remaja broken home bisa sukses

Keluarga Kamu Broken Home? Kamu Tetap Bisa Sukses Kok, Begini Caranya.

Siapa sih di sini yang nggak tahu apa itu broken home? Bicara soal broken home biasanya yang terlintas adalah anak-anak yang orangtuanya bercerai, tapi ternyata keluarga yang utuh tidak menjamin anak-anak mereka terhindar dari broken home, lho.

Nah, di sini kita akan mengenali lebih jauh penyebab perilaku-perilaku menyimpang anak-anak dari keluarga lengkap baik ketika mereka di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat tersebab broken home.

***

Ayah atau ibu yang kurang berperan sebagai orang tua ternyata seringkali menjadi penyebab utama anak-anak mengalami broken home, lho. Orangtua dituntut untuk tidak hanya sekadar mampu memenuhi kebutuhan anak secara materi, tetapi juga kebutuhan psikologis anak. Beberapa kebutuhan psikologis yang saya ketahui itu sendiri di antaranya ialah kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan harga diri, dan yang lainnya.

Kebutuhan akan kasih sayang diperlukan agar anak merasa diperhatikan, diterima, dan diakui oleh keluarga mereka. Kasih sayang bisa ditunjukan oleh orangtua dengan meluangkan waktu untuk anak-anak mereka, menjalin komunikasi dengan baik, dan  saling memberikan dukungan satu sama lain. Anak-anak yang kekurangan kasih sayang akan merasa bahwa orangtua telah menelantarkan atau bahkan membuangnya.

Kebutuhan akan rasa aman diperlukan agar anak merasa tentram. Ketentraman didapatkan ketika mereka mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahannya dengan baik. Contoh anak-anak yang kebutuhan akan rasa amannya tidak terpenuhi yaitu anak-anak korban bullying.

Adapun kebutuhan akan harga diri dapat diperoleh anak ketika anak-anak diberikan hak untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya, juga memutuskan keinginan-keinginannya. Orangtua sudah sepantasnya memberikan kesempatan pada anak-anak mereka untuk menentukan pilihan-pilihan dan bertanggungjawab atas hal tersebut.

Selain kurangnya peranan orangtua, broken home juga sering terjadi karena ketidakharmonisan keluarga.

Keluarga yang penuh dengan pertengkaran-pertengkaran tak berujung, anak-anak terbiasa mendengar teriakan-teriakan, juga melihat tindakan kekerasan, atau bahkan ikut menjadi pelampiasan kekerasan orangtua. Kebanyakan dari mereka akan mengembangkan perilaku menyimpang untuk mencari perhatian.

Itu sebabnya ketika ada masalah, orangtua sudah sepantasnya menyelesaikannya dengan bijak. Hindari bertengkar di depan anak-anak, dan mengikutsertakan anak-anak dalam persoalan-persoalan yang orangtua alami. Orangtua bisa meminta anaknya untuk pergi bermain ke luar rumah lebih dulu untuk kemudian memecahkan persoalan mereka.

Hal ini dilakukan agar anak terhindar dari perasaan tertekan maupun stress.

Beberapa anak broken home terlihat kesulitan mengendalikan emosinya. Mereka yang introvert cenderung kesulitan dalam mengekspresikan emosi mereka, sedang mereka yang esktroverd akan mengekspresikan emosi mereka secara berlebihan. Anak-anak ekstrovert bisa kita temui dengan kebiasaannya yang meledak-ledak ketika marah, dan tertawa terbahak-bahak saat bahagia.

Sayangnya, anak-anak korban broken home ini sering kali tidak memahami emosi-emosi yang mereka rasakan. Mereka juga tidak memiliki alasan-alasan yang kuat dibalik perilaku menyimpang yang dilakukan. Mereka cenderung bertidak sesuka hati hanya untuk mendapatkan kepuasan. Oleh sebab itu, mereka memerlukan bantuan orang lain untuk menemukan apa yang sebenarnya menjadi titik persoalan yang sedang mereka hadapi.

Ngomongin soal broken home, rasanya nggak adil kalau kita sibuk membicarakan akibat negatifnya saja. Nyatanya, banyak kok anak-anak korban broken home yang pada akhirnya menjadi orang sukses. Kira-kira, siapa aja sih mereka? Dilansir dari Brilio.net, mantan persiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono termasuk salah satu korban broken home, lho. Hanya saja, beliau mampu bangkit. Beliau mengatakan bahwa di persimpangan itu saya bersumpah harus keluar dari situasi broken home dan menjadi seseorang.

Beberapa artis Indonesia juga ada yang mengalami broken home, tetapi mereka terbilang sukses. Siapa saja sih mereka? Ada Nikita Willy, Nia Ramadhani, Kiki Farrel, dan beberapa yang lain. Hingga tidak mengherankan jika ada yang mengatakan bahwa anak korban broken homen justru memiliki potensi yang besar untuk sukses. Kok bisa? Ini dia alasannya.

Pertama, anak korban broken home itu sudah terbiasa hidup mandiri. Kurangnya perhatian dan kepedulian dari keluarga membuat anak-anak korban brokem home ini seringkali menyelesaikan urusannya sendiri. Mungkin, awalnya mereka terpaksa dan berat dalam melakukannya, tapi lama-lama menjadi kebiasaan.

Kedua, mereka menjadi anak yang tangguh. Banyaknya persoalan yang pernah mereka hadapi tanpa bantuan keluarga membuat mereka makin kuat. Emosi yang dulu seringkali membelenggunya makin hari kian dapat mereka kelola dan salurkan ke dalam hal yang positif.

Ketiga, tidak mudah putus asa. Mereka yang mampu bangkit dari broken home pasti memiliki prinsip hidup yang bagus yang membuatnya terhindar dari kata menyerah. Keyakinannya akan mengalahkan segala rintangan di depan mata yang hendak mematahkan semangatnya.

Pertanyaannya, apa sih yang bisa membuat orang broken home yakin jika mereka bisa bangkit? Jawabannya adalah: Harapan. Ya, selama masih ada harapan di dalam dada manusia, dia akan bisa mewujudkannya. Allah sendiri berfirman bahwa Dia takkan membebani seseorang melebihi dari kesanggupannya. Hal ini tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 286.

Ini dia tips dan trik mengatasi broken home yang bisa saya sarankan. Pertama, ubah cara berpikir kita. Kita bisa memulainya dengan memiliki cara pandang yang berbeda. Mulailah berpikir dari sudut pandang yang positif atas apapun yang menimpa kita karena semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kita bisa mulai dengan mencatat hal-hal baik yang bisa kita dapatkan dari broken home.

Kedua, temukan tujuan hidup. Cepat atau lambat masa depan pasti akan menghampiri, lakukan sesuatu agar masa depan bisa lebih baik dari masa kini. Ketiga, miliki prinsip. Agar hidup tidak mudah goyah, kita perlu berpegang teguh pada prinsip agama. Oke?  

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan