“Buk, tiba-tiba aku teringat Ayah. Dulu Ayah suka duduk di kursi ini, berhadap-hadapan dengan Ibuk, kan?”           

“Kamu masih ingat, Nak? Sungguh?”

Aku hanya mengangguk, menatap wajah teduh Ibuk. Entah mengapa akhir-akhir ini kerinduan untuk bertemu Ayah begitu kuat.

“Padahal usiamu belum genap tiga tahun, tetapi kamu menyimpan memori tentang Ayahmu.”

“Aku ingat, dulu Ayah selalu menggendongku setiap sore menuju masjid, aku duduk di sebelahnya hingga waktu salat berjamaah tiba. Aku ingat, dulu Ayah selalu menggendongku setiap pagi, berjalan beberapa meter menghirup udara segar, menyapa hari yang diharapkannya beriring keberkahan dalam hidup.”

Mata Ibuk mulai berkaca-kaca, ia tak menanggapi apapun.

“Dulu, aku hanya heran mengapa Ayah selalu berbaring di kamar. Tak pernah henti merapal zikir dan istigfar, meski matanya terpejam, lisannya tak henti-henti menyebut asma Allah.”

Derai air mata Ibuk mulai terlihat bercucuran, ia mencoba untuk menyembunyikannya dariku.

“Bahkan, aku tahu ketika malaikat Izrail datang menjemput Ayahku, lalu menuntun Ayah pergi jauh dari pelupuk mataku untuk selamanya. Saat itu, aku hanya heran mengapa bayangan Ayah kian menjauh dengan lambaian tangannya, Ayah lama sekali memejamkan matanya, sejak waktu magrib hingga pagi menyapa. Sedangkan tubuhnya terkulai lemah di atas pembaringan.”

Ibuk mengusap pipi yang basah, perlahan. Lalu matanya kembali fokus menyimak ceritaku, meski aku tahu betapa perihnya Ibuk ditinggal Ayah. Ibuk yang mengasuhku seorang diri, dengan kasih sayang begitu luas, seolah Ayah pun menitipkan kasih sayangnya untukku melalui Ibuk.

“Buk, begitu salahnya aku yang pernah menangis tak karuan, meminta Ayah pulang. Sedangkan suhu badanku semakin tinggi. Ibuk bingung, cemas dan khawatir. Aku menolak untuk minum obat sama Ibuk, aku hanya mau minum obat sama Ayah.”

Ibuk menggenggam kedua tanganku, berusaha tenang dan ikhlas tentang kenangan hidup yang terlampaui.

“Tapi, Ibuk berhasil menghiburku. Ibuk rela meminta tolong Paman yang memiliki suara nyaris terdengar sama seperti Ayah. Ibuk bilang kalau Ayah masih ngajar di pesantren luar kota, Ayah akan pulang beberapa hari lagi. Ayah meneleponku, dengan suara khasnya yang selalu kurindukan. Ayah menghibur, Ayah membujukku supaya nurut meminum obat bersama Ibuk. Ayah berjanji akan segera pulang ketika tugasnya selesai, dan aku segera sembuh. Ternyata suara di balik telepon itu bukan suara Ayah kan, Bu? Itu suara Paman, untungnya dulu aku tak menyadarinya.”

“Maafkan, Ibuk, Nak. Ibuk kehabisan cara supaya kamu mau minum obat. Ibuk sangat gelisah ketika kamu sakit berhari-hari dan tidak mau minum obat kecuali bersama Ayah.”

“Buk, justru aku yang terima kasih kepada Ibuk. Berbagai cara Ibuk lakukan untukku, demi aku bisa percaya bahwa hidup masih perlu untuk diperjuangkan. Maafkan aku yang dulu tak pernah percaya bahwa Ayah tidak akan pernah kembali ke dunia kita.”

Ibuk memelukku erat, rasanya dunia ini tak ada kehidupan tanpa adanya Ibuk. Meski hanya Ibuk yang kupunya, aku sangat bersyukur. Pahlawan kehidupan yang tak pernah henti membantuku untuk mengeja rajutan rahasia-Nya. Ibuk, andai aku dulu mengerti bahwa malaikat Izrail mengajak Ayah pulang, pasti aku akan berlari menariknya. Tak peduli terowongan panjang menjulang yang terlihat cukup ngeri bila akan kulalui, demi Ayah, aku rela lakukan apapun untuknya. Tapi, semua itu mustahil, hanya imajinasi yang nyata dari buatan anak-anak seumuranku saat ditinggal orang terkasihnya.

***

Satu tahun Ayah tidak pulang ke rumah. Dua hari raya hanya kami lalui berdua saja. Aku masih menagih janji Ibuk bahwa aku akan bertemu Ayah nanti. Sepulang dari salat Idul Fitri, inilah saat Ibuk menceritakan yang sebenarnya. Cerita yang tak pernah kuinginkan, cerita yang lebih baik aku tidak tahu, cerita yang paling menyedihkan selama hidupku. Ibuk bilang bahwa Ayah pulang ke surga, Ayah tidak akan pernah kembali ke rumah kecil kita ini, dulu Ibuk memberi istilah bahwa Ayah meninggal, aku tak paham istilah itu, Buk.

Ibuk secara detail menceritakannya, apa arti manusia meninggal. Pergi dan tak pernah kembali ke dunia, jangankan dunia, ke rumah kecil kita pun tak akan pernah. Saat itu aku mulai bisa berpikir, bahwa harapan untuk Ayah pulang dan menggendongku lagi tidak akan terjadi. Aku sesak dan terisak sejadi-jadinya. Ibuk memelukku erat, memberi ketegaran, hati Ibuk luar biasa lembutnya.

“Buk, bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan Ayah?” tanyaku ketika tangis mulai mereda, aku mulai sadar bahwa cara mengobati rindu bukan mengharap Ayah pulang, tapi aku harus menemuinya, di mana pun dia berada.

“Ayah sedang menunggu kita di surga, Nak.”

“Bagaimana caranya supaya aku bisa ke surga menemui Ayah, Buk?”

“Jadilah anak salihah, manut sama Ibuk, selalu mendoakan Ayah, rajin beribadah, dan taat kepada Allah.”

“Buk, maukah Ibuk membimbingku supaya aku bisa melakukan semua cara untuk bisa bertemu Ayah?”

Ibuk mengecup keningku, aku memelukmu erat. Cukup bagiku ditinggal oleh Ayah, itu sudah memilukan. Aku tak ingin ditinggalkan Ibuk.

Hari-hari yang kulalui berangsur membaik, meski kerinduan terhadap Ayah tak pernah pupus. Ibuk mulai mengenalkanku tentang adanya Allah dan segalanya. Ibuk mengajariku membaca Al-Qur’an dan menghafalnya. Aku merasa berat jika selalu menghafal terus setiap hari, padahal di usiaku yang enam tahun itu aku ingin seperti teman seumuran lainnya. Mereka setiap pulang sekolah dijemput sang Ayah. Bahkan ada juga yang menyambut hangat dengan pelukan, lalu membonceng anaknya di depan dengan motor yang dipunya. Terbesit rasa iri di hatiku, Buk. Aku rindu Ayah, aku ingin seperti mereka. Andai waktu bisa menawarkan permintaan, maka aku hanya ingin mengulang suatu masa ketika aku bersama Ayah.

“Jadilah penghafal Al-Qur’an, Nak. Supaya Ayahmu bahagia di sana. Jika kamu menghafal Al-Qur’an, maka kamu telah memberi mahkota terbaik untuk Ayah. Kamu maukan membahagiakan Ayah?” tanya Ibuk saat aku mulai bandel menghafal.

“Buk, apakah dengan menghafal Al-Qur’an aku bisa bertemu Ayah?” selalu pertanyaan ini yang aku tanyakan kepada Ibuk, ketika ia mulai merayuku untuk menghafal, salat, dan belajar agama dengan baik.

“Anak yang salihah pasti akan dipertemukan dengan sang Ayahnya di surga.”

Aku tahu, Buk. Engkau tak pernah kehabisan kata-kata untuk mengembalikan senyumku. Ketika semangatku menurun, ketika kerinduan terhadap Ayah tak terkendalikan, atau bahkan ketika aku menyerah dalam hidup yang begitu sunyi ini.

“Buk, Ayah sedang apa ya di sana?” tanyaku sembari melihat indahnya bulan.

“Kau lihat bulan sabit itu? Ayah sedang ternyum melihat kita. Ayah hidup tenang ketika kita mampu menghadapi setiap liku-liku kehidupan dengan baik. Akan tetapi, Ayah akan sedih jika kita putus asa. Maka, jangan pernah putus asa dalam hal apapun. Sepelik apapun kehidupan, sesulit apapun, atau bahkan saat kita belum menemukan jalan keluar, berdoalah! Minta ketegaran sama Allah. Meski Ayah tak ada di sini untuk membantu kita, percayalah ada Allah yang tidak pernah membiarkan kita kelaparan dan sengsara.”

“Buk, aku benar-benar rindu Ayah. Kenangan bersama Ayah sangat sedikit. Ayah hanya menemani kehidupanku selama dua setengah tahun. Selebihnya Ayah mempercayakan masa depanku kepada Ibuk. Ayah tidak meninggalkan pesan apapun, atau aku yang sama sekali tidak ingat, atau bisa jadi aku belum memahami pesan Ayah di waktu kecil? Ah, Ibuk. Andai aku mengenal Ayah lebih lama, akan banyak kenangan indah yang ingin kurajut bersamanya.”

Di Alam Masa Depan Manusia

Putriku terkasih, jangan mengkhawatirkanku, jangan ragu untuk melangkah menapaki masa depanmu meski hanya bersama Ibuk. Malaikat selalu membawa kabar tentangmu setiap hari ketika datangnya senja. Aku bahagia jika harimu kau penuhi dengan kebaikan, harimu kau awali dengan keberkahan, janganlah iri dengan teman lain yang merasakan hidup dimanja oleh Ayahnya. Akan datang suatu saat Ayah memanjamu, kasih sayang tanpa batas selalu menerobos ke sanubarimu, menghadirkan setiap rindu di setiap doa-doamu. Ayah tahu, Nak. Betapa beratnya hidup tanpa keluarga yang lengkap, terutama Ayah sebagai pemberi nafkah kalian. Tapi, kau perlu tahu, bahwa Allah telah mencukupkan kehidupan kalian, meski tidak melalui perjuangan Ayah. Ada banyak cara tak terduga, ada banyak keajaiban selagi kita mau berusaha, berdoa dan tidak kenal putus asa.

Putriku, jadilah wanita salihah, bahagiakan Ibuk di dunia, sebelum Ibuk pulang menemui Ayah. Cukup dengan kau nurut dan tak pernah membantah Ibuk, Ayah sudah bangga denganmu. Jangan pernah telat untuk melakukan salat wajib, jadilah wanita yang baik sebagai mutiara berkilau yang tak pernah kusam sepanjang masa.

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: