ketika sahabat marah berkonfilik sama teman

Ketika Sahabat Baik Menghindar Darimu

Aku tak mengira dia akan semarah itu. Ah, bukan marah, tapi kecewa lebih tepatnya. Itu terlihat dari seringai mukanya yang mendadak berubah saat menyadari keberadaanku di ruangan ini. Senyumannya hilang seketika, tak ada lagi keramahan yang dia berikan pada Ane sesaat selepas dia membuka pintu. Bola matanya menyiratkan bahwa dia terkejut menemukan keberadaanku yang duduk beberapa meter lebih dekat dengan televisi.

“Aku langsung pulang, An,” ujarnya selepas memberikan buku yang Ane pinjam tanpa menyapaku lebih dulu. Padahal, aku yang sudah tahu dia akan datang saat melihat Ane membalas pesan whatsApp-nya, begitu saja memanggil namanya bersamaan dengan panggilan Ane ketika dia mengetuk pintu.

“Main dulu, Sa. Ngapain juga di kosan.”

Aku mencoba mencegahnya. Sudah lama sejak kami lulus kuliah dan tak bertemu. Tiba-tiba aku ingin kembali merasakan euforia masa sekolah dengan kumpul besama dan mengenang masa lalu.

Nggak, ah. Capek. Pengin istiahat,” katanya dingin.

Aku tersentak mendengarnya. Saat itu aku baru menyadari bahwa ada yang salah dengan persahabatan yang telah lama kami jalin. Aku mengingat kejadian berminggu-minggu lalu, saat kami sedikit bentrok. Dan aku telah meminta maaf lewat pesan atas kecerobohanku dan dia telah memaafkan. Kukira semuanya sudah clear, meski jujur aku masih merasa tidak enak. Namun tenyata, aku telah begitu dalam melukai perasaannya.

Dia benar pergi. Sosoknya seketika lenyap di balik pintu. Aku gagap dibuatnya. Sasa manusia paling penyabar yang pernah aku kenal, dan aku temannya selama empat tahun yang telah dia kenal dengan baik dan dia pahami sedemikian rupa tiap kekuranganku selama ini telah meruntuhkan tembok pembatas kesabaran itu.

“An, kayaknya Sasa marah sama aku deh.” Aku mendesah.

“Marah, marah kenapa?” tanya Ane dengan nada tak percaya.

Tanganku mengusap muka. Ini persoalan serius. Aku tak mau kehilangan sahabat sebaik Sasa hanya karena salah paham. Meski, ya … ini memang salahku. Aku yang menganggap remeh hal-hal kecil hingga tanpa sengaja melukai perasaan orang lain. Kepada Ane, kuceritakan setiap potong kejadian sedetail mungkin.

***  

Itu hari sabtu. Aku mengabari Sasa jika akan hadir ke acara wisuda temanku semasa SMA dahulu sebelum datang ke job fair. Baik aku dan Sasa setuju akan bertemu di dekat bandara, dan pergi ke job fair bersama. Sebenarnya, aku yang meminta Sasa untuk menungguku sebab aku tidak tahu pasti tempat job fair tersebut. Di luar dugaan, teman semasa SMA-ku ke luar ruangan wisuda lebih siang dari yang seharusnya. Belum lagi, wisudawan yang jumlahnya ratusan tumpah ruah bersama keluarga mereka memenuhi universitas semakin mempersulit pertemuan kami. Banyaknya kawan yang memberikan ucapan selamat dan meminta foto bersama membuatnya tak sempat melihat telepon genggamnya.

Aku telah berputar-putar, tapi tak kutemukan sosok teman semasa SMA-ku itu. Kukirim pesan padanya beberapakali selepas telponku yang sudah tak terhitung jumlahnya belum juga dijawabnya. Saat aku merasa putus asa, dia menelpon balik. Menjelaskan keberadaannya yang sebenarnya belum gamblang kumengerti. Yang aku tahu, saat ini aku harus menuju pintu gerbang universitas sebab dia berada di sekitar sana.

Selepas leherku terasa hampir patah sebab kugunakan untuk mendongak ke sana ke mari. Aku melihatnya. Dia sedang asyik mengobrol dengan keluarga juga kawan satu organisasinya di tengah-tengah taman. Bergegas kuhampiri. Dia tertawa melihatku yang setengah berlari ke arahnya. Kami berfoto selepas kuulurkan bunga padanya dan kupanjatkan doa-doa terbaik agar ilmunya bermanfaat bagi keluarga dan umat.

“Jangan pulang dulu. Duduk sini, istirahat. Kamu pasti capek kan dari tadi nyariin kakak gue,” ujar adiknya.

Tawaku pecah. Melelahkan memang mencari satu orang di antara ratusan lainnya. Kami bertukar cerita perihal kesibukan masing-masing. Hingga akhirnya, aku teringat Sasa. Jam menunjukan hampir pukul satu siang. Aku gelagapan. Ketika hendak mengabari Sasa tentang ketelatanku, telepon genggamku mati. Kalap nian aku dibuatnya. Tak ada nomor Sasa yang kuhapal. Ingatanku hanya ada satu, sosial media facebook Sasa. Kepada teman, aku meminjam telepon genggamnya, dan kukirim inbok pada Sasa menggunakan facebooknya. Kukatakan maaf di sana, dan memintanya langsung ke job fair dan aku akan menyusul menggunakan ojek online.

Sesampai di job fair sudah sore. Aku berharap bisa bertemu dengan Sasa di sana. Namun, ketika kujelajahi satu stan ke stan lainnya, tak kutemui Sasa di mana-mana. Paling  Sasa sudah pulang, pikirku. Semuanya terasa kacau ketika sampai mess, dan telepon genggamku berhasil kunyalakan sambil kuisi daya batre-nya, kutemukan banyak panggilan masuk dan beberapa pesan dari Sasa. Sasa lama menungguku di dekat bandara.

“Maaf, Sa. Kemarin telepon aku mati terus aku kirim inbok ke facebookmu menggunakan akun facebook temanku biar kamu ninggalin aku aja ke job fair-nya terus kita ketemuan di sana. Soalnya, udah hampir pukul satu, aku masih di wisudaan temanku.”

“Iya, nggak papa. Tapi, nggak ada inbok masuk ke facebookku.”

“Masa sih, Sa? Aku kirim kamu inbok, lho. Beneran. Terus kemaren kamu jadi kan ke job fair? Aku caiin kamu, tapi nggak ketemu.”

Nggak.”

“Ya Allah, maafin aku ya, Sa. Kamu pasti nunggu aku lama banget, ya?”

“Iya.”

Deg! Aku mendadak lemas.

Kutanyakan pada teman SMA-ku tentang inbok yang kukirim pada Sasa menggunakan facebooknya lewat pesan. Tak butuh waktu lama dia mengirim sebuah gambar hasil sceenshoot yang menggambarkan bahwa tidak ada satu pun inbok yang terkirim ke facebook Sasa. Aku tak bisa melakukan apapun selain lagi-lagi meminta maaf pada Sasa dan mengatakan bahwa pesan inbok yang aku ketik memang tidak pernah terkirim. Saat itu aku merasa begitu dungu.

“Ya … kamu memang salah sih, Ra,” ujar Ane selepas selesai aku berceita,”Yaudah, Ra, beri Sasa waktu. Aku yakin kok Sasa nggak mungkin benci sama kamu. Aku bisa ngerti sih gimana kecewanya Sasa sama kamu. Kalian udah janjian dan dia nungguin kamu lama, dan kamu nggak dateng, sedang telepon kamu mati,” lanjutnya.  

Aku mengangguk singkat. Empat tahun, Sasa tak pernah menghindar seperti ini bahkan selepas kami adu argumen dengan suara saling meninggi, atau kami yang betengkar sebab persoalan-persoalan kecil. Dia selalu baik, selalu perhatian, selalu mengerti dan ada buat aku di saat orang lain cuek. Dan sekarang barangkali dia lelah, sebab aku yang seringkali menggampangkan persoalan, layaknya aku yang dengan begitu enteng mengirim inbok pada Sasa yang tenyata tak terkirim, tanpa khawatir Sasa tak membacanya. Hingga dia sendiri tak datang ke jobfair, sedang aku dengan tanpa rasa bersalah sibuk memasukan beberapa lamaran kerja di sana.

Satu hal yang ada di pikiranku sekarang, hubungan silaturahim kami tak boleh terputus. Dalam surat An Nisa ayat 1 Allah berfirman yang artinya, Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Saat itu juga kurencanakan hari di mana aku bisa datang berkunjung menemui Sasa dan menyelesaikan persoalan yang ternyata belum selesai ini.

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan