Pertama, belum berani menikah, alasannya kondisi finansial belum mapan. Padahal kalau jadi bujangan itu justru uangnya kabur nggak karuan. Setelah menikah justru bisa terkumpul, bisa beli ini dan itu. Ya kan?

Kedua, takut menikah sebab trauma melihat rumah tangga keluarga sendiri yang berantakan. Justru pengalaman itu bisa dijadikan pelajaran luar biasa. Buktikan kalau kehidupan dimasa depan bisa lebih baik. Terkadang memang kita harus belajar dari kehidupan yang pahit untuk meraih kemenangan. Kamu bisa!

Ketiga, trauma dengan pacar yang tidak setia. Ya ampun, biarin aja dia pergi sejauh-jauhnya. Justru bagus ditunjukkan sejak awal kalau dia memang tidak serius. Dan jelas beda antara ikatan pacaran dan ikatan pernikahan. Kalau dia cuma cinta-cintaan, bilang cinta ke kamu lalu kabur. Kalau dia cinta beneran, dia akan bilang ke orangtuamu, saksinya orang-orang satu kampung, bahkan penduduk langit akan menjadi saksi ikatan cinta suci kalian.

Keempat, mau menikah kalau udah jadi PNS, punya rumah, mobil, sawah, kebun kurma, dan apartemen. Aamiin.. cuma sampai kapan kamu mau kumpulin semua harta itu? Sampai usia berapa? Justru kalau menikah belum memiliki apa-apa, kalian bisa berjuang bersama untuk memiliki semua itu. Berjuang bersama itu jauh lebih romantis, ketimbang tiba-tiba sudah ada semua. Coba deh.

Kelima, sebelum menikah kudu belajar dulu ah. Iya, belajar ilmu pra-nikah. Padahal paling asyik itu kalau belajar sembari action. Istilahnya learning by doing. Kita bisa belajar dari pasangan kita, saling belajar menata rumah tangga bersama. Punya 15 sertifikat pelatihan training pra-nikah pun masih kalah hebat dengan mereka yang baru menikah 3 bulan. Action donk bro/sis!

Keenam, tunggu dulu ah, mau membahagiakan orangtua dulu, baru menikah. Coba tanya orangtua kamu, jangan-jangan mereka akan bahagia kalau bisa menggendong cucu (anak kamu)? He …

Ketujuh, masih soal rezeki, masih takut kalau nikah malah terlantar. Astaghfirullah, kok pesimis banget kayak nggak punya Allah saja. Ini janji Allah lho ya, “Menikahlah, kamu akan kaya.” Masih nggak percaya? Makanya buktikan aja donk.

Kedelapan, masih sakit hati ditinggal mantan. Mantan pacar, maksudnya? Lha jangan-jangan dia malah sudah menikah dengan orang lain. Sudahlah, dia berhak bahagia, kamu juga berhak lebih bahagia. Kayak kata Om Mario Teguhitu lho, “Kalau dia terlalu bodoh meninggalkan kamu, maka kamu harus terlalu pintar untuk melupakannya.” 

Kesembilan, belum ada yang sreg di hati. Sabar deh. Coba hitung berapa jumlah penduduk Indonesia? Masak dari begitu banyak penduduk Indonesia tidak ada satu pun yang sreg di hati? Biasanya memang jodoh itu kalau sreg di hati sendiri, lebih-lebih sreg juga di hati ortu. Kalau gitu, minta doa restu dulu sama ortu, “Ibu, bapak.. doain aku ya biar cepet ketemu dengan jodohku..”

Kesepuluh, sudah lelah berdoa, bahkan sudah sampai 1.000 doa belum juga ketemu jodoh. Coba doa lagi, siapa tahu jodoh kamu dijawab dari doa yang ke 1.001 atau 1.002 atau bisa saja doa yang ke 1.003. Yang penting ikhtiarkan doamu. Luruskan niat. Kalau niat udah kuat, insyaallah selalu ada jalan kok. Ciri takdir itu kalau jalannya dimudahkan oleh-Nya. 

Kesebelas, santai aja deh, usia kan masih muda. Bagusnya memang menikah kalau masih muda. Cewek itu sehat sekali menikah diusia 22-24 tahun, rahimnya sehat dan kuat. Cowok bagus juga menikah antara usia itu, masih punya waktu lama untuk lebih produktif kerja (lebih dari 35 tahun). Coba pikirkan, kamu mau menikah usia berapa? Lalu saat kamu pensiun (usia 55 tahun), kira-kira anak kamu usia berapa? 

Keduabelas, kumpul dengan orang-orang yang baik. Biasanya jodoh yang baik itu dekat dengan orang-orang yang baik. Dan kalau pingin dapat jodoh yang baik, ya otomatis kamu jadi orang baik dulu. Istilahnya jadi ‘magnet kebaikan’, insyaallah jodoh yang baik itu akan datang dari arah yang tak terduga. Kun fayakun!

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: