Lebaran masih beberapa bulan lagi. Tapi bagi Zahra, sulungku, waktu lebaran akan tiba dengan cepat. Lebarah tahun ini akan menjadi lebaran kedua yang membuatnya resah. Bukan berarti ia tak suka lebaran. Lazimnya bocah, lebaran adalah pesta baginya; banyak makanan, saudara-saudara berkumpul, dan banyak angpao. Tapi, ada secuil gundah yang mulai melandanya. Saat ini.

“Buk, lebaran nanti gimana kalau Bapak kemari?” tanyanya beberapa hari yang lalu.

“Ya nggak apa-apa to Bapak kemari. Memangnya kenapa?” jawab saya, seolah-olah tidak tahu kemana arah pembicaraannya.

“Zahra takut kalau diajak Bapak ke rumahnya,” keluh Zahra, persis sama seperti jelang Lebaran tahun lalu.

Mendengar keluhan seperti itu, ada miris dalam batin saya. Saya ingin dia melewati lebaran dengan sepenuhnya ceria seperti anak-anak yang lain. Tapi di sisi lain, Zahra memang berbeda, dan saya harus bisa membantu mengatasi kesulitannya. Bagaimanapun, rasa yang dialami Zahra karena perceraian saya dengan bapaknya.

Saya bercerai dengan bapaknya Zahra ketika usia Zahra masih setahunan. Dia belum begitu mengenal sosok bapaknya. Semenjak perceraian itu, saya kehilangan kontak dengan mantan suami. Otomatis, tidak ada komunikasi antara Zhra dengan bapaknya selama beberapa tahun.

Zahra mengenal bapaknya setelah dia cukup besar.

Dua tahun terakhir, setiap lebaran, bapaknya datang ke rumah untuk bertemu Zahra. Saya tidak pernah membatasi atau menghalangi beliau untuk menemui anaknya. Pun sebaliknya, saya tidak pernah meminta atau menyuruhnya menemui Zahra. Saya pikir beliau sudah kelewat dewasa, sudah sangat tahu bagaimana seharusnya sikap bapak terhadap anak.

Tiga tahun terakhir, Zahra sudah memiliki seseorang yang ia panggil ‘abi’. Beliau ayah tiri Zahra. Dengan abinya inilah Zahra menemukan sosok ayah yang sebelumnya tidak ia dapati. Zahra bisa berkeluh kesah, bisa bermanja minta ini dan itu, bahkan bisa merasakan bagaimana dimarahi oleh seorang ayah.

Beberapa kali saya temukan gambar dalam buku-bukunya yang menggambarkan anggota keluarga; pasti yang ditulisnya adalah abi, bukan bapak. Ini satu tanda bahwa ‘abi’ rupanya lebih merasuk dalam batinnya daripada ‘bapak’.

Dalam hal ini, saya tidak mau mencampuri urusan perasaan Zahra. Perihal dia mencintai abinya, saya bersyukur sekali. Meski ayah tiri, alhamdulillah bagi Zahra tidak masalah. Saya pun bersyukur karena suami saya mampu menempatkan diri dengan baik hingga beliau dicintai oleh Zahra sebagaimana ayah kandung. Itu adalah berkah bagi Zahra. Bagi saya sendiri, berasa lunas hutang saya karena pernah ‘menghilangkan’ kasih sayang ayah untuk Zahra akibat perceraian.

Kembali pada permasalahan sebelumnya; tentang keresahan Zahra. Biasanya, jika bapaknya berkunjung, beliau lantas mengajak Zahra ke rumahnya. Inilah yang membuat Zahra tertekan. Satu sisi, ia enggan menginap di rumah bapaknya.

Zahra merasa asing dengan keluarga bapaknya, bahkan dengan bapaknya sendiri pun ia merasa demikian. Tapi di satu sisi, Zahra memiliki perasaan yang halus. Ia merasa kasihan jika menolak permintaan bapaknya.

“Nduk, Zahra pinginnya ke rumah Bapak ataukah tidak? Kalau kamu ingin ke sana, nggak apa-apa. Nanti biar abi yang jemput kalau kamu mau pulang,” kata saya akhirnya. Saya coba membantunya mendapatkan ketetapan hati.

“Tapi, aku nggak kerasan di sana, Buk. Aku maunya kalau Bapak ke sini, aku nggak diajak ke rumahnya,” kata Zahra lagi.

“Kalau Zahra nggak mau ke sana, ya nggak usah ke sana nggak apa-apa juga. Zahra tidak perlu takut sama Bapak. Zahra bilang aja berterus terang kalau Zahra nggak ingin ikut ke rumahnya. Yang penting, mana yang membuat Zahra hepi aja.”

Hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya tidak mengarahkan Zahra untuk begini atau begitu. Mana yang nyaman untuk perasaannya saat ini, saya mendukung itu. Dia mencintai ayah tirinya, alhamdulillah.

Dia merasa asing dengan bapaknya, juga biarlah. Anak saya perlu berproses untuk menjadi dekat dengan ayah kandungnya, mengingat pertemuan mereka hanya setahun sekali setiap lebaran. Saya pikir, sing nandur manen (siapa yang menanam, dia menuai). Dalam hal ini, beruntunglah ayah tirinya yang benar-benar berusaha menjadi ayah.

Sebagai ibu, pantang bagi saya untuk mengatakan keburukan bapak kepada anaknya.

Masalah mengapa perceraian terjadi, itu bukanlah hal yang patut saya ceritakan kepada Zahra. Kecuali nanti, barangkali dia bertanya, ketika usianya sudah dewasa. Dan saya pun merasa wajib melepasnya dari rasa tertekan. Jika dia merasa belum sanggup untuk akrab dengan bapaknya, biarlah Zahra lakukan apa yang dia mau. Rasa cinta tidak bisa dipaksa-paksa.

Terkadang, timbul perasaan kecewa terhadap mantan suami. Semestinya, jika beliaunya berniat menjalin hubungan baik dengan anak, mbok ya tidak setengah-setengah, tidak nanggung semacam itu. Bertemu sekali dalam setahun, lalu setelah itu menghilang lagi tanpa bisa dihubungi, bagaimana perasaan anak bisa menjadi dekat?

Menjadi beban tersendiri bagi saya ketika mendengar keluhan Zahra semacam itu. Ada rasa bersalah juga sebab adanya perasaan semacam itu tidak bisa lepas dari kesalahan orangtua. Tapi balik lagi, apa mau dikata? Beginilah jalannya takdir. Harus dihadapi apa adanya.

Berbahagialah siapa pun yang tidak pernah mengalami perceraian (tanpa mengesampingkan bahwa bukan berarti yang bercerai tidak bahagia). Meski boleh, meski halal, perceraian tetap menyisakan bekas yang sulit hilang. Terutama bagi mereka; anak-anak polos yang harus turut menanggung akibatnya.

Oleh: Ririn Astutiningrum.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: