“Si Vika udah nikah?” Tanya Tante Sonya kepada Mama. Dia teman Mama yang selama 5 tahun ini tinggal di Surabaya.

“Udah jeng. Udah 4 tahun yang lalu,” jawab Mama sambil membuka tutup toples yang berisi makaroni pedas.

“Udah lama ya, udah punya anak?” Tanya si tante lagi sambil mengambil segelas jus jambu bikinan Bi Ijah.

“Belum sih, tapi Vika udah cek kesehatan, dia sehat. Ya mungkin belum dikasih aja,” jelas Mama sambil tersenyum.

“Lakinya mungkin itu yang mandul!” suaranya melengking sampai kamar. Membuatku terhenyak mendengarnya.

Aku yang mendengar kata-kata itu dari dalam kamar, hanya bisa termenung dan meneteskan air mata. Tega sekali Tante Sonya berkata seperti itu. Dia tidak tahu rasanya menjadi aku. Segala upaya dan usaha sudah aku lakukan, tetapi aku bisa apa kalau Allah sendiri belum berkehendak.

Empat tahun yang lalu aku menikah dengan Mas Haris. Kami teman satu almamater. Bagiku dia berbeda dari laki-laki yang lain. Kesederhanaannya membuatku kagum, dan memutuskan untuk menerima pinangannya. Ayahku sempat tidak setuju dengan pernikahan kami, karena Mas Haris berasal dari keluarga yang biasa. Seiring berjalannya waktu, hati ayah luluh dengan sendirinya. Dia melihat kebaikan dan kesabaran Mas Haris dalam membimbingku menjadi wanita yang solehah.

Aku bahagia bisa menikah dengan Mas Haris, walaupun sampai saat ini kami belum dikaruniai seorang anak. Upaya ke dokter sampai terapi herbal sudah kami lakukan, tetapi masih belum menunjukkan hasil. Terkadang aku merasa sedih dan frustasi, namun Mas Haris selalu berhasil membuatku bangkit dan semangat lagi. Baginya tidak ada yang tidak mungkin, selama umatnya mau berusaha dan berdoa.

Sontak lamunanku terhenti saat aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamar. Segera aku usap air mata dan bangkit dari tempat tidur. Aku buka pintu kamar dan memastikan tidak ada air mata lagi yang menetes. Aku tidak ingin orang di balik pintu itu melihat kesedihanku.

“Assalamualaikum,” aku hafal betul suara itu, karena sudah empat tahun aku bersamanya.

“Waalaikumsalam, sudah pulang mas?” tanyaku sambil mencium lembut tangannya.

“Iya sayang. Hari ini cuma rapat, jadi Mas bisa pulang lebih awal,” jawabnya sambil melepas sepatu dan meletakkannya di rak samping kamar.

“Aku buatkan minum dulu ya mas. Mau teh apa kopi?” tanyaku pelan sambil tersenyum.

“Nggak usah sayang. Tadi di rapat habis minum kok. Udah … kamu disini aja nemenin mas.” Aku pun duduk di sampingnya.

“Gimana, pusingnya udah sembuh belum?” dibelainya lembut rambut lurusku dan dikecupnya keningku.

“Alhamdulillah udah enakan kok mas. Oh iya … tadi ada teman Mama main kesini lho, namanya Tante Sonya. Dan dia bahas soal aku yang belum hamil,” jelasku sambil menyender di bahunya.

“Udah jangan di pikir. Kamu kan lagi sakit, jangan terlalu banyak pikiran. Biar lah orang berkata apapun tentang kita. Mereka bisa bicara seperti itu karena mereka tidak mengalaminya sendiri. Mas yakin kamu kuat. Ingat, tidak ada usaha yang sia-sia, tidak ada doa yang tidak dikabulkan, selama kita yakin atas kuasa Allah,” ucap suami sambil memelukku erat.

Tak kuasa aku menahan air mata yang seolah terus mengalir deras, tetapi pelukannya selalu bisa menenangkanku. Dia orang yang selalu berpikir positif. Sepanjang usia pernikahan kami, tidak pernah aku melihat dia mengeluh ataupun berputus asa. Semua itu seolah ditepisnya dalam-dalam.

“Kita jalan-jalan yuukk, dari pada penat di rumah,” ajaknya sambil melepas pelukannya.

“Ke mana, mas?” tanyaku sambil mengusap air mata.

“Yaa … ke mana aja. Kamu mau kemana … aku turutin deh,” di cubitnya kedua pipi gembilku lembut.

“Siap boss!!” dengan semangat 45 aku bangkit dari tempat dudukku dan aku daratkan kecupan di pipi kanannya. Bergegas aku berganti pakaian dan siap untuk jalan-jalan sore bersama Mas Haris.

***

Sampailah kita di taman kota. Ini adalah tempat favorit kita berdua. Di malam hari, aku bisa memandang luas ke angkasa yang dipenuhi kerlap kerlip bintang. Mas Haris sering membawaku ke sini, walaupun hanya untuk sekedar menghilangkan penat. Dipesannya dua es teh manis dan satu bungkus kacang rebus di warung angkring sebelah taman. Dia tahu betul apa yang menjadi kesukaanku.

“Assalamualaikum,” suara itu datang dari seorang laki-laki tua yang tiba-tiba datang menghampiri kami.

“Waalaikumsalam,” jawab suami sambil tersenyum kearah bapak tua itu.

“Maaf mas, saya mengganggu,” kata bapak itu polos sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Mas Haris.

“Tidak apa-apa pak, mari silakan duduk,” dipersilahkannya bapak tua itu duduk disamping Mas Haris.

Akhirnya bapak tua itu mengutarakan maksud dan tujuannya mendatangi kami. Dia mengatakan bahwa saat ini anak dan istrinya sedang berada di masjid yang tidak jauh dari taman. Mereka bertiga tidak punya tempat tinggal lagi. Selama ini mereka menumpang di rumah adik mereka, tetapi setelah bapak itu diberhentikan dari pekerjaannya karena pengurangan karyawan, mereka diusir oleh adik ipar mereka.

Bahkan uang pesangon si bapak pun diambil oleh adik iparnya. Mereka bingung harus tinggal dimana. Jangankan pulang ke kampung halaman, untuk makan saja mereka tidak sanggup.

“Pak, saya ikut prihatin dengan apa yang menimpa bapak. Ini ada sedikit rejeki dari saya untuk bapak dan keluarga. Tidak seberapa, tapi semoga bisa membantu,” dikeluarkannya amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang. Aku sangat yakin itu adalah gaji bulanan yang dia terima hari ini.

“Ya Allah … banyak sekali mas. Saya tidak bisa terima ini,” kata bapak itu sambil mengembalikan amplop pemberian Mas Haris.

“Tidak pak, ini rezeki dari Allah. Tolong diterima,” Mas Haris kembali menyodorkan amplop berisi uang tersebut.

Akhirnya bapak tua itu berterima kasih dan mau menerima uang pemberian Mas Haris. Tidak hanya satu, dua atau tiga kali dia berbuat seperti itu kepada orang lain. Dia selalu tidak tega melihat penderitaan orang lain. Baginya harta itu amanah. Ada hak orang lain di dalamnya.

Satu bulan kemudian.

“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah,” ucap syukurku di depan kamar mandi sambil memegang test pack.

“Ada apa sayang?” suami pun penasaran dan langsung datang menghampiriku.

“Alhamdulillah, positif mas,” aku girang bukan kepalang. Aku peluk erat suamiku itu sambil terus berucap syukur.

“Alhamdulillah, mas senang sekali dengarnya. Terima kasih Ya Allah, Engkau sudah mengabulkan doa kami,” dipeluknya erat diriku sambil diciumnya keningku.

Untuk memastikan, kami pun periksa ke dokter. Ternyata benar, aku positif hamil dan sudah jalan 5 minggu. Seketika air matapun menetes, aku benar-benar bahagia. Kesabaran kami selama 4 tahun akhirnya berbuah manis.

Benar kata Mas Haris, tidak ada usaha yang sia-sia, tidak ada doa yang tidak dikabulkan, asalkan kita percaya akan kuasa Allah. Dan sekarang aku percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat.

Oleh: Ari Madega.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: