Untuk yang kedua kalinya saya mendapat kabar Bapak jatuh sakit. Perasaan saya tak enak. Karena Bapak terkena serangan stroke kedua. Biasanya kondisi akibat serangan kedua ini lebih parah dibanding serangan pertama. Ternyata benar.

Jumat subuh, Bapak dilarikan ke rumah sakit. Kondisi kaki dan tangan kanan lumpuh. Bicaranya sudah tak jelas. Padahal saat serangan stroke pertama kondisi tangan dan kaki kiri yang lumpuh. Ibu menelepon saya dari Banyuwangi, meminta saya untuk segera pulang.

Pagi itu saya bingung antara harus pulang ke Banyuwangi atau merampungkan tugas kantor. Ada beberapa tugas kantor yang harus selesai dalam Minggu itu.

Tugas laporan bulanan, beberapa tugas harian dan tugas organisasi. Namun, pikiran saya dipenuhi rasa khawatir atas kondisi Bapak. Saya trauma setelah kehilangan nenek saya yang juga pernah kena serangan stroke.

Jika saya putuskan untuk pulang ke Banyuwangi, hanya melalui jalur kereta yang paling cepat bisa saya pilih. Kereta Sri Tanjung jurusan Jogja-Banyuwangi berangkat dari Lempuyangan pukul 07.00.

Selain itu ada jalur bus jurusan Jogja-Banyuwangi yang berangkat pukul 15.00. Saya berembug dengan istri, mempertimbangkan segala sesuatu, termasuk persoalan izin cuti.

Maaf, saya mau izin cuti untuk lima hari. Bapak saya masuk rumah sakit. Saya harus pulang ke Banyuwangi, tulis saya di WhatsApp. Terkirim ke bagian SDI dan Wakil Direktur Rumah Sakit tempat saya bekerja.

Sambil menunggu jawaban dari kantor, saya menelepon Ibu. Memastikan kondisi Bapak di rumah sakit. Waktu itu hampir pukul tujuh, Bapak sedang ditangani di IGD. Kemungkinan besar akan dirawat inap.

Ah, tidak memungkinkan kalau aku pulang sekarang naik Sri Tanjung. Izin kantor belum clear, enggak mungkin juga beli tiket dadakan, batin saya pagi itu.

Ya, sudah. Saya putuskan berangkat kerja. Menyelesaikan izin cuti dan pekerjaan yang tertunda. Semoga Bapak tidak apa-apa. Ya Allah, tolong jaga semuanya.

***

Dua tahun yang lalu Bapak terkena serangan stroke pertama. Waktu itu beliau menelepon saya sambil menangis tersedu. Dari getaran suara Bapak, saya tahu betapa terpukulnya beliau dengan sakit yang dirasa. Beliau takut mati, takut tak bisa meneruskan tugas sebagai bapak, dan takut akan masa depan anak cucunya.

“Iya, Pak. Coba saya urus izin di kantor. Saya tak bisa pulang sekarang karena jatah cuti habis. Besok saya juga ada tugas ke luar Jawa.”

Meskipun berat, saya harus mengatakan yang sebenarnya. Memang tidak memungkinkan bagi saya untuk pulang dalam waktu dekat. Tiket perjalanan tugas sudah disiapkan oleh kantor. Jika dibatalkan, saya tak mampu membayar ganti rugi.

Saya menelepon Ibu di Banyuwangi. Meminta untuk memeriksakan Bapak ke rumah sakit. Minimal ada pertolongan pertama untuk mencegah keparahan penyakit Bapak. Tetapi Bapak selalu menolak. Tidak mau dibawa ke rumah sakit. Kecuali saya yang membawanya periksa ke rumah sakit.

Saya mencoba membujuk Bapak, akhirnya mau periksa, tapi tidak mau dibawa ke rumah sakit. Kemudian Bapak diperiksakan ke Puskesmas. Seharusnya rawat inap, tapi Bapak menolak.

Akhirnya hanya dibawakan beberapa obat penurun tekanan darah dan obat penurun gula darah. Selebihnya diminta untuk rajin-rajin latihan gerak dan berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Saya menyelesaikan tugas saya sebagai karyawan sambil sesekali memantau kondisi Bapak melalui telepon. Tentu saja saya menahan sedemikian berat rasa ingin segera pulang dan menemui Bapak. Sebisa mungkin saya usahakan untuk tidak mengecewakan keluarga saya juga perusahaan tempat saya bekerja.

Begitu tugas pekerjaan saya selesai, saya meminta izin untuk menjenguk Bapak saya. Alhamdulillah meskipun jatah cuti saya sudah habis, perusahaan tetap memberi saya keringanan untuk cuti. Dengan catatan akan memotong jatah cuti tahun berikutnya.

Yang penting saya bisa pulang ketemu Bapak.

Sesampainya di Banyuwangi saya ajak Bapak periksa ke rumah sakit. Setelah diperiksa di IGD kemudian dirawat inap untuk mendapatkan terapi. Waktu itu Bapak dirawat selama delapan hari, sedangkan saya hanya bisa menemani selama tiga hari di rumah sakit. Karena izin cuti saya hanya lima hari.

Saya harus memanfaatkannya untuk perjalanan pulang pergi dari Jogja-Banyuwangi dan membersamai Bapak di rumah sakit.

***

Pada serangan stroke kedua, saya mendapat kabar itu di pagi hari, kemudian berangkat ke Banyuwangi sore hari. Bersama istri dan anak saya naik bus jurusan Jogja-Banyuwangi. Bukan rumah orangtua tunjuan kami, tapi kami turun di depan rumah sakit tempat Bapak saya dirawat.

Sebelas hari saya bersama anak dan istri saya menemani Bapak di rumah sakit. Selama itu pula kami belum sekalipun pulang ke rumah orangtua saya. Meskipun hanya sekadar mandi atau mencuci baju. Bapak benar-benar tidak mau saya tinggal. Bahkan ketika saya pamit ke musala lima menit saja Bapak sudah mencari-cari saya.

Bapak sering marah-marah, seolah-olah tidak mau disentuh orang lain selain saya dan istri saya. Meskipun hanya sekadar menggaruk punggung atau yang lainnya.

Saya benar-benar kehilangan senyum Bapak. Bicaranya sudah tidak jelas, sehari-hari hanya terbaring. Bahkan sesekali menangis ketika dikunjungi oleh teman-teman dan saudaranya.

“Abot, aku wis abot.” Bapak sering mengeluh bahwa hidupnya sudah berat. Seolah sudah tidak kuat menjalani hidup lagi.

Kami berusaha selalu menguatkan Bapak. Membujuknya untuk makan, minum, dan mengonsumsi obat. Bapak memang keras kepala, tapi sesekali dia mau mendengar nasihat kami.

Di sela-sela merawat Bapak, saya mengajukan surat cuti di luar tanggungan selama satu bulan. Di luar tanggungan artinya saya tidak akan mendapatkan gaji selama sebulan. Saya bebas meninggalkan tanggung jawab pekerjaan selama sebulan.

Bismillah, meski sumber penghidupan utama saya hanya dari gaji sebagai karyawan, tapi saya nekat saja. Saya ingin menemani Bapak, memastikannya kuat menghadapi ujian sakit yang membuatnya lumpuh dan sulit bicara.

Perkara bagaimana saya menjalani hidup berikutnya, saya serahkan sama Allah saja. Pasti Allah akan memberi saya jalan terbaik.

Oleh: Seno Ners.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: