kangen kenangan bersama bapak

Kenangan Bersama Bapak dan Impian yang Tak Bisa Terwujud

Aku terkekeh sendiri membaca komentar Kakak dan Omku di FB. Padahal awalnya aku hanya menulis status tentang kerinduan pada masa-masa digendong Ayah ikut sholat berjamaah di masjid. Tetapi para lelaki keren (Kakak dan Om)-ku malah melebar membahas tentang mencarikan jodoh untukku. Dewi—yang ada di sampingku—jadi tertarik ingin tahu apa yang membuatku tak bisa menahan tawa.

“Ada apa sih, Yu? Seru banget?” Ia tampak penasaran.

“Hahaha … ini loh …, Kakak dan Omku malah mengkroyokku di FB gara-gara aku bilang kangen ikut Babe berjamaah di masjid.” Jawabku sambil menyodorkan HP padanya.

“Kamu ternyata dekat banget sama Babe dari dulu, ya? Kayak aku.” Seru Dewi menanggapiku.

“Iya, dulu sering ikut beliau sholat maghrib di masjid, terus sambil menunggu iqamah biasanya aku sholawatan pakai pengeras suara. Walaupun aku masih cadel, ya sok-sokan gitu.” Kataku.

“Kalau cerita tentang masa kecil, aku jadi inget keusilanku tetapi lucu jika dipikirkan sekarang. Hahaha ….” Dewi terlihat mengingat-ingat kenangan bersama Ayahnya.

“Wajar sih, lu kan memang suka bertindak dulu baru berpikir. Usil. Gue donk, anak baik-baik, suka menabung dan tidak sombong sejak dulu.” responku sambil bercanda.

“Hahaha … percaya gue kalau lu enggak iseng. Makanya lu jadi kuper, pendiam dan membosankan seperti sekarang.” Dewi membalas ejekanku.

Sembari nyengir kesal, kulemparkan bantal padanya.

“Eh, tapi ngomong-ngomong kamu usil gimana sih?” Selidikku.

“Jadi, dulu Bapak sering banget mengajakku keliling Lombok naik motor. Nah, suatu saat di perjalanan sandalku jatuh, Bapak sadar, lalu berhenti dan meminta Kakakku yang duduk di belakang untuk turun mengambilnya. Tahu enggak Yu, apa yang kulakukan setelahnya? Beberapa meter berjalan, kujatuhkan lagi sendalku secara sengaja sampai dua atau tiga kali-lah. Hahaha .…” Jelasnya di antara gelak tawa.

“Dasar Lu ya, tengil! Terus Bapak gak marah?”

“Walaupun tahu aku sengaja, tetapi beliau enggak marah. Hanya saja sendalnya tak lagi boleh kupakai hingga kami tiba di rumah. Hohoh …”

“Isssshhhh … si bontot manja. Huhuhu ….” Ledekku.

Saking asyiknya bercerita, mengingat momen lucu masa kecil, kami lupa harus menyelesaikan setumpuk dokumen. Segera, kami melanjutkan kesibukan menata dokumen persyaratan wisuda.

Tiga hari lagi pesta perayaan gelar akan dilangsungkan. Orang tuaku telah mengajak beberapa keluarga untuk berangkat ke Jogja. Lain denganku, orang tua Dewi tak bisa hadir karena bapaknya baru saja keluar rumah sakit seminggu kemarin.

Dia tampak sedikit terpukul saat menerima kabar bapaknya dirawat. Bahkan sempat sakit. Semoga di wisuda nanti dia tak merasa sendiri karena ada orang tua angkatnya (orang tuaku) yang siap mendampingi.

***

Persiapan demi persiapan wisuda sudah hampir terlewati. Komunikasiku dengan Dewi tidak sesering biasanya karena alasan kesibukan masing-masing menjelang hari-H. Hingga pada dini hari wisuda kami, ia meneleponku.

Assalamualaikum, kenapa Dew?” Tanyaku tanpa menaruh curiga.

“Yu, bisa minta tolong?” Ia menjawabku sambil terisak.

“Kamu kenapa? Ada apa?” Aku panik menyadari Dewi tidak sedang baik-baik saja.

“Yu, tolong pinjami uang limaratus ribu. Transfer sekarang juga. Aku cuma punya waktu tigapuluh menit.” Ia masih terbata-bata dalam tangisnya.

“Kamu kenapa? Ada apa?” Kuulang kata yang sama karena semakin khawatir.

“Kamu bisa pinjami aku uang enggak?” Ia menegaskan kesanggupanku.

“Iya, iya aku ke ATM sekarang untuk transfer.” Jawabku mencoba menenangkan kecemasannya. Dewi belum pernah seperti ini. Aku yakin ia memiliki alasan yang sangat kuat ketika mendesakku untuk meminjaminya uang.

Kuakhiri percakapan kami dan bergegas segera mengirimkan limaratus ribu yang ia butuhkan. Tak kupikirkan lagi buat apa uang yang ia pinjam. Sepulang dari ATM pun aku tak sempat sekadar bertanya pada Dewi, apa yang terjadi karena harus bersiap untuk melaksanakan prosesi wisuda.

Aku pikir bisa bertanya padanya nanti, saat kami bertemu di kampus. Namun sayang, sampai acara penyematan gelar selesai, aku tetap tak bisa menemukan Dewi. Tiga kali kuhubungi, HPnya malah tak aktif. Ummi, Ayah dan Kakekku turut penasaran mengapa Dewi tak terlihat. Aku hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Kuotak-atik HP berharap tiba-tiba ada jawaban tentang alasan Dewi tak menghadiri wisuda.

Notifikasi akun facebookku bertambah satu. Aku segera mengeceknya. Sebelum keluar aula, aku mengirimkan inbox pada sahabat Dewi yang satu daerah tinggal di Lombok.

Wa’alaikumsalam warohmatullah Mbak, innalillahi wainnailaihi raji’un Ayahnya Dewi meninggal pukul 03.00 tadi pagi. Sekarang Dewi masih di Surabaya karena pesawatnya delay. Dia belum tahu kalau Ayahnya sudah meninggal. Keluarga hanya mengabarkan bahwa Ayahnya masuk ke ICCU.”

Innalillahi wainnailaihi raji’un. Aku tak mampu membendung airmataku. Dewi selalu membicarakan tentang harapan-harapannya bisa bersama Sang Ayah berziarah ke makam Rasulullah. Kabar yang baru saja kuterima menjadikan mimpi-mimpinya mustahil untuk dicapai sekarang. Kekuatan yang senantiasa membuatnya semangat berjuang, kini telah hilang. Memang tiga bulan terakhir Ayahnya sering sakit. Namun kukira tak begitu parah. Dewi sempat beberapa kali berniat pulang tapi diurungkan. Tentu ia menyesalinya sekarang.

Sebagai sahabat, aku ingin sekali memeluknya tanpa bicara. Aku tak berani mengirimkan pesan apapun. Rasanya kata-kata yang kukirim sekarang bukanlah yang ia butuhkan. Aku tak dapat membayangkan seandainya berada di posisinya. Kehilangan seorang yang sangat berarti, di hari yang ia nanti-nantikan. Apa dia akan baik-baik saja? Allah … kuatkan Dewiku.

***

Sudah satu bulan berlalu. Aku belum berani mengirim pesan ke Dewi. Aku hanya menunggu sambil terus berdoa. Bayangan yang tidak-tidak tentang tindakan spontan Dewi selalu membuatku takut. Namun, aku lebih tidak sanggup berbasa-basi menanyakan keadaannya. Akhirnya ada whatsapp dari Dewi.

Dewi: Assalamu’alaikum Yu, insyaallah minggu ini aku balik ke Jogja. Maaf ya, uangmu belum tak kembalikan …

Aku: Wa’alaikumsalam warrahmatullah, Alhamdulillah … kamu mau tak jemput di Bandara hari apa, jam berapa?

Dewi: Gak usah, aku dijemput saudaraku kok insyaaAllah. Paling aku cuma sekitar tiga hari di Jogja. Tapi tenang, aku bakal berkunjung ke istanamu. Mau gangguin ghostwriter yang jarang tidur ini … hahaha

Aku: Beneran gak mau dijemput, ya? Jangan sampai, tiba-tiba tengah malam minta aku datang kayak dulu.

Dewi: Wkkkkk … serius ini. Tunggu aja di kos.

Aku: Baiklah aku akan menantikan kedatanganmu.

Pesan whatsapp dari Dewi membuatku merasa lega. Setidaknya kondisinya tidak seburuk prasangkaku. Tiga hari kemudian dia mendarat lagi di Jogja. Seperti yang ia janjikan, dia datang ke indekosku. Tanpa ba-bi-bu kami langsung berpelukan dan menangis bersama untuk beberapa saat. Setelah itu, dia sibuk bercerita dan aku mencoba mendengar dengan seksama. Kuperhatikan dia sembari sesekali mengusap lelehan air dari mataku.

“Aku baik-baik saja, Yu. Awalnya memang sangat berat. Kalau aku terus-terusan melihat dari sudut pandangku, mungkin aku tak akan pernah bisa kembali ke Jogja. Tetapi ketika aku memandang dari kacamata Bapak, insyaallah beliau telah bahagia di alam sana. Bapak sudah selangkah lebih dekat untuk berjumpa dengan-Nya. Jadi aku tak memiliki alasan bersedih lagi.” Ia tidak melihatku saat kami berbincang. Dewi tersenyum, pandangannya jauh ke depan. Yang membuatku yakin dia benar-benar tidak apa-apa.

Dewi jauh lebih kuat dari perkiraanku. Sungguh benar bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 286).

Aku pun jadi teringat pada ucapan Ustad Adi, “Allah memberikan masalah pada kamu karena Allah percaya hanya kamu yang bisa menyelesaikannya. Orang lain tidak akan mampu karena mereka pun mempunyai kesulitan yang tak dapat kamu selesaikan.”

Aku belajar banyak dari apa yang dialami Dewi. Berkaca dari waktu-waktu sebelumnya, aku seringkali mengeluh untuk hal-hal kecil. Mulai sekarang, aku akan berusaha menerima setiap kepercayaan-Nya dengan rasa gembira. Apa lagi yang lebih membahagiakan selain dipercaya oleh Tuhan?

Karya: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

1 thought on “Kenangan Bersama Bapak dan Impian yang Tak Bisa Terwujud”

  1. Mungkin sekarang kita bisa melihat orang tersebut berdiri tegar dan kuat, karena kita tidak pernah tahu apa yg sudah diambil sebelumnya dari ia.
    Semua orang punya porsinya masing2.. Good writer and inspiring 😊

Tinggalkan Balasan