Akhir-akhir ini publik dikagetkan dengan tersebarnya foto-foto anak sekolah zaman now yang mesra dengan pacarnya, bahkan sampai cium-ciuman. Juga ada yang ugal-ugalan di jalan bawa motor nggak karuan. Berani melawan polisi.

Bahkan ada yang mukulin temennya (keroyokan) sampai meninggal dunia. Anarkis. Bertindak kriminal. Tak lagi patuh sama orangtua, tak lagi hormat sama guru, maka tak ada kata sayang kepada sesama kecuali satu gengnya saja. Duh. Sungguh miris dan mengkhawatirkan. Sebenarnya apa sebabnya ya?

Pertama, korban broken home. Anak yang ayah ibunya berpisah/cerai kadang suka cari perhatian di luar rumah. Padahal kalau dia berbuat lebih baik, mungkin saja bisa mengharmoniskan ayah ibunya walapun sudah bercerai.

Kedua, korban tontonan di televisi. Coba kalau yang dipraktikan atau dicontoh yang baiknya saja, pasti perilakunya juga baik.

Ketiga, korban salah asuh. Ayah ibu sibuk, kurang perhatian. Segala maunya diturutin. Sekalinya ngga diturutin jadi ngambek. Coba kalau ayah ibu lebih peka terhadap perasaan anak. Anak lebih butuh perhatian dan kasih sayang yang tulus dibanding pemberian barang.

Keempat, korban salah pergaulan. Bergaul dengan geng yang super rame dan gaul tanpa tau batasan. Coba kalau milihnya bergaul sama teman yang rajin, berakhlak baik, dan pintar pasti hidupnya terjaga.

Kelima, ingin diakui oleh satu kelompok bergengsi. Takut disebut nggak gaul, jadi gabung sama geng ecek-ecek yang tong kosong nyaring bunyinya alias banyak ngomong tapi nggak bermanfaat. Coba kalau gabungnya sama geng anak pintar atau geng remaja pengajian lebih bergengsi di hadapan Allah swt.

Keenam, power sindrom. Biasanya anak yang dari kelurga ekonomi atas. Atau punya kemampuan lebih. Jadi bisa seenak enaknya bertindak. Padahal kalau powernya diarahkan ke hal positif pasti bisa berprestasi.

Ketujuh, star sindrom. Merasa jadi bintang berprestasi jadi sombong. Justru teman-teman tidak suka. Coba kalau preatasinya dikembangkan dan membimbing teman. Pasti teman, guru, orangtua jadi bangga.

Kedelapan, mencari hal baru. Ingin sesuatu yang baru tapi salah jalan. Harusnya hal yang baru itu yang positif, jadi bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain di sekitar kita.

Kesembilan, dua kepribadian. Kadang di rumah pendiam tapi di luar rumah kasar. Harusnya sama baiknya. Tetap berperilaku baik kapan pun dan di mana pun.

Oleh: Nurul A. P.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: