Mentari baru saja muncul dari peraduan. Temaram sinarnya masih malu-malu menyapaku. Pagi itu, entah mengapa aku merasa lelah. Selepas ibadah salat Subuh, aku kembali merebahkan badan. Tidak seperti biasanya memang. Suasana aku rasakan sangat nyaman untuk kembali tidur. Namun, aku teringat bahwa Senin lusa adalah hari pertama ujian semester duaku. Aku tidak mau IPK-ku anjlok. Maka, pagi itu aku putuskan untuk membuka modul perkuliahan yang tertumpuk rapi di meja belajarku.

Hampir satu jam mataku seperti lampu disko. Terpejam dan terbuka bergantian tanda agak mengantuk. Aku masih bertahan, demi ujian akhir semester. Jarum jam menunjukkan pukul 05.50. Di antara sadar atau kantuk tiba-tiba terdengar suara seperti angin ribut. Kamarku berguncang hebat. Ruangan berukuran 3 x 3 meter itu seakan mau tumpah. Tembok bagian barat kamarku mulai mengelupas kulit luar dan batu batanya. Suara gesekan genteng terdengar jelas membuatku ngeri.

Di tengah kekacauan itu, aku beruntung masih sempat berpikir logis. Ini gempa. Jika aku berlari ke luar rumah, aku bisa tertimpa genteng. Aku segera bersembunyi di kolong tempat tidur. Tidak sampai satu menit guncangan telah berhenti. Suasana sepi tiba-tiba berubah menjadi riuh. Teriakan-teriakan orang di luar rumah memecah sunyi pagi itu.

“Iwan … Iwan … Bapak … Bapak, cepat keluar dari rumah!”

“Simbah … Simbah, di mana Simbah?” sahut suara yang lain.

“Cepat, ayo keluar dari rumah! Sebelum ada gempa lagi, cepaaat!”

Bapak, Simbah, dan kakak keduaku hampir bersamaan keluar dari rumah. Simbah Putri yang sudah sepuh segera dipapah oleh dua kakak perempuanku. Bapak yang pagi itu sedang membersihkan sepeda motor tampak sangat bingung dan panik. Aku sendiri cukup kesulitan mencari jalan keluar. Pintu tengah tidak bisa kubuka. Aku paksa sekalipun tetap tidak bisa terbuka. Aku keluar paling akhir. Akhirnya aku keluar dari pintu samping rumah yang sudah terbuka. Semua beristighfar. Lantunan kalimatullah terdengar dari masing-masing mulut kami. Semua tampak sangat ketakutan. Cemas, bingung, bahkan ada yang belum percaya baru saja bencana dahsyat melanda.

Tidak ada yang berani mendekati rumah. Kami sekeluarga, bersama dengan tetangga sudah berkumpul di halaman rumah. Kebetulan halaman rumah kami cukup luas. Belum ada yang tahu betul bencana apa yang sebenarnya terjadi. Perkiraanku, gempa itu adalah efek dari Gunung Merapi yang kala itu sedang bergejolak. Namun, ternyata salah. Info dari teman yang rumahnya di daerah Pakem, ternyata bukan Merapi penyebab gempa itu.

Hampir dua jam, aku dan warga di kampungku hanya duduk, berdiri, berbincang, di halaman atau jalan kampung. Belum ada tindakan yang bisa aku lakukan. Ibaratnya, aku dan orang-orang masih terkesima, seakan tidak percaya. Tidak ada kesiapan sama sekali. Beruntung, warga di kampungku tidak ada yang sampai meninggal dunia dalam musibah ini.

Pukul 08.00, di tengah kecamuk perasaan sedih, bingung, dan tentu saja takut, terjadilah kekacauan lagi. Seseorang yang aku kenal, tinggal di kampung sebelahku, melintas sembari berteriak lantang.

“Air … air … air laut meluap. Tsunami … tsunami …. ayo segera lari!”

Seketika, bubarlah kerumunan orang di kampungku. Berlari, memacu motor bagi yang punya. Sebagian mengambil mobil dan segera melaju. Sebagian lainnya lagi berlari tanpa entah tahu akan ke mana. Semua tidak bisa berpikir logis kecuali untuk menyelamatkan diri.

Wajar menurutku. Jarak kampungku dengan Laut Selatan tidak sampai 5 km. Terbayang kejadian Aceh tahun 2004 silam. Entah berapa belas kilo meter wilayah daratan yang tersapu gelombang tinggi itu. Tidak ada satu pun, yang bisa lepas dari ketakutan itu. Termasuk aku dan keluargaku.

Bapak dan kakak keduaku, memboncengkan simbah dan segera melaju ke arah utara. Entah hendak ke mana. Menjauhi arah laut adalah intinya. Ibu dan kakak perempuanku berlari ke arah persawahan. Menjauhi bangunan, dan berpasrah diri jika tsunami memang datang. Kakak perempuanku yang lain sudah pergi bersama suami dan anaknya yang baru berusia 4 tahun.

Aku sendiri?

Kembali, aku masih bisa berlogika. Aku memberanikan diri masuk ke rumah. Aku ambil sarung dan dompet. Dompet yang entah ada isinya atau tidak. Maklum, mahasiswa tahun pertama, isi dompet hanya sisa-sisa uang saku dari orang tua. Identitas harus kubawa, pikirku kala itu.

Sepeda motor satu-satunya sudah dibawa Bapak. Sepedalah yang kemudian aku ambil.

Bermodal uang yang tidak sampai 50 ribu, bersarung dan bersepeda aku mulai menjauhi arah laut. Ratusan motor dan mobil menyalipku tiada henti. Bahkan hewan ternak pun ikut pergi. Diangkut oleh empunya. Sejauh apapun aku berlari, jika Allah menghendaki, bisa apa aku.

Aku terpisah dari keluargaku. Entah akan bertemu lagi atau tidak. Aku pasrah. Namun, jujur aku masih optimis dengan keadaanku kala itu. Logikaku berjalan lagi. Tsunami tidak akan datang dua jam setelah gempa. Kabar bohong mungkin yang aku terima tadi.

Di tengah pelarianku, aku bertemu Mbah Zen. Beliau adalah guru mengajiku. Beliau bersepeda juga. Terpisah dari keluarga, sama sepertiku. Beruntung aku bertemu dengan beliau. Aku jadi ada teman dalam pelarian itu.

“Mbah, bagaimana keadaan masjid?” tanyaku penasaran.

Alhamdulillah, masjid ora rusak. Ning warga wis padha bubar. (Alhamdulillah, masjid tidak rusak. Tetapi warga sudah bubar).”

Aku menanyakan keadaan masjid, karena waktu itu kami sedang merenovasi masjid secara total. Aku merasa khawatir masjid rusak, padahal sedang dalam proses pembangunan. Namun, aku bersyukur, masjid kami masih kokoh berdiri, meski belum rampung direnovasi.

Hingga pukul 11.00, tsunami yang aku takutkan ternyata tidak datang. Meski rasa takut masih ada, namun akhirnya luluh juga oleh logika. Berangsur-angsur warga kembali ke rumah masing-masing. Aku bersyukur, kembali berkumpul dengan keluargaku. Di tengah kebahagian berkumpul kembali, masalah datang. Akan tidur di mana malam ini? Sedangkan simbah sudah sepuh. Harus ada tempat untuk istirahat beliau.

Tercatat selama seminggu aku dan keluargaku tidur menumpang di rumah tetangga. Kebetulan rumah tetangga samping rumah tidak rusak. Namun, rasa takut masih menghantui. Jadi, keluargaku tidur hanya di teras saja. Aku sendiri, tidur di mana saja, asal ada tempat teduh ibaratnya. Di teras tetangga, di gardu, atau di emperan kios milik tetangga tidak mengapa.

Luar biasanya, malam hari setelah gempa, hujan turun dengan lebat. Padahal waktu itu adalah musim kemarau. Listrik otomatis padam. Penerangan seadanya, bisa dari lilin atau lampu emergency. Gempa susulan terjadi sehari bisa lebih dari 15 kali. Untung saja dalam skala kecil. Lama-lama aku pun terbiasa. Suasana sangat sepi. Gelap dan mencekam. Sesekali polisi berpatroli sembari mengabarkan bahwa tidak ada tsunami.

***

Larut dalam kesedihan tidak akan mengubah keadaan. Allah sudah menggariskan bencana ini kepadaku, kepada kami warga Bantul khususnya. Gempa yang merengut tidak kurang dari 6000 jiwa. Namun, bagiku sendiri, tidak satu pun aku melihat orang meninggal kala itu. Maklum, aku tidak sempat mengungsi atau melarikan diri ke tempat yang jauh. Di kampungku sendiri, Allah masih memberikan perlindungan-Nya. Tidak ada korban jiwa.

Hampir seminggu gempa telah berlalu, kami mulai bangkit. Tahapan awal yang aku kerjakan bersama warga lainnya adalah membangun tempat tinggal sementara. Di halaman rumahku dibangun shelter menggunakan seng dengan rangka bambu. Tiga keluarga menempati shelter di halaman rumahku ini. Simbah dan keponakanku yang masih berusia 4 tahun ditempatkan di tenda tersendiri. Untuk sementara waktu masalah tempat dapat diatasi.

Masalah bahan makanan, aku masih bisa bersyukur. Bapak masih memiliki simpanan beras dalam beberapa kantong hasil panen sawah kami. Bahan makanan lain, seperti sayuran dan lauk masih bisa kami ambil dari rumah. Meski harus dengan sangat hati-hati, beberapa warga sudah berani memasuki rumah. Sekadar mengambil bahan makanan atau baju untuk ganti.

Gempa membangkitkan semangat kebersamaan warga. Gotong royong, saling berbagi, saling membantu, secara alami tumbuh dalam diri kami. Mulai dari tempat tinggal, makanan, dan kebutuhan pokok lainnya, kami bagi untuk kepentingan bersama. Ibu-ibu dan remaja putri fokus menangani masalah dapur. Aku beserta remaja laki-laki lain dan bapak-bapak bergotong royong membersihkan puing-puing reruntuhan.

Bahkan seiring berjalannya waktu, aku juga ikut membangun rumah, meski hanya sebatas yang aku mampu. Intinya bahwa dalam keadaan terpaksa, pekerjaan apapun dapat dilakukan. Apalagi ini berkenaan dengan penanganan musibah.

Aku benar-benar merasakan menjadi korban bencana alam. Dahulu ketika di televisi aku melihat korban bencana, aku merasa iba. Kini, aku mengalaminya. Rumahku ada di pinggir jalan besar. Tidak jarang tiba-tiba ada orang lewat berhenti di depan rumahku. Nasi bungkus, sembako, peralatan mandi, dan lain-lain sering aku dapatkan. Bukan aku yang meminta, para dermawan itulah yang hadir membantu.

Sungguh, di dalam musibah, aku merasakan kasih sayang dan perhatian nyata bahkan dari orang-orang yang tidak aku kenal. Bagaimana dengan orang yang sudah kenal baik denganku? Tidak perlu dijawab. Mereka, kawan-kawanku, banyak sekali memberi bantuan moral dan material yang tidak dapat dihitung besarnya.

Satu hal penting yang patut untuk selalu dikenang adalah semangat warga. Kebersamaan, saling membantu, dan tentu saja kekuatan move on dari bencana dahsyat itu sangat berharga ternyata. Tercatat bahwa penanganan dan pemulihan bencana gempa di Bantul ini termasuk yang tercepat dan terbaik di Indonesia. Sinergi dari berbagai pihak dan kekuatan warga adalah kuncinya.

Beruntung bagi kita yang mampu mengambil hikmah dari berbagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Gempa itu sangat dahsyat dan mengerikan. Meluluhlantakkan harta, benda, bahkan nyawa. Banyak anak menjadi yatim, piatu, bahkan yatim piatu. Banyak seorang istri menjadi janda, seorang suami menjadi duda. Banyak di antara kita yang awalnya adalah manusia normal, karena kuasa-Nya kini harus menjadi penyandang disabilitas.

Sedih? Itu manusiawi.

Terpuruk atau bangkit? Itu adalah pilihan.

Bangkit, menerima kenyataan, dan kembali berjuang untuk menjadi manusia yang berguna bagi sesama adalah pilihan yang kami ambil. Kesedihan yang amat banyak sirna oleh kebersamaan. Perasaan senasib, sepenanggungan benar-benar menjadi kekuatan dalam menghadapi cobaan itu.

Kepasrahan, kepercayaan bahwa Allah sedang meluapkan kasih sayang-Nya adalah energi yang mampu menjaga diri dari keputusasaan. Allah tidak akan mencoba hamba-Nya melebihi takaran kemampuan hamba tersebut. Beruntunglah bagi siapa yang mampu mengambil hikmah di balik peristiwa yang terjadi.

Semoga bisa menjadi penyemangat, untuk saudara-saudaraku yang sedang dilanda musibah. Baik di Lombok, maupun Palu dan Donggala. Tiada kebahagiaan yang abadi, tiada pula kesedihan yang kekal. Tawakal dan selalu berprasangka baik kepadaNya adalah kekuatan yang nyata untuk menjalani segala kehendakNya.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: