim untuk maju ke medan perang selain keimanan?

Ya, iman seiman-imannya hanya pada Allah Swt. Tak ada lainnya.

Iman bahwa hidup dan matinya hanya di tangan Allah; kehidupan dunia ini hanyalah permainan sementara dan hiasan-hiasan yang melenakan, bukan hakikat dan tujuan pokoknya; kehidupan akhirat adalah yang abadi, dan surga Allah adalah janji yang nyata yang di dalamnya penuh dengan kenikmatan, kelezatan, dan karunia yang tak pernah terbetik di dalam pikiran manusia manapun.

Itulah iman yang haqqa tuqatih. Maka lalu muncul segolongan muslim di masa Rasulullah Saw. yang menghindari dari panggilan peperangan, yang oleh al-Qur’an disebut sebagai kaum munafik.

Menjadi munafik oleh al-Qur’an digambarkan dengan balasan: “Sesungguhnya orang-orang munafik akan dilemparkan ke kerak neraka dan tiada penolong sedikitpun bagi mereka.

Sudah pasti, orang yang menggunakan akal sehatnya dengan sebaik-baiknya akan memilih potensi pertama (menjadi mukmin dan berjuang di jalan Allah). Tak ada alasan logis apa pun untuk memilih menjadi munafik dan diancam dibanting ke kerak neraka.

Tatkala ada seorang muslim yang sepenuh jiwa menyandarkan seluruh hidupnya, apa pun yang dialaminya, juga yang akan datang padanya, atas dasar fondasi iman yang mengakar sekuat-kuatnya di jiwanya, dalam bahasa perniagaan ala kita itu logis disebut “membeli”. Maksudnya, Allah telah menjadi “Pembeli” bagi harta dan jiwanya (adakah gerangan benda yang lebih kita utamakan ketimbang dua hal itu?)

Andaikan saja kamu punya uang sekian yang kamu kumpulkan dengan susah payah, lalu pada suatu hari ada saudara kandungmu yang butuh sekali sejumlah uang itu untuk mempertahankan kehidupan ekonominya, gerangan apakah yang kamu lakukan?

Diam saja?

Atau mengaku tak bisa menolong sedikitpun padahal sangat bisa?

Ataukah dengan rela hati menolongnya?

Sikap yang kita pilih di hadapan tamsil begini sangat, sangat, dan sangat mencerminkan mutu iman di hati kita, lho. Amat sangat!

Ihwal kita kemudian memilih menghindar untuk menolongnya, apakah gerangan yang mendorong kita melakukannya kalau bukan tertutupinya iman di hati oleh gelegar hawa nafsu, yang pada konteks ini berbentuk takut kehilangan uang atau takut kekurangan?

Begitu kan yang terjadi pada mayoritas kita hari ini?

Tepat karena alasan logis yang samalah kita juga menjadi menegangkan urat leher pada orang yang tak sengaja menyerempet mobil kinclong kita. Segala apa yang membuat kita berisiko kehilangan dan berkurang, serentak kita proteksi sedemikian karangnya dikarenakan kita selalu takut kehilangan dan kekurangan.

Dikarenakan rapuhnya iman di hati, rapuh jugalah keyakinan kita untuk menyandarkan segala apa yang terjadi (utamanya kepahitan dan kegetiran) hanya kepada Allah. Sikap yang kita ambil karenanya menjadi sangat materialistis, egois, dan serakah. Berikutnya pongah. Semua sikap ini jelas kita tahu amatlah dikutuk oleh al-Qur’an.

Lalu, masihkah ada alasan logis bagi kita untuk mengaku-aku sebagai hamba Allah Swt yang selalu menjadikan al-Qur’an sebagai fondasi dan prinsip hidup kita, pegangan kita, dalam segala keadaan?

Tidak. Kita yang enggan untuk “dibeli” oleh Allah, sebagaimana dimaksud ayat di atas, lebih tepat disebut secara nyata sebagai kaum munafik, pembual, pendusta, bahkan kepada Allah yang kita tahu Maha Tahu pada segala yang terbetik di dalam hati.

Astaghfirullah ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan