Kenapa sih remaja zaman now tidak jago memasak?

Pertama, banyaknya warung makan. Kondisi zaman sekarang sangat memanjakan semua orang di semua urusan, termasuk perut dan makan. Bagaimana tidak, setiap tikungan selalu ada warung makan. Menunya pun bervariasi, mulai dari masakan rumahan hingga yang kebarat-baratan.

Kedua, banyaknya tempat tongkrongan. Ngemil sedikit-sedikit, kenyang kemudian. Anak zaman sekarang lebih sering berkumpul dengan teman-teman di suatu tempat yang bukan di rumah salah satu dari mereka, cafe misalnya. Tak ada logika jika tak ada konsumsi, salah satu kalimat pamungkas ketika berkumpul dengan teman-teman. Ketika berkumpul dan diskusi dengan teman-teman tidak mungkin makan besar, pasti camilan yang disajikan. Karena banyak ngemil makanan ringan, lama-lama menjadi kenyang. Tidak makan besar pun tak mengapa.

Ketiga, semakin banyak penjual makanan kecil yang mengeyangkan dan menyenangkan. Sama halnya dengan semakin banyak tempat tongkrongan. Penjual aneka makanan kecil yang mengeyangkan akan membantu orang-orang lupa makan besar. Alasannya takut nanti tambah berat badan, semakin menggendut jika masih makan besar. Selain mengeyangkan, aneka makanan kecil zaman sekarang juga menyenangkan. Bentuk, warna, dan inovasinya membuat siapa saja tergoda untuk melahapnya.

Keempat, lebih murah. Bagaimana tidak murah, dengan nominal yang sama bisa makan dengan menu berbeda dan jumlah variasinya beda. Jika masak sendiri baru dapat satu macam menu, sedangkan beli masakan matang dapat beberapa menu. Terkadang beli sayuran mentah tidak boleh sedikit, sedangkan masaknya hanya perlu sedikit. Jika masak sendiri ada kemungkinan tidak habis, kemudian dibuang. Sayang.

Kelima, tidak punya alat masak lengkap. Nah, ini alasan yang masuk akal, tapi sebenarnya bukan halangan pula. Bisa kok kita merebus air dengan wajan. Memang keterbatasan alat masak membuat kita dituntut lebih kreatif.

Keenam, fenomena makanan mendatangi orang yang akan memakannya. Iya, zaman sekarang bukan lagi kita yang lapar mendatangi makanan tapi makanan yang mendatangi kita yang lapar. Fasilitas delivery sangat memanjakan orang-orang zaman now.

Ketujuh, kegiatan masak bersama keluarga di dapur rumah sudah semakin langka. Kegiatan ini sangat efektif untuk melatih keterampilan dan kemampuan memasak anak, selain menambah kedekatan antar anggota keluarga. Resep masakan andalan keluarga juga bias diturunkan dari generasi ke generasi melalui kegiatan ini. Sayangnya kegiatan positif ini semakin jarang dilakukan oleh banyak keluarga. Alasan utamanya karena tidak ada waktu. Ah, sayang.

Kedelapan, tidak praktis. Pergi ke pasar atau toko untuk belanja sayur mentah, memotong sayuran, memasaknya, setelah selesai memasak harus bersih-bersih dan beres-beres. Setelah itu baru makan! Uhmm, mending kalau hasil masakannya enak. Kalau enggak? Sudah buang-buang uang, buang tenaga, buang waktu. Lebih baik beli, tidak perlu bersih-bersih setelah memasak, dan yang jelas dijamin enak!

Kesembilan, lebih baik tidur daripada makan. Alamaaak … ada orang macam ini di zaman dunia yang sudah dalam genggaman tangan. Iya, meskipun zaman sudah banyak kemudahan, termasuk dalam urusan makan, masih ada orang yang memilih tidur daripada makan. Bukan, bukan karena tidak punya uang, tapi memang kepribadian mereka seperti itu. Uhmmm … atau dalam benak mereka, dengan tidur perut akan kenyang.

Kesepuluh, kurangnya kesadaran akan makanan yang sehat, halal, dan thayyib. Hemat, enak, dan praktis telah mengalahkan kriteria makanan sehat, halal, dan thayyib. Kita akan tahu semua proses dari hulu hingga hilir jika kita memasaknya sendiri. Berbeda dengan makanan yang kita peroleh saat sudah matang tinggal makan. Kita tidak mengetahui dengan pasti bagaimana makanan itu menjadi siap saji, mulai dari kualitas bahan yang digunakan, proses mendapatkan bahannya, hingga prosesnya memasaknya.

Oleh: Yulia Hartono

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: