Ketika Jodoh Kita Bukanlah Perempuan Impian Kita

Waktu masih jomblo, kita mungkin pernah bermimpi ingin punya jodoh sosok perempuan yang sempurna. Cantik, pintar, dari keluarga baik-baik, kaya, dan lain sebagainya.

Tentunya hal itu menjadi impian semua laki-laki normal. Sering kali kriteria itu kemudian menjadi standar dalam mencari sosok perempuan yang akan mendampingi hidup.

Ke mana pun, setiap kali bertemu perempuan, otomatis otak kita menganalisa kira-kira dia tipe seperti apa? Kalau ada satu atau dua kriteria yang tidak cocok, pastinya akan berpikir, “Ah, dia bukan tipe saya.”

Begitu pula ketika ada saudara atau teman yang merekomendasikan seorang perempuan untuk dikenalkan. Sebelum bertemu, biasanya mereka akan menjelaskan sifat-sifat baik si perempuan itu.

Kemudian kita terawang menggunakan standar kriteria yang kita tentukan. Kira-kira secocok apa perempuan itu dengan kriteria yang kita inginkan. Setelah dirasa cocok biasanya lanjut pertemuan. Kalau istilah zaman sekarang menyebutnya ta’aruf.

Sesuatu yang wajar ketika seseorang menetapkan kriteria perempuan yang akan dijadikan jodohnya. Karena sebisa mungkin kan menikah itu hanya sekali, berjodoh sehidup semati, dan semua itu dipersiapkan sejak sebelum menentukan dengan siapa kita akan hidup. Alangkah beruntungnya jika mendapatkan perempuan pendamping hidup yang sempurna.

Lalu bagaimana jika tak kunjung menemukan perempuan yang sesuai dengan kriteria yang diimpikan?

Apakah mungkin kita akan menunda menikah dan menjomblo entah sampai kapan? Ya, kalau kuat silakan. Hehehe ….

Ada beberapa orang yang kemudian menurunkan egonya. “Ya sudahlah, tidak menemukan jodoh yang sempurna pun tak mengapa. Asal kami saling cinta.”

Maka, menikahlah mereka dengan perempuan yang nyaris sempurna. Atau bisa dibilang belum sempurna sesuai dengan kriteria yang ditetapkan sebelumnya. Tetapi dalam diri perempuan itu ada beberapa sifat yang masuk kriteria. Ada semacam pemakluman beberapa kriteria yang belum sesuai. Ini sah-sah saja.

Setelah menikah, mereka paham di mana kelemahan istrinya. Mana kelebihan dan kekurangannya. Sehingga jika ada permasalahan, bisa diselesaikan bersama. Kalau yang satu enggak mampu merampungkan, ya yang lainnya membantu.

Namun, adakalanya ketika ada permasalahan justru kelemahan atau kekurangan ini menjadi bahan untuk disalahkan.

“Andaikan kamu pintar nyari duit, mungkin hidup kita enggak akan susah kayak gini.”

Atau, “Andaikan kamu pintar dandan, mungkin aku enggak akan merasa malu di hadapan teman-temanku.”

Ada juga loh rumah tangga yang seperti ini. Ini terjadi kalau masing-masing tidak bisa saling memahami dan saling menerima kelebihan dan kekurangan.

Atau bisa jadi masing-masing menyimpan persoalan yang belum tuntas. Sehingga ketika terjadi masalah, semua dikeluarkan. Seolah-olah menjadi ajang mengumbar kekurangan.

Ada golongan lain yang cenderung tidak begitu ketat mengejar perempuan yang diimpikan. Pokoknya apa pun tipe perempuan yang jadi jodohnya tidaklah jadi masalah.

Lelaki macam begini yang enggak suka ribet dan lebih nerimo. “Ah, yang penting dia masih punya nafas. Toh lama-lama juga menua, lalu kriput. Cantik atau jelek kalau sudah tua sama kriputnya.”

Sebenarnya sih mereka juga memiliki impian tipe jodoh seperti apa yang diinginkan. Hanya saja tidak begitu mempermasalahkan. Bisa jadi karena dijodohkan orang tua, atau menyadari bahwa perkara jodoh itu tidak melulu soal mendapatkan perempuan impian.

Maka ketika mereka menikah, sering kali baru menyadari apa saja kelebihan dan kekurangan jodohnya. Ketika ada permasalahan, ya mereka hadapi apa adanya.

Katanya sih kekuatan cinta pada pasangan ini tak sekuat pasangan tipe sebelumnya, yang sejak awal sudah menentukan kriteria seperti apa jodoh impiannya.

Tetapi asumsi ini nggak sepenuhnya benar, buktinya simbah-simbah kita atau pasangan seangkatan simbah kita rata-rata mendapatkan jodoh dengan jalan perjodohan. Ternyata bisa langgeng juga tuh. Hehehe ….

Entah kita ini termasuk tipe yang pertama atau kedua, yang jelas setiap orang yang menjadi jodoh kita pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Walaupun kita menilainya sempurna, tapi yang namanya manusia pasti ada kekurangannya.

Ya, barangkali karena belum kita temukan saja.

Nah, sekarang bagaimana nih kalau jodoh kita ternyata bukanlah perempuan yang kita impikan?

Kita minta perempuan cantik, ternyata dapatnya biasa saja. Kita pengin perempuan pintar, ternyata kecerdasannya masih kalah sama kita. Atau kita pengin perempuan dari keluarga kaya, tapi Allah memberi jodoh kita perempuan yang lebih miskin dari kita. Semua ini mungkin saja terjadi. Bisa saja dialami oleh siapa pun.

Perkara jodoh itu kan sudah Allah atur. Kita boleh berharap, boleh bermimpi sesempurna apa pun perempuan yang kita idamkan. Tetapi apa yang akan kita dapatkan sepenuhnya menjadi hak Allah untuk membaginya kepada setiap hamba-Nya.

Ya, kalau kita dapat jodoh yang jauh dari impikan kita, diterima saja. Barangkali itulah yang terbaik untuk kita. Karena Allah jelas lebih paham mana yang terbaik untuk kita. Termasuk urusan jodoh.

Saya percaya hal ini karena saya mengalami sendiri. Apa yang ada dalam diri istri saya sebenarnya jauh dari sosok perempuan yang saya impikan. Tetapi sekarang saya paham, bahwa dialah perempuan terbaik yang Allah kirimkan untuk mendampingi hidup saya.

Apa yang dia lakukan melebihi apa yang saya harapkan dari perempuan impian saya. Termasuk ketika dia tunjukkan baktinya ketika merawat orangtua saya yang sedang sakit.

Saya semakin yakin bahwa, jodoh tidak ditentukan seberapa sempurna pasangan yang kita impikan. Tetapi ditentukan dari bagaimana kita bisa saling menerima dan saling melengkapi kekurangan yang ada.

Bukan ditentukan saat menikah, melainkan saat menjalani hari-hari setelah hari pernikahan.

Jodoh itu dibangun, bukan ditemukan. Jadi, kalau kita dapati ada bagian yang kurang dari diri pasangan kita, selayaknya kita hadir sebagai penyempurnanya.

Begitu juga sebaliknya, pasangan kita adalah penyempurna kekurangan yang ada dalam diri kita. Inilah jodoh yang sebenarnya menurut saya.

Oleh: Seno Ners.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan