Ilustrasi dari Cdms Climg.

Ada kebiasaan unik yang sering dilakukan para jilbaber di kampus sebelum berwudhu, yaitu membersihkan wajah dengan sabun, ada yang menggunakan sabun berbahan dasar papaya, bengkuang atau lainnya. Tak terkecuali, aku. Kulit berminyakku ini memang butuh perawatan ekstra. Minyak yang menempel di wajah jika dibiarkan terlalu lama akan menyatu dengan debu dan kotoran lainnya. Ketika perpaduan di antara keduanya “sukses” penampakan baru pun mulai muncul satu per satu, apalagi kalau bukan jerawat.

Sebenarnya, munculnya jerawat di wajahku bukan hal baru. Tapi tetap saja, ketika bercermin terasa ada yang aneh jika satu per satu mulai menghuni wajah. Cantik memang relatif tapi tampil bersih dan rapih buatku menjadi keharusan. Aku tak mau dicap sebagai jilbaber berbau badan tak sedap, berpakaian serampangan dan berwajah penuh jerawat. Duh nggak banget.

Kemunculan si bintik kecil di wajah juga merupakan masalah bagi beberapa teman dekatku. Setiap kali kami bertemu di tempat wudhu, kali itu juga kudapati ia membasuh wajahnya dengan sabun khusus. Mau shalat dhuha, sebelum wudhu cuci muka, pun ketika hendak shalat dzuhur, ashar juga maghrib. Hanya shubuh dan Isya sajalah yang tidak bisa kupastikan pemakaian sabun cuci muka tersebut. Entahlah … perempuan memang unik.

Karena merasa sangat membutuhkan sabun pencuci muka, alokasi dana untuk pembeliannya pun menjadi keharusan hingga di suatu pagi yang cerah.

“Sa, ada seminar kecantikan tuh di Gedung Serba Guna, ikut yuk!” ajak Nilam padaku.

“Aku kuliah hari ini,” jawabku singkat.

“Acaranya jam 10.00 Salsa manis. Memangnya kamu ada kuliah jam segitu?”

“Gak ada.”

“Ya udah, kalau begitu. Kita bisa ke sana.”

“Ya deh biar kamu senang.”

“U … makasi ya Salsa sayang, kamu memang temen aku yang paling top deh,” sambil menggelayutkan kedua tangannya di leherku.

Hanya senyuman yang kuberi padanya. Kami berpisah setelah itu karena harus masuk kelas. Janji bertemu di depan Gedung Serba Guna selepas kuliah pun telah dibuat. Ikut seminar kecantikan, siapa takut. Kakiku melangkah dengan mantapnya, tak ada yang tahu bahwa saat itu uangku hanya cukup untuk ongkos pulang. Untunglah seminar kecantikan ini gratis jadi tak perlu ada rupiah menggelinding dari dompet untuk mengikuti acara tersebut.

Meski terlihat baik-baik saja, di hari itu aku merasa sedikit galau. Sabun pembersih wajahku habis dan aku tak punya uang untuk membelinya. Fotokopian tugas dan materi kuliah yang harus dibayar pekan ini cukup banyak, hingga harus menggunakan uang untuk membeli benda tersayang itu. Kulakukan shalat dhuha seperti biasa, di akhir doa sempat aku minta pada Allah untuk memberikan rizki yang lebih. “Hamba-Mu ini mau beli pembersih wajah, Ya Allah semoga ada uangnya,” pintaku lirih.

Aku menunggu Nilam sambil mengecek hp dan ternyata ada sms masuk darinya beberapa saat lalu. Pesan singkat itu berbunyi: Salsa, maaf aku gak jadi ikut seminar kecantikan, ada kelas tambahan dari dosen jam pertama jadi aku harus tetap di kelas sekarang.

“Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Aku sudah terlanjur sampai, beberapa panitia pun sudah memintaku masuk ke ruang acara sedangkan Nilam?” Baiklah, aku siap ikut acara ini sendiri. Aku masuk menuju meja pendaftaran, menuliskan nama dan jurusan lalu masuk ke ruang utama. Tiap peserta mendapatkan bingkisan dari panitia dan entah kenapa aku enggan membuka bingkisan tersebut. Rasa jengkel pada Nilam belum hilang hingga acara berakhir.

Kumandang adzan dzhur menjadi penanda berakhirnya seminar. Aku bergegas menuju masjid tapi anak tangga yang akan kulewati dipenuhi oleh para peserta yang hendak meninggalkan ruangan juga. Duduk sajalah dulu di sini, pikirku. Sekilas kulihat bingkisan yang sudah kupegang dari dua jam lalu, sepertinya brand kosmetik ini sama dengan yang biasa kupakai, rasa penasaran mulai muncul. Apa isi dalam tas mungil ini ya? Kubuka pita emas berukuran mini yang menghalangi mata langsung untuk melihat isinya dan ternyata…pembersih wajah yang gagal kubeli karena tak punya uang kudapatkan secara gratis di acara ini.

“Subhanallah,” ku cium berkali-kali benda berharga yang ada di tanganku itu. Tak sadar bahwa di sekeliling masih ada orang lain. Aku hanya bisa tersenyum sendiri. Tuhanku Maha Penyayang, Ia tahu aku tak punya uang, dikasih gratis apa yang aku butuh di hari itu juga. Allah Hebat. Sungguh Luar Biasa.

Oleh: Mariana Puspa Sari.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: