“Aku mau ngomong penting sama kamu.”           

“Ngomong aja, Al. Kamu akhir-akhir ini jarang menghubungi. Lagi sibuk banget ya di sana?”

“Iya maaf, Rita. Lumayan sibuk memang. Jadi begini yang ingin aku bicarakan itu … sebenarnya aku sudah nggak nyaman sama hubungan kita, Rit,” suaranya melemah diujung telepon. Tak seperti biasanya.

“Nggak nyaman gimana maksudanya?” tanyaku dengan nada melengking, perasaan berkecamuk mulai tak karuan lagi.

“Teman aku tuh nggak pernah ada yang pacaran gitu, mereka pada langsung nikah. Aku ingin seperti mereka. Takut mendekati zina, Rit. Aku hanya ingin menghindari hal-hal buruk yang ada dalam pacaran.”

“Ya sudah sih kita jaga hubungan ini tanpa hal-hal buruk itu, Al.”

“Aku nggak bisa, Rit. Yang salah memang bukan kita, tapi adanya hubungan kita.”

“Kamu jahat, Al. Kamu jahat benar memang,” isakku dalam tangis. Aku merasa belum kuat mendengar kenyataan yang diungkapkan Aldo. Mengapa dia mengatakan semua itu setelah sekian lama menjalin hubungan bersamaku? Hiks.

“Aku begitu justru karena aku sayang kamu, Rita.”

Ih, gimana sih … katanya hubungan ini salah, tapi masih sempat bilang sayang segala. Kuusap air mataku perlahan. Mencoba tegar dan tidak cengeng menghadapi Aldo.

“Ya sudah aku minta putus aja gimana?” tanyaku menguji perasaannya. Ya, jelas saja minta putus begitu bukan keinginan terkuatku.

“Ya sudah, yaa. Kita putus saja, Rit.”

Tuuut

Telepon langsung kumatikan. Benar-benar nyesek mendengar tanggapannya. Tak ada istilah pencegahan. Tak ada ungkapan basa-basi lain meski hanya sekadar ungkapan perpisahan. Seolah Aldo terlepas dari beban cinta yang selama ini dia rasakan. Buktinya kuajak putus saja dia langsung meng’iya’kan tanpa tapi.

***

Bruk!!

Suara pintu kudorong sekuat mungkin. Emosi terbakar kuluapkan dengan tekanan. Bayang-bayang Aldo tampak jelas sedang melantunkan syair untuk merayu kekasih barunya.

Astaghfirullah … ada apa, Rita? Kamu bikin Kakak kaget saja!”

“Aduh, Kak, maaf. Rita lagi pengen emosi, nih. Galau berat tau … Rita nyesek, nyesek banget pokoknya!” 

“Kamu tenang, sabar, sabar! Pergi ke mana selama satu minggu? Tiba-tiba datang penuh kecemasan seperti ini. Kakak jadi bingung.”

“Rita cari suasana baru di rumah teman, Kak. Rita minta tips dari Kakak dong! Rita tuh lagi sakit hati, sakit hati banget pokoknya!”

“Ya sudah, Rita cerita dulu saja sekarang, Kakak dengarin.”

“Tadi tuh, Rita baru saja ngepoin instagram-nya Aldo. Rita shok lihat higlight-nya. Masak iya Aldo secepat itu suka sama cewek lain.”

“Loh, Aldo pacar kamu sejak tahun 2016, kan? Kalian sudah putus?”

“Iya, Kak. Jadi tuh sebenarnya kami sudah putus dua bulan yang lalu. Aku sudah belajar move on. Sudah kublokir semua kontaknya, akunnya juga. Tapi entah kenapa tadi aku tiba-tiba kepo sama instagram-nya. Lalu aku lihat higlight terbaru yang judulnya ‘aksara’. Aku bacanya sambil emosi tahu gak, hiks.”

“Coba lihat isinya seperti apa, sih?”

“Nih, Kak. Lihat!”

Malam ini, akhirnya aku menemukanmu

Rembulan yang tersenyum mendayu-dayu

Entah kapan kulupa melihatmu seperti itu

Kau telah berhasil membuat debar jantung menggebu-gebu

Senang rasanya melihatmu tersenyum, memandangku sekedip sepejam mata

Malam ini kuhanyut dalam cinta

Berharap esok hari kita dapat menjalani kisah bersama

“Terus ini lagi, Kak. Masih ada yang kedua.”

Pertemuan pertama denganmu rasanya biasa saja

Tak ada apapun yang istimewa

Lalu, pertemuan kedua yang kuduga juga seperti biasa,

Ternyata, hal yang berbeda datang secara tiba-tiba

Pada saat bertemunya pandangan empat mata,

Bertukar senyum, canda, tawa dan cerita antara aku dan kamu di sana

Entah apa yang saat itu kurasa

Hati ini berdesir tak biasa sekaligus memberi tanda

Bahwa aku merasakan kembali adanya cinta

Yaaa, cinta! Terlalu tabu untuk diungkapkan oleh kata

Terlalu abstrak untuk digambarkan oleh pena

Dan harapannya, kamu punya rasa yang sama

Semoga saja

“Nah, toh kayak gini gak bikin emosi gimana coba. Masak iya secepat itu sudah suka sama cewek lain!”

“Lah awalnya kalian putus karena apa, sih?”

“Awalnya tuh, dia berhari-hari susah diajak komunikasi. Tiba-tiba dia mau ngomong sesuatu. Nah, sesuatunya itu dia bilang kalau sudah nggak nyaman untuk lanjut hubungan ini.”

Aku menceritakan semua percakapan terakhirku di telepon bersama Aldo kepada Kak Ratna. Perpisahan yang menyedihkan. Mungkin bila dikaitkan dengan kehidupan, setiap manusia menginginkan adanya khusnul khatimah.

Begitupun dengan cinta, bila bersatu untuk selamanya, tentu inilah akhir terbaik yang diharapkan. Namun, bila tidak, maka aku hanya menginginkan adanya perpisahan yang baik. Bukan menyebalkan seperti ini.

“Kenapa kamu nggak minta dinikahin aja?”

“Yaelah, Kak. Rita kan mau lanjut kuliah lagi. Masak iya nikah dulu. Rita belum siap, ah. Kakak aja belum kok.”

“Intinya tuh, aku sudah menerima kalau nyatanya hubungan kami sudah tiada lagi, Kak.”

“Lalu kenapa kamu sakit hati sama Aldo?”

“Ya, aku sebel diperlakukan seperti itu. Aku kira aku sudah berhasil move on. Akhirnya aku memberanikan diri lihat instagram-nya. Eh malah nyesek dan sakit hati.”

“Siapa yang salah coba jika antara kamu dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak saling menyalahkan?”

“Heem … seperti ini perasaan apa sih, Kak? Apa artinya aku tidak bisa move on?”

“Kamu belum bisa melupakannya, Rita. Bukan tidak bisa, tapi belum mau move on tepatnya. Kamu masih suka sama Aldo, kan?”

“Terus apa solusinya? Aku nggak minta diledekin seperti ini!” nadaku mulai ketus. Orang lagi sakit hati malah diledekin. Heeem.

“Tenang dong, cantik. Sekarang senyum dulu. Jangan mudah emosian gini. Mana Rita yang dulu, haaaa?”

“Heemmm.”

“Coba deh, memang segala tentangnya sudah kamu hapus, tapi salahnya kamu masih ingin mencari tahu kabarnya. Inilah petanda bahwa kamu belum totalitas untuk move on.”

“Lalu, aku harus bagaimana, Kak?”

“Kamu itu hanya perlu sedikit waktu lagi, Rit. Semua itu ada tahapannya. Perlahan melupakan, perlahan membenam kenangan, bukan untuk menghapuskan. Tapi, untuk mereda sakit hati yang sedang terjadi. Perbanyaklah berdoa, minta sama Allah kemudahan. Meskipun ini perihal cinta, apa salahnya minta sama Allah supaya dijauhkan dari sakit hati. Lalu minta dimudahkan untuk ikhlas menerima kenyataan,” Kak Ratna memberi jeda, lalu melanjutkan nasehatnya.

“Tenang, kalau kamu sudah melakukan semuanya, kamu tinggal nunggu waktu untuk sembuh saja. Sebab, hati yang terluka itu perlu waktu untuk mengembalikannya seperti semula.”

Aku menarik tubuh Kak Ratna, lalu memeluknya erat. Dia sudah seperti Kakak kandungku di perantauan ini. Sering sekali aku curhat dan minta solusi terhadapnya. Meski terkadang sedikit kesel kalau dia suka bercanda disaat aku lagi nyesek.

“Kuncinya kamu harus cari dunia baru ya, menyibukkan diri dengan hal-hal yang baik. Kalau bisa kesibukanmu nanti membuat tak ada celah sedikitpun untuk mengingat Aldo.”

“Insyaallah mudah sih, Kak, kalau cari dunia baru. Soalnya kita memang LDR-an. Hanya saja aku sangat menyesal kenapa tadi ngepoin dia. Serasa bodoh banget sih aku ini.”

“Sudahlah, lupakan yang tadi.”

“Sebel juga kan, Kak, jadinya. Serasa dikhianatin gitu. Masak iya pacaran bertahun-tahun, ketika putus dia secepat itu suka sama cewek lain. Berarti gak serius dong hubungan sama aku selama ini.”

“Sudah, istirahat sana! Istirahatlah sembari mengubur luka. Maafkan dia yang telah menyakitimu. Percayalah bahwa Allah akan menghadirkan ketenangan dalam hidup dan masa depanmu jika kamu move on Lillah, Rit.”

Aku mengangguk, lalu undur diri dari kamarnya. Aku berjalan sempoyongan dengan berpikir sedikit serius. Mungkin inilah salahku selama ini, telah berani menjalani hal tidak baik yang tentunya menghadirkan luka dan kecewa.

Inikah saatnya aku mengunci hati? Tak menerima cinta siapapun? Haruskah rasaku pergi dari dunia fana ini? Aku takut jika nanti akan hadir rasa sakit dan kecewa dalam balutan rasa yang terlalu abstrak untuk diobati.

Inilah salah satu hal yang sulit untuk diperbaiki. Aku tak mengerti bagaimana caranya mengusir waktu jika nyatanya aku benar-benar tak mampu untuk melepaskannya. Salah satu keputusan iseng yang berakibat menjadi kenyataan.

Namun, semua ini sudah terjadi. Aku harus berusaha memaafkan diri sendiri dan mencoba menjadi pribadi baru yang lebih baik. Aku belajar percaya dengan cara Allah yang selalu memberikanku lebih dari sekadar baik, meski aku tak tahu dengan cara bagaimana.

Banyak sekali momen indahku bersama Aldo yang sulit untuk dilupakan. Meski semua berusaha kuhapus, terkadang aku merasakan kembali bayang keindahannya masa itu. Namun nyatanya, Allah menghadirkan Aldo hanya untuk sementara, bukan selamanya.

Aku menghempaskan tubuh di atas kasur, mencoba memejamkan mata setenang mungkin. Lalu berdoa dan berusaha menimbun semua kenangan bersama Aldo.

Bismillah, tuntun aku ke jalan terbaik-Mu, ya Allah.

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: