Kenapa Salah Pilih Jurusan Kuliah?

Kenapa kamu bisa salah memilih jurusan kuliah?

Pertama, tidak tahu apa minat kamu. Banyak pelajar yang masih belum tahu minatnya apa dan bidang apa yang disukainya. Karena kamu selama ini hanya asyik dengan pergaulan dan lingkungan saja. Terkadang kamu jadi suka menyukai semua bidang, atau malah tidak satu bidang pun. Sebetulnya kamu bisa mulai mengidentifikasi minat kamu lewat nilai-nilai mata pelajaran. Biasanya, yang nilainya tinggi, itu bisa jadi minat kamu. Namun, mengingat ada berbagai macam tipe guru, parameter nilai memang kadang tidak melulu akurat.

Kedua, meniru anggota keluarga. Karena kakak dokter, bapak dokter, kamu jadi ikut-ikutan mau masuk kedokteran. Padahal, nilai biologi jelek, misalkan. Oke, katakanlah karena guru biologinya yang killer. Tapi, apakah betul kamu sendiri senang membaca buku biologi, atau hanya takut keluar dari kebiasaan keluarga?

Salah satu ciri minat itu biasanya, akan selalu menyenangkan dan semangat terhadap segala sesuatu yang bersangkutan dengan bidang tersebut. Tidak pengaruh terhadap karakter gurunya ataupun metoda pengajarannya.

Ketiga, dipaksa orangtua. Beberapa orangtua kadang memiliki ketakutan berlebih akan tingkat kemapanan anaknya. Takut anaknya nanti nggak bisa makan, takut anaknya nanti hidup susah. Membuat beberapa orangtua memaksakan kehendak kepada anaknya. Misal, kamu sukanya menulis, “Menulis itu uangnya nggak pasti, lebih baik kamu masuk jurusan komputer saja. Sekarang itu semua dikendalikan pakai komputer, lowongan pekerjaannya pasti banyak.” Kata si Bapak.

Alhasil kamu jadi terpaksa masuk jurusan komputer dan pas-pasan di bidang itu, karena memang sedari awal terpaksa hanya karena takut kepada orangtua. Padahal, penulis itu kalau best seller uangnya banyak lho! Apalagi kalau sudah best seller terus dibikin film lagi bukunya. Gaji orang komputer di sebuah perusahaan lokal sih, lewat! Nah, gimana supaya best seller?

Keempat, dogma kampus negeri. Image kampus negeri yang cenderung murah dan terkesan ‘anak pintar’ membuat banyak pelajar sangat ingin masuk kampus negeri, apa pun jurusannya. Padahal, apa pun kampusnya, yang penting harusnya adalah jurusannya. Karena jika kamu menyukai jurusannya, di mana pun ia berada, kamu akan selalu bisa berkembang. Karena ketika kita menyukai sesuatu, otomatis kita akan ulet dan terus ingin berkembang di bidang itu.

Kelima, biar dibilang keren. Misalkan, kata teman-teman, masuk teknik itu keren. Karena itu jurusan orang-orang pintar dan kalau kerja gajianya besar, keren sekali bukan. Padahal, kenyataannya, banyak juga insinyur yang nganggur. Jadi, seharusnya bukan karena kerennya, karena besar kecilnya rezeki itu sudah ada yang mengatur dan definisi pintar itu sebetulnya subjektif.

Keenam, kurang luasnya wawasan. Ada anak yang sebetulnya sudah tahu minatnya di bidang psikologi. Namun, karena di keluarganya tidak ada yang bergelut di bidang itu, dan atas keterbatasan pengetahuan seorang pelajar, membuatnya ragu untuk memilih jurusan tersebut. Atau malah, agar merasa aman, kamu tidak jadi memilih jurusan tersebut.

Kamu malah mengikuti kata orangtua atau hanya ikut-ikut temannya saja. Maka dari itu, jika sudah sadar dengan minatnya, segeralah banyak baca dan banyak tanya, agar kelak lebih paham dengan bidangnya tersebut, seperti bisa bekerja menjadi profesi apa dan di instansi apa saja.

Ketujuh, sudah terlanjur. Karena kesempatan yang kecil dalam Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan tidak lulusnya di pilhan utama kampus lainnya, membuat sebagian anak terbuang di pilihan keduanya, yang biasanya adalah jurusan yang tidak kamu sukai hanya untuk yang penting bisa kuliah saja.

Setelah beberapa bulan kuliah, kamu lalu memiliki teman dan lingkungan yang nyaman di pilihan kedua tadi. Sehingga menganggap, “Ah, sudah terlanjur ke masuk jurusan ini. Malas pindah-pindah lagi, di sini juga sudah terbiasa dan nyaman.” Maka kamu biasanya lupa akan minat dan mimpi awal kamu.

Kedelapan, malas berusaha meraih mimpi. Kamu suka dengan seni, misalkan. Kamu suka bernyanyi atau melukis. Kamu tahu betul, impiannya adalah menjadi penyanyi terkenal atau pelukis ternama. Namun, karena hal tersebut terlihat sangat sulit baginya, kamu jadi takut gagal. Maka kamu jadi lebih memilih masuk di jurusan yang banyak dipilih orang-orang lain saja. Seharusnya, jangan pernah takut untuk gagal. Beranilah bermimpi. Usaha dan doa tidak akan pernah akan membohongi hasil.

Kesembilan, kurangnya dukungan sekitar. Masih soal mimpi. Memang, jika tidak ada yang mendukung itu bisa membuat kita jadi tidak percaya diri. Namun, alangkah hebatnya kalau kita bisa membuktikan kemampuan kita kepada semua pihak yang telah meremehkan atau tidak setuju dengan mimpi kita.

Kesepuluh, ketidaknyamanan yang nyaman. Setelah akhirnya masuk dan menempuh jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya tersebut. Kamu akhirnya terjun ke dunia kerja dengan berbekal ijazah dari sebuah bidang yang tidak kamu kuasai. Akhirnya kamu tidak bekerja dengan maksimal, menjadi karyawan dengan jenjang karier yang itu-itu saja. Lalu kamu menyebutnya sebagai kenyamanan (comfort zone).

Padahal, yang jelas-jelas di setiap pagi kamu harus dengan berat hati berangkat ke kantor, beralasan capek lah, masih ngantuk lah. Padahal yang terjadi adalah, kamu sedang terjebak dalam ketidaknyamanan yang kamu sebut sendiri nyaman.

Oleh: Retno Widyani

Tinggalkan Balasan