Putus kuliah. Ya, aku terancam putus kuliah. Lantaran beasiswaku sudah habis. Dan aku tak memiliki uang untuk membayar kuliah semester depan. Apalagi orangtuaku, penghasilan bapak untuk kebutuhan sehari-hari saja masih kurang.

“Ya, Allah, mudahkanlah hamba. Berikanlah hamba jalan keluar agar kuliah hamba dapat dilanjutkan. Juga mampukanlah hamba agar bisa membantu orangtua, hamba tidak ingin menyusahkan mereka,” pintaku terisak usai kulantunkan doa dhuhaku pagi itu. Rasanya sudah ratusan dhuha aku lewati dengan lantunan doa yang sama.

Kubereskan sajadah dan mukenaku. Di saat yang sama, dari tembok kamarku di dalam rumah kontrakan keluargaku yang sederhana dan mungil alias sempit terdengar beberapa ibu-ibu tetangga sedang berbincang-bincang.

“Kerjaannya apa, sih? Mbok ya bantu-bantu orangtuanya gitu lho, udah tahu orangtuanya susah cari duit, malah di rumah terus,” selentingan tetangga sebelah terdengar maknyoooos di telingaku. “Lha kan dia kuliah to, Mbakyu?” terdengar suara lain menyahut.

“Kuliahnya udah nggak jelas. Nggak tahu dilanjut apa nggak. Lha sudah tahu orangtuanya nggak punya uang, kok ya kuliah? Harusnya kan dia kerja bantu orangtuanya nyari duit,” jawab yang lainnya dengan nada ibu-ibu antagonis ala sinetron yang suka ngerumpi. “Loh kan kuliahnya katanya beasiswa, gimana, sih?” timpal suara lain lagi.

Bisik-bisik tetangga kini mulai terdengar, bak lirik lagu dangdut di radio yang dulu diputar oleh bapak setiap pagi. Dan kehidupanku pun mulai berasa lagu balada, dramatis layaknya sinetron sedih yang sering muncul di layar televisi.

Selama dua semester terakhir aku bekerja sebagai pengajar lepas di salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Penghasilan sebenarnya tak seberapa, tapi namanya darah muda, sudah sok merasa bangga bisa membantu orangtua sedikit dengan penghasilanku itu.  Akhirnya aku asyik bekerja, dan sering tidak berangkat kuliah. Hingga aku baru sadar bahwa beasiswa kuliah gratisku sudah habis.

Dan di saat kuliahku berantakan, masa kontrak kerjaku sebagai pengajar lepas pun juga sudah berakhir dan tak diperpanjang. Ah, menyesal sungguh rasanya. Tapi apa mau dikata. Sudah tidak jelas perkara kuliah itu bagiku, mau dilanjut atau berhenti saja. Mau berhenti, sayang sekali.

Di penghujung semester delapan, aku pamit kepada salah satu kakak angkatanku yang paling dekat, Mbak Dita. Kukatakan bahwa aku mungkin tidak lanjut kuliah.

Lalu sore hari ini, seperti biasa aku mengajar mengaji di salah satu TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di kampungku. Aku pulang dengan kegembiraan karena baru saja berbagi ilmu dan canda dengan santri kecil TPA-ku. Namun gontai juga langkah kakiku mengingat tak selembar uang pun kuhasilkan dari mengajar mengaji. Maklum, TPA di kampungku adalah TPA kecil, tidak ada insentif untuk para pengajarnya. Namun kukuatkan diri dan kutetapkan keikhlasan pada hati ini. Karena mungkin inilah jalan satu-satunya untuk beramal bagiku.

“Assalamu ‘alaikum,” sebuah suara yang kukenal tiba-tiba menghampiriku ketika aku sampai di depan rumahku. Rupanya ada Mbak Dita dan Mbak Menik, kakak angkatanku di kampus. Segera kujawab salam mereka dan mengajak mereka masuk.

Setelah beberapa lama mengobrol, tiba-tiba Mbak Dita mengeluarkan sesuatu dari tas ransel besarnya. Sebuah amplop putih polos. Diulurkannya dan digenggamkannya di tanganku sambil berkata, “Dek, maaf ini ada titipan dari teman-teman. Untuk biaya kuliah Ara semester ini.”

Seketika tanganku gemetar. Sungguh aku terkejut. Aku tak menyangka Allah akan memberiku jalan keluar saat ini. “Mba..,” aku tak mampu berucap. Mbak Dita menepuk-nepuk bahuku. “Diterima, ya, Dek,” katanya lembut. Di satu sisi aku bersyukur, di sisi lain aku malu. Tapi mungkin inilah cara terbaik Allah menyelamatkanku.

Belum sempat aku berkata apapun, terdengar suara salam dari arah pintu. Segera kuhapus air yang menggenang di sudut-sudut mataku. Aku bergegas ke pintu dan kulihat salah seorang tetanggaku di sana, Bu Mia rupanya.

“Wa’alaikumsalam, ada apa, Bu Mia?” tanyaku dengan suara parau. Suaraku tidak bisa berbohong kalau aku baru saja menangis. Bu Mia tersenyum melihatku. “Ini, Mbak.. Mbak Ara punya waktu luang nggak? Kalau luang, mau ngajar Qur’an nggak? Di SD Muhammadiyah di dekat pasar sana,” kata Bu Mia membuatku terkejut, lagi.

Ya, Allah.. Engkau berikan dua kejutan sekaligus kepadaku di hari ini. Segala puji bagi-Mu, ya, Alla. Setelah ratusan ataupun ribuan doa kupanjatkan pun aku takkan berhenti memohon, karena Ia yang Maha Memberi.

1 Silakan duduk.

2 Mengobrol ke utara-selatan, istilah untuk berbincang panjang-lebar.

Oleh: Ginayaz Annabilah.

 

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: