Ketika Gagal, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Gagal mencapai suatu tujuan, apa pun itu, jelas pahit. Mengecewakan. Membiakkan kesedihan.

Penyebab lahirnya perasaan-perasaan tak nyaman itu semata lantaran kenyataan tak sesuai keinginan. Ya, mari catat tebal, KEINGINAN.

Bagaimana caranya agar suatu keinginan bisa menjadi kenyataan? Tapi, begini saja dulu, sebelumnya, bagaimana cara mendudukkan suatu keinginan di hadapan potensi sukses atau gagalnya?

****

Terbitnya suatu keinginan sejatinya merupakan konsekuensi logis belaka dari denyut hidup kita. Orang mati tak bakal punya keinginan sama sekali. Benda mati, semuanya, termasuk manusia yang telah mati, tak butuh keinginan.

Maka mafhumi sajalah jika kita yang hidup ini selalu saja menyimpan keinginan. Iya, menyimpan. Soal dilejitkan ke permukaan atau tidak, itu lain hal. Tergantung “tali kendali” pada setiap orang.

Semakin kendor tali kendalinya, semakin berjubellah letupan keinginan itu menimpukinya. Walhasil, konsekuensi logis berikutnya, hidupnya jadi semakin berat, tinggi, dan meletihkan.

Cobalah kalian pancangkan keinginan punya laptop baru. Meski sudah punya laptop yang masih bisa dipakai.

Niscaya kalian akan berjuang mewujudkannya, mengarahkan segala sumber daya yang ada, dari pikiran, strategi, kerjaan, hingga waktu dan dana.

Tatkala laptop itu sudah dimiliki, kalian senang. Bahagia. Tapi ya sebentar saja. Akibat desakan keinginan lain lagi. Misal ingin motor baru. Meski sudah ada motor lama yang masih bisa dipakai. Perasaan-perasaan nyaman itu seketika tenggelam. Persis tenggelamnya senja yang mempesona ditelan malam yang jelaga.

Keinginan punya motor baru itu lagi-lagi akan menggelorakan pikiran, strategi, kerjaan, hingga waktu dan dana kalian. Masa-masa itulah yang akan menenggelamkan perasaan-perasaan nyaman tadi digantikan perjuangan-perjuangan (lagi) demi mewujudkan keinginan baru itu (lagi).

Terus begitu. Kondisi terus-menerus tenggelam begitu jelas akan membuat hidup kalian kembali (selalu) berat, tinggi, dan meletihkan. Setidaknya bila dibandingkan dengan teman kalian yang tak ingin punya laptop dan motor baru.

Itu bila diandaikan keinginan-keinginan kalian terwujud. Tergapai. Bagaimana bila ternyata gagal?

Ketimpuk dua kali perasaan tak nyaman. Pertama, impian (ekspektasi) pada suatu keinginan niscaya telah mengibarkan angan-angan luar biasa perihal kenyamanan-kenyamanan yang akan diteguk dari keterwujudan keinginan itu. Saat tak tercapai, atawa gagal, jelas sakitnya akan luar biasa. Stres. Kalut.

Kedua, gelegar perjuangan-perjuangan secara pikiran, strategi, kerjaan, hingga waktu dan dana yang telah dialokasikan akan memperparah rasa kecewa pada kegagalan itu.

Ternyata, sekalinya kita melambungkan suatu keinginan (apalagi berjubel keinginan) kita mesti siap diri seketika untuk menuai potensi perasaan-perasaan tak nyaman dua kali lipat ketimbang potensi perasan-perasan nyamannya. Risiko kecewa dua kali lipat potensinya.

Itulah kiranya poin sangat penting yang kudu dipahami sedari dini dalam mendudukkan potensi sukses atau gagal pada hidup ini.

Milih potensi yang mana?

****

Lepas dari pilihan kalian yang merupakan konsekuensi logis dari masih hidupnya kalian, hal berikutnya yang mendesak untuk segera pula dipahami ialah bagaimana caranya agar suatu keinginan bisa menjadi kenyataan.

Maaf kata, ya, sesungguhnya ungkapan tersebut hanya godaan buat kita semua, termasuk diri saya sendiri. Saya sebenarnya hendak mengatakan: bagaimana cara terbaik dalam bersikap ketika gagal?

Surat al-Hadid ayat 22 dan 23 menuturkan begini:

“Tiada suatu peristiwa (kejadian) yang terjadi di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu tidak berputus asa terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu tidak terlalu bangga terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Mari kita cerna dengan ringan-ringan belaka. Ternyata, lucu ya kita ini. Lucu sekali.

Kelucuan bahwa kenyataannya kita ini sangat gemar menguber hal-hal yang telah ditetapkanNya sebelum kejadian-kejadian (baca: kegagalan-kegagalan) itu terjadi.

Ya, memang kita tak pernah tahu suatu keinginan itu ditetapkanNya gagal atau sukses. Pengin laptop baru, misal, kita tak tahu memang apakah tahun 2018 kita ditetapkanNya memilikinya atau tidak.

Nah, untuk kondisi tak tahu itulah Allah memberikan pegangan prinsipnya buat kita: “agar tak putus asa pada apa yang belum dicapai (gagal) dan berbangga hati pada apa yang telah dicapai (sukses).”

Ingin laptop, misal, itu dorongan keinginan dari hidup kita, lahiriah kita. Lalu kita berjuang dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Padahal, telah digariskan olehNya laptop itu akan dicapai atau tidak, tapi kita tak dikasih tahu keputusan yang telah dicatatkan itu.

Kita tak dikasih tahu olehNya semata agar kita tak berputus asa pada pertolonganNya. Ikhtiar lahiriah dan doa menjadi jalan rasional dan keimanan kita pada kuasaNya yang telah menentukan tercapai tidaknya laptop itu.

Maka ketika ternyata hasilnya negatif, laptop tak berhasil kita gapai, ada Allah beserta keputusanNya yang menjadi jujukan kita. Rujukan finalnya: inilah takdir yang telah ditetapkanNya di Lauh Mahfudz, yang selama ini karena saya tak tahu maka saya berikhtiar keras dan ketika telah terjadi alias tahu maka tawakkaltu ‘alallah. Tak ada lainnya lagi.

Tak ada yang perlu disesali, disedihi, atau disalah-salahkan dari sebuah kegagalan. Itu telah ditentukanNya jauh sebelum hal itu terjadi dan itulah yang terbaik bagi hidupku.

Selesai. Semua jadi ringan saja, kan?

Oh, masih berat dan kecewa pada kegagalan itu?

Ah, itu tanda bahwa kalian masih dikuasai gelora hawa nafsu. Ambil wudhu, shalat, lalu ngajilah. Insya Allah segera aman.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

2 thoughts on “Ketika Gagal, Apa yang Harus Kita Lakukan?”

  1. kalau saya sendiri memang sudah dibiasakan tidak terlalu ngoyo ngejar keinginan, benar adanya jika manusia hidup yo mesti punya keinginan, cuma lebih belajar memperhitungkan sesuatu aja sih, jadi ketika tercapai gimana enggak tercapai gimana yowis kebayang.

Tinggalkan Balasan