kisah playboy ketemu jodohnya

Ketika Seorang Playboy Menemukan Cinta Sejatinya

“Halo, kenalin, Aku Hendi, Hendi Rahmadi.”

Dengan mantap dan penuh percaya diri kuulurkan tanganku pada gadis manis berkacamata yang duduk tepat di sebelahku. Gadis itu menoleh pelan. Wajahnya sedikit kaget dan dahinya mengernyit. Aku tahu dia tampak ragu mengulurkan tangannya ke arahku. Mungkin karena tidak mau dibilang sombong, atau mungkin juga karena pesonaku yang begitu menggoda, hingga akhirnya ia mau membalasnya.

“Nadia,” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis. 

Lesung pipinya indah membias, meski rasa takut dan curiga tersirat jelas. Wajar sih, karena aku memang orang asing baginya. Orang yang baru saja dilihatnya di bus, lalu duduk di sebelahnya dan tiba-tiba mengajaknya berkenalan.  

Entah mengapa aku begitu tergoda. Yang jelas, baru saja aku merasakan getaran aneh, lebih mirip seperti tersengat arus listrik, ketika tanpa sengaja bahuku menempel di bahunya. Getaran itulah yang menuntunku untuk tak ragu memperkenalkan diri. Menurut mitos, kalau kita tanpa sengaja bersentuhan untuk pertama kali dengan lawan jenis, lalu kita merasakan getaran seperti itu, berarti itu tanda, kalau dialah jodoh kita. Tapi aku tidak serta merta percaya mitos tersebut, walau aku memang baru pertama kali merasakan getaran aneh itu.

Saat itu aku dan Nadia memang duduk di deret kursi pojok paling belakang. Jadi, rasanya cukup leluasa bagiku untuk mengajaknya kenalan dan mengobrol.  Nadia kembali menoleh ke arah jendela, setelah dengan berat hati menyebutkan namanya. Dia acuh dan cenderung ingin menghindar. Dari samping kulihat wajahnya tampak tegang. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menghalangi paparan sinar matahari yang menerpanya dan perlahan beringsut menepi ke arah kanan untuk mengambil jarak dariku. Aku tidak habis akal. Aku benar-benar penasaran, ingin mengenalnya lebih dekat.

“Nadia, bilang dong sama awannya!” kataku memulai pembicaraan lagi.

“Ha, bilang apa?” sahutnya singkat sambil sekilas menoleh lagi ke arahku dengan wajah heran.

“Bilang dong, awan tutupin mataharinya, biar Aku nggak kepanasan, hahaha….” 

Aku terkekeh menggodanya. Nadia tersipu. Rona pipinya menyemburat manja.

“Kamu masih takut sama Aku ya, Nad?  Ini KTP Aku. Tenang, Aku orang baik-baik, kok,” ujarku sembari menyodorkan tanda pengenal itu padanya. 

Dia pun mengamati sebentar. Jurus jituku berhasil. Terlihat raut mukanya kini tersenyum lebih ramah. Belum pernah kudapati senyuman semanis itu. Senyuman yang membuatku kepayang. Nadia tak ragu lagi untuk menatap mataku lebih lama. Bahkan aku merasa tak ada lagi rasa canggung dari dia. Kami pun mengobrol, walau masih penuh basa-basi, tapi siang yang terik itu telah meredup oleh keindahan Nadia.

Selama ini bagiku, cinta itu sebatas alat untuk memperdaya wanita. Aku bisa membeli cinta, hanya dengan ketampanan, uang dan rayuan. Maka tak heran jika banyak wanita yang menyerahkan hatinya, padahal sejatinya aku tak benar-benar bertukar cinta dengan mereka. Mikha, Vania, Jessi, Narita dan entah sudah berapa puluh wanita yang berhasil kululuhkan hatinya. Tak satu pun diantara mereka yang benar-benar bisa merebut hatiku.

Tapi Nadia sungguh berbeda. Pengalaman yang bertahun dengan banyak gadis, meyakinkanku bahwa dia adalah sosok gadis lugu yang belum pernah tersentuh. Tatapan matanya yang syahdu dan polos itu, bagai kilau mutiara terpendam yang berpendar indah. Betapa beruntungnya laki-laki yang bisa mendapatkan cintanya. Duh, aku benar-benar tergoda untuk bisa menaklukkannya.

Kembali kuluncurkan jurus yang kedua. Kali ini aku harus berhasil mendapatkan nomor handphone dan alamat Nadia. Ah, tidak, bukan hanya itu, aku harus tahu di mana rumahnya saat ini juga. Aku tahu ini gila, tapi aku benar-benar tak sanggup untuk melepaskan Nadia begitu saja dan esok aku terbangun dengan rasa sesal.

“Nad, boleh ya, nanti Aku sekalian mampir ke rumah.”

“Ha? Kamu mau ke rumah? Eh, jangan sekarang ya, Hen. Kapan-kapan saja, ya.”

Kini ketakutan Nadia kembali tampak di wajahnya. Ruang di tengah kedua alisnya sedikit berkerut, bibirnya memucat. Aku terus berusaha meyakinkannya, dengan berdalih bahwa aku hanya ingin mampir sebentar, karena setelah itu aku ada janji bertemu teman di tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Nadia tetap menolak. Dia memasang seribu alasan yang tidak bisa membuatku menyerah begitu saja. Pokoknya bagaimanapun caranya, aku harus mampir ke rumah Nadia sekarang juga, begitu pikirku. Akhirnya aku nekat ikut turun dari bus, ketika Nadia juga turun. Nadia pasrah dan tidak bisa lagi menghalangiku untuk mampir ke rumahnya. 

Sesampai di sana, Nadia tak lantas mengajakku masuk. Dia hanya mempersilakan aku duduk di kursi teras. Lagi-lagi aku yang membuka pembicaraan. Aku butuh waktu cukup lama untuk bisa membuat Nadia enjoy dengan kehadiranku di rumahnya. Tapi Nadia masih belum mau membuka diri. Berbeda sekali denganku, yang begitu blak-blakan. Entah mengapa aku bisa bercerita panjang lebar, seolah tak ada rahasia di hadapannya. Nadia lebih banyak mendengarku. Dia hanya sedikit bercerita tentang keluarganya yang sudah tak utuh lagi. Nadia kehilangan papanya sejak usia 15 tahun dan dia harus jadi tulang punggung bagi ibu dan ketiga adiknya. Oh, she’s so perfect, gumamku dalam hati.

Namun masih ada satu pertanyaan maha penting yang menggelitik rasa ingin tahuku sedari tadi. Dan aku harus memuaskannya sekarang.

“Pacar Kamu, orang mana, Nad?”

“Surabaya,” jawabnya ringan dan spontan.

“Kalau gitu, kalian LDR (Long Distance Relationship = hubungan jarak jauh), dong,” sambungku. Nadia mengiyakan tebakanku sambil tersenyum. Penasaranku akhirnya terpuaskan bersamaan dengan rasa kecewa yang tak mampu kuungkap saat itu. Egoku sebagai penakluk wanita telah dikalahkan oleh kejujuran Nadia tentang statusnya, yang sudah tak sendiri.

***

Nadia, oh Nadia. Seminggu berlalu dari perkenalan itu, tapi aku masih belum bisa berhenti memikirkannya. Entahlah. Sosoknya yang lembut dan anggun benar-benar menghipnotisku, hingga aku tak sanggup melupakannya. Aku sadar, tak pernah begini sebelumnya. Pagi, siang, sore, malam, cuma dihiasi wajah Nadia. Hah, aku berusaha melupakannya. Tapi makin kuhapus bayangan itu, makin jelas senyumnya menari-nari di pelupuk mataku. Bagaimana aku bisa melupakannya. Rindu ini begitu indah untuk kutepis begitu saja.

“Hen, Lu nggak nengok si Narita, kabarnya dia sakit, tuh, gara-gara Lu!”

Sahabatku, Rendra, yang tiba-tiba masuk ke kamar kos, membuyarkan lamunanku tentang Nadia. Aku acuh. Aku sudah mendengar berita itu. Narita adalah mantan pacarku. Aku putus darinya dua minggu lalu. Kabar yang kudengar dari sahabatnya, Narita masih belum menerima alasanku memutuskannya, padahal hubungan kami masih belum genap tiga minggu.  Ah, aku tidak peduli. Berhubungan dengan Narita awalnya mengasyikkan. Dia gadis jaman now yang cantik dan manja. Hanya dalam 3 hari, aku berhasil mendapatkan cintanya. Tapi baru seminggu jalan, dia sudah sok ngatur hidupku, dan membuatku tak nyaman sama sekali. Aku memilih putus darinya.

“Hei, tumben Lu manyun aja dari tadi, ngelamunin apa Boy, cewek baru lagi?” seloroh Rendra sok tahu sambil tertawa mengejek. Dia memang sahabatku yang paling bisa membaca kegalauanku. Hingga akhirnya kuceritakan pertemuanku dengan Nadia dan kekagumanku padanya.

“Trus, Lu yakin jatuh cinta sama cewek itu?”

Aku tak mampu menjawab pertanyaan Rendra kali ini. Rasanya dada ini begitu sesak oleh rindu. Nadia sudah mengacaukan hidupku dengan kecantikan paras dan hatinya, juga kemandirian dan kesabarannya melawan sulitnya ujian hidup. Benar-benar sosok yang sempurna. Andai saja dia masih sendiri, mungkin tak kusiakan lagi untuk menunggu. Aku sudah cukup lelah berkelana mencari mahadewiku di bumi ini.

Tidak. Nadia belum menikah, bahkan dilamar pun belum. Status mereka masih bisa berubah dengan kehadiranku. Aku tidak mau menyerah pada keadaan, Nadia harus kuperjuangkan. Harus. Aku akan menyerah, jika dia sudah benar-benar menerima lamaran orang lain.

***

“Hen, maafkan Aku, Aku tidak bisa menerima cintamu. Kita baru seminggu kenal dan Aku tidak bisa mengkhianati kekasihku. Please, tolong mengerti Aku, Hen.”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengalami penolakan cinta. Dan penolakan itu justru datang dari orang yang sudah merebut hatiku. Namun aku tak gentar, aku tetap memohon pada Nadia, agar dia memberiku kesempatan untuk membuktikan cintaku padanya. Harga diri dan gengsi saat ini jadi nomor dua buatku. Penolakan itu justru menantang kelelakianku untuk makin gigih mengejar cinta Nadia.  

Aku tidak peduli Nadia sudah menjalin hubungan dengan kekasihnya. Aku juga tak peduli hubungan itu sudah sedemikian dekat dan serius. Aku hanya ingin berjuang mendapatkan cinta sejatiku. Dan mentalku sudah sedemikian kupersiapkan jika dalam pertaruhan ini aku harus kalah nantinya. Aku memang nekat, tapi emosi rindu dan cinta yang kuat ini tak mampu aku hentikan seketika. Aku begitu mendamba Nadia.

***

Dua purnama bertabur perjuangan yang tak kenal lelah untuk Nadia. Rasanya tak ada hari yang kulewatkan dengan sia-sia. Selalu ada waktu di tengah kesibukanku untuk sekadar mengingatkannya makan atau istirahat, melalui pesan-pesan singkat di layar handphone. Walau awalnya pesan-pesan itu seperti menguap tanpa balas, namun sedikit demi sedikit Nadia mulai terbuka. Dia membiarkan aku masuk dalam kehidupannya, dalam kesehariannya. Perhatian-perhatian kecilku meluluhkan angkuhnya. Pelan tapi pasti sisi-sisi indah Nadia makin terlihat sempurna.  Walau aku tahu dia tetap menjaga jarak dariku.

Nadia adalah gadis yang pandai menjaga kesetiaannya. Hubungan jarak jauh yang dia jalani benar-benar dijaganya agar tetap utuh. Tiga tahun, bukan waktu yang sebentar. Apalagi mereka hanya bertemu sebulan sekali. Aku salut. Salut karena aku memang tidak pernah menjalani hubungan selama itu. Buatku mempertahankan kesetiaan pada seseorang itu sangat sulit. 

***

“Hen, hari ini Dia mulai melupakan ulang tahunku, Aku nggak tahu sampai kapan pekerjaannya itu lebih penting dari segalanya, termasuk Aku.” 

Aku kaget mendengar kata-kata Nadia barusan. Selama ini, tak pernah sekali pun Nadia mengeluh tentang pacarnya. Justru yang sering kudengar adalah kata-kata sanjungan untuk pacarnya itu. Aku juga tak tahu bagaimana harus bereaksi, walau dalam hatiku sebenarnya bersorak bahagia. 

“Oh, jangan buruk sangka dulu Nad, bisa jadi Dia mau kasih kejutan manis lho.”

“Tidak, Hen. Dia bukan tipe romantis yang suka memberi kejutan dan semacamnya. Dia memang sedang sibuk dengan jabatan barunya dan lagi-lagi Aku harus mengerti itu, walau Aku capek begini terus.”

Nadia menunduk sedih. Semangkuk bakso hangat yang tersaji tak lagi membuatnya berselera, padahal itu makanan favoritnya. Sore itu, aku sengaja mengajak Nadia bertemu di warung bakso sebelah kantornya. Yah, hanya sekedar untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun dan memberikan kado kecil untuknya. Aku tak menyangka dia akan curhat tentang pacarnya padaku.

“Hen, terima kasih atas semua perhatian Kamu selama ini ya, aku sadar sering mengabaikanmu, tapi Aku nggak tahu kenapa Kamu bisa sabar, sementara orang yang kucintai selama ini justru tak menganggapku ada.”

Nadia berusaha menutupi perih itu. Aku sangat ingin merengkuhnya dalam pelukanku, tapi kutahan. Dia takkan mau kusentuh, walau sedikit saja. Nadia mulai terisak pelan. Aku sodorkan sapu tanganku. Dia memandangiku. Tatapan sayunya menyiratkan harapan padaku. Lagi-lagi aku tetap diam. Tak mau agresif seperti pada gadis-gadisku yang dulu. 

Sore itu membuka harapan baru buatku. Indah sekali, dan hanya aku yang bisa merasakannya. Aku berharap Nadia benar-benar menyadari tentang cintaku padanya. Aku tak ingin tergesa. Aku hanya ingin membuatnya benar-benar mencintaiku dengan alami, tanpa harus memaksa perasaannya.

Ah, tapi sampai kapan aku harus memendam gejolak cinta seperti ini. Sampai kapan aku harus bertahan dengan keyakinanku sendiri. Rasa lelah itu sekejap muncul. Apa aku harus menyerah dan pasrah setelah tujuh purnama aku dayung perahu kecil ini sendiri. Galau menggelayutiku. Akhirnya kuputuskan untuk menguji Nadia. Bagaimana perasaannya jika aku menjauh darinya.

***

Hari demi hari yang kulalui tanpa Nadia, sungguh terasa hampa. Dalam hati aku menyesal, mengapa justru aku yang makin tersiksa dengan keputusanku sendiri. Dan di tengah keputusasaanku, aku tak menyangka, tiba-tiba Nadia meneleponku. Suaranya terdengar parau. Dia mengajakku bertemu di sebuah kafe. Aku menuruti mahadewiku. Apakah yang akan dikatakannya. Aku mulai menebak tak pasti. Deru rinduku makin bergemuruh dalam dada.

  Aku melihat Nadia sudah menunggu di meja paling ujung. Wajahnya tampak gusar. Tak sedikitpun senyuman hadir di bibirnya. Ada apa dengannya. Handphonenya tiba-tiba berdering tepat ketika aku sampai di meja no.13 itu. Nadia menerima telepon setelah sebelumnya mempersilakan aku duduk di hadapannya. Dia seperti sengaja membiarkan aku mendengarkan percakapannya dengan seseorang di seberang sana. Entah siapa.

“Mas, Aku sudah bilang kita putus, Aku sudah tidak bisa bersama Mas lagi dan Aku sudah tidak sanggup menunggu Mas terlalu lama!”

Duh, aku terkesiap dengan ucapan Nadia. Nadia dengan cepat menutup teleponnya.  Belum sempat aku bertanya. Nadia sudah menjawab semua pertanyaan yang ada di mataku.

“Aku sudah putus, Hen. Aku telah menunggu orang yang salah selama ini. Berapa kali Mas Helmi menyatakan ingin melamarku, tapi selalu saja tertunda karena alasan pekerjaan.  Dan ini sudah kali yang ketiga. Tiba-tiba tiga hari lalu, Dia batalkan lagi lamaran itu, karena mendadak ada training yang harus dijalaninya di luar negeri. Aku capek, Hen.”

Mata Nadia membasah. Ya, Allah, aku tidak tahu harus bahagia atau ikut sedih atas apa yang dialaminya. Gadis itu sesenggukan lalu sejenak menatapku, seolah berharap aku akan memeluknya. Aku sodorkan segelas minuman dingin padanya, sekadar untuk mendinginkan panas di hatinya. Sementara otak kiriku mengatakan, bahwa sekaranglah waktunya untuk menawarkan lagi perasaanku yang tulus padanya. 

“Nadia, Kamu tahu, di sini masih ada Aku. Biarkan kini Aku yang menggantikannya untukmu, asalkan Kamu bersedia menerimaku untuk selamanya.”

Nadia terdiam. Gadis itu masih menutupi perasaannya padaku. Walau kulihat jelas tatapan yang berbinar itu hadir dari matanya. Tatapan penuh harap yang menggebu padaku.  Tatapan indah yang selama ini kurindukan. Oh, Nadia, aku menggumamkan nama indah itu di mimpiku malam ini. Betapa jauh dan terjalnya perjalanan menggapaimu kini tak kurasa lagi karena kau telah nyata kumiliki seutuhnya.   

***

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan