Rasanya bosan, sudah lama kerja tapi gaji masih saja belum sesuai harapan. Setiap kali terima gaji bukannya senang, malah semakin pusing karena bingung mengalokasikan untuk kebutuhan.

Karena peningkatan biaya hidup tidak diikuti kenaikan gaji. Sehingga daya beli karyawan semakin menurun. Pengin belanja, tapi dananya memprihatinkan.

Masalahnya bukan karena kita yang boros, tetapi kurang mampu mengatur penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pemasukan bulanan sih ada, tapi saat dibelanjakan ternyata enggak cukup untuk menutup kebutuhan.

Kondisi seperti ini biasanya bisa jadi sumber keributan dalam rumah tangga. Istri menuntut nafkah dari suami, sedangkan suami merasa bersalah karena tak mampu menafkahi.

Kalau belum menikah bagaimana?

Tentu saja masalah seperti ini tidak terlalu rumit. Karena orang yang belum menikah kan kebutuhannya tidak sebanyak orang yang sudah menikah. Tidak ada kewajiban menafkahi.

Di sini saya akan melihat permasalahan dari sisi karyawan. Terlepas dari status kita sudah menikah apa belum. Saya coba mengulas sebuah kondisi dimana kita sebagai karyawan yang sudah lelah bekerja, tapi gaji yang diterima tidak pernah naik. Enggak mengikuti beban kerja dan kebutuhan yang setiap waktu semakin bertambah.

Kenapa melihat dari sisi karyawan?

Karena jika kita lihat dari sisi perusahaan bisa jadi kita akan berprasangka buruk terhadap perusahaan. Padahal bisa saja kan memang kondisi keuangan perusahaan tidak mampu menggaji karyawan lebih tinggi.

Akan lebih sulit menuntut perusahaan untuk memberikan gaji yang layak ketimbang memantaskan diri untuk menerima gaji yang layak. Kalau kita terus menuntut, bisa saja malah kita akan dicap jelek oleh perusahaan. Apalagi jika secara nyata sumbangsih kita terhadap perusahaan belum seberapa.

Tentunya kita sebagai karyawan merasa gelisah dan bertanya-tanya ketika gaji kita tak sesuai harapan. Apalagi jika kondisinya berlangsung lama dan sudah menimbulkan banyak permasalahan.

Sering kali kita kemudian berpikir, “Apa sebaiknya saya pindah kerjaan saja, ya?”

Padahal ketika pindah kerjaan pun belum tentu menyelesaikan masalah. Memang secara finansial mungkin pemasukan bertambah, tapi hal-hal lain patut dipertimbangkan sebelum benar-benar memutuskan pindah kerjaan.

Jangan sampai nantinya kita menyesal. “Duh, ternyata di mana-mana kerja sama saja. Sama capeknya, gajinya juga segitu-gitu saja.”

Coba introspeksi diri, sudah layakkah kita mendapatkan gaji lebih dari itu?

Lihat komitmen kita terhadap perusahaan. Pernah enggak sih kita diam-diam melanggar kontrak kerja yang sudah ditandatangani? Diam-diam melamar kerja di tempat lain, misalnya. Atau coba-coba melanggar aturan perusahaan.

Tentu perusahaan akan mikir-mikir mau ngasih gaji yang layak untuk karyawan yang enggak punya komitmen terhadap perusahaan. Barangkali juga akan berpikir dua kali ketika mau menawarkan perpanjangan kontrak baru.

Kalau komitmen saja enggak punya, bagaimana seorang karyawan akan loyal sama perusahaan?

Yang ada justru mereka akan menghambat kinerja perusahaan. Karena mereka yang enggak punya komitmen pasti akan bekerja setengah hati. Sehingga output yang dihasilkan dari kerjaan mereka juga tidak maksimal.

“Ah, toh perusahaan juga tidak tahu kalau saya diam-diam masukin lamaran di tempat lain.”

Mungkin beberapa karyawan pernah berpikiran begitu. Tetapi perlu diketahui bahwa di perusahaan ada yang namanya penilaian kondite. Sebuah penilaian yang berdasarkan baik buruknya perilaku karyawan.

Penilaian ini dilakukan secara diam-diam oleh bagian SDM. Hasil penilaian kondite ini biasanya menjadi pertimbangan untuk menentukan “masa depan” karyawan di sebuah perusahaan.

Setelah komitmen, coba lihat niat dan usaha yang sudah kita lakukan. Jangan-jangan kita melupakan makna ibadah dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.

“Jangan lupa niatan mencari ridho Allah. Yang berdagang pun demikian. Mencari keuntungan dunia boleh, tapi meruhanikan yang kita kerjakan jangan ditinggal.” Kurang lebih begitu nasihat Cak Nun.

Kita kerja tentunya ingin dapat gaji untuk menafkahi keluarga, tapi jangan lupa niatkan bekerja sebaik-baiknya agar Allah ridho dengan yang kita kerjakan.

Ketika kita kerja membuat laporan, pastikan kita membuatnya dengan sebaik-baiknya laporan. Dengan data yang sebenarnya, dengan ulasan yang apa adanya, dan mengharapkan ridho Allah dengan apa yang akan kita laporkan sebagai bentuk pertanggungjawaban pekerjaan kita.

Kalau niat dan usaha kita sudah baik, masa sih Allah enggak ngasih rezeki yang baik buat kita?

Yakin dah. Allah itu Mahabaik, jadi enggak perlu khawatir apa yang kita kerjakan akan sia-sia. Enggak ada yang sia-sia, semua yang kita kerjakan pasti ada manfaat dan hikmahnya.

Kalau kita enggak mampu menangkapnya, bisa jadi orang lain yang menangkap manfaat dan hikmah dari apa yang kita kerjakan.

Ketika kita sudah capek bekerja dan gaji tetap segitu aja, yakinlah ada manfaat dan hikmah dari yang sudah kita kerjakan. Tak perlu disesali.

Sebaiknya justru kita syukuri karena masih diberi kemampuan untuk bekerja dan berusaha. Bahwa Allah Swt masih memberi kita nikmat yang tiada batas.

Perlu kita sadari bersama bahwa rezeki yang Allah kasih sebenarnya tidak semata-mata berbentuk gaji atau uang. Mungkin secara tertulis di slip gaji nominalnya kecil, tapi pernahkah kita berpikir kenyataannya Allah Swt selalu mencukupi kebutuhan hidup kita?

Akan sangat disayangkan jika seorang karyawan merasa apa yang dia kerjakan sia-sia ketika mempertimbangkan gajinya yang kecil. Akan sangat rugi jika seorang karyawan merasa uang adalah tujuan utama dari apa yang dia kerjakan.

Hingga kemudian mengabaikan niatan mencari ridho Allah Swt yang seharusnya menjadi landasan dalam setiap aktivitas dalam hidup manusia.

Nah, semoga kita bisa tetap menjadi karyawan yang mampu memaknai setiap pekerjaan kita sebagai ibadah. Aamiin.

Oleh: Seno Ners.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: