Ketika Orangtua Tidak Setuju dengan Hijrahmu

Tidak selamanya niat dan perbuatan baik disambut baik pula oleh orang-orang. Adakalanya kita harus berusaha lebih keras agar kebaikan bisa diterima di tengah masyarakat. Seperti halnya saat berhijrah, tidak semua orang akan mendukung.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (TQS al-Ankabut [29]: 2-3)

Semua orang yang mengaku beriman kepada Allah, maka akan diuji keimanannya. Hijrah memang tak selalu mudah. Mungkin lebih banyak orang mencaci maki kita yang dianggap berlebihan dalam beragama.

Semenolak apa pun dunia kepada kita, tak perlu pusing kita memikirkannya. Karena pada dasarnya, semua yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan sendiri kepada Allah Swt.

Namun, apa yang harus kita lakukan jika yang tidak menerima hijrah kita adalah orangtua, keluarga atau saudara kita sendiri. Orang yang mau tidak mau akan terus berlanjut kita temui, kita sapa, dan berpengaruh banyak pada diri kita.

Banyak orang mengalami banyak ujian dari keluarganya sendiri. Karena penolakan keluarga itu lebih keras, berakibat kita dikucilkan di dalamnya, bahkan bisa jadi tidak dianggap lagi sebagai bagian dari keluarga itu.

Menghormati orangtua itu wajib hukumnya, namun jika itu sudah menyangkut ketaatan kepada Allah, maka Allah yang menjadi posisi pertama untuk kita prioritaskan.

Lalu, bagaimana cara menghadapi keluarga yang menolak hijrah kita? Apakah kita harus marah, benci, atau pergi dari rumah? Lebih baik jangan, lakukan hal-hal berikut ini:

Semarah apa pun, jangan marah. Bersabarlah!

Seluas-luasnya lautan pasti ada batasnya, namun sebaik apa pun seseorang pasti kesabarannya terbatas. Adakalanya kita sudah mencoba untuk bersabar, menerima semua cacian, hujatan, dan komentar keluarga kepada kita.

Dikatai ikut aliran Islam garis keras karena memakai jilbab panjang, berjenggot, celana cingkrang, atau tidak bersalaman dengan yang bukan mahram. Penolakan itu pasti wajar kita terima, karena kita berpenampilan dan berperilaku tidak seperti biasanya dan tidak seperti pada umumnya seperti lingkungan awal kita tumbuh besar.

Memaksakan kepada mereka, hanya akan memperkeruh masalah. Karena masalah beragama itu bukan perkara yang mudah untuk dijelaskan dan diyakini. Harus melalui proses panjang untuk mendapatkan hidayah dari Allah Swt.

Mereka melakukan itu bukan karena membenci kita, namun karena ketidaktahuan mereka tentang apa yang kita pilih. Sebagai keluarga, ada rasa kekhawatiran jika perubahan kita dikucilkan atau dipandang aneh oleh tetangga.

Mereka takut kita terjerumus pada organisasi yang salah sehingga dijauhi, bahkan tidak diterima oleh masyarakat. Bagaimana pun itu, bersabarlah. Tetaplah berdoa agar Allah melembutkan hati orang-orang yang ada di sekitar kita.

Jika kita menentang dengan cara yang keras, mereka akan semakin yakin bahwa kita sudah terjerumus pada hal yang salah.

Buktikan bahwa hijrah membawa kita ke arah yang lebih baik.

Sebenarnya yang menjadi kekhawatiran keluarga itu hanyalah masalah penampilan. Kalau kita beribadah dengan lebih baik, keluarga tidak mempermasalahkan. Tunjukkan dengan penampilan kita yang baru juga membawa kita ke jalan yang lebih baik.

Kita semakin taat beribadah, lebih santun, dan lebih menghargai. Tunjukkan bahwa dibalik perubahan penampilan kita ada banyak hal baik yang juga berubah.

Insyaallah atas kehendak Allah mereka akan luluh karena melihat kesungguhan kita berubah menjadi lebih baik. Buktikan bahwa ketakutan mereka kalau kita terjerumus pada organisasi yang negatif adalah pikiran yang salah.

Sekalian dengan cara seperti ini bisa menghapus paradigma yang salah di mata masyarakat. Para perempuan berjilbab lebar dan bercadar serta laki-laki yang berjenggot serta bercelana cingkrang bukanlah bagian dari teroris.

Padahal kita hanyalah orang-orang yang selalu belajar untuk mentaati perintah Allah. Bersikaplah lembut kepada mereka agar mereka nyaman dengan perubahan kita.

Jalin komunikasi lebih dekat dengan orangtua dan keluarga dengan mengobrol.

Sampaikan perubahan kita dengan baik-baik kepada orangtua dan keluarga dengan mengobrol dari hati ke hati. Jangan biarkan mereka tahu perubahan kita melalui omongan orang atau foto di media sosial.

Itu akan lebih membuat mereka tersinggung. Mereka merasa kita tidak lagi menganggapnya, karena nyatanya orang lain lebih tahu banyak tentang diri kita.

Sekali pun nanti hasilnya tidak selalu manis, namun berbicara itu adalah cara awal yang baik untuk mengambil hati mereka. Bagaimana pun mereka tidak suka dengan pilihan kita, tetaplah ajak berkomunikasi.

Jika kita tinggal di perantauan, sering-seringlah menelepon atau mengirim pesan. Ceritakan kegiatan apa saja yang kita lakukan di perantauan. Kajian dan organisasi apa yang kita ikuti, bagaimana kegiatannya, siapa saja teman-teman kita. Jika mereka mengetahui banyak tentang kita yang baik-baik saja, kecurigaan mereka akan sirna pelan-pelan.

Sebanyak apa pun ilmu kita, jangan menggurui orangtua.

Orangtua itu lebih banyak makan garam. Sudah bertahun-tahun terombang-ambing dalam ombak kehidupan. Mereka yang lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Namun adakalanya, ada hal-hal yang belum diketahui oleh mereka namun kita lebih mengetahuinya.

Jangan langsung menyalahkan orangtua jika mereka masih melakukan hal-hal yang salah. Orangtua itu selalu merasa benar dari anak-anaknya. Meskipun niat kita mengingatkan, namun menegur dengan langsung menghakimi bahwa mereka salah itu bisa melukai perasaannya.

Sebaik-baiknya dakwah itu melalui sikap kita sendiri. Contohkan hal-hal yang baik kepada mereka sambil sesekali menyelipkan pesan yang ingin kita sampaikan melalui obrolan ringan.

Misalnya, sampaikan semenjak kita belajar shalat tepat waktu alhamdulillah hati menjadi tenang, semenjak sedekah banyak rezeki Allah yang berdatangan, atau bisa juga menceritakan pengalaman orang lain yang hijrah dari riba.

Poin pentingnya kita tidak memaksa mereka, namun biarkan mereka berpikir dan memilih sendiri jalan hijrahnya.

Perbaiki hubungan dengan Allah, insyaallah Allah memperbaiki hubungan kita dengan orangtua.

Berdoa dan dekat dengan Allah memang tidak bisa menyelesaikan masalah saat itu juga. Bisa jadi sudah berhari-hari berdoa, nyatanya masih saja masalah dengan keluarga belum terselesaikan. Namun satu hal yang membedakan antara orang yang berdoa dan tidak, yaitu ketenangan.

Jiwa-jiwa orang yang berdoa akan senantiasa tenang karena dekat dengan Allah. Yakin bahwa Allah selalu menyertai langkah-Nya serta ikhlas menerima apa pun bagian dari hijrah kita.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (QS. Al-Mu’min ayat 60)

Tentunya, cara-cara di atas tidak manjur begitu saja. Membutuhkan proses yang panjang dan waktu yang tidak sebentar untuk bisa diterima oleh mereka. Percayalah, hati yang tulus akan lulus pada waktunya. Allah senantiasa membersamai hamba-hamba-Nya yang memperbaiki diri.

Oleh: Anik Cahyanik.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan