Kenapa Anak Sekolah Diizinkan Naik Motor?

Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia, Inspektur Jenderal (Pol) Pudji Hartanto, mengatakan, banyak kecelakaan maupun kemacetan di jalan karena faktor kesadaran manusia yang rendah. Mereka kurang disiplin, tidak taat aturan, sengaja, lalai, atau dalam kondisi tidak prima, lelah, dan sebagainya.

Kurang disiplin dan tidak taat aturan lalu lintas, mungkin sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Orangtua tidak menyadari bahwa mereka ikut andil dalam membentuk kebiasaan ini. Itulah kenapa masih ada orangtua tetap mengizinkan anak SMP naik motor sendiri ke sekolah. Pihak sekolah (guru) pernah menanyakan hal ini kepada orangtua. Jawaban yang menjadi alasan mereka bermacam-macam.

Kebanyakan alasannya karena rumah jauh dari sekolah. Jarak rumah ke sekolah harusnya menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah. Bukan demi gengsi anaknya bisa bersekolah di sekolah favorit. Kan sudah jadi pilihan bersekolah di tempat yang jauh, harusnya sudah dipertimbangkan konsekuensinya. Orangtua harus siap antar jemput anaknya ke sekolah.

Ada lagi yang punya alasan karena tidak ada yang mengantar. Minta tolong saudara atau tetangga kan bisa? Kalau perlu diberi ongkos bensin, anggap saja memberi pekerjaan orang. Naik Go-jek sekarang juga bisa. Ya memang akan keluar lagi biaya.

Kalau ingin lebih hemat biaya, anaknya suruh naik sepeda. Tidak perlu ongkos beli bensin. Sekalian berolah raga. Anak SMP kan masih dalam taraf pertumbuhan. Badannya bisa kuat dan sehat dengan bersepeda. Sekaligus bisa belajar jadi pemakai jalan yang baik.

Ada juga yang beralasan agar tidak merepotkan. Punya anak itu senang dan uniknya kalau repot. Kalau tidak mau repot ya tidak usah punya anak. Atau pilih sekolah dekat rumah saja, biar anak bisa jalan kaki pulang pergi ke sekolah. Jadi, tidak merepotkan.

Alasan lain karena orangtua ingin agar anak bisa mandiri. Mandiri dengan cara yang salah. Sudah tahu bahwa anak SMP belum memiliki SIM, tapi mereka tetap diizinkan naik motor sendiri ke sekolah. Orangtua pasti tahu bahwa setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan, wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan (Pasal 77 ayat (1) UU No.22 Tahun 2009).

Bagaimana jika anaknya yang memaksa? Ada orangtua yang mengatakan begitu. Masya orangtua kalah tegas dengan anak? Untuk mengajarkan anak patuh dan taat aturan, orang tua perlu bersikap tegas. Biar anak tahu hal yang dibolehkan dan yang dilarang.

Dengan alasan latihan naik motor pun tidak bisa dibenarkan. Latihan naik motor sebaiknya dilakukan pada waktu luang di rumah dan di sekitar kampung saja. Anak SMP belum mempunyai kesadaran berlalulintas. Mereka masih labil emosinya, mudah terpancing untuk kebut-kebutan di jalan. Kadang malah ada yang boncengan bertiga. Astaghfirullah.

Ada yang beranggapan naik motor ke sekolah akan lebih hemat waktu. Belum tentu juga. Kadang anak naik motor ke sekolah pilih jalan muter. Mereka mencari jalur yang tidak ada penjagaan polisi. Mereka berusaha menghindarinya agar tidak kena tilang. Bukankah malah lebih lama?

Alasan tidak capek, rasanya hanya alasan yang dibuat-buat. Kalau anak dijemput kan juga tidak capek, tinggal duduk di bonceng atau di mobil. Kecuali kalau jemputnya telat. Anak sudah menunggu berjam-jam, tapi jemputan belum datang. Capeknya bisa sampai ke hati.

Yang lebih lucu lagi ada orangtua yang mengatakan, “Daripada motor nganggur di rumah.” Kenapa tidak dijual saja, uangnya bisa untuk keperluan lain? Atau dibelikan sepeda yang menggunakan baterai. Ini masih bisa ditoleransi oleh sekolah. Sepeda ini tidak tergolong sepeda motor. Anak tidak perlu punya SIM.

Selain itu karena ada temannya yang ke sekolah naik motor sendiri. Ini membuat sang anak membujuk bahkan merengek agar diizinkan naik motor ke sekolah. Padahal temannya lain yang dijemput atau naik sepeda sendiri juga ada. Kenapa yang dicontoh yang melanggar peraturan lalu lintas? Bukankah mereka juga mengabaikan peraturan tata tertib sekolah?

Satu hal lagi, tindakan ini didukung dengan adanya orang yang menyediakan tempat parkir. Ini mengenai kesadaran masyarakat. Karena penanggung jawab pendidikan bukan hanya sekolah, tapi keluarga (orangtua) dan masyarakat. Sekolah sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian. Orang yang menyadari himbauan sekolah, tidak mengizinkan anak-anak SMP menitipkan kendaraan di tempatnya lagi. Tapi masih ada yang mengabaikan himbauan ini.

Akhirnya sekolah menyerahkan kebijaksanaan kepada orangtua masing-masing. Peraturan sekolah melarang para siswa SMP naik motor sendiri ke sekolah. Jika diabaikan, mungkin akan lahir generasi yang berani melakukan pelanggaran. Dampaknya, kemacetan dan pelanggaran lalulintas pun akan semakin sulit diatasi. Karena faktor manusia sebagai pengendara dan pemakai jalan tidak diajarkan untuk patuh aturan berlalulintas mulai sejak dini.

Pada intinya, orangtua berperan dalam penegakan kedisiplinan berlalulintas. Kepatuhan pada peraturan diajarkan sejak anak masih kecil. Sehingga akan terbentuk watak pengendara dan pemakai jalan yang santun. Penulis berharap orangtua peduli dengan hal ini. Semoga kepadatan lalulintas berkurang, karena anak SMP tidak naik motor lagi di jalan.

Oleh: Harini Wijaya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan